← Back to list

Pengalaman Ospek FK UII : Sebuah Refleksi Mahasiswa tentang Orientasi dan Budaya yang Dijalani

Halo semua, saya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian ospek…

Elelele · 2026-01-10 12:16 · 1 claps · 4.4 min read
#ospek-jurusan #ospek #iui #mahasiswa #universitas
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Pengalaman Ospek FK UII : Sebuah Refleksi Mahasiswa tentang Orientasi dan Budaya yang Dijalani

Halo semua, saya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian ospek. Tulisan ini saya buat dengan niat sederhana, sebagai bentuk kejujuran atas apa yang saya alami, tentang apa yang saya rasakan, pikirkan, dan renungkan setelah semuanya selesai.

Saya memohon maaf jika tulisan ini tidak dapat memberikan informasi yang runtut dan teknis. Jujur, saya tidak lagi mengingat detail kegiatannya satu per satu. Yang tertinggal justru rasa lelah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional, setiap kali pengalaman itu saya ingat kembali.

Saya bukan penulis, dan tulisan ini mungkin tidak rapi. Namun saya percaya, ada hal — hal yang perlu dituliskan agar tidak terus terpendam. Terima kasih, jika Anda bersedia membaca dan merenungkan hal ini bersama saya.

Perjalanan saya diawali dengan kuliah perdana yang diadakan oleh universitas. Kegiatannya terasa seru dan menyenangkan. Saat itu saya sempat berpikir, “ Saya tidak perlu khawatir dengan orientasi fakultas. Jika dari tingkat universitas saja tidak ada yang mengkhawatirkan, semuanya pasti akan baik baik saja.” Melihat ke belakang, saya baru menyadari bahwa pikiran tersebut terasa begitu naif.

Setelah kuliah perdana selesai, kami angkatan baru Fakultas Kedokteran, diarahkan ke Gedung Kuliah Umum untuk mengikuti briefing kegiatan ospek fakultas pertama kami, AORTA, yang akan dilaksanakan setelah rangkaian ospek universitas selesai.

Rasanya menyenangkan melihat angkatan saya mengenakan almamater yang sejak kuliah perdana telah kami pakai. Saya datang dengan harapan besar, dan pada awalnya acara ini tidak mengecewakan. Namun, di pertengahan acara, saya mulai merasa ada yang janggal ketika MC tampak seperti menunggu sesuatu. Suasana pun perlahan mulai berubah.

Tanpa peringatan, pintu terbuka dengan hentakan keras. Bunyi nyaringnya memecah keheningan dan membuat kami terkejut serentak. Mereka masuk satu persatu dari kedua sisi pintu, lalu menyebar dan mengelilingi kami di dalam ruangan.

Dengan nada yang keras, mereka memerintah kami untuk mengeluarkan catatan dan meminta MC untuk meninggalkan ruangan. Kami diminta duduk dengan tegap saat mereka berada di sana, serta dilarang melakukan perekaman apapun.

Pada titik ini, emosi saya kacau. Jantung saya berdetak cepat, dan harapan yang saya sempat bawa tentang ospek ini perlahan saya kubur dalam hati.

Dengan nada yang tidak menyenangkan, mereka mulai menjelaskan secara cepat berbagai tugas yang harus kami lakukan sebelum dan sesudah ospek universitas, tanpa pengulangan. Tugas — tugas tersebut tidak mudah, dipenuhi teka — teki yang memaksa kami berpikir semalaman tentang apa saja yang kurang dari penugasan yang harus kami kumpulkan.

Saya masih mengingat dengan jelas tawa kecil yang mereka keluarkan, disusul dengan nada sarkastik dan keras yang diarahkan kepada seseorang yang bertanya apakah detail penugasan tersebut akan dibagikan secara daring. Pola ini terus berulang setiap kali ada pertanyaan yang dianggap “ tidak rasional”.

Pada saat itu, saya memilih untuk diam. Bukan karena tidak ada pertanyaan yang terlintas di kepala, melainkan karena saya merasa bahwa pertanyaan — pertanyan tersebut akan terdengar bodoh dan pada akhirnya tidak akan dijawab. Saya juga mempertimbangkan bahwa bertanya berarti memperpanjang waktu berada di dalam ruangan bersama mereka, sesuatu yang saya hindari.

Keputusan untuk memilih diam semakin menguat ketika saya menoleh ke kanan dan kiri, melihat beberapa orang mulai tampak pucat, sebagian lainnya menahan tangis.

Setelah selesai, mereka meninggalkan ruangan dengan hentakan kaki yang terdengar keras. Tak lama kemudian, MC kembali masuk, berlagak seolah tidak ada apa pun yang terjadi , lalu mulai memperkenalkan Wali Jama’ah masing — masing kelompok.

Pada saat itu, kehadiran Wali Jama’ah terasa seperti sosok yang peduli, seseorang yang seolah ingin menenangkan dan menolong kami.

Perasaan tidak tenang mulai saya rasakan. Saya tidak dapat menikmati rangkaian ospek universitas sepenuhnya, karena masih dibebani tugas — tugas yang belum selesai. Bahkan setelah ospek universitas berakhir, penugasan masih berlanjut.

Saya harus membeli berbagai keperluan ospek fakultas, termasuk makanan — makanan yang menjadi bagian dari penugasan. Ada satu hal yang hingga kini masih sulit saya pahami : salah satu makanan yang diwajibkan memiliki logo mereka sendiri, dan satu — satunya cara untuk memperolehnya adalah dengan membeli langsung dari mereka.

Hingga malam hari, saya masih menggambar jantung dan menghafal lagu — lagu yang diwajibkan

AORTA pun berlangsung selama beberapa hari, saya sempat merasa lega, seolah semuanya telah terlewati. Namun, perasaan itu tidak bertahan lama.

Sekitar satu bulan kemudian, kami kembali dihadapkan dengan CAROTIS, ospek kedua yang mengulang pola serupa, penugasan dan evaluasi. Hingga akhirnya Malam Keakraban tiba, saat nama — nama mulai diperkenalkan satu per satu, dan kami seolah diajak untuk melupakan semua yang telah terjadi sebelumnya.

Secara jujur, materi — materi yang disampaikan pada rangkaian ospek menarik untuk dipelajari dan didengarkan. Namun, saya pribadi tidak dapat fokus dan tidak merasa tenang, baik saat acara berlangsung maupun sebelumnya.

Perasaan itu muncul karena saya mengetahui bahwa akhir setiap rangkaian selalu ada evaluasi, di mana kesalahan satu orang akan dibebankan kepada angkatan.

Saya tidak menemukan landasan logika yang jelas dari beberapa penugasan yang diberikan. Mengapa kami diwajibkan membawa makanan tertentu, dan mengapa salah satu di antaranya hanya dapat diperoleh dengan membeli langsung dari mereka?

Saya masih dapat memahami jika kami sekadar diwajibkan membawa makanan sebagai bagian dari penugasan. Namun yang terjadi bukan sekadar itu. Kami diwajibkan membawa jenis yang spesifik, bahkan merek tertentu, di saat beberapa di antaranya sudah sulit ditemukan di pasaran. Ada yang jenisnya serupa, tetapi tetap dianggap tidak memenuhi syarat karena berbeda merek. Dan satu di antaranya, secara eksplisit, hanya bisa diperoleh melalui mereka.

Menggambar jantung, saya masih dapat memahami tujuannya. Namun, saya mempertanyakan mengapa tenggat akhirnya ditetapkan saat rangkaian ospek universitas masih berlangsung.

Menghapal lagupun demikian. Saya dapat menerima jika itu menjadi bagian dari proses. Tetapi mengapa, di hari pertama, kami langsung diberikan sanksi apabila belum hafal? Di titik ini, yang terasa bukan lagi proses pembelajaran, melainkan tekanan yang datang terlalu cepat, tanpa ruang untuk beradaptasi

Seiring waktu, saya mulai mempertanyakan bagaimana informasi personal tentang diri kami dapat diketahui. Hal — hal yang seharusnya menjadi ruang aman, curahan yang saya sampaikan kepada Wali Jama’ah, ternyata dapat sampai ke pihak lain.

Di titik ini, saya merasakan sebuah paradoks. Sosok yang seharusnya melindungi dan menjadi tempat bersandar, justru turut berperan dalam pengalaman tidak nyaman yang saya rasakan. Bahkan, di sela istirahat mereka, saat Wali Jama’ah tidak bersama kami, saya menyaksikan bagaimana keluhan dan tawa diarahkan kepada kami.

Praktik dan rangkaian ospek ini telah dinormalisasi. Ia dijaga sebagai budaya, lalu diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Siklusnya terus berjalan, seolah tidak pernah berhenti.

Di dalam sistem seperti ini, satu orang memang terasa tidak memiliki kuasa untuk mengubah segalanya.

Tulisan ini saya tinggalkan bukan sebagai kemarahan, melainkan sebagai sebuah sikap. Sebuah penolakan untuk menerima bahwa semua yang diwariskan harus diterima tanpa pertanyaan. Jika sebuah sistem membuat banyak orang memilih diam, maka mungkin yang perlu diubah bukan manusianya, melainkan sistem itu sendiri.

Dan jika suatu hari perubahan itu terjadi, saya berharap ia lahir dari keberanian untuk mempertanyakan apa yang selama ini dianggap wajar.

Pilihan dan masa depan akan selalu ada di tangan kita, dan setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menentukan apa yang layak diteruskan, serta apa yang seharusnya diubah.


메타데이터
post_id
f33b3b0fec63
slug
pengalaman-ospek-fk-uii-sebuah-refleksi-mahasiswa-tentang-orientasi-dan-budaya-yang-dijalani-f33b3b0fec63
url
https://medium.com/@elelele909080/pengalaman-ospek-fk-uii-sebuah-refleksi-mahasiswa-tentang-orientasi-dan-budaya-yang-dijalani-f33b3b0fec63
canonical_url
https://medium.com/@elelele909080/pengalaman-ospek-fk-uii-sebuah-refleksi-mahasiswa-tentang-orientasi-dan-budaya-yang-dijalani-f33b3b0fec63
author_url
https://medium.com/@elelele909080
status
ok
fetched_at
2026-06-27 07:40:21