Di ujung jurang ini aku berdiri.
Di sini aku berdiri, pada ujung jurang curam yang menakutkan. Aku hanya dihadapkan dengan dua pilihan, jatuh atau mundur?
Di ujung jurang ini aku berdiri.
![Jatuh atau Mundur. Terluka atau Kembali. Berdarah atau Menangis. [cr pict : Pinterest]](https://miro.medium.com/v2/resize:fit:735/0*rj8DPM8cDO4lkHL2.jpg)
Jatuh atau Mundur. Terluka atau Kembali. Berdarah atau Menangis. [cr pict : Pinterest]
Di sini aku berdiri, pada ujung jurang curam yang menakutkan. Aku hanya dihadapkan dengan dua pilihan, jatuh atau mundur?
Apabila aku jatuh ke jurang, tubuhku akan terluka. Namun apabila aku mundur, aku akan kembali pada posisi awal aku memulai.
Apabila aku terjatuh dan tubuhku terluka, akan ada cairan merah yang mengalir keluar dari tubuhku. Namun apabila aku mundur dan kembali pada posisi awal aku memulai, akan ada cairan bening yang menetes membasahi wajahku.
Untuk beberapa waktu aku hanya diam merenung, terperangkap oleh rasa takut. Takut terjatuh, terluka, dan berdarah, tapi juga takut mundur, kembali, dan menangis — menyesali langkah mundur yang diambil. Kedua pilihan itu hanya memunculkan rasa takut yang membuat kakiku gemetar, beberapa kali kakiku terasa seolah tak sanggup lagi untuk berdiri.
![[cr pict : Pinterest]](https://miro.medium.com/v2/resize:fit:736/0*BQZzIeDyX8irKPvJ.jpg)
[cr pict : Pinterest]
Tapi bagaimana jika ketika aku memilih untuk jatuh ke jurang, aku menemukan jalan baru menuju suatu tempat yang indah dan menyejukkan hati? Bagaimana jika aku menemukan jalan menuju sebuah kebun bunga yang di sana semua bunganya subur dan terlihat indah? Bagaimana jika aku menemukan jalan menuju tempat yang cahayanya lebih terang?
Meski tubuhku tetap akan terluka dan berdarah — bahkan remuk.
Meski kakiku tetap harus terus melangkah mencari jalan mana yang dapat ditempuh.
Meski aku tetap harus melanjutkan hidupku dengan kondisi diriku yang sudah hancur penuh luka.
Tapi,
bagaimana jika luka-luka itu membawaku pada suatu hal yang menakjubkan? Bagaimana jika cairan merah yang mengalir itu membawaku pada cahaya yang jauh lebih terang?
![[cr pict : Pinterest]](https://miro.medium.com/v2/resize:fit:736/0*JYCyboIANnJsEXew.jpg)
[cr pict : Pinterest]
Lalu aku memilih untuk jatuh.
Benar, aku terluka, berdarah, dan hancur. Tapi itu adalah pilihanku. Aku memilih untuk jatuh bukan karena aku menganggap jurang adalah akhir dari segalanya. Aku hanya membiarkan diriku terluka, berdarah, dan hancur untuk bisa memahami bagaimana semesta bekerja. Memahami bahwa ternyata tidak melulu hal baik dimulai dengan baik juga. Tidak melulu hal buruk diakhiri oleh keburukan juga. Selayaknya gelap malam yang akan berakhir dan berganti menjadi pagi dengan hangat sinar mentari.
Terkadang, beberapa hal yang terlihat buruk perlu kita lihat dari segala macam sisi dan sudutnya supaya bisa menemukan di mana letak baiknya.
Aku sering sekali mendengar kalimat seperti, “Hidup adalah pilihan. Kamu yang memilih dan merangkai alur hidupmu sendiri.”
Benar, aku setuju. Hidup adalah pilihan. Aku, kamu, kita semua berhak memilih jalan mana yang ingin kita tempuh untuk melalui perjalanan panjang kehidupan ini. Mungkin akan ada saat di mana kita memilih pilihan yang kurang tepat, tapi tidak apa-apa. Pasti akan selalu ada pilihan-pilihan lainnya lagi yang bisa dipilih, sekali salah memilih bukan berarti selamanya hidup dalam keburukan, ‘kan?
Kalau kata Seventeen di lagu Cheers to Youth, “It’s our first time living this life too.”
Jadi kalau salah, ya enggak apa-apa. Kita ‘kan baru pertama kali hidup di dunia ini?
메타데이터
- post_id
- f3a12360dfca
- slug
- di-ujung-jurang-ini-aku-berdiri-f3a12360dfca
- url
- https://medium.com/@miraemiey/di-ujung-jurang-ini-aku-berdiri-f3a12360dfca
- canonical_url
- https://medium.com/@miraemiey/di-ujung-jurang-ini-aku-berdiri-f3a12360dfca
- author_url
- https://medium.com/@miraemiey
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 00:49:48