BLOOMING HOUR: Epilogue.
sebuah surat usang dari sang kenari.
BLOOMING HOUR: Epilogue.

sebuah surat usang dari sang kenari.
kala itu, mentari petang mulai menundukkan mahkotanya ke sisi ufuk barat, cahayanya keemasan turut tercurah di atas muka bumi laksana sutera kuning yang tengah dibentangkan oleh tangan alam. angin senja turut berhembus pelan, dibersamai guguran kelopak sakura yang menari di udara; seolah mereka dikirimkan oleh langit sebagai payung untuk sepasang insan yang tengah menaut kelingking.
jiu, nona kenari itu, hampir tidak berdaya menahan senyuman yang terus mekar menghias iras. terlampau besar sukacintanya sehiingga hati yang selama ini dipenuhi rindu kini terasa ringan bagai kapas. bagaimana tidak? sepuluh tahun yang lalu, ketika dirinya masih mengenakan seragam dan duduk di bangku sekolah, hatinya telah jatuh kepada seorang pemuda yang kini berdiri di hadapannya.
zayne.
namun cinta itu dipendam rapi yang tidak pernah dibuka kepada sesiapa. kini, setelah masa yang begitu panjang berlalu, ternyata perasaannya tidak pernah bertepuk sebelah tangan.
“sesungguhnya, dokter zayne…” ujarnya perlahan dengan kelingking yang masih bertaut, diayunkan sedikit sebagai upaya menyembunyikan gugup,”sepuluh tahun yang lalu, bukan hanya kamu yang menulis surat.”
kedua alis zayne terangkat, manik hijau keemasan miliknya bersinar seperti batu zamrud yang terkena cahaya matahari.
jiu mengangguk kecil. dengan tangan yang masih bebas, dia merogoh ke dalam saku pakaiannya. tidak lama kemudian, di tangannya sudah menggenggam sekeping kertas. tidak ada sampul, hiasan, atau amplop. jauh sekali impresinya menyerupai sebuah surat cinta yang lazim ditulis oleh mereka yang sedang mabuk asmara.
“lebih menyerupai naskah pidato daripada sepucuk surat,”
mendengar itu, jiu menjeling sekilas. namun, sebelum sempat dia membalas, tautan kelingking mereka telah berubah menjadi genggaman. zayne membawanya menuju sebuah bangku taman yang menghadap cahaya matahari. dalam satu isyarat, ia menuntun jiu untuk berdiri di atas bangku tersebut.
“waktu dan tempat disilahkan, letnan..” zayne membungkuk bak seorang pengacara istana yang sedang membuat pengumuman resmi.
seketika urat halus seakan-akan timbul di pelipis jiu. sejak bilakah lelaki ini menjadi sebegitu usil?
“kamu — “
“izinkan saya menjadi sedikit tamak, nona letnan. saya ingin mendengar pidatomu itu.”
kata-kata itu begitu dikenali jiu. sebab, itulah kalimat yang tadi digunakannya untuk memaksa zayne membacakan suratnya sendiri. sekarang? senjata itu dipulangkan kembali kepada tuannya.
akhirnya jiu mengalah.
dengan hela nafas yang panjang, dia membuka lipatan kertas tersebut dalam satu kibasan. tinta yang tertulis sudah mulai pudar, warna kertasnya pun sudah kekuningan. namun setiap kalimat yang tertera masih menyimpan perasaannya.
sebuah dehaman kecil menjadi pembuka.
“maka kupanjatkan doa kecil seraya menaruh harap agar setiap malam aku bermimpi menuju tempat yang langitnya biru, melintasi samudera dari pesisir ke pesisir, mencari tanah dimana hamparan padangnya hijau subur bak permata zamrud..”
dia berhenti sejenak.
“semata-mata agar dapat aku dapat menemukan dirimu sekali lagi. em dash ‘my love’ oleh westlife.”
angin kembali berhembus. kelopak sakura bertebangan mengelilingi mereka, seumpama ingin turut mendengarkan sebuah pengakuan yang menunggu sepuluh tahun untuk diungkapkan.
“saat ini aku sedang berada di atas bumbung sekolah, dan surat ini kutulis setelah selesai menonton sebuah film lama… letters across time..” senyuman kecil terukir,”dan hatiku tergerak untuk menuliskan satu untukmu, seseorang yang tidak pernah sekalipun benar-benar pergi dari pikiranku,”
pandangan mereka bertemu sesaat, namun jiu segera mengalihkannya kembali. rona merah telah menjalar hingga ke telinga dan zayne menyadari hal itu. namun hanya sebuah senyum lembut yang ditampilkan sebab tak ada niat untuk menganggu. baginya, setiap patah kata yang keluar dari bibir kekasihnya terasa lebih berharga daripada segala sesuatu yang ada di dunia.
“namun, meskipun kamu tidak pernah meninggalkan pikiranku, sesungguhnya aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku tuliskan di sini, zayne..” suara itu semakin perlahan,”maka aku memutuskan untuk mencatatkan sebait lagu kegemaran nenek. lagu yang dahulu sering kau dengar ketika berkunjung ke rumah…”
jeda.
“… sebelum kau pergi tanpa pamit..”
dan kali ini jedanya lebih panjang untuk memberi waktu kepada masa lalu kembali mengetuk pintu ingatan. membawa jiu kepada hari-hari yang dipenuhi pencarian dan kebingungan serta menanam harapan. malamnya penuh dengan kerinduan, dan akhirnya menjadi luka.
“tahukah kau bahwa tidak ada sehari pun berlalu tanpa aku memikirkanmu?”
“tidak ada sehari tanpa aku menerka-nerka apa yang sedang kau lakukan..”
“tidak ada hari tanpa aku bertanya-tanya kepada langit bagaimana caraku untuk menemuimu kembali..”
“bahkan di tengah sibuk dan di tengah gelak tawa teman-temanku, aku masih berharap dapat membersamai semuanya denganmu..”
pada saat itu, genggaman tangan mereka menjadi erat. jiu menggigit bibirnya guna menahan air mata. tidak, sekarang … tidak sampai surat tersebut selesai dibacakan.
sehingga, jiu melanjutkan baris terakhir.
“zayne. aku merindukanmu.”
“kumohon, singgahlah ke dalam mimpiku malam ini.”
“… penuh cinta, jiu nightingale.”
maka tamatlah surat itu dibacakan. dan taman itu kembali tenggelam dalam hening, sebuah hening yang cukup ribut, sebab ada banyak rasa yang tidak mampu disampaikan.
dan zayne perlahan melepaskan genggaman mereka, menggantinya dengan membawa gadis itu turun agar mampu ia bawa dalam pelukan erat. ditariknya tubuh si dara itu mendekat, lalu dibawanya ke dalam dekapan yang penuh dengan penyesalan dan kasih yang tidak pernah benar-benar padam.
dan dari sekian banyak rasa yang berkecamuk di dada, yang mengudara dari mulutnya hanyalah,”maafkan saya, jiu..”
si nona menggeleng pelan,”tidak perlu. malam itu zayne kecil datang ke mimpiku sambil membawa boneka anjing laut,”
“… saya pikir, dengan pergi menjauh … kamu akan semakin mudah membenci saya,”
“lazimnya begitu. tapi hatiku lebih suka merindu, zayne..”
“tapi saya sudah menyakitimu waktu itu, jiu. luka yang saya sebabkan seharusnya masih membekas padamu..”
“ketiadaanmu jauh lebih menyakitkan. aku seperti dihukum berpuluh kali lipat untuk suatu kesalahan yang bahkan aku tak tahu apa.” tangannya mencengkram,”jauh lebih sakit daripada ditepuk wanderer..”
jiu masih menyempatkan terkekeh, dan zayne membalasnya dengan sebuah usapan sayang pada jemala merah muda itu. warna yang mengingatkannya pada manis permen kapas, dan zayne membenci dirinya yang sudah menyakiti gadis yang paling dia kasihi.
“adakah sesuatu yang dapat saya lakukan untuk memperbaikinya?” pelukan melonggar, satu tangan terangkat guna mengusap pipi yang nona dengan penuh sayang. mengusap jejak air mata yang sempat mengalir dari permata biru sedalam lautan.
dan jiu mengusal manja pipinya pada rengkuh telapak sang kekasih,”… bisakah kau berhenti bermain kucing-kucingan denganku, zayne..?”
zayne mendengus pelan, “lebih suka bermain bebek-bebekan?”
“ugh!”
maka satu cubitan kecil hinggap pada pinggangnya.
“aku serius!”
kini kedua tangannya yang menangkup pipi sang letnan,”saya takut akan menyakitimu lagi, jiu..
“itulah ketakutan terbesar saya. daripada segala ancaman di dunia ini, tidak ada yang lebih saya takuti selain menjadi sebab penderitaanmu. dan selain pergi menjauh darimu, saya tidak menemukan jalan lain untuk mengatasi perkara itu,”
maka jiu menggenggam kedua-dua pergelangan tangannya erat-erat, seolah-olah enggan membiarkan lelaki itu melarikan diri lagi.
“zayne, aku lebih rela menghadapi ketakutanmu bersama-sama daripada kehilanganmu kerana sesuatu yang bahkan belum terjadi.”
suaranya jiu tidak meninggi. tidak mengeras. namun, ia teguh seperti batu karang.
“aku percaya padamu lebih daripada yang mungkin kamu percayai pada dirimu sendiri saat ini.”
zayne tidak menjawab. sebab tidak ada lagi yang mampu dipertahankan di hadapan ketulusan jiu. sebab segala tembok yang dibangunnya selama ini sedang runtuh satu demi satu. dan sebab untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasakan dirinya ingin mempercayai masa depan.
yang ada jiu di dalamnya.
“bila kau sekeras kepala itu untuk menjauh dariku, maka aku bisa lebih keras kepala untuk mengejarmu sampai dapat..”
pandangan mereka bertemu, dan zayne tenggelam dalam pusaran arus samudera yang ada di mata kekasihnya. ia terhanyut masuk sampai kening mereka saling bersentuhan.
pejamlah mata lelaki itu perlahan-lahan, seakan-akan sedang membujuk dirinya sendiri bahwa segala yang terjadi bukan hanya mimpi yang akan hilang ditelan fajar.
bahwa dirinya dan jiu baik-baik saja.
zayne dan jiu akan baik-baik saja.
“saya menyayangimu, jiu.” ucapnya,”saya ingin lebih menyayangimu melebih rasa takut saya pada dunia ini..”
- TUNTAS.
메타데이터
- post_id
- f3dea166ac02
- slug
- blooming-hour-epilogue-f3dea166ac02
- url
- https://medium.com/@dienightingale/blooming-hour-epilogue-f3dea166ac02
- canonical_url
- https://medium.com/@dienightingale/blooming-hour-epilogue-f3dea166ac02
- author_url
- https://medium.com/@dienightingale
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 00:23:36