Penyebaran Cerita La Ode Wuna ke Seram (La Ode Wuna dalam Disertasi Geger Riyanto-Bagian 2)
Dokumen yang dibuat oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dapat menjadi petunjuk yang menerangkan bagaimana cerita La Ode Wuna bisa…

Penyebaran Cerita La Ode Wuna ke Seram (La Ode Wuna dalam Disertasi Geger Riyanto-Bagian 2)
Geger Riyanto
Dokumen yang dibuat oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dapat menjadi petunjuk yang menerangkan bagaimana cerita La Ode Wuna bisa sampai ke Seram. Kementrian ini secara rutin menginstruksikan kantor-kantor di seluruh Indonesia untuk menginventarisasi beragam ekspresi dan cerita lokal yang mana di Muna telah muncul beberapa kali dalam bentuk publikasi tentang cerita rakyat di sana (Niampe 2003, Rahmania 2006, Tarimana dkk. 1984). Dari publikasi ini dan perbandigannya dengan cerita La Ode Wuna di Seram, kita dapat melihat bahwa cerita La Ode Wuna telah ada di Muna setidaknya sejak tahun 1970-an atau bahkan lebih tua lagi (Tarimana dkk. 1984). Narasumber dari Muna yang menulis salah satu publikasi di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan mencatat bahwa cerita ini sudah populer sejak ia masih di Sekolah Dasar, kira-kira tahun 1960-an[1]. Sementara itu, pada tahun 1970-an, Sahulau yang saat ini menjadi nama lain untuk La Ode Wuna di Seram, masih diasosiasikan dengan kerajaan Alifuru yang tersohor, ini menunjukkan bahwa gagasan tentang La Ode Wuna belum beredar secara luas di sana. Saya akan membahas hal ini lebih lanjut.
Ada banyak bagian dari cerita La Ode Wuna yang saat ini tersebar di Seram juga terdapat dalam cerita-cerita yang tercatat di Muna. Meskipun begitu, beberapa bagian yang dikisahkan secara detail dalam cerita-cerita di Muna hanya hadir sebagian atau bahkan tidak sama sekali di dalam cerita orang Seram. Cerita-cerita di Muna terutama terdiri atas persoalan keluarga La Ode Wuna yang tidak berhubungan secara langsung dengan pengusiran sosok tersebut dari pulaunya sendiri. Berikut ini adalah cerita La Ode Wuna yang ada pada catatan Tarimana dkk. (1984, 131–132):
Turunnya Tujuh Bidadari
Dahulu kala, tujuh bidadari turun ke sebuah mata air sungai bernama Fotune Rete. Saat mereka ini turun, di saat itu juga lah raja Muna yang bernama La Ode Husein (bergelar Omputo Sangia) sedang mandi di tempat yang lebih tinggi di mata air itu. Para bidadari melihat-melihat ke segala arah dan tidak menemukan siapapun berhubung La Ode Husein telah bersembunyi. Para bidadari lalu mulai melepas pakaiannya yang membuat mereka tidak bisa terbang dan mulai berendam di sungai. Setelah mandi, mereka mengenakan kembali pakiannya dan menari-nari di sana.
Saat para bidadari hendak terbang, sang raja yang tengah mengintai dari tempat persembunyiannya melompat keluar dan menangkap salah satu dari mereka. “saya tidak akan membiarkanmu pergi, saya akan menjadikanmu istriku. Salah siapa kau datang ke kerajaanku?” dia berucap pada bidadari itu. Bidadari yang telah tertawan pun memohon pada raja “ampuni saya, kasihanilah saya, biarkan saya pergi: saya ini makhluk cacat yang tidak memiliki alat kelamin. Karena itu kami, kaum bidadari, tidak bisa melahirkan keturunan. Jika tuan melepaskan saya, saya akan meminta pada Tuhan agar ia memberi keturunan yang cantik seperti kami pada tuan.” Setelah mendengarkan bidadari, raja lalu melepaskan sang bidadari. sang raja memang telah beberapa kali menikah namun belum dikaruniai satu orang anakpun.
Tidak lama setelah itu, permaisuri raja mengandung. Dia kemudian melahirkan seorang putri cantik bak bidadari yang tidak memiliki alat kelamin. sang raja menamainya Wa Ode Kamomono Kamba yang bermakna “bunga yang tidak mekar”. Dua tahun kemudian, permaisuri raja kembali melahirkan seorang putra yang diberi nama La Ode Wuna. Putra raja ini juga lahir tak sempurna. Meskipun penampilannya sangat gagah perkasa, namun setengah badannya dari kaki ke pinggang berbentuk ular, dan dari pinggang ke kepala berbentuk manusia. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, Wa Ode Kamomono Kamba telah tumbuh menjadi gadis dan La Ode Wuna mulai beranjak dewasa.
Raja dan permaisuri sangat menyayangi anak-anaknya dan dalam pada itu banyak anak muda datang berkunjung pada Wa Ode Kamomono Kamba, menyatakan harapan mereka untuk menikah dengannya. Sang raja dan permaisuri pun menjadi khawatir. Mereka malu pada putrinya karena dia cacat dan menolak permintaan para pemuda yang datang berkunjung. Sang raja dan permaisuri pun berdoa pada Tuhan untuk mengambil nyawa putrinya itu. Doa mereka terkabulkan. Tak lama setelah itu, Wa Ode Kamomono Kamba didera penyakit dan menemui ajalnya.
Para pemuda sangat berduka atas kematian sang gadis perawan bak bidadari. Wa Ode Kamomono Kamba lalu dimakamkan di Wadolao, yang berada di wilayah Wasolangka. Sementara itu, La Ode Wuna terus tumbuh dan melalui hari demi harinya, akan tetapi dia tidak ingin keluar rumah karena malu pada bentuk tubuhnya. Di satu sisi ia juga sangat nakal karena selalu menggoda gadis-gadis yang ia incar saat mereka berada di dalam rumahnya. Saat sang raja mengetahui ini, dia meminta orang kepercayaannya untuk mengelabui putranya itu agar ia bisa terusir dari Muna.
Satu hari, orang kepercayaan raja mengajak La Ode Wuna pergi ke pantai di Mantobua untuk bermain perahu. Ia lalu dibuang ke dalam sebuah lubang yang ada di pesisir Wakorumba. Karena lubang itu dapat tembus ke Kulisusu, tak lama berselang ada sebuah rumor bahwa penduduk Kulisusu melihat ada sesosok lelaki gagah perkasa berwujud setengah ular dan setengah manusia hendak pergi ke Maluku. Beberapa waktu kemudian, rumor beredar bahwa La Ode Wuna telah berada di Ternate, dia mengarungi lautan ke Seram dan pergi ke puncak gunung dari pulau itu. Dari rumor yang lain, penduduk Seram sempat melihat seorang laki-laki setengah ular, setengah manusia namun ia segera menghilang dari penglihatan dan lari ke dalam hutan.
Cerita lain yang didokumentasikan pada awal tahun 2000-an di Muna (Rahmania 2006, 156–161) memiliki versi berbeda dari cerita yang dikutip di atas meskipun perbedaannya relatif kecil dibandingkan dengan cerita La Ode Wuna yang ada di Seram. Walau di dalam cerita yang disebutkan terkahir ini mencatat bahwa La Ode Wuna memutuskan meninggalkan Muna atas keinginannya sendiri alih-alih diusir melalui tipu daya ayahnya, dan kemudian menjadi seorang yang sakti ketika tinggal di Maluku, cerita ini toh masih tetap memasukkan peran dari ayah La Ode Wuna, bagaimana dia menyandera bidadari yang tengah mandi di sungai dan bagaimana bidadari memohon untuk melepaskannya dan berjanji untuk mendoakan sang raja agar dikaruniai seorang anak yang membuat permaisuri raja segera mengandung dan melahirkan seorang putri bak bidadari bernama Wa Ode Kamomono Kamba dan juga La Ode Wuna, lelaki menarik bertubuh setengah ular yang senang menggoda wanita. Bagian ini pada sisi yang lain tidak ada atau hanya samar-samar ditampilkan dalam cerita La Ode Wuna yang tersebar di Seram. Deskripsi La Ode Wuna sebagai sosok menawan dan penggoda misalnya, hanya disebutkan secara samar-samar oleh Raja Huaulu. Ia mengatakan bahwa memang pernah mendengar bagaimana La Ode Wuna diusir karena suatu skandal yang memalukan, yang kemungkinan mengacu pada perlakuan La Ode Wuna terhadap para wanita[2]. Para narasumber di Seram juga tidak menyebutkan nama ayah dari La Ode Wuna, melainkan hanya menggambarkan dia sebagai raja Muna dan meniadakan bagian saat raja ini menyandera bidadari dan memiliki putri bak bidadari.
Sekalipun sebagian besar dari latar belakang cerita yang memuat peran kelauarga La Ode Wuna di Muna tidak disebutkan oleh para narasumber di Seram, namun mereka memasukkan detail-detail yang tidak hadir di dalam catatan dari Muna, terutama perjalanannya ke dan saat di Seram. Cerita-cerita dari Muna umumnya berakhir dengan La Ode Wuna yang kemudian tinggal atau berketurunan di Maluku dan tidak memuat apapun yang berkaitan dengan perjalanannya di wilayah itu. Di antara penduduk yang ada di Seram, bagian yang paling ditekankan dari cerita La Ode Wuna adalah bagaimana dia berlayar menggunakan batok kelapa, menanamnya selama perjalanan dan berhenti di beberapa tempat sebelum pergi ke Manusela dan menetap di sana. Juga, beberapa cerita di Seram ada yang mengisahkan bahwa La Ode Wuna berasal dari Buton dan bukan Muna, atau malah menganggap Muna sebagai bagian dari Buton.
Berikut ini adalah cerita La Ode Wuna di Lumoli dan Morokeu yang saya telah singgung secara singkat sebelumnya (Sahusilawane 2005, 38–39).
Kerajaan Sahulau bertempat di Seram. Kata para tetua, kerajaan itu muncul saat perang saudara pecah di kerajaan Nunusaku. Sang raja yang memerintah di seluruh Sahulau bergelar Hana Mese Nusa Nusa Rata Sahulau Samasuru Amalatu Kabasaran. Diceritakan bahwa raja Sahulau bukanlah orang asli Seram, tetapi pendatang dari Sulawesi. Orang-orang mengatakan raja Sahulau adalah putra sultan Buton yang diusir dari kerajaan. Alasan dari pengusiran ini adalah karena tubuhnya yang cacat, yang berbeda dengan manusia normal.
Dia memiliki ekor yang meyerupai ular. Hal ini membuat keluarganya malu dan meminta prajuritnya untuk mengusirnya meskipun sebenarnya ekornya adalah anggota tubuh yang akan memancarkan kekuatan dan kesaktiannya. Setelah diusir oleh keluarganya, sang putra sultan Buton berlayar tanpa tujuan sampai dia tiba di Seram. Karena merasa bahwa pulau itu adalah tempat yang cocok untuk menetap, dia mencari tempat yang sunyi dan aman untuk bermeditasi dengan tujuan merubah tubuhnya menjadi manusia normal. Dengan penuh kesabaran, ia segera berubah wujud menjadi manusia. Dia menggaibkan ekornya dan hanya akan menggunakannya saat membutuhkan senjata untuk membela diri.
Pada suatu hari, sang putra sultan Buton mendengar keributan di dekat tempat tinggalnya dan pergi ke sumber suara itu. Setelah menyeledikinya, dia melihat bahwa ada pertarungan antar saudara di sana. Dia pun melerai pertarungan dan mencegah terjadinya peperangan yang lebih besar. Karena perannya ini, sang putra sultan Buton diberi wewenang untuk membuka sebuah kampung dan menjadi pemimpinnya. Dia lalu memilih tempat di daerah pegunungan, tepatnya di area yang disebut sebagai Sahulau. Dia tempat inilah dia membangun kerajaan yang akhirnya menjadi tersohor, yakni Sahulau.
Setelah menjadi raja Sahulau, kerabat dari kampung halamannya mengunjunginya dan memutuskan untuk menetap di sana. Hal inilah yang kemudian membuat banyak penduduk Sahulau berasal dari Buton. Waktu pun berlalu, kerajaan ini menjadi sangat tersohor dan bahkan membuat perjanjian dagang dengan para pengunjung dari luar negeri, yakni orang-orang Belanda. Sahulau bahkan membuat perjanjian persaudaraan (pela) dengan orang Belanda. Berdasarkan informasi yang diterima oleh tim [peneliti], setiap orang berdarah Buton yang tinggal dan berdagang di Sahulau akan maju dan berhasil. Orang-orang mengatakan hal ini karena keberkahan yang mereka dapat dari leluhurnya, raja Sahulau dari Buton.
Selain itu, berikut ini juga merupakan cerita La Ode Wuna dari narasumber di Sawai:[3]
Ada seorang pemuda dari Buton yang lahir dengan bentuk tubuh bagian atas berwujud manusia dan tubuh bagian bawah berwujud ular. Semua orang menganggapnya sebagai siluman. Dia dihina tak henti-henti oleh teman-temannya karena penampilannya yang menakutkan. Satu hari, sang pemuda tak kuasa lagi menahan hinaan dan memutuskan untuk meninggalkan Buton dengan melompat ke laut. Dia menyeberangi lautan menggunakan dua buah kelapa. Penduduk Masihula, Huaulu dan para pendatang dari Buton meyakini pohon kelapa yang tumbuh dari kelapa milik sang pemuda masih berdiri di desa Sahulau. Perjalanan sang pemuda tidak berhenti pada tempat ia menanam kelapa. Dari sisi barat Seram, dia berkelana ke area pegunungan di sisi timur, melewati beberapa tempat kenamaan termasuk Sawai. Setelahnya dia pergi ke Huaulu. Dia juga tidak tinggal lama di Hualu. Dari sana dia menuju ke Manusela di mana akhirnya dia menetap dan mengakhiri perjalanannya.
Apa yang dapat ditangkap dari perbedaan antara cerita La Ode Wuna di Muna dan di Seram adalah bahwa mitos tentangnya berasal dari Muna dan telah dimodifikasi sedemikian rupa di Seram. Cerita ini kemungkinan dibawa dari Muna ke Seram oleh orang Buton, yang mana di kalangan Buton sendiri cerita ini agaknya sudah populer selama puluhan tahun[4], itu juga dapat menerangkan kenapa asal La Ode Wuna menjadi berganti ke Buton dan kenapa beragam simbol yang secara konsisten disebutkan di dalam mitos ini, seperti kampung Sahulau dan Tanjung Seram, terletak di wilayah Seram Barat. Ketika orang Buton mulai bermigrasi secara besar-besaran ke Seram, wilayah pertama yang ditempati oleh kebanyakan dari mereka adalah Seram Barat. Saat cerita ini mulai beredar di Seram, beberapa detail seperti nama ayah La Ode Wuna, peristiwa tentang bidadari, serta kelahiran Wa Ode Kamomono Kamba seringkali terabaikan oleh pencerita Seram dan juga pendengarnya berhubung mereka tidak mengenali atau juga bisa jadi karena tidak begitu tertarik dengan bagian-bagian itu. Meskipun para pencerita di Seram menyadari bahwa La Ode Wuna memiliki latar belakang cerita di tempat asalnya, mereka nampak tidak dapat mengingatnya dengan jelas. Pada sisi yang lain, bagian-bagian yang menarik perhatian orang Seram dan hanya disebut secara singkat dalam cerita di Muna — yang terdiri atas kedatangan La Ode Wuna di Seram dan perjalanan yang membuatnya menetap di sana — telah disempurnakan. Hal ini praktis menyebabkan persebaran cerita La Ode Wuna di sana lebih banyak berfokus pada perjalanannya yang berujung menjadi pemimpin dari kerajaan orang-orang Seram.
Orang-orang Seram juga telah menambahkan bagian-bagian cerita yang beresonansi dengan kehidupan sosial mereka dan memungkinkan mereka untuk terhubung dengan karakter utama dan cerita tentang perjalanannya. Narasumber dari Sawai mengutarakan bagaimana penduduk Sawai merupakan orang-orang yang memberi gelar Sahulau pada La Ode Wuna ketika dia tinggal di kampung mereka. Dalam catatan yang tersebar di antara orang Buton di Eli Besar, yang telah dikutip dalam bab ini, Orang Alifuru dari Sahulau yang bertemu La Ode Wuna setelah dia tiba di Seram Barat dikatakan takluk pada sosok ini. Orang Alifuru kemudian membawanya ke kampung mereka dan mengangkatnya menjadi raja. Perubahan cerita semacam ini sulit untuk dipahami megingat bahwa yang disebut sebagai orang Alifuru terkenal sebagai pemburu kepala manusia dan penduduk di pesisir disibukkan dengan mempertahankan diri dari mereka[5]. Cerita tersebut, seperti juga mitos sebelumnya yang disebutkan La Sampela, yang juga berasal dari wilayah yang sama, cenderung lebih berimplikasi pada harapan untuk aman dan dihargai oleh orang Alifuru.
Kelapa yang digunakan La Ode Wuna untuk menyeberang dari Muna ke Seram adalah bagian lain yang patut menjadi perhatian. Kelapa selalu ditampilkan dalam hampir semua cerita La Ode Wuna di Seram tetapi ia absen dalam cerita yang berasal dari Muna. Catatan-catatan dari Muna menyebutkan bahwa La Ode Wuna pergi ke Seram dengan memasuki goa yang nama dan tempatnya bermacam-macam bergantung pada naratornya. Sementara itu cerita yang diterdapat di Seram menyebutkan bahwa dia pergi melalui jalur laut, menggunakan kelapa sebagai kapalnya. Penambahan semacam ini kemungkinan disebabkan oleh pentingnya kelapa sebagai simbol kebudayaan di Seram. Kopra jelas merupakan salah satu komoditas utama di Seram dan menjadi penyebab kenapa banyak orang-orang Buton di masa lalu datang dan menetap di sana (Renyaan 2016, Tihurua 2019). Di satu sisi, juga ada mitos terkenal bernama Hainuwele atau “gadis kelapa”, yang turut menyumbang popularitas kelapa di dalam cerita mitologis penduduk Seram yang akan diterangkan lebih lanjut nantinya pada bab ini. Simbol cerita lain yang digunakan untuk menyelaraskan hikayat tentang La Ode Wuna adalah gagasan tentang Sahulau yang telah disebutkan sebelumnya. Dikarenakan peleburan antara sosok La Ode Wuna dan Sahulau telah memberi tahu kita lebih banyak tentang periode ketika dia mulai terkenal dan bagaimana perpindahan orang Buton ke Seram berperan dalam mempopulerkan mitologi tentangnya sebagai sejarah, sekarang kita akan menyelidiki hal ini lebih dalam.
Bersambung ke bagian 3
Diterjemahkan dari Disertasi Geger Riyanto yang berjudul “Being Strangers in Eastern Indonesia: Misunderstanding and Suspicion of Mythical Incorporation among the Butonese of North Seram”.
Penerjemah: Fair Naza
[1] Komunikasi pribadi dengan La Niampe pada 12 Oktober 2021.
[2] Dari wawancara saya sendiri dengan raja Huaulu pada tanggal 22 Juli 2015. Muhammad Damm kemudian juga mengkonfirmasi hal yang sama ini saat tinggal bersama raja selama penelitian lapangannya.
[3] Dari catatan lapangan Ikhtiar Hatta yang tidak terpublikasi.
[4] Sejak tahun 1980-an atau mungkin lebih awal, kisah La Ode Wuna juga telah populer di Buton. Ada variasi cerita yang aneh yang diceritakan di Wolio, pusat Kesultanan Buton, pada tahun 1981 (Schoorl 1985, 14–15). Penduduk kampung Parigi pun mengakui bahwa mereka telah mendengar cerita La Ode Wuna ketika mereka berada di Buton atau pulau asal mereka. Beberapa tetua mengaku telah mendengarnya dari orang tua mereka ketika mereka masih kecil, yang memungkinkan bahwa cerita tersebut telah beredar di pulau asal mereka sejak tahun 1960-an. Dalam penuturan Schoorl, La Ode Wuna tidak pernah meninggalkan Muna. Ia mampu bernyanyi dengan indah. Suatu hari, ia bernyanyi di ruang depan. Ibunya mendengar lagu itu dan tidak dapat menahan keinginannya untuk berhubungan seksual dengannya. Karena bersetubuh dengan ibunya, La Ode Wuna dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya. Saat hendak dieksekusi, La Ode Wuna berubah menjadi air dan menjadi sungai yang dikenal sebagai Uwe Igoraaka. Citra La Ode Wuna sebagai sosok yang menggoda selalu muncul dalam kisah-kisah dari Muna. Setiap versi cerita yang saya kumpulkan dari Muna menceritakan bahwa La Ode Wuna pernah merayu perempuan dan memberikan kesan bahwa ia seorang penggoda. Hal inilah yang menyebabkan La Ode Wuna dibuang menurut beberapa kisah, meskipun versi lain tidak mengaitkan kedua hal ini.
[5] Selain mudah tersulut ketakutan dan menembak ke mana-mana ketika mereka mengira telah melihat pemburu kepala, sebagaimana telah disebutkan, penduduk pesisir tahu bahwa mereka tidak boleh membiarkan orang Alifuru menguntit mereka dari belakang. Orang Alifuru sebaliknya juga tidak akan menyerang calon korban mereka dari depan (Sachse 1922, 88).
메타데이터
- post_id
- f3f3a176aeb0
- slug
- penyebaran-cerita-la-ode-wuna-ke-seram-la-ode-wuna-dalam-disertasi-geger-riyanto-bagian-2-f3f3a176aeb0
- url
- https://medium.com/@fairnaza/penyebaran-cerita-la-ode-wuna-ke-seram-la-ode-wuna-dalam-disertasi-geger-riyanto-bagian-2-f3f3a176aeb0
- canonical_url
- https://medium.com/@fairnaza/penyebaran-cerita-la-ode-wuna-ke-seram-la-ode-wuna-dalam-disertasi-geger-riyanto-bagian-2-f3f3a176aeb0
- author_url
- https://medium.com/@fairnaza
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 05:46:27