← Back to list

Anything Above a Heartbeat…

Tepat 163 hari Jumat yang lalu, pada bulan Oktober yang sudah mulai dingin, aku sedang asyik duduk di lapangan rumput kampus di tengah…

Rakean Radya Al Barra · 2025-11-28 15:16 · 135 claps · 4.0 min read
#muda #sehat #kaya #luang #hidup
Open on Medium ↗

Anything Above a Heartbeat…

Photo by Joshua Chehov on Unsplash

Photo by Joshua Chehov on Unsplash

Tepat 163 hari Jumat yang lalu, pada bulan Oktober yang sudah mulai dingin, aku sedang asyik duduk di lapangan rumput kampus di tengah hari. Sinar matahari mendarat nyaman pada jaket-jaket tebal kami, sementara daun pada ranting pohon sekitar sudah cukup menyala. Kami bersila di atas karpet besar dan mengangguk-ngangguk kepada seorang tamu yang sedang berbicara di depan. Ia adalah khatib. Kami sedang salat Jumat. Dan aku masih ingat khutbah Jumatan itu hingga hari ini.

Hari itu adalah hari spesial untuk UPenn Muslim Student Association (MSA), sebab untuk satu hari, kami diperbolehkan untuk mengadakan Jummah on the Green, atau basically salat Jumat di lapangan tengah kampus. Kali ini, MSA mengundang Ustadz Mikaeel Ahmad Smith, seorang mualaf African American yang terkenal sebagai orator yang handal, untuk menjadi khatib.

Ada dua kata kunci yang ia bahas: entitlement dan indebtedness.

Jummah on the Green

Jummah on the Green

Ustadz Smith mengawali dengan memberi contoh-contoh bertubi-tubi dari perilaku kita sehari-hari yang menunjukkan betapa entitled-nya manusia. Dalam kata lain, entitled adalah merasa berhak. Kita mengambil keuntungan yang tidak adil karena merasa berhak. Kita melakukan kebohongan kecil karena merasa berhak. Kita abai terhadap saudara seumat kita karena merasa berhak. Kita meminta tolong kepada orang tua atau saudara seolah menyuruh karena merasa berhak.

Ia menyebut bahwa kecenderungan ini memang ada, tetapi jika dibiarkan akan semakin melenceng dari fitrah.

Sebaliknya, yang perlu dipelihara adalah rasa indebtedness rasa berhutang. Sebab, semua yang kita ‘punya’ sejatinya bukan milik kita. Dengan begitu, kita menggunakan barang pinjaman ini dengan hati-hati — toh Pemiliknya akan menagih suatu saat. Kita merawat tubuh yang diberikan karena kita berhutang. Kita mengembangkan intelek yang dianugerahkan karena kita berhutang. Kita menebar manfaat karena kita berhutang. Kita meniagakan eksistensi kita karena kita berhutang.

Keberhutangan eksisential pula ialah satu konsep dasar dalam dīn kita:

Menurut Prof. al-Attas, konsep dīn pada hakikatnya bermula dari keberhutangan. Hutang yang dimaksud di sini adalah hutang eksistensial: potensi fisik maupun nonfisik yang istimewa dibanding makhluk lain [23:14, 95:4]. Dengan keistimewaan akal dan nafsunya, manusia diberi kemampuan untuk berikhtiar. Inilah yang pada akhirnya menjadikannya mampu melakukan berbagai manipulasi canggih pada bumi yang dipijaknya, melahirkan begitu banyak teknologi dan kemajuan (serta kerusakan). Potensi ini tidak hadir pada makhluk-makhluk lainnya.

Dengan demikian, eksistensi kita sebagai bentuk terbaik, atau ahsani takwim, merupakan hutang.

Setelah itu, dengan gerakan tangan tegas nan luwes, Ustadz Smith berkata, “Y’all gotta realize: anything above a heartbeat is a bonus.” — Apapun lebih dari satu buah detak jantung adalah bonus.

Retorika yang powerful. Walau kupaham maksudnya, mungkin sedikit kurang lengkap. Sepertinya, bahkan satu buah detak jantung itu sendiri adalah bonus jua.

“Semoga Dalam Keadaan Sehat 🙏🏼”

Photo by Bruno Nascimento on Unsplash

Photo by Bruno Nascimento on Unsplash

Aku tidak ingin terdengar terlalu preachy, tetapi sekarang aku mulai (lebih) paham apa yang dimaksud oleh para orang tua ketika mereka memberi begitu banyak petuah soal memanfaatkan masa muda (dengan semua energi yang dimiliki dan segala macam).

Bukannya aku sudah merasa jompo, tetapi ada saja beberapa kasus yang membuatku seketika ngeh betapa besar proporsi hal yang we take for granted — yang kurang kita apresiasi atau syukuri. Bisa jadi, hal ini terjadi karena kurang aware aja. Namun, kurasa ada juga elemen entitlement, atau merasa berhak.

Ketika sakit sedikit saja, kita gampang banget protes. Eh bentar dulu. Kenapa protes? Is that you feeling entitled?

Apakah kita yang berjuang dan senantiasa sedang meregulasi segala aliran elemen dan sistem kompleks dalam tubuh agar tetap utuh dan fungsional dalam keseharian? Apakah kita yang effort secara sadar untuk mendetakkan jantung? If not, kok kita merasa berhak untuk protes? — apalagi ketika sakit tersebut tak jauh dari kelalaian kita sendiri haha.

Pelajaran ini seolah-olah harus berulangkali kuulangi akhir-akhir ini, dan mungkin untuk alasan yang baik. Ia adalah pengingat bahwa anything above a heartbeat (and including a heartbeat!) is a bonus. Maka dengan merefleksikan Jummah on the Green itu, protes-protesku dan segala keberatanku dengan diri yang sedikit lebih tidak bisa ini dan itu selagi sakit bisa lebih diregulasi dengan rasional.

Mudah-mudahan memang hanya butuh sakit-sakit kecil untuk menyadarinya. Contohnya, kubisa benar-benar bersyukur atas segala kompleksitas dari sistem pada siku setelah jatuh di kamar mandi dan membuat siku kanan sakit selama 2 bulan (lalu melupakannya lagi setelah sudah mendingan haha). Atau, kubisa betul-betul menghargai keringanan dalam berkegiatan pada usiaku setelah salah posisi pada latihan Hyrox membuatku punya lower back pain selama seminggu. Juga, kubisa lagi dan lagi menyadari bahwa otak yang sering diandalkan ini pun begitu di luar kapasitas dan kontrolku setelah sakit-sakit kecil membuatnya pusing dan ngahuleng.

Itu pun baru bicara hal-hal fisik.

Jika kita peka, kehidupan normal nan membosankan yang kita jalani itu begitu penuh dan kaya dengan bonus-bonus yang jauuh di luar kapasitas kita. Dasar weh manusia baru sadar ketika itu sedikit saja direnggut — lalu ia protes karena merasa berhak, padahal itu ialah barang pinjaman.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341)


메타데이터
post_id
f40c5e8c3fb2
slug
anything-above-a-heartbeat-f40c5e8c3fb2
url
https://medium.com/@rakeanradya/anything-above-a-heartbeat-f40c5e8c3fb2
canonical_url
https://medium.com/@rakeanradya/anything-above-a-heartbeat-f40c5e8c3fb2
author_url
https://medium.com/@rakeanradya
status
ok
fetched_at
2026-06-17 18:46:00