Islam: Menghimpun yang Terserak dan Memuliakannya
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدْخُلُواْ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً
Islam: Menghimpun yang Terserak dan Memuliakannya

Ilustrasi masjid sebagai pusat kegiatan (Sumber: https://www.bbc.co.uk/bitesize/articles/zr8m2v4#zjgc4xs)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدْخُلُواْ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara utuh (Al-Baqarah: 209).”
Kata silm umumnya diartikan para mufassir sebagai Islām, yakni kepatuhan dan ketundukan. Secara etimologis, silmun berarti tangga. Sebuah kata yang dengan indahnya mengungkapkan kapasitas agama Islam sebagai tangga yang dengan menapakinya manusia akan mencapai kesempurnaan diri. Islam sendiri adalah anak tangga tertinggi dalam tangga agama dan dalam beberapa bagiannya termasuk sains. Dalam makna yang terakhir ini, penulis akan sedikit elaborasi.
Mari kita mulai dari masjid. Sulit rasanya memisahkan menara dan kubah dari arsitektur sebuah masjid. Begitu lekatnya, sangat boleh jadi tidak sedikit yang beranggapan bila menara dan kubah merupakan bagian asli dari arsitektur Islam. Sayangnya tidaklah demikian.
Menara berasal dari kata Arab, manārah (mercu suar) yang berawal dari tradisi Majusi untuk tempat penyimpanan api abadi. Sementara kubah dari kata Arab qubbah (tenda penutup) yang secara arsitektural mengungkapkan keagungan dan sakralitas. Kata Inggris dome berasal dari kata Latin domos (rumah) yang darinya istilah domisili (tempat tinggal) kita kenali sekarang.
Tradisi menara diadopsi kaum muslimin dari Persia. Konon pada masa Muawiyah sekira tahun 665 menara mulai menjadi bagian dari arsitektural masjid. Sumber lainnya menyebut tahun 673 atau 41 tahun setelah Rasulillah saw mangkat. Pun demikian halnya dengan kubah. Konstruk lengkung di tengah bangunan ini merupakan tradisi arsitektural Romawi. Jejak kubah pertama dalam sejarah Islam tercatat tahun 691 yaitu dibangunnya Kubah Batu (Ing. Dome of the Rock; Ar. Qubbah al-Sakhrah) di tengah-tengah masjid Al-Aqsha di Yerusalem., Palestina. Melalui Islam, baca arsitektur masjid Islam, menara dan kubah dibawa menapaki anak tangga tertingginya pada tempat peribadatan kaum muslimin.
Dalam bidang sains lainnya, khususnya matematika, Al-Khawarizmi (780–850) menyempurnakan pekerjaan matematikawan Hindu, Brahmagupta (598–668) berkenaan dengan konsep nol. Al-Khawarizmi, yang mana istilah algoritma berasal dari namanya, dikenang dunia sebagai orang yang mempopulerkan bilangan nol.
Sementara dalam dunia filsafat. Al-Farabi (872–951) secara sungguh-sungguh mengkaji filsafat Yunani Klasik. Ia mampu memahami, menjabarkan, dan mengkomparasi filsafat Yunani Klasik Plato dan Aristoteles dengan filsafat Islam. Tak mengherankan jika Al-Farabi disebut sebagai salah satu filsuf kaliber dunia. Bahkan ia didaulat sebagai The Second Master atau Guru Kedua setelah Aristoteles. Islam laksana tangga bagi filsafat Yunani untuk mencapai ketinggiannya.
Atas jasa besar Islam inilah Robert Briffault (1876–1948) dalam magnum opus-nya, Making of Humanity menulis: “Di bawah pengaruh kebangkitan budaya bangsa Arab dan Moor (abad ke-8) dan bukan pada abad ke-15, kebangkitan yang sebenarnya terjadi. Spanyol, bukan Italia, adalah tempat lahirnya kembali Eropa. Setelah semakin terjerumus ke dalam barbarisme, negara ini telah mencapai tingkat ketidakpedulian dan degradasi yang paling gelap ketika kota-kota di dunia Sarasin, Bagdad, Kairo, Cordova, dan Toledo, menjadi pusat peradaban dan aktivitas intelektual yang sedang berkembang. Di sanalah muncul kehidupan baru yang kemudian tumbuh menjadi fase baru evolusi manusia. Gejolak kehidupan baru dimulai ketika pengaruh budaya Muslim mulai terasa.”
Hal senada diungkapkan George Sarton (1884–1956) bahwa pencapaian utama, sekaligus yang paling tidak kentara, pada Abad Pertengahan adalah terciptanya semangat eksperimental dan hal ini terutama disebabkan oleh umat Islam hingga abad ke-12.”
Lebih spesifik lagi Alexander von Humboldt (1769–1859) menegaskan bahwa bangsa Arab layakan dianggap sebagai pendiri ilmu fisika sesuai dengan arti istilah yang biasa kita gunakan. Seakan menyimpulkan semua, Roger Bacon (1220–1292) dengan fasih mengungkapkan: “Alam ditafsirkan oleh Aristoteles, sementara Aristoteles ditafsirkan oleh Ibnu Rusyd.” Ungkapan Bacon menyiratkan makna silm (tangga) sebagaimana disampaikan sebelumnya.
Islam sungguh rahmat bagi alam. Ia datang untuk menghimpun yang terserak dan mengukuhkan kemuliannya. Persia, India, Yunani dan Afrika, atau bahkan kearifan lokal kawasan lainnya yang belum tersingkap tidak akan mahrum dari pemuliannya. Terasa sangat benar saat Prof. Abdus Salam (1926–1996) menegaskan bahwa sains adalah warisan dunia yang tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Sebutan Islam dengan Silm membawa penulis kepada penyebutan Selam untuk Islam oleh pujangga Sunda dalam naskahnya yang kemudian dikenal sebagai Carita Parahyangan. Naskah ini diperkirakan ditulis tahun pada 1580. Di dalamnya kita membaca:
Tembey datang na prebeda. Bwana alit sumurup ring ganal, metu sanghara ti Selam
“Awal datangnya perubahan. Cara halus menyusup kepada yang kasar, sebabnya adalah pengaruh dari Islam (Carita Parahyangan, 1580, bait 25).”
메타데이터
- post_id
- f4382cdae116
- slug
- islam-menghimpun-yang-terserak-dan-memuliakannya-f4382cdae116
- url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/islam-menghimpun-yang-terserak-dan-memuliakannya-f4382cdae116
- canonical_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/islam-menghimpun-yang-terserak-dan-memuliakannya-f4382cdae116
- author_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 02:50:08