Fatamorgana (Teaser)
https://open.spotify.com/track/6DH13QYXK7lKkYHSU88N48?si=07fb396ac03f43f5
Fatamorgana (Teaser)

(cw// physical abuse)
[embed]
Pagi yang dingin. Cold, cold winter.
Gregory Raksaka berjalan cepat menyusuri garbarata Heathrow, setelah hampir 20 jam perjalanan dari ibukota Jakarta. Menuntun koper cabin kecil berwarna kehijauan, Greg — panggilan akrabnya sejak kecil — mengantre pada antrian passport check imigrasi. Detak jantungnya tidak karuan, penuh ambisi dan optimis. Tangannya berkeringat walau suhu sedang dingin satu digit celcius.
I’m back here again, England.
Mata Greg tidak berhenti melihat sekeliling, kalau-kalau ada antrian yang lebih pendek. Greg bahkan sudah menaruh airpods-nya pada bungkusnya, suatu hal yang Greg lakukan untuk mendapatkan fokus penuh. Apakah mungkin memiliki ADHD? Greg sempat ingin mengecek namun itu bukan ketakutan yang harus dipikirkan sekarang.
Apa mungkin tidak lolos imigrasi?
Greg memajukan langkah ketika petugas berseragam biru dengan vest hitam menyautkan “Next!”; mensinyalkannya untuk maju ke salah satu bilik. Peluh di pelipis Greg jatuh menyusuri sisi tepi dahi dan pipi, pandangannya tajam ke arah petugas. Greg dengan groginya memberi senyum kikuk, yang dibalas dengan tatapan tidak tertarik.
“You alright?” ucap sang petugas dengan logat British kental, yang dibalas dengan satu kali anggukan mantap (Greg sudah latihan di pesawat). “Yeah,” ucap Greg rendah agak ragu. Petugas menatapnya datar, bolak balik pada paspor dan muka Greg yang letih karena jetlag. Petugas menghela napas, sepertinya yang lelah bukan hanya Greg saja.
“Put your four fingers on the scanner,” petugas itu memberi cap pada paspor sambil menguap. Greg menaruh jarinya perlahan, dan tersenyum kikuk lagi. Menghela napas, petugas tersebut menyodorkan paspor Greg di antara kedua jarinya.
“Welcome back.”
Greg kemudian sampai accom tempat dia akan tinggal selama graduate visa. Bulan Desember lalu, Greg telah mendapatkan gelar MSc of Marketing dan merayakan kelulusannya bersama keluarga. Setelah berdiskusi, ayah Greg menyetujui keinginan anak laki-lakinya untuk mencoba perantauan di Britania Raya ini. Greg sendiri belum yakin apakah peruntungannya di sini akan membawanya kepada kesuksesan, namun salah satu keinginan Greg adalah untuk jauh dari rumah.
Rumah… Apa pula arti rumah?
“Hey mate! So good to see you back!” seorang laki-laki Jepang menyapa Greg dari balik salah satu kamar. Greg tersenyum lebar dengan mata lelah, dengan sisa tenaga menghampiri. “Yuki mate! How are you, man?” Greg meraih tangan untuk bersalaman ala brofist. Yuki Tsuchiya memberi peluk singkat dari samping, menepuk punggung Greg dua kali. “Shit, you look fucked!” ucap Yuki sambil tertawa mengejek. Greg hanya ikut terkekeh.
“Fucking 20 hours flight bro,” ucap Greg sambil menggeret 1 koper besar dan 1 koper kecil. “Need some naps. Maybe 12 hours?” Greg membuka kunci pintu kamarnya. Yuki mengekor sebentar di belakang. Ketika kuncinya terbuka, Greg berbalik. “See you tomorrow bro. I’d like to rehearse my death.”
Yuki tertawa canggung, ada sedikit rasa khawatir. “Man, don’t make this flat a crime scene,” ucap Yuki. “I’ll wake you up for dinner then. Go sleep bro, you need that bad.”
“Aksa Adicandra, anda harus ikut saya ke kantor polisi,” ucap seorang laki-laki paruh baya dengan baju kaus longgar dibalut dengan jaket kulit. Ada kurang lebih sekitar 10 orang polisi di sekeliling pagar rumah, dengan dua mobil Toyota Veloz. Tangan Aksa bergetar, dahi bersimbah keringat. Matanya panas ingin menangis. Kupingnya berdenging, seperti tidak bisa mendengar apa-apa. Hanya ada sayup teriakan ibunya yang menangis, memohon-mohon jangan bawa anak saya, pak…
Otak Aksa memutar reka adegan selama setahun ke belakang. Kok bisa ya, masih kecolongan? Aksa berpikir, selama ini yang sudah dilakukan adalah the perfect crime. Kedatangan polisi di tengah malam seperti ini merupakan miskalkulasi besar. Celah ini harusnya tidak ada. Bisnis gelapnya sudah diberhentikan dari awal tahun lalu. Semua jejak telah dibersihkan. I’m not in fucking Jakarta anymore.
Adik sepupu Aksa, Felix Cahaya, menyerahkan diri. “Jangan bawa dia, pak. Aksa tidak terlibat. Saya yang bertanggung jawab.” Polisi tersebut menaikkan alisnya, lalu tersenyum puas. “Pancingan saya berhasil, dong. Berarti anda mengakui bahwa anda bersalah?” Aksa meneteskan air mata, kepalanya pening. Felix hanya mengangguk, sambil menyodorkan kedua tangannya. Ibu Aksa hampir pingsan, berseru ya Tuhan, ya ampun Tuhan.
Aksa terdiam mematung, melihat adik sepupunya dibawa pergi oleh segerombolan polisi tidak berseragam yang ternyata sudah lama memantau pergerakan mereka. Felix berjalan sempoyongan, di dorong masuk ke dalam mobil. Salah satu dari mereka kembali menghampiri Aksa yang berdiri kaku di pagar.
“Lihat saja, Aksa Adicandra,” ancamnya, kemudian berbalik badan kembali ke mobil. Aksa melihat kedua mobil itu pergi, hingga menghilang dari ujung matanya.
I am so, fucked. Fucked up.
Aksa dan Greg awalnya saling kenal pada saat acara basket tahunan kampus. Walaupun mereka satu jurusan, mereka belum pernah berkenalan secara formal. Ditambah, Greg telat ikut ospek. Jadi agaknya sulit menemukan momen mereka bisa bertukar nama dan berjabat tangan.
Greg sudah lama melihat gerak-gerik Aksa. Gaydar Greg yang cukup akurat mensinyalir bahwa Aksa gay, atau queer. Tapi agaknya akan kurang sopan kalau Greg menghampiri Aksa hanya untuk sekedar bertanya eh lo gay kan???
Jujur saja, sebelum Greg menyadari betapa tidak straight-nya Aksa, sebaliknya malah Aksa yang sudah menyadari keberadaan seorang Gregory Raksaka terlebih dahulu. Pada sebuah kelas Bahasa Inggris, Aksa yang tengah bosan menunggu kelas di mulai melihat sekeliling kelas untuk mengecek seluruh mahasiswa di kelas itu. Kelas pagi semester 2 yang memalaskan itu membuat fokus Aksa buyar. Namun ketika Greg masuk, mata Aksa segar kembali. Hatinya berdesir, dan klise se-klisenya. Greg terlihat menunduk malu, berjalan menyusuri lorong kelas untuk mencari kursi kuliah Chitose yang masih kosong.
Ada yang cakep juga di kampus ini.
Tapi bukan itu yang membuat Aksa jatuh hati. Pada kelas berikutnya, Aksa memastikan untuk datang lebih pagi seperti minggu lalu supaya tidak melewatkan kedatangan Greg. Sebuah hiburan tersendiri melihat sesosok mahakarya Tuhan di tengah hiruk pikuk konflik rumah yang membuatnya mual. Setidaknya, dadanya tidak terlalu sesak karena amarah. Dadanya sesak karena berdebar. Seperti… Hidup kembali. Gebukan yang dilayangkan ayahnya tidak lagi nyut-nyutan, walau tangan dan punggungnya babak belur.
Dosen kemudian mempersilahkan mahasiswanya untuk mempresentasikan sebuah topik dalam Bahasa Inggris. Aksa secara tidak sadar duduk mengarah ke Greg, walau mata fokus ke depan dan tak lupa mencuri-curi pandang. Greg terlihat gugup, seperti ragu ingin maju atau tidak. Lantas, Greg kemudian mengangkat tangannya pelan, sedikit takut. Untungnya dosen cukup cekatan melihat kesediaan Greg untuk maju ke depan. Setelah dipersilahkan, Greg maju ke depan dengan tangan sedikit gemetar.
Aksa cukup impressed. Ingin tahu apa kebolehannya, Aksa merapihkan duduknya dan kembali mengarah ke depan. Fokusnya penuh pada Greg, namun relaks dan menyender pada kursi. Layaknya film bioskop ingin dimulai. Tangannya mengetuk meja, tidak sabar.
Topik kali ini tentang future career. Greg dengan lihai menjelaskan bahwa ia ingin bekerja di stasiun TV, yang merupakan cita-citanya dari SMA. Ia suka menulis, dan ingin menjadi bagian dari tim kreatif. Ia juga ingin memiliki kesempatan untuk menulis sebuah sitcom dan terlibat proses syuting. Semua ini menjadi alasan Greg berkuliah di Jakarta, yang di mana padahal Greg besar di Bandung.
Semua yang keluar dari mulut Greg tidak ada diproses oleh otak Aksa yang sekian waktu short-circuited. Yang terproses hanyalah suara Greg berbicara Bahasa Inggris yang terdengar layaknya lantunan musik klasik orkestra. Merdu. Indah. Presisi.
Dosen mengangguk puas, lalu mempersilahkan Greg duduk. Semburat merah menghiasi pipi Greg, yang lalu menghembuskan nafas lega ketika duduk. Sebuah kemenangan kecil yang juga dirasakan oleh Aksa yang tersenyum senang dibalik tumpuan tangannya di meja, jaga-jaga jika ada orang yang menyadari jantung Aksa berderu terlalu kencang di telinganya.
Kembali ke acara basket itu, Greg memberanikan diri untuk duduk di sebelah Aksa pada suatu pertandingan basket. Rasa ingin tahu ini terlalu menyiksa, apalagi Greg belum punya teman sesama queer di semester ke-4 perkuliahan ini. Rasanya cukup sepi dan sendiri. Sepertinya tidak salah untuk berteman (dan bertanya). Aksa malah dibikin kebelet pipis soalnya rasa sukanya sudah setahun. Greg cuma menatap Aksa, lalu tersenyum ramah. “Boleh ya gue duduk di sini?” tanyanya basa-basi karena Greg sudah duduk duluan.
“Iya, duduk aja. Anggep rumah sendiri,” balas Aksa garing, padahal udah skakmat sekali bingung harus jawab apa. Greg tertawa geli. Aksa jantungnya mau copot soalnya ini pertama kalinya Aksa melihat ekspresi lain dari Greg yang biasanya hanya tertunduk malu ataupun sibuk sendiri. Greg fokus ke permainan, sesekali berseru semangat! kepada pemain. Aksa mau tidak mau melihat ke lapangan, takut kalau Greg tahu Aksa suka memperhatikannya. Setidaknya, fokusnya jadi ke basket sambil meredakan detak jantungnya yang tidak karuan.
“Tukeran IG yuk?” tanya Greg, sambil menyodorkan handphone miliknya. Perkenalan mereka ternyata tidak dengan bertukar nama dan berjabat tangan. Namanya juga anak kuliah, everyone knows everyone. Pembedanya hanya dari keabsahan pertemanan yang dilihat dari akun Instagram yang saling mem-follow. Aksa mengangguk cuek yang dibalas senyum lebar oleh Greg.
Aksa mengetik nama akunnya, lalu menyodorkan kembali handphone Greg. Tanpa Greg sadar, Aksa sudah tahu akun Greg dari pertama kali kelas Bahasa Inggris tahun lalu dan sesekali mengunjungi lamannya. Greg masih tersenyum puas.
“Salam kenal Aksa, gue Greg.”
메타데이터
- post_id
- f443781bbf4d
- slug
- fatamorgana-teaser-f443781bbf4d
- url
- https://medium.com/@pxstelish/fatamorgana-teaser-f443781bbf4d
- canonical_url
- https://medium.com/@pxstelish/fatamorgana-teaser-f443781bbf4d
- author_url
- https://medium.com/@pxstelish
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13