Perang Atensi di Layar HP Kita: Ketika Kepanikan "Perang Dunia 3" Dijual sebagai Komoditas
Foto oleh Aidan Bartos di Unsplash
Perang Atensi di Layar HP Kita: Ketika Kepanikan "Perang Dunia 3" Dijual sebagai Komoditas
Foto oleh Aidan Bartos di Unsplash
Ada siklus yang rutin berulang di linimasa kita. Setiap kali terjadi letupan di Timur Tengah atau Laut China Selatan, jutaan orang Indonesia tiba-tiba menjelma menjadi pakar geopolitik. Selalu muncul pula genre pendamping yang sama: ajakan menyiapkan stok beras, mengisi tabung gas, memenuhi tangki bensin, karena "siapa tahu perang benar-benar pecah." Dua atau tiga hari kemudian, semuanya reda. Tidak ada perang dunia. Yang tersisa hanyalah kelelahan di kepala pembaca dan pundi-pundi iklan pada portal berita yang malam itu memanen klik dalam jumlah tak wajar.
Fenomena ini bukan kebetulan. Ia adalah produk dari ekosistem ekonomi yang bekerja dengan logikanya sendiri, logika yang jarang kita bedah secara serius. Dua buku terbit pada 2016 memberi kita perangkat untuk membongkarnya: Methods of Critical Discourse Studies (Wodak dan Meyer, 2016) dan The Attention Merchants (Wu, 2016). Dibaca bersama, keduanya menjelaskan dua sisi fenomena yang sama, yaitu bagaimana bahasa panik dirakit dan mengapa ia terus-menerus diproduksi.
Diksi Bukan Deskripsi: Lima Strategi di Balik Judul Berita
Wodak dan Meyer membuka buku mereka dengan klaim dasar yang perlu kita pegang: wacana bukan cermin dunia, melainkan praktik sosial yang membentuk dunia (Fairclough dan Wodak, 1997, dikutip dalam Wodak dan Meyer, 2016, hlm. 6). Ketika sebuah portal menulis "Perang Dunia 3 di Depan Mata?", kalimat itu bukan sekadar laporan netral. Ia membentuk suasana batin pembaca, menentukan apa yang mereka anggap layak dicemaskan, dan memengaruhi perilaku mereka sesudahnya. Diksi adalah tindakan, bukan sekadar pilihan gaya.
Dari titik ini, Discourse-Historical Approach atau DHA yang dirumuskan Reisigl dan Wodak (2016) menawarkan lima strategi wacana yang bisa langsung kita pakai untuk membedah judul berita mana pun.
Nominasi adalah pintu pertama, yaitu bagaimana sebuah peristiwa diberi nama. Menyebut serangan udara terbatas sebagai "eskalasi regional" berbeda jauh dengan menyebutnya "Perang Dunia 3". Pilihan penamaan adalah pilihan bingkai, dan bingkai adalah pilihan ekonomi. Yang pertama tidak menjual; yang kedua membanjiri portal dengan klik.
Predikasi adalah lapis berikutnya, yakni sifat-sifat yang dilekatkan pada peristiwa. Dalam liputan panik geopolitik, kosakata tertentu berulang dengan frekuensi yang mengejutkan: mencekam, siaga tinggi, dunia tahan napas, krisis memuncak. Masing-masing bisa dibela secara individual. Namun secara kolektif dan berulang, deretan kata itu membangun suasana ketegangan yang memaksa pembaca masuk ke kondisi waspada tinggi bahkan sebelum mereka membaca paragraf pertama.
Argumentasi bekerja lewat topoi, yaitu pola-pola argumen yang membuat sebuah klaim terasa sah. Pola urgensi dan ancaman adalah yang paling sering dipakai: karena dunia di ambang perang, kita harus bersiap; karena harga akan naik, kita harus beli sekarang. Logikanya terasa tak terbantahkan, padahal premisnya sendiri, yaitu bahwa perang memang akan pecah, diambil dari judul berita yang sejak awal dirancang untuk memancing reaksi, bukan dari analisis yang matang.
Perspektivisasi adalah strategi yang paling berguna untuk pembacaan kritis, yaitu dari sudut mana narator berbicara dan, yang sering dilupakan, apa yang sama sekali tidak diberitakan. Ketidakhadiran adalah data, bukan kekosongan. Konteks diplomatik yang sedang berjalan, suara warga sipil yang beragam, sejarah panjang konflik yang menjelaskan mengapa letupan itu bukan kejutan, semuanya hilang dari liputan panik. Bukan karena tidak penting, melainkan karena nuansa tidak menjual sebaik kepanikan.
Intensifikasi menutup kelima strategi ini. Tanda seru, huruf kapital, kata kerja yang meledak-ledak seperti "meletus" dan "pecah" adalah cara sistematis untuk memperbesar daya tekan sebuah pernyataan hingga terasa lebih besar dan lebih mendesak dari kenyataannya.
Satu catatan yang perlu ditegaskan: intensifikasi wacana berbeda dengan kebohongan. Portal yang memproduksi judul berita panik mungkin secara teknis tidak berbohong. Fakta minimum yang mereka laporkan bisa jadi memang benar. Yang mereka lakukan adalah membangun susunan emosional di sekeliling fakta yang sebetulnya biasa saja. Inilah mengapa gerakan pemeriksaan fakta saja tidak cukup sebagai tanggapan. Sebab yang sedang bekerja bukan fakta palsu, melainkan bingkai emosional yang dirakit dengan sangat cermat.
Ideologi yang Terasa Wajar dan Mesin yang Menggerakkannya
Ada bagian di bab pembuka Wodak dan Meyer yang, menurut saya, menjadi inti seluruh argumen buku ini. Mereka menjelaskan bahwa yang paling menarik untuk dibongkar bukan ideologi yang terang-terangan di permukaan, melainkan …
"the more hidden and latent type of everyday-beliefs, which often appear disguised as conceptual metaphors" (Wodak dan Meyer, 2016, hlm. 8).
Rumusan ini meminjam dari Gramsci: dominasi yang paling efektif bukan yang dipaksakan lewat kekuatan, melainkan yang berjalan lewat kewajaran.
Dalam media daring Indonesia, cara kerja seperti itu beroperasi pada tataran yang sering luput dari perhatian. Kita sudah punya kritik terhadap berita palsu, kita punya lembaga pemeriksaan fakta, kita punya kampanye literasi digital. Tapi kita jarang menyentuh lapisan yang lebih dalam: mengapa judul berita "mencekam" terasa normal, mengapa gambar thumbnail merah menyala terasa wajar, mengapa kita menggulir layar melewati judul-judul panik tanpa mengerutkan dahi. Pola konsumsi itu sendiri adalah hasil sejarah yang dibangun dan dipelihara oleh ekosistem insentif tertentu.
Di sinilah bab 9 Wodak dan Meyer memberi jembatan ke persoalan ekonomi. KhosraviNik dan Unger (2016, hlm. 207) berargumen bahwa platform media sosial kontemporer menjalankan model akumulasi modal berbasis kerja tak berbayar dari penggunanya. Setiap kali kita membagikan atau bahkan sekadar berhenti sejenak pada unggahan bertagar "WW3", kita sedang bekerja gratis untuk platform dan media yang mengunggahnya. Istilah prosumption dari Ritzer dan Jurgenson (2010) menggambarkan peleburan peran ini dengan tepat: kita sekaligus berperan sebagai konsumen konten, penghasil data, dan penyebar pesan, semuanya tanpa bayaran dan semuanya dengan antusiasme sukarela.
Tim Wu memperdalam diagnosis ini dengan perspektif sejarah. Ekonomi perhatian bukan fenomena era internet semata. Ia berakar sejak Benjamin Day mendirikan New York Sun pada 1833, menjual koran seharga satu sen dan menyubsidi biaya produksinya dengan cara menjual perhatian pembaca kepada pengiklan. Model bisnis dasar itu tidak pernah benar-benar berubah, yaitu hiburan gratis sebagai umpan, lalu perhatian pembaca dijual kepada penawar tertinggi (Wu, 2016).
Di titik inilah kedua buku menyatu dalam satu diagnosis. Wodak dan Meyer menjelaskan bagaimana teks panik dirakit secara kebahasaan. Wu menjelaskan mengapa teks semacam itu terus diproduksi, karena ada industri berusia hampir dua abad yang bisnis utamanya memanen perhatian manusia lalu menjualnya kepada pengiklan. Industri itu tidak lenyap di era digital; ia berganti wajah dan tumbuh berlipat ganda.
Tidak ada konspirasi besar di balik semua ini. Yang ada hanyalah rantai insentif: portal berita mengejar angka klik, akun agregator hidup dari iklan, algoritma platform menghadiahi konten yang memancing emosi dengan jangkauan distribusi gratis, pedagang memanen lonjakan pembelian. Masing-masing hanya mengikuti kepentingannya sendiri. Hasil keseluruhannya adalah sebuah mesin yang bekerja otomatis setiap kali ada letupan di ujung dunia mana pun.
Literasi Wacana, Bukan Sekadar Literasi Fakta
Ada godaan, setelah sampai di sini, untuk menyalahkan pembaca. Mengapa orang Indonesia mudah panik? Mengapa mereka percaya begitu saja? Reaksi seperti itu terasa paling mudah, namun juga paling tidak berguna.
Sebagai orang yang sempat mengajar sejarah di SMA Jakarta, saya menyaksikan langsung bagaimana anak-anak muda membangun pemahaman mereka tentang dunia dari gambar thumbnail Instagram dan potongan video TikTok. Mereka bukan malas atau tidak cerdas. Mereka tumbuh di ekosistem media yang memang mendidik mereka untuk membaca dunia dengan cara itu. Menyalahkan individu yang terjebak dalam sistem adalah pengalihan tanggung jawab yang nyaman.
Yang jauh lebih produktif adalah membedakan dua jenis kemampuan baca yang sering dicampuradukkan. Literasi fakta bertanya: apakah informasi ini benar? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Lembaga pemeriksaan fakta bekerja pada tataran ini dan mereka melakukan pekerjaan yang penting. Namun literasi wacana bekerja pada tataran yang berbeda dan, saya ingin berargumen, lebih mendasar. Ia bertanya: mengapa kata ini yang dipilih, bukan sinonimnya yang lebih netral? Mengapa hal ini yang ditonjolkan, bukan konteks yang lebih luas? Siapa yang diuntungkan dari bingkai ini, baik secara ekonomi maupun politik?
Inilah yang ditawarkan Wodak dan Meyer sebagai manfaat tak langsung bagi pembaca di luar lingkaran akademis: bahasa untuk menamai susunan emosional yang selama ini hanya bisa kita rasakan sebagai sesuatu yang janggal. Setelah membaca buku ini, judul berita "Perang Dunia 3 di Depan Mata?" tidak lagi terasa sebagai informasi. Ia terasa sebagai sebuah produk yang dirancang, dengan pilihan-pilihan kebahasaan yang bisa kita tunjuk satu per satu.
Pergeseran yang perlu kita bayangkan adalah pergeseran dalam kemampuan baca kolektif. Seorang guru yang menguasai perangkat DHA bisa membawa tangkapan layar judul berita ke kelas dan mengajak siswa membedahnya, bukan untuk mencari kebenaran faktual, melainkan untuk melatih kepekaan terhadap pilihan-pilihan kebahasaan yang bekerja di balik layar. Seorang jurnalis yang sadar bahwa pilihan diksinya adalah tindakan ideologis bisa memilih kata "eskalasi" daripada "perang" ketika faktanya memang baru sampai eskalasi. Seorang pembaca biasa yang terbiasa bertanya "mengapa kata ini yang dipakai?" sebelum membagikan sebuah tautan sudah melakukan intervensi kecil yang, bila dikalikan dengan jutaan orang, akan cukup berarti.
Kalau benar perhatian adalah mata uang abad ini, maka setiap menit yang kita habiskan untuk membaca dengan kepala jernih adalah investasi yang kita buat bukan untuk platform, bukan untuk pengiklan, bukan untuk portal yang memanen klik dari kepanikan kita. Ia adalah investasi untuk diri kita sendiri, untuk kemampuan berpikir yang, bila hilang, akan sangat sulit dikembalikan.
Daftar Bacaan
Fairclough, N. dan Wodak, R. (1997). Critical Discourse Analysis, dalam van Dijk, T. (Ed.), Discourse as Social Interaction. SAGE.
KhosraviNik, M. dan Unger, J. W. (2016). Critical Discourse Studies and Social Media, dalam Wodak, R. dan Meyer, M. (Ed.), Methods of Critical Discourse Studies, Edisi ke-3. SAGE.
Reisigl, M. dan Wodak, R. (2016). The Discourse-Historical Approach, dalam Wodak, R. dan Meyer, M. (Ed.), Methods of Critical Discourse Studies, Edisi ke-3. SAGE.
Ritzer, G. dan Jurgenson, N. (2010). Production, Consumption, Prosumption. Journal of Consumer Culture, 10(1).
Wodak, R. dan Meyer, M. (Ed.) (2016). Methods of Critical Discourse Studies, Edisi ke-3. SAGE.
Wu, T. (2016). The Attention Merchants: The Epic Scramble to Get Inside Our Heads. Knopf.
메타데이터
- post_id
- f4591db61fd0
- slug
- perang-atensi-di-layar-hp-kita-ketika-kepanikan-perang-dunia-3-dijual-sebagai-komoditas-f4591db61fd0
- url
- https://medium.com/@ardimatthew25/perang-atensi-di-layar-hp-kita-ketika-kepanikan-perang-dunia-3-dijual-sebagai-komoditas-f4591db61fd0
- canonical_url
- https://medium.com/@ardimatthew25/perang-atensi-di-layar-hp-kita-ketika-kepanikan-perang-dunia-3-dijual-sebagai-komoditas-f4591db61fd0
- author_url
- https://medium.com/@ardimatthew25
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31