← Back to list

Insight Quest 200 Story Selling

Selama menjalankan quest story selling saya menemukan hal-hal menarik. Apalagi setelah part kedua saya selesaikan yaitu 200 story selling…

Ruslan · 2025-09-25 15:23 · 0 claps · 3.7 min read
#storyselling #jualan #marketing #pemasaran #story-wa
Open on Medium ↗
Wiki topics: ECO · Economy · General MKT · Marketing · General

Insight Quest 200 Story Selling

Photo by Swello on Unsplash

Photo by Swello on Unsplash

Selama menjalankan quest story selling saya menemukan hal-hal menarik. Apalagi setelah part kedua saya selesaikan yaitu 200 story selling. Challenge ini hanya sekadar posting promosi di story WA dan Instagram. Meski sepele, hasilnya mengejutkan. Misalnya di part 1 challenge 100 story selling, saya mendapatkan output menjadi Pede jualan produk fisik orang lain, yang awalnya malu-malu.

Part 1 betul-betul ngasal dan nggak tertata. Dimana prosesnya memang nggak direncanakan. Kalo dapat ide promosi langsung posting ke story. Berbeda dengan part kedua yang memang udah lebih terstruktur perencanaan postingannya. Tertata marketing komunikasinya.

Tapi balik lagi, meski nggak ditata sebagaimana part kedua, tapi di part pertama ini, proses jualannya ternyata membuahkan hasil. Dimana ada beberapa orang yang closing. Makanya setelah itu saya semangat untuk melanjutkan tantangan ini.

Part pertama, hanya fokus jualin produk fisik orang lain, tapi di part kedua saya sudah memberanikan diri produk digital sendiri. Totalnya ada 5 produk, madu saunoe, financial sheet, sewa zoom harian, kelas private microstock, dan e course canva. Masing-masing saya buatkan alur komunikasinya. Kamu bisa lihat disini.

Hasilnya omzet meningkat daripada part pertama, dan lebih penting lagi tingkat kepedean menjual saya meningkat, ditambah cukup pede untuk menjual produk sendiri. Disini juga saya mulai faham alur penjualan dan komunikasi promosi. Juga merasakan betul konsep rule of seven bekerja. Meski masih banyak PR. Tapi not bad lah untuk pemula.

Rule of Seven

Mindset saya dulu tentang jualan sangatlah lucu. Posting sekali dua kali tapi berharap terjadi closing. Terakhir saya memakai mindset ini saat menjual kelas berbayar dengar target closing 20 orang. Hanya posting promosinya hanya dua kali saya berharap terpenuhi kuota tersebut. Tapi ternyata yang ikut hanya 3 orang saja. Sampai-sampai kelasnya dibatalkan dan uang dikembalikan karena kuota minimal tak tercukupi.

Semenjak saya sedikit faham tentang rule of seven. Setidaknya saya sadar, yang saya lakukan dulu, ternyata salah besar. Karena dengan rule of seven, orang akan membeli setelah setidaknya melihat minimal tujuh iklan promosi.

Akhirnya saya uji coba konsep ini. Misalnya ada salah satu produk yang saya jual, jasa sewa zoom harian. Saya posting berminggu-minggu, namun tidak membuahkan hasil apapun. Sampai akhirnya setelah postingan iklan yang ke 8, akhirnya closing pun terjadi. Setelah closing perdana, berikutnya terjadi closingan lagi dan lagi.

Jualan tidak perlu muluk-muluk

Dari 200 story selling yang hanya mengandalkan story WA dan IG saja. Ternyata yang seremeh itupun memberikan hasil. Artinya bagi pemula, untuk memancing closing, tidak harus dengan kolam yang besar, kolam yang kecil di lingkup story pun tetap bisa. Dari latihan di kolam kecil, maka pelan-pelan bisa merambah ke kolam besar.

Awalnya digital marketing yang saya fikir, cuma seputar ads saja. Dimana itupun sulit dan butuh modal, tentu agak berat bagi pemula yang ingin memulai jualan. Maka sekarang, sangat mungkin untuk memulai dari yang organik, meski jualan hanya di circle kita saja. Ya bisa jadi hanya 100 orang yang lihat. Tapi jika 100 orang itu terus terpapar, terus teredukasi produk kita. Maka ujungnya insyaAllah closing juga.

Saya menangkap juga bahwa, meski lagi-lagi organik, kalau copywritingnya menarik, visual promosinya apik. Hasil closingnya juga akan terjadi. Jadi kalau sudah terbiasa yang organik, menjelajah dunia penjualan melalui traffic berbayar juga sangat memungkinkan.

Pede Menjual Produk Sendiri

Di challenge quest 100 story selling , setidaknya saya akhirnya berhasil membangun rasa pede untuk menjual. Sebab awalnya mindset saya tentang jualan adalah hal yang memalukan. Di part ini, rasa malu itu runtuh, meski baru ditingkat berani menjual produk orang, bukan produk sendiri.

Makanya setelah selesai 200 story selling, rasa pede itu meningkat ke tataran produk sendiri. Meski produknya sendiri jauh dari kata bagus, tapi akhirnya tidak ada rasa malu lagi untuk itu.

Bab ini menurut saya penting sekali, sebab banyak diluar sana yang jago untuk produksi, namun stuck ketika melakukan penjualan. Padahal produknya bisa jadi bagus. Makanya kadang, banyak orang minta bantu menjualkan produknya ke orang lain.

Seperti halnya saya waktu selesai memproduksi e course desain canva. Produksi yang memakan waktu berbulan-bulan itu, pada akhirnya tidak membuahkan penjualan sepeser pun. Karena lagi-lagi dulunya semangatnya cuma memproduksi, tidak untuk memasarkannya. Jadi mindset sepertinya keliru parah.

Saat pede menjual produk sendiri, maka makin kedepan, banyak potensi-potensi yang saya pribadi bisa angkat. Karena dulunya malu, sekarang bisa dipasarkan. Produk yang kadang unik, bisa jadi saat dikomunikasikan terus menerus, diedukasi setiap waktu. Meski remeh pada akhirnya akan dibeli oleh orang yang merasa membutuhkan itu.

Waktu heboh citayam fashion week, ada influencer tiktok yang buka jasa foto bareng dia, dia promosikan aja, malah rame yang antri untuk minta foto, dimana dia bandrol 50k per foto, kan lucu. Tapi masalahnya ada yang beli. Asal pede, apa aja bisa dijual, hehe.

Fokus hanya sedikit produk

Setelah menjalani quest 200 story selling, meski hasilnya bisa dibilang diluar ekspektasi, tapi tetap ada hal yang harus di evaluasi. Sebab bisa jadi dengan evaluasi, hasilnya lebih maksimal lagi. Hal yang saat itu kurang maksimal adalah karena saya menjual terlalu banyak produk. Seperti saya sebutkan diatas, ada 5 produk.

Insight ini saya dapatkan dari pakar branding, Dodi Zulkifli. Katanya, orang akan sangat sulit mengingat produk kita, kalo kita menjual palu gada, apa lu mau gua ada. Sehingga orang akan lebih mengingat orang lain yang berada di top of mind niche produknya.

Tapi sayangnya UKM punya mindset, makin banyak yang dijual, makin banyak kemungkinan yang laku. Padahal asumsi ini salah. yang membuat penjualan makin menurun. Makanya perlu dibatasi produknya.

So, setelah evaluasi, akhirnya saya menemukan minat utama produk yang saya akan pasarkan. Sehingga hanya itu saja yang nantinya saya buatkan marketing komunikasnya dan terus menerus dikampanyekan, sampai konsumen betul-betul dapat mengingat dengan jelas apa yang saya jual.


메타데이터
post_id
f4a05bbceff8
slug
insight-quest-200-story-selling-f4a05bbceff8
url
https://medium.com/@ruslanovic17/insight-quest-200-story-selling-f4a05bbceff8
canonical_url
https://medium.com/@ruslanovic17/insight-quest-200-story-selling-f4a05bbceff8
author_url
https://medium.com/@ruslanovic17
status
ok
fetched_at
2026-07-17 07:08:52