← Back to list

Bumi Manusia: Buku yang Membuat Kita Banyak Bertanya?

Ada alasan kenapa Bumi Manusia masih terus dibicarakan sampai sekarang.

tiarasptiautmi · 2026-08-07 05:35 · 0 claps · 1.6 min read
#bumi-manusia #pramoedya-ananta-toer #novel-indonesia #sastra-indonesia #book-review
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative 📚 · Books & Reading

Bumi Manusia: Buku yang Membuat Kita Banyak Bertanya?

(Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

(Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Ada alasan kenapa Bumi Manusia masih terus dibicarakan sampai sekarang.

Buku ini gak cuma tentang kolonialisme atau perjuangan seorang pribumi melawan ketidakadilan. Yang membuatnya kuat adalah bagaimana Pak Pram gak memberikan jawaban secara gamblang. Kita gak cuma diajak mengikuti cerita, tapi juga dipaksa untuk berpikir dan mempertanyakan banyak hal.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.”

Awalnya aku melihat kalimat ini sebagai nasihat moral. Tapi setelah selesai membaca Bumi Manusia, aku merasa kalimat ini seperti sebuah challenge.

Pak Pram seolah bertanya kepada pembaca:

Apakah kita benar-benar sudah adil? Atau jangan-jangan, selama membaca buku ini pun kita masih melihat seseorang berdasarkan ras, status, gender, atau kelas sosial?

Karena ternyata menjadi orang yang terpelajar bukan cuma soal punya ilmu atau pendidikan tinggi. Tapi juga tentang bagaimana kita menggunakan ilmu itu untuk melihat manusia lain dengan lebih adil.

Yang menarik, bahkan Minke sendiri tidak dibuat sebagai tokoh yang sempurna. Dia mau melawan ketidakadilan kolonial, mau membuktikan bahwa pribumi juga punya harga diri dan kemampuan berpikir. Tapi di sisi lain, dia masih sering terjebak dalam cara pandang yang membuatnya merasa lebih tinggi dari orang-orang yang dianggap belum “modern”.

Dan di situlah aku merasa Pak Pram berhasil membuat pembaca gak bisa hanya mengagumi Minke. Kita juga diajak untuk mengkritisinya.

Karena mungkin, tanpa sadar, kita juga sering seperti Minke. Kita merasa sudah punya pemikiran yang lebih terbuka, tapi masih membawa bias yang selama ini kita anggap biasa.

Hal lain yang membuatku banyak berpikir adalah Nyai Ontosoroh. Seseorang yang oleh masyarakat dianggap rendah hanya karena statusnya sebagai nyai, justru menjadi salah satu karakter paling kuat dalam buku ini.

Dia menunjukkan bahwa nilai seseorang gak ditentukan oleh status, gelar, atau bagaimana masyarakat melihatnya. Kadang orang yang dianggap paling rendah justru punya pemikiran yang jauh lebih maju.

Dan mungkin, ini juga alasan kenapa Bumi Manusia pernah dilarang.

Bukan cuma karena buku ini membahas sejarah kolonial, tapi karena buku ini mengajarkan sesuatu yang sederhana: jangan berhenti bertanya.

Buku ini membuat kita mempertanyakan kekuasaan. Mempertanyakan ketidakadilan. Bahkan mempertanyakan cara kita sendiri dalam melihat orang lain.

Karena mungkin hal yang paling berbahaya bagi sebuah kekuasaan bukanlah orang yang punya banyak jawaban, tapi orang yang mulai berani bertanya.


메타데이터
post_id
f4aef995de70
slug
bumi-manusia-buku-yang-membuat-kita-banyak-bertanya-f4aef995de70
url
https://medium.com/@tseptiautami/bumi-manusia-buku-yang-membuat-kita-banyak-bertanya-f4aef995de70
canonical_url
https://medium.com/@tseptiautami/bumi-manusia-buku-yang-membuat-kita-banyak-bertanya-f4aef995de70
author_url
https://medium.com/@tseptiautami
status
ok
fetched_at
2026-08-07 21:52:05