← Back to list

Malam Itu Sangat Sempurna

Acara malam ini membuat Vivian terasa sangat lelah hari ini dan membuatnya pergi meninggalkan Nagi duluan untuk pergi ke kamarnya. Nagi…

vivian · 2026-06-16 16:12 · 2 claps · 15.8 min read
#trigger-warning #nsfw
Open on Medium ↗

Malam Itu Sangat Sempurna

Acara malam ini membuat Vivian terasa sangat lelah hari ini dan membuatnya pergi meninggalkan Nagi duluan untuk pergi ke kamarnya. Nagi akan mengurusi teman-temannya terlebih dahulu yang masih berada di lobby. Jadi begini rasanya menjadi mempelai wanita seharian? Ia sudah sangat lelah sampai menidurkan tubuhnya sendiri langsung ke arah kasur dengan gaun yang masih ia pakai.

“eh bentar deh, hp aku mana ya?” tapi tiba-tiba Vivian mulai merasa ada yang hilang disekitarnya, sejak siang tadi ia tidak memainkan handphonenya. Vivian pun mulai berdiri untuk mencari handphonenya berada. Tapi ia merasa sesak untuk melangkah, karna ia masih memakai gaun pernikahannya.

“aduhh ribet banget ini baju.. aku lepas dulu kali ya?” Vivian mulai mencoba untuk melepaskan gaunnya sekarang. Tapi itu tidak mudah untuk Vivian karena gaunnya kali ini berbeda dengan yang sebelumnya ia pakai. Gaun ini memiliki resleting dibelakangnya dan itu membuat Vivian kesusahan untuk menariknya turun kebawah, karena resleting itu agak jauh dari jangkauan tangan kanannya dan Vivian memerlukan bantuan sekarang.

Disituasi tersebut, tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk pintu. Awalnya Vivian sempat diam untuk beberapa saat setelah pintu itu diketuk oleh seseorang, tapi kemudian ia menyautkan ketukan dari pintu itu

“iyaa?? Sebentar”

Vivian dengan pasrah karena gaunnya yang tidak bisa ia lepas sendiri itu, ia memilih untuk berjalan ke sumber suara dari ketukan pintu kamarnya. Mungkin ada seseorang yang datang kemari.

Tapi saat ia buka, tidak ada seorang pun yang datang ke depan pintu kamarnya. Tapi, ia menangkap sebuah box kardus yang berada didepan pintunya. Ini apa? Perasaan Vivian tidak memesan apapun. Tetapi mungkin orang itu meninggalkannya didepan kamarnya?

Vivian mengambil box itu dan membawanya masuk. Ia penasaran apa isi didalamnya dan siapa pengirimnya, mungkin saja ini adalah sebuah kado untuk pernikahannya dengan Nagi. Tetapi sang pemilik terlalu malu untuk memberikannya langsung, jadi ia meninggalkannya didepan kamar Vivian dan Nagi.

Saat ia mulai membukanya, yang ia temukan isi didalam kotak kardus itu hanyalah sejenis sabun dan…. Lubricant Gel? Apa itu Lubricant.

“Vivi? Kamu ngapain? Kamu belum lepas gaunnya? Aku kira sudah dilepas.” Nagi dengan tatapan terkejutnya dengan istrinya yang berdiri dibelakang pintu itu, ikut mengejutkan Vivian juga dengan keberadaannya yang tiba-tiba ada dibelakangnya.

“ah, Nagi. A-anu… ini.. ini siapa yaa yang naro didepan kamar kita?” Vivian dengan polosnya, ia memberi tau isi barang dari kotak misterius tersebut. Tapi justru yang polos malah mereka berdua karena saat Nagi melihat barang yang dipegang istrinya juga ia tidak merasa mencurigakan apa-apa.

“tidak. Apa gak ada nama pengirimnya siapa?”

“gak ada. … tapi Nyaagii~ kamu liat hp aku gak?” Vivian bertanya kepada Nagi tentang handphonenya yang hilang dari genggamannya sejak siang. Ia sejak siang tadi juga terlalu sibuk dengan menyapa para tamu sampai lupa jika ia tidak memegang handphonenya lagi sama sekali.

“ah iya, Yodaka-san tadi yang menyimpannya. Kamu meninggalkannya ditempat makan tadi. Jadi Yodaka-san juga baru bisa membalikkannya kepada ku sekarang.” Nagi dengan senyum kecilnya memberikan handphone Vivian itu kepadanya.

“aaa.. makasihh Nyaagii~ nanti aku juga harus berterima kasih dengan Yonii-chan!” Vivian menerimanya dari tangan Nagi dengan senyum bahagianya. Ternyata handphone nya terjaga didalam saku abangnya, Yodaka.

(FYI: Vivian dan Yodaka mempunyai hubungan seperti kakak dan adik, tapi nyatanya mereka tidak ada hubungan darah. Yodaka hanya membiarkan Vivian menganggapnya sebagai abangnya karena suatu hal.)

“Vivi, ka-kamu.. gak mau memanggil ku dengan panggilan… sa- sayang? Atau.. semacamnya yang dilakukan seorang pasangan suami istri?” Nagi memasang wajah cemberutnya serta merah merona itu ketika ia menginginkan sesuatu kepada Vivian.

Vivian terdiam dengan matanya yang membulat… ah, Nagi kali ini telah menjadi suaminya! Ia masih lucu-lucu saja kalau tingkahnya begini! Gimana Vivian gak makin cinta yaa sama Nagi??

Dengan perasaan gembiranya, ia menjadi tersenyum ke arah Nagi. “ee.. s-sayang kuuu~ aggghhhh ajnsjdnak! … Sayang! Aku boleh minta tolong? Tolong bukain resleting gaun ku yaa sayangg!” gak boong, tapi wajah Vivian ikut memerah Ketika memanggil Nagi atau suaminya ini dengan panggilan sayang. Ini bukan hal pertama bagi Vivian, tapi ia dan Nagi masih merasa canggung setelah pernikahan kali ini.

Vivian maju dan memeluk tubuh Nagi didepannya. Ia memeluk Nagi sambil membuka handphonenya dibelakang punggung Nagi dan membiarkan Nagi membuka resleting gaunnya ketika ia memeluk tubuh Nagi.

Jujur saja hal ini membuat jantung Nagi berdegup cepat, entah Vivian merasakannya atau tidak saat ia memeluknya.

Tapi, Ketika Nagi sedang bersiap untuk melepaskan tautan resletingnya. Ada yang mengejutkan dirinya dari dekapan seseorang yang memeluknya kali ini. Vivian tiba-tiba terkejut didekat Nagi, ia mengeluarkan suara keterkejutannya tapi ia sama sekali tidak bermaksud untuk berteriak.

“UWAA!”

“? Agh!” suara rintih kesakitan yang muncul dari mulut Nagi, membuat seseorang khawatir yang berada didekatnya. Salah satu jari Nagi terseret oleh resleting yang sedang ia buka. Menimbulkan sedikit luka disana. Kejadian itu tiba-tiba ia dapatkan karena reaksi dari Vivian yang membuat dirinya ikut terkaget dibuatnya.

Reflek Vivian untuk melepaskan pelukannya dengan Nagi, karena ia mendengar suara kesakitan Nagi ketika dirinya melepaskan resleting gaunnya. Ia merasa jika ini akibat kesalahannya.

“na-nagii!! Kamu gak papa…?? Eh, jari kamu berdarah! Eemm… tisu! Tisu dimana ya tisuu!” Vivian kaget karena jari tangan Nagi yang tiba-tiba berdarah. Ia mulai mencari keberadaan tisu. Tapi ia tidak kunjung menemukan tisu saat mencari nya. Ia tidak punya pilihan selain mengotori tangannya dan mengemut jarinya Nagi menggunakan mulut Vivian.

Nagi terkejut dengan apa yang dilakukan Vivian kepadanya. Vivian memasukkan jari jempolnya Nagi yang berdarah itu ke dalam mulutnya. Memang lukanya tidak seberapa, tapi Vivian melakukan apa yang ia lakukan kali ini. Itu membuat wajahnya merah kembali.

“Vivi..”

“umm.. hahh! A-ayo ke kamar mandi!” Vivian setelah melepaskan mulutnya dari jari Nagi, ia menarik Nagi ke kamar mandi untuk mengecek kotak medisnya. Ia lupa harusnya kotak medis ada disana.

・・・

Setelah puluhan menit berlalu, Vivian kini sedang berada dikamar mandi dan Nagi sudah berada di kasur duluan dengan pakaian kaos pendeknya. Nagi terus memikirkan apa yang terjadi dengan Vivian karena sejak tadi wajahnya terlihat sangat memerah. Apa lagi saat ia mendapatkan betadine untuk luka jarinya tadi. Wajahnya terus memerah dan mencoba untuk tidak melihat suaminya.

Masalah itu berada di handphone milik Vivian. Nagi harus mengecek sesuatu di sana. Ia tidak tau apa yang Vivian lakukan ketika membuka handphonenya tadi. Dengan wajah seriusnya Nagi, ia mulai membuka handphone Vivian. Memasukkan kata sandi didalamnya, dan ia mulai mengecek isi dari handphone itu. Dan disinilah yang ia temukan. Vivian sedang membuka pencarian tentang Lubricant Gel. Seingat ia beberapa waktu lalu, Vivian membicarakan produk yang Vivian temukan di dalam kardus misterius itu.

Nagi mulai mencari dan mengambil barang itu dari kardusnya. Ia mengecek lagi ke dalam isi kardus itu dan ternyata, ada yang menyempil suatu kertas didalam sana. Ia membuka isi dari kertas tersebut, yang ia temukan adalah gambar kepala Netaro. Yaitu teman shift malamnya. Dan pesan didalam sana adalah.. “ semoga lancar ~ ” Nagi bisa membayangkan ekspresi Netaro saat ini. Ia terlihat sangat kesenangan dan jail.

Vivian pun muncul dari kamar mandi. Ia sudah selesai mandi malam dan mendapati Nagi yang terduduk dengan membawa handphonenya di genggamannya.

“mm.. sayangg?”

Lagi-lagi dirinya dibuat terkejut oleh suara Vivian. Apa lagi dengan panggilan sayang yang keluar dari mulut istrinya. Membuat handphone Vivian terlepas dari genggamannya dan menjatuhkan ujung handphonenya kearah kaki Nagi. Itu sangat sakit pastinya. Sial. Siapa lagi kalau bukan Nagi yang selalu terkena sial ini.

・・・

“Ka-kamu gak papa?” didalam gelapnya 1 kamar dan terdapat lampu tidur yang masih menyinari sekitar kasur, mereka kini sedang berbaring bersama disatu ranjang. Vivian tidak ingin membuat canggung tempatnya ini, ia berusaha untuk memecahkan suasana canggungnya.

“iya..” jawaban singkat dari suaminya, membuat ia merasa lega lagi.

“kamu.. kamu buka hp aku? Buat apa?”

“Vivi..”

Panggilan maut itu. Membuat jantung Vivian berhenti sebentar. Suara Nagi sangat berat saat memanggil namanya kali ini. Ia hampir ingin menangis ketika mendengarnya.

Vivian pun mencoba untuk menengok ke sumber suara. Yaitu ke arah suaminya. Ia tidak membalas panggilan itu, Vivian hanya menatapnya. Menatap wajah Nagi, suaminya.

“aku tau siapa pengirimnya tadi”

“Si-siapa?”

“Netaro”

Ah ternyata anak itu. Ia selalu membuat Vivian jengkel dengan kejahilannya. Dia terus mengganggu antara hubungannya dengan Nagi dan sering kali membuat dirinya selalu cemburu kepadanya. Tapi jika dipikir lagi, kali ini Nagi selalu memilihnya, Nagi sudah menjadi miliknya, sudah menjadi bagian keluarganya dan saat ini Vivian sudah menjadi istrinya Hachinoya Nagi. Vivian tersenyum sendiri.

“Vivi, kamu tau apa yang harus kita lakukan setelah ini? …”

Hee?? Apa ya yang barusan Nagi katakan… apa yang Nagi maksud tadi?? Vivian ingin bersikap polos saja rasanya. Lagi pula Vivian kan selalu bersikap pura-pura.

“maksudmu??”

Tidak lama, Nagi sudah membuat dirinya beranjak dari posisi tidurnya, ia menindih Vivian diatasnya dengan mengurung kedua tangannya diantara tubuh Vivian dan membuat dirinya menemukan wajah Vivian yang berada dibawahnya saat ini.

“Ini bukan yang pertama kali kan aku menindihmu seperti ini Vivi?” wajah Nagi terlihat datar dan disertai dengan meronanya ia ketika berada dijarak sempurna bersama kekasihnya. Ah ia selalu seperti ini. Berekspresi kalem padahal ada hal yang ingin dia inginkan.

Vivian tergoyah dengan tindakan yang dilakukan Nagi saat ini. Ia hanya terdiam dan membelai wajah Nagi lembut dengan kedua tangannya. Menatap wajah suaminya dalam.

Dan Nagi disana hanya terdiam dengan apa yang dilakukan Vivian padanya. Tangan Vivian sangat lembut dan entah kenapa ketika berada didekatnya saat ini, ia memiliki aroma yang berbeda. Aromanya Vivian sangat manis dan juga lembut. Ini sangat memberikan rasa nyaman padanya. Ia sudah tidak tahan lagi.

“Vivi, kamu.. kamu pakai sabun apa..” nafas Nagi sudah terengah-engah ketika jarak wajahnya dengan Vivian sudah semakin mendekat. Vivian dapat merasakannya.

“e-entah kenapa aku pakai sabun yang didalam kardus tadi… mm.. ga ada mereknya tapi sabunnya enak kok, aku wangi gak?”

“Vivi..” Nagi dengan cepat menangkap sekaligus membungkam bibir Vivian dengan bibirnya. Aroma Vivian saat ini sangat memberikannya sensasi gairah yang berlebih. Ia ingin terus bermanja dengan tubuh ini nanti.

Vivian merasakan lumatan diantara bibirnya dan bibir Nagi. Sebelumya ketika masih pacaran dan sebelum mereka menikah, mereka sudah pernah melakukan lumatan bibir seperti ini, tapi kali ini Vivian seperti sedang dimakan dan dilahap habis oleh Nagi. Vivian belum pernah menangkap Nagi yang bertindak seperti ini, apakah Nagi tiba-tiba dimasuki sesuatu atau apa? Bukankah itu mengerikan jika iya.

“umm.. mmpph!” Tanpa arah lagi, Nagi merasa kehilangan kendali. Tangannya kali ini bermain nakal pada tubuh Vivian. Nagi menangkap tangan kanannya untuk memegang salah satu buah dada milik Vivian dan meremasnya pelan disana dibalik helai pakaian empuk yang menutupinya. Ia sangat menikmati permainan ini.

“nnn… nagii… mmhh!” tautan ciuman mereka terlepas dan kini bibir Nagi turun kebawah dagu Vivian, dia ingin bermain-main disana. Sesuatu menariknya untuk menggigit leher Vivian dan memberikan tanda kepemilikannya disana. Dengan mendengarkan erangan Vivian, itu yang membuat dirinya semakin menjadi nafsu.

Bohong jika ia ingin menolak, nyatanya Vivian sangat menikmati malam ini. Bahkan Vivian menginginkan lebih karena Nagi yang memulainya duluan, membuat dirinya semakin terasa dimanjakan oleh Nagi.

Setelah Nagi memberikan tanda pada sekitar leher Vivian, Nagi mengangkat wajahnya untuk melihat Vivian. Tapi betapa terkejutnya ia melihat istrinya kini sudah terlihat sangat berantakan akibat ulahnya. Vivian mungkin akan lebih cantik lagi jika ia menandakannya disekitar dada milik Vivian. Pikir Nagi yang sudah kehilangan akal itu.

“Vivi.. I.. can i..?” Nagi dengan wajah yang sudah tidak tertahankan lagi itu, ia memohon kepada Vivian untuk melanjutkannya.

“Nyaagii.. just do it.. I beg you honey..” Tubuh Vivian terasa bergetar dan geli ketika Nagi perlahan membuka celana pendeknya dan juga celana dalamnya. Ia juga membuka baju tidur Vivian, membukanya semua sampai sampai tidak ada sehelai pakaian pun yang tersisa di tubuh Vivian. Kini ia sudah menelanjangi seluruh tubuhnya didepan mata Nagi.

Tatapan Nagi datar tapi ia sangat menginginkannya. Seluruh tubuh Nagi menginginkan tubuh Vivian untuk menghangatkannya. Ia sangat menginginkan tubuh wanita ini berada dibawah bimbingannya.

“Nyaagii jangan ditatap gitu… aku maluu..” Vivian menutupi bagian tubuh sensitive dirinya menggunakan tangannya dan menghadap miring wajahnya agar dirinya yang tanpa busana ini tidak dilihat suaminya. Vivian sangat malu ketika ditatap oleh Nagi seperti itu.

“Vivi, kamu cantik. Tolong jangan malu, bukankah aku suamimu sekarang? Tidak apa, aku akan bersikap baik.” Nagi meyakinkan Vivian dengan senyumnya dan wajah merahnya. Nagi tidak bohong jika Vivian saat ini seperti sedang menggodanya sekarang.

Sejujurnya, Vivian ingin sekali merasakan sentuhan dari suaminya. Tapi ia masih malu menampilkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai pakaian ini. Dan ia merasakan jika Nagi sedang dipicu oleh suatu hormon atau feromon yang membuat dirinya berkaitan dengan ketertarikan seksual. Padahal Nagi tipe yang pemalu juga seperti dirinya dan ia akan sangat terguncang ketika diajak melakukan seks seperti ini.

Vivian pun mulai melihat Nagi membuka kaos pendeknya didepan dirinya dan tubuh itu tidak besar dan juga tidak sangat kecil. Tubuh suaminya sangat ideal. Mata Vivian sangat dimanjakan oleh pemandangan seperti ini.

Kini jarak tubuh mereka sudah sangat dekat dan menempel. Nagi menempelkan bibirnya lagi pada dada milik Vivian. Ia memberikan kecupan dan gigitan disana sampai dada milik Vivian berwarna merah akibat gigitannya. Ia sangat menyukai pemandangan Vivian yang diisi oleh tanda kepemilikannya saat ini.

“ngghh.. nnn …. Nagii.. ahh” tubuh Vivian sangat bergetar sekarang ketika Nagi saat ini menangkap kuncup dada kanannya dan tangan kanannya ia pakai untuk memijat buah dada kiri Vivian dan mencoba bermain-main dengan puting pink cantiknya itu. Kuncup kanannya terasa dihisap dan menggodanya. Nagi memainkan lidahnya disana dan memberikan kenikmatan pada Vivian. Sensasi nikmat yang diberikan Nagi, kini membuat dirinya tidak tahan lagi. Ia sudah merasakan kegelian pada kelaminnya sendiri. Ia sudah sangat tegang sekarang.

“panggil aku dengan suara desahanmu Vivi.. aku ingin mendengarnya.”

“Nyaa.. ngh!” Nagi mengigit kecil putingnya disana. Vivian merintih kesakitan saat merasakannya tapi ia juga menikmatinya. Kedua puting Vivian sangat tegang.

Nagi sangat menyukai dua buah payudara milik Vivian. Rasanya sangat lembut dan juga kuncup pink yang menarik perhatiannya itu sangat cantik. Vivian sangat cantik dan ia tidak ada habis habisnya untuk memasang wajah merahnya saat bertemu dengan payudara milik Vivian. Nagi sangat menikmati bentuk dari tubuh Vivian.

“mm.. nyaagii.. aku.. aku gelii..” Vivian terlihat sangat sayu, ia sedikit menggeliat ketika Nagi melepaskan pandangannya pada tubuh Vivian lainnya.

Istrinya terlihat sudah tidak sabar. “hmm.. Vivi, kamu sudah basah…” jari Nagi menyusup ke dalamnya. Daerah kewanitaan istrinya sudah cukup basah sejak tadi dan berkedut memintanya untuk dilayani. Istrinya sangat sensitif. Menggemaskan.

Wajah Vivian sudah memerah. Ia hanya bisa menggigit jarinya ketika Nagi menyentuhnya. Kalo boleh, ia ingin melakukannya sendiri karena sudah tidak tertahan lagi.

“ahh! Nyaa — !” Vivian tidak berekspektasi apa-apa ketika Nagi berada di tengah-tengah kedua paha kakinya. Tiba-tiba suaminya yaitu Nagi menjilati kewanitaannya menggunakan lidahnya. Ia seperti sedang menyapu cairan yang membasahi vagina nya disana. Itu membuatnya merasakan kedutan yang sangat tinggi. Ia semakin menegang ketika Nagi dengan polosnya menjilati cairan tersebut lalu membiarkan ibu jarinya menyentuh klitoris yang membengkak itu.

“ahh … ahh … nyaa — gi! J-jangan! Geli! Aku gelii..ih” badan Vivian bergetar, ia menggeliat kegeliaan saat Nagi menyapu basah area kewanitaannya menggunakan lidahnya. Vivian belum pernah melihat Nagi sepintar ini. Dari mana ia diajari hal seksual seperti ini? Ini membuatnya kehilangan akal.

“mmhh ahh.. Vivi.. mmh” Nagi mengambil nafas sesaat lalu melanjutkan cumbuannya kepada kewanitaannya Vivian yang berkedut itu. Bagi Nagi itu menggemaskan dan membuatnya menginginkan lebih. Dirinya juga ikut merasakan ketidaksabarannya untuk menyatukan kepemilikannya dengan milik Vivian ketika mendengar desahan istrinya yang meminta ampun.

“kumohon udah.. nyaagii.. udah ahh..”

“mmhh” Nagi melepaskannya dan memberikan nafas untuk mereka sendiri. Ia pun mulai beranjak naik ke tubuh Vivian, tangannya mengurung diantara tubuh Vivian dan menangkap wajah berantakannya itu. Ia ingin melihat Vivian. Istrinya yang sangat cantik. Sangat sangat cantik melebihi apapun dari dunia ini.

Mata sayu mereka kini saling bertemu. Hanya suara nafas tak karuan dengan debaran jantung yang berdegup kencang diantara mereka tidak terhentikan saat ini. Kamar ini menjadi hening untuk beberapa saat sebelum Vivian menarik leher Nagi ke arahnya dan menggigitnya disana. Ia memberikan sebuah tanda kepemilikannya pada leher Nagi. Kalo sebelumnya Nagi membuat tanda untuknya, kali ini gantian giliran Vivian yang memberikan kissmarknya pada Nagi agar semua orang tau jika Nagi sudah mempunyai seseorang dan Nagi hanya miliknya saja.

“agh! Vivi! Uhh..” tangan kanan Nagi meraih kepala Vivian menahannya juga membantunya untuk memperdalam sebuah gigitan yang diberikan Vivian pada lehernya.

Kini sudah selesai acara meninggalkan kissmarknya. Itu sangat indah tapi belum cukup satu bagi Vivian. Maka, Vivian pun menginginkan sesuatu kepada Nagi untuk beranjak bangun dari tubuhnya. Awalnya Nagi hanya menuruti karena sejak tadi ia ditutupi oleh hawa nafsunya dan membuatnya tidak membiarkan Vivian pergi ke mana pun. Tapi, betapa terkejutnya ia ketika Vivian membanting dirinya ke kasur. Saat ia melihat ke atas, ia melihat penampilan Vivian saat ini begitu menggodanya ketika istrinya menindihkannya. Tubuhnya yang berada diatasnya itu sangat cantik.

Ini rasanya seperti mereka sedang bertukar tempat. Vivian kini yang bergantian untuk mengeksplor tubuh milik Nagi. Kulit mereka jelas-jelas sedang menempel saat ini. Vivian mulai dengan membiarkan gigit-gigitan kecil pada kulit Nagi. Sesekali tangannya meraba. Meraba tubuh Nagi pelan dan lembut.

Tangan Nagi disana tidak hanya diam. Ia memegang pinggul milik Vivian dan juga meraba punggungnya. Ia sangat tegang saat ini. Bukan hanya karena Vivian yang memanjakan tubuhnya, tapi kuncup dari dua bidang payudara milik Vivian itu ikut menggesekkan pada kulit tubuhnya. Ia sangat bergairah saat merasakannya. Ia tidak bisa menahannya. Rasanya ada sesuatu yang ingin keluar darinya.

“nngghh Vivi… aku-aku tidak bisa menahannya lagi..ngh” tangan kiri Nagi menekankan kepala Vivian yang masih bermain pada kulit lehernya dan tangan kananya dari bawah sana, diam-diam ia baru saja mencoba untuk meraba kewanitaannya milik Vivian. Area pemilik Wanita itu menjadi basah lagi dan berkedut. Dengan pelan-pelan, ia menekukkan jari-jarinya dan memasukkan 1 jari ke dalam vagina milik Vivian. Ia mengetahui cara ini karena Netaro dan Kuguri yang mengajarinya. Mereka berkata sebelum memasukkan penis ke dalam vagina itu, usahakan area vagina milik Vivian dilebarkan dahulu dengan memasukkan jari-jari miliknya. Jika diingat lagi, Nagi tidak habis pikir ketika mendengar ajaran dari mereka bahwa ia akan melakukan hal itu dengan Vivian nanti. Pada akhirnya ia terjatuh karena pingsan yang tiba-tiba.

“mmh.. mmm hhh! …” Vivian yang posisinya masih memberikan kissmark pada kulit Nagi itu tiba-tiba merasakan getaran dari ujung bawah sana. Dan pelan-pelan, ada yang memasuki sesuatu dalam liangnya. Ia tidak bohong, ini pertama kali yang ia rasakan. Sensasi dimasuki jari kokoh milik Nagi. Ia belum pernah melakukan hal bodoh ini sebelumnya. Dari mana lagi Nagi mempelajari tehnik ini?

“mmhh! Nghh” Vivian tidak kuat lagi, ia merasa sempoyongan dan hilang kendali. Vivian tidak dapat meraih gigitannya lagi. Dengan apa yang diperbuat Nagi kali ini, ia merasa sangat lemah dan tidak berdaya. Guncangan itu yang membuat ia lemah. Nagi mulai memasuki salah satu jarinya lagi kedalamnya dan itu sangat hangat. Jari itu sedang berada didalamnya. “ahh.. nyaagii.. ahh!” Vivian mendesah tepat didepan wajah Nagi.

“uhh… Vivi.. kamu sempit!” tangan kiri Nagi yang tadinya ia pakai untuk mengelus kepala Vivian, kini berpindah untuk meraba klitorisnya dan menekannya disana. Lalu ia pakai lagi untuk memijat bokong milik Vivian dan membantunya untuk memperluas jangkauannya dalam menggosok vagina milik Vivian menggunakan jari-jarinya. “call my name Vivian.. call me and tell me what do you want.” Nagi menghebuskan nafasnya pada telinga Vivian yang berdekatan dengan wajahnya kali ini. Dan meminta apa yang harus ia lakukan selanjutnya pada Vivian setelah ini.

“ahh.. ahh! Nyaagii ahh .. disana, disana! Ngghh!”

“Vivi.. I want to hear it.. tell me.”

“nyaa! Ahh ahh.. mmhh..” Vivian kegelian dan merasa gila saat ini. Ia ingin menyampaikan kalimatnya tetapi ia tersedak-sedak dan tidak karuan akibat jari kokoh Nagi yang mengguncangi vaginanya.

Kedua jari Nagi yang kini berada didalam liangnya, menghasilkan jeritan desahan yang tak tertahankan keluar dari mulut Vivian. Ia tidak sabar setelah ini “Vivi.. lihat aku!” dari sana, ia menambahkan kecepatannya. Membantu istrinya untuk mencapai klimaksnya.

“ahh! Ahh! Ahh!” Vivian pun memberanikan dirinya untuk membawakan pandangannya pada Nagi. “nghh! Nya.. nyaagii.. mphh-“

Dengan sergap bibir Vivian ditangkap oleh bibir milik Nagi. Mereka Kembali berciuman dan saling bertukar saliva. Lumatannya semakin kacau. Vivian akan mencapai klimaksnya. Getaran itu sangat hebat ketika bibirnya saling bercumbu dengan hentakan jari kokoh milik Nagi.

Tempo itu semakin cepat dibawahnya. Bokong Vivian ikut terguncang dibuatnya. “mmphh! Mmhh! AHH! Geliiii Nyaa-gii! Nghh!” Vivian tidak tahan lagi. Ia melepaskan ciumannya dengan Nagi dan mendesah kembali nama suaminya. Karena ia sudah berada diujung puncaknya.

Kedua jari Nagi akhirnya terlepas dari liangnya. Vivian mengambil nafas diatas dada milik Nagi. Keringat mereka saling bercucuran karena kamar itu menjadi terasa sangat panas. Padahal mereka belum melakukan bagian intimnya. Yaitu membuat anak bersama.

Nagi mencoba bangun dari posisi tidurnya dan membaringkan tubuh Vivian yang kelelahan itu ke atas kasur. Vivian terlihat manis saat ia berkeringat seperti ini.

“hah.. honey~ I want to tell you.. that.. I want to do it. Fill me with yours please ha..” Vivian mengambil nafasnya ketika ia kembali ditidurkan diatas kasur dengan berbalut seprai yang lembut itu.

“fine, if that’s what you want. I’m sorry if it hurts you later Vivi..” Ia memilih untuk mengambil Lubricant gel yang diberikan oleh Netaro. Ini adalah alat pelumas untuk ia pakai agar ketika ia melakukannya dengan Vivian nanti, itu akan mengurangi rasa sakit akibat gesekannya. Dan ia akan mencobanya sekarang.

Nagi mulai menempelkan kejantanannya pelan ke dalam kewanitaan yang basah dan kembali penuh kedutan itu. Erangan Vivian kembali berkeluh dari bibirnya. Saat penis itu sepenuhnya memasuki diri Vivian, Vivian merasakan kehangatan memasuki liangnya dan mulai mengguncangkan seisi tubuhnya.

Dorongan pelan dilancarkan sekaligus menggesek kembali klitoris bengkak itu. Tidak lama lagi, Nagi membuat tempo pelan sebelum mempercepat pencapaiannya nanti. Hal itu ia lakukan sambil bersemayam di payudara istrinya. Dirinya menjilat dan menghisap puting istrinya. Tangan lainnya ia gunakan untuk memijat payudara istrinya yang lain. Sesekali ia mainkan kuncup buah dada itu.

“nngghh… nyaagii.. ahh.. a-aku merasa… tubuhku full!” tubuh Vivian menggeliat keenakan. Dirinya tidak bisa menahan rasa klimaksnya lagi. Tetapi ia harus menyesuaikan temponya Nagi. Tangan Vivian hanya bisa menjambak area sekitar seprei kasurnya karena saat ini ia sedang merasakan sensasi panas yang diberikan Nagi padanya.

Nagi menyukai godaan yang berasal dari payudara Vivian. Ia seperti kehausan, mencoba memancing air susu yang belum diproduksi tubuh istrinya itu. Nagi mulai membuat temponya itu dari pelan menjadi sedikit lebih cepat. Menunggu perintah untuk melakukannya lebih.

Vivian mulai mengeluarkan air matanya lagi, ia tidak tau lagi, matanya berkunang-kunang dan entah ia merasa kesakitan atau keenakan. Kewanitaannya masih bisa menjepit penis milik kekasihnya itu. Ia ingin klimaks. Maka dari itu, suaminya ini harus mempercepat temponya lagi. “Nya- nyaagiii ngghh … please! Ahh! Ahh! Mmh.. please mo-more..” Vivian merasa kegelian. Putingnya yang sudah memerah itu dijilat dan dihisap kembali oleh Nagi. Ia tidak bisa tidak menggeliat. Tubuhnya malam ini sepenuhnya milik Nagi.

Nagi melepaskan kuncupan itu dan membuat dirinymempercepat tempo nya lagi diatas Vivian. Menghentak hentakan tubuh Vivian. “ah! Vivi.. aku sudah hampir memuncak..agh!” ia bisa melihat air mata itu kembali keluar dari mata cantik milik istrinya. Ia menahan kedua tangan istrinya yang berada dibawah dirinya untuk mencapai klimaksnya bersama-sama.

“ahh! Ahh! C’mon… cum … cum.. please…. Nghh! Nyaagii!..”

“almost there.. babe! Ah!” dorongan dan erangan serta sensasi gairah yang mengisi kamar itu semakin menjadi membuat sensasi penuh menghantam perut istrinya kembali. Orgasme yang ia keluarkan kali ini memasuki seisinya. Vivian menjadi terasa penuh. Seisi tubuhnya diisi oleh Nagi. Ia merasakan kenyamanan.

Vivian mendekap kepada Nagi ketika mereka mencapai klimaksnya bersama-sama. Ia harus akui malam pertamanya bersama Nagi kali ini sungguh gila. Suaminya sangat bersemangat ketika kejantanannya sedang berada didalam liangnya.

“hahh.. hahh..”

“Vivi, I love you” Nagi tersenyum kepada Vivian lalu mencium kening istrinya. “Maafkan aku jika itu terasa sakit. Hah.. sekarang kamu bisa istirahat” ia merasa akan memasang wajah penuh penyesalannya. Ia harusnya tau jika istrinya kali ini sudah lelah sejak tadi.

“Nyaagii~ hah.. aku.. aku sayang kamu!”

Setelah melepaskannya, Nagi pun menidurkan tubuhnya disamping istrinya. Menutupi tubuh mereka menggunakan selimut bersama. Kasur ini sangat kotor, jadi nanti pagi hari biar ia bersihkan sendiri agar bersih kembali dan tidak terlalu bau.

“Itu tadi, aku sangat menikmatinya.. jadi kamu jangan takut karena aku takut juga sama kamu.” Gurau Vivian sambil memeluk suaminya.

“?? Takut dengan ku?” Nagi bingung apa yang dibicarakan oleh istrinya kali ini.

“aku takut dengan waktu yang kita habiskan setelah ini, aku takut kenapa-kenapa dan takut akan ada hal yang terjadi di antara kamu dan aku..”

“Vivi, tidak masalah jika itu membuat kamu takut, tapi percayalah aku selalu untuk mu. Aku tidak akan membiarkan kamu larut dalam kesedihan lagi.”

“aku juga! Kamu dan aku gak akan kesepian lagi Nagi. Kamu udah jadi milikku! I love you sayangku!” Vivian mengecup bibir Nagi dan Vivian menarik mereka untuk berpelukan erat bersama, Nagi yang mendengarkannya dari mulut Vivian dan memberikannya sebuah kecupan hangat itu, seketika ia menjadi tersenyum. Vivian sangat menyayangi dirinya bahkan sebelum mereka menikah.

“I love you too babe. Good night”

Pada hari itu pun, akhirnya kamar itu kembali sunyi dan menjadi dingin kembali. Pernikahannya dan malam pertamanya bersama Vivian begitu sempurna. Ia menjadi ingin selalu berada disamping Vivian dan ia akan selalu mencoba menjaga tuan putrinya ini. Ia sudah tidak merasakan kesepian lagi ketika Vivian hadir ke dalam hidupnya. Begitu pun sebaliknya karena mereka hanyalah seorang yang menyukai kesendirian dan selalu kesepian saat berada disekelilingnya. Bagaimana ia bisa tidak tersenyum bahagia ketika membayangkan ia berkeluarga bersama Vivian dan akan mempunyai seorang anak bersama Vivian nanti?


메타데이터
post_id
f4b0bafdfd81
slug
malam-itu-sangat-sempurna-f4b0bafdfd81
url
https://medium.com/@vnvnvn122/malam-itu-sangat-sempurna-f4b0bafdfd81
canonical_url
https://medium.com/@vnvnvn122/malam-itu-sangat-sempurna-f4b0bafdfd81
author_url
https://medium.com/@vnvnvn122
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01