← Back to list

Apakah Kita Semua (Sebenarnya) Mengidap Gejala NPD?

Belakangan di media sosial banyak beredar konten yang mengangkat tentang NPD atau Narcissistic Personality Disorder (Gangguan Kepribadian…

Aulia Meidiska · 2026-05-16 14:30 · 0 claps · 3.8 min read paywalled
#narcissistic-personality #psikologi #essay #npd
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Apakah Kita Semua (Sebenarnya) Mengidap Gejala NPD?

Lukisan berjudul Echo and Narcissus (1903) oleh John William Waterhouse. Sumber: Google Art Project. Public Domain.

Lukisan berjudul Echo and Narcissus (1903) oleh John William Waterhouse. Sumber: Google Art Project. Public Domain.

Belakangan di media sosial banyak beredar konten yang mengangkat tentang NPD atau Narcissistic Personality Disorder (Gangguan Kepribadian Narsistik). Saya pun jadi mengingat satu jurnal yang sempat hampir saya publikasikan kala menempuh kuliah magister di jurusan Ilmu Susastra tentang penyakit psikologis ini. Walaupun di bidang sastra medium yang dianalisis adalah karya sastra (termasuk film), tapi sedikit banyak saya harus memelajari tentang NPD itu sendiri dengan mengumpulkan riset-riset yang berkaitan untuk mengolah data dari karya sastra.

Menariknya, NPD tidaklah bisa dijelaskan dalam waktu sesingkat durasi konten Reel Instagram atau video TikTok. Faktanya, para ahli psikologi menemukan beberapa macam NPD. Secara sederhana, Ronningstam (2010) menjelaskan bahwa NPD merupakan kondisi psikologis seseorang yang memiliki kecenderungan untuk membesar-besarkan kualitas diri atau disebut juga dengan istilah grandiosity. Seseorang dengan sikap narsistik juga biasanya memiliki kebutuhan untuk dikagumi dan kurang memiliki sikap empatik. Salah satu kriteria sikap narsistik lainnya adalah adanya kecenderungan untuk menganggap diri istimewa dan unik.

Tidak berhenti di situ, konsep narsisme juga dibagi menjadi dua, yaitu narcissistic grandiosity dan narcissistic vulnerability. Seseorang dengan narcissistic grandiosity memiliki kecenderungan untuk bersikap sombong, mendominasi, eksploitatif, tidak empatis, memiliki rasa iri yang tinggi, mudah tersinggung, dan eksibisionis. Individu dengan kecenderungan tersebut dapat berkembang menjadi seorang narsisis psikopat. Sementara itu, seseorang dengan narcissistic vulnerability merupakan individu yang memiliki disregulasi harga diri sehingga menghadirkan fantasi yang hebat tentang dirinya meskipun di saat yang sama memiliki kecenderungan untuk merasa malu untuk merealisasikan kebutuhan dan ambisinya. Kecenderungan tersebut mendorong individu dengan narcissistic vulnerability untuk menghindari hubungan interpersonal karena memiliki ketakutan besar akan penolakan dan kritik.

Jika kita mencoba memahami kedua jenis narsisme ini secara mendalam, sebenarnya bisa dibilang bahwa pada dasarnya setiap individu memiliki kebutuhan dan motif narsistik, tidak sih? Saya percaya begitu. Di beberapa jurnal yang saya baca, sikap narsistik dalam kadar normal memang bisa membantu kita meningkatkan kualitas diri (self-enhancement). Memang normal itu sulit diukur, tapi secara sederhana mungkin bisa dilihat dari frekuensi perilaku itu muncul dalam satu waktu. Bahayanya, ketika narsisme dalam diri bersifat patalogis yang biasanya berasal dari kecenderungan seseorang tidak bisa menghadapi kekecewaan dan ancaram yang berpotensi berpotensi mengurangi citraan positif dirinya (Pincus & Lukowitsky, 2009).

Sialnya, banyak orang yang sebenarnya mengidap gangguan kepribadian narsistik tanpa menyadarinya. Tentu saja hal ini disebabkan oleh ketidakmampuannya menerima kritik dari orang lain. Boro-boro sadar, baru disinggung sedikit tentang NPD saja sudah pasti langsung tutup telinga. Memang, menerima kritik itu tidak mudah. Banyak orang yang mungkin sebenarnya tidak NPD juga memberikan respons dismisif ketika menerima kritik. Bedanya, mereka biasanya akan merefleksikan diri mereka sendiri setelah menolak dikritik dan mempertanyakan “Apa ya saya begitu?”. Sementara orang yang benar-benar NPD tidak akan sama sekali membawa kritik yang didengar ke dalam otak. Mereka mengunci rapat otaknya untuk sedikit saja mempertanyakan diri. Menurut mereka, kritik itu adalah angin lalu dan omong kosong. Bahkan mereka merasa bahwa orang lain hanya iri pada mereka atau hanya mau menyerang mereka karena mereka lebih baik daripada orang yang mengkritik.

Bahkan yang lebih parahnya lagi, orang yang memiliki kecenderungan NPD bisa memutarbalikkan fakta dan sangat mungkin melakukan tindakan *gaslighting* pada orang yang mengkritik. Makanya tidak heran kalau kata “maaf” tidak ada dalam kamusnya, apalagi empati. Mereka mungkin bisa simpatik, tapi biasanya simpati itu hanya untuk memperlihatkan diri mereka yang baik, heroik, dan peduli pada orang lain. Jadi, jangan heran kalau perilaku simpatik mereka harus diperlihatkan di depan banyak orang atau harus ada yang tahu tentang apa yang mereka lakukan untuk orang lain.

Lalu, bagaimana hidup berdampingan dengan mereka yang terlihat memiliki gejala NPD? Menurut saya, pertama Anda harus menjadi orang yang sangat-sangat berhati besar untuk senantiasa memberikan dia panggung. Berdebat dengan orang NPD tidak akan ada habisnya. Kalau menurut Anda orang tersebut layak berada dalam hidup Anda, berarti Anda harus berdamai dengan keadaan. Kedua, pergi. Lari. Sprint kalau bisa. Terutama untuk Anda yang punya kesabaran setipis tisu dan telinga yang sensitif, Anda pasti akan amat sangat terganggu dengan apa yang dia bicarakan. Semuanya hanyalah tentang dia dan kebenaran tentang dia. Seolah dialah Tuhan yang menciptakan semua kebenaran dalam hidup ini.

Tapi … sebelum buru-buru menilai orang lain punya kecenderungan NPD, rasanya kita juga bisa bijak untuk mengenali seberapa besar sih kadar narsisme dalam diri kita dengan mengecek tanda-tanda perilaku NPD tadi. Mari kita cek moral dengan pertanyaan:

Apakah Anda suka menyombongkan diri? Seberapa sering? Seberapa banyak?

Apakah Anda mendominasi dan eksploitatif? Sering memanfaatkan orang lain atau take people for granted?

Apakah Anda sering tidak bisa berempati dengan orang lain? Adu nasib dengan orang lain dan merasa situasi Anda lebih buruk daripada orang lain? Atau sering menyepelekan kesulitan orang lain? Apakah Anda jarang atau bahkan tidak pernah menawarkan bantuan untuk orang lain dan sekalinya menawarkan semua orang harus tahu aksi heroik Anda?

Apakah Anda memiliki rasa iri yang tinggi sampai-sampai sulit sekali memberikan pujian atau penghargaan pada orang lain dalam bentuk apa pun?

Terakhir, apakah Anda mudah tersinggung? Punya prinsip senggol bacok sampai-sampai sulit untuk mencerna masukan dari orang lain? Apakah Anda sering merasa orang lain tidak lebih baik dari Anda dan menolak mentah-mentah masukan dari orang lain karena merasa mereka hanya iri atau hanya mau menyerang Anda?

Ingat juga pertanyaan tersebut di atas ketika Anda hendak berinteraksi secara berkelanjutan dengan seseorang, entah untuk hubungan asmara, pertemanan, atau rekan bisnis. Kalau ternyata Anda saat ini sudah merasa sepertinya memiliki gejala-gejala NPD, mungkin narsisme dalam diri Anda belum parah karena masih bisa merefleksikan diri. Selamat. Mungkin Anda hanya perlu mengatur kadar narsismenya saja supaya tidak berkembang menjadi psikopat.

Referensi:

  • Ronningstam E. (2010). Narcissistic personality disorder: a current review. Curr Psychiatry Rep. Feb;12(1):68–75. 10.1007/s11920–009–0084-z. PMID: 20425313.
  • Pincus, Aaron & Lukowitsky, Mark. (2010). Pathological Narcissism and Narcissistic Personality Disorder. Annual Review of Clinical Psychology. 6. 421–46. 10.1146/annurev.clinpsy.121208.131215.

메타데이터
post_id
f4b3e8ffafea
slug
apakah-kita-semua-sebenarnya-mengidap-gejala-npd-f4b3e8ffafea
url
https://medium.com/@auliameidiska/apakah-kita-semua-sebenarnya-mengidap-gejala-npd-f4b3e8ffafea
canonical_url
https://medium.com/@auliameidiska/apakah-kita-semua-sebenarnya-mengidap-gejala-npd-f4b3e8ffafea
author_url
https://medium.com/@auliameidiska
status
ok
fetched_at
2026-06-12 18:14:10