← Back to list

Mematahkan Stigma: Ruang Aman Berpikir Kritis di Kelas Agama

Bicara soal mata kuliah Pendidikan Agama di tingkat perguruan tinggi, saya yakin banyak dari kita yang secara tidak sadar langsung memasang…

Izuddinamrasyid · 2026-06-19 13:03 · 0 claps · 2.8 min read
#agama-islam #pendidikan-agama-islam #perguruan-tinggi #dosen
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Mematahkan Stigma: Ruang Aman Berpikir Kritis di Kelas Agama

Bicara soal mata kuliah Pendidikan Agama di tingkat perguruan tinggi, saya yakin banyak dari kita yang secara tidak sadar langsung memasang ‘kuda-kuda’ sebelum kelas dimulai. Ada semacam ekspektasi kolektif, atau mungkin lebih tepatnya kecemasan, bahwa kelas ini akan menjadi ruang yang kaku, dogmatis, dan penuh ketegangan. Kita sering kali dibayangi oleh stereotip dosen agama yang gemar menghakimi, menceramahi dengan nada tinggi, dan menuntut kepatuhan mutlak tanpa memberikan celah untuk sekedar bertanya. Saya pun awalnya datang dengan membawa tumpukan prasangka tersebut. Namun, semua benteng pertahanan dan asumsi prematur itu perlahan runtuh dan tak lagi relevan sejak pertemuan pertama saya dengan Pak Faiz Badridduja, S.S.I., M.A.

Keramahan yang Menghidupkan: Toleransi di Balik Pintu Kelas

Sejak awal, Pak Faiz hadir mematahkan segala stigma yang berjejalan di kepala saya. Kesan pertama yang langsung tertangkap adalah ketenangannya. Beliau adalah sosok yang sangat ramah dan murah senyum. Tidak ada raut wajah garang, apalagi nada suara yang meninggi—beliau sama sekali bukan tipe dosen pemarah yang membuat mahasiswa duduk gelisah di kursi masing-masing, takut salah bicara atau salah bertingkah.

Satu hal spesifik yang paling membekas bagi saya adalah bagaimana beliau menyikapi mahasiswa yang datang terlambat. Di dunia perkuliahan yang dinamis—entah karena jalanan yang macet, jadwal yang berbenturan, atau urusan mendesak lainnya—keterlambatan kadang menjadi hal yang tak terhindarkan. Di banyak kelas lain, membuka pintu di tengah perkuliahan yang sedang berlangsung adalah sebuah teror tersendiri. Kita bersiap menerima tatapan tajam, sindiran, atau teguran keras di depan puluhan pasang mata.

Kegiatan Pengabdian kelompok 4 bersama santri-santri dari Masjid Al-Mukminin

Kegiatan Pengabdian kelompok 4 bersama santri-santri dari Masjid Al-Mukminin

Namun, Pak Faiz memilih pendekatan yang sangat memanusiakan. Beliau memiliki toleransi yang luar biasa terhadap hal ini. Alih-alih marah atau mempermalukan, beliau selalu menerima mahasiswa yang terlambat dengan tangan terbuka. Senyum dan anggukan ringannya saat mempersilakan kami duduk tidak hanya meredakan detak jantung yang berdebar cepat karena berlari menyusuri koridor, tetapi juga menyuntikkan rasa dihargai. Secara ajaib, pendekatan ini mengubah atmosfer kelas secara keseluruhan. Kelas tidak lagi terasa tegang bak ruang interogasi, melainkan menjadi tempat berlabuh yang ramah. Ketika mahasiswa diterima dengan baik alih-alih dihardik, rasa bersalah yang dibawa dari luar pintu justru bertransformasi menjadi rasa segan dan hormat yang tulus kepada sang dosen.

Dialog, Bukan Monolog: Ruang Aman untuk Menguji Nalar

Keramahan Pak Faiz rupanya berbanding lurus dengan keluasannya dalam berpikir. Sering kali, mata kuliah agama terjebak dalam komunikasi satu arah di mana dosen adalah pemegang otoritas kebenaran tunggal dan mahasiswa hanyalah bejana kosong yang harus diisi dogma. Pak Faiz membongkar hierarki usang tersebut. Di kelasnya, beliau secara sadar memposisikan diri sebagai seorang fasilitator, bukan seorang pendikte.

Beliau adalah pendidik yang sangat berpikiran terbuka. Sering kali agama ditempatkan di sebuah menara gading yang tak boleh disentuh oleh nalar kritis, namun Pak Faiz justru mengizinkan kami membedahnya. Ketika ada mahasiswa yang melontarkan kritik atau pandangan yang berseberangan, beliau tidak pernah defensif atau buru-buru menyalahkan. Sebaliknya, beliau terlihat sangat senang. Kritik tidak dipandang sebagai sebuah kelancangan, melainkan sebagai bukti bahwa akal mahasiswa sedang bekerja dengan baik.

Ruang kelasnya berubah menjadi sebuah panggung diskusi yang aman, di mana setiap mahasiswa berhak untuk mempertanyakan, meragukan, dan mencari tahu tanpa takut dilabeli buruk. Beliau membiarkan kami mengunyah informasi dan mengkritisinya. Yang terpenting, beliau tidak pernah memaksakan pendapat atau dogmanya agar ditelan mentah-mentah oleh kami. Keputusan untuk meyakini suatu nilai dikembalikan sepenuhnya kepada kesadaran masing-masing mahasiswa.

Sebuah Kesimpulan: Pendidik yang Dibutuhkan Era Ini

Jika saya harus merangkum seluruh pengalaman dan observasi saya selama diajar oleh Pak Faiz, saya bisa mengatakan dengan penuh keyakinan: tidak ada satu pun hal yang tidak saya sukai dari cara beliau mengajar maupun dari kepribadiannya. Semuanya terasa pas dan sangat berkesan.

Di era di mana mahasiswa dihadapkan pada kebingungan identitas dan tekanan akademis yang tinggi, kita tidak lagi butuh pendidik yang hanya pandai menekan dengan otoritas. Kita butuh pendidik seperti Pak Faiz. Seseorang yang merangkul mahasiswanya, yang mengajarkan agama melalui keteladanan akhlak kesehariannya—melalui toleransinya, kelembutannya, dan keluasan hatinya dalam menerima perbedaan pandangan. Kelas agama di bawah bimbingannya bukan sekadar proses pemenuhan SKS, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang amat melegakan. Saya bersyukur bisa belajar banyak darinya, bukan hanya tentang teori agama, tetapi tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih bijaksana.


메타데이터
post_id
f4bc0fd1f4da
slug
mematahkan-stigma-ruang-aman-berpikir-kritis-di-kelas-agama-f4bc0fd1f4da
url
https://medium.com/@izuddinamrasyid25/mematahkan-stigma-ruang-aman-berpikir-kritis-di-kelas-agama-f4bc0fd1f4da
canonical_url
https://medium.com/@izuddinamrasyid25/mematahkan-stigma-ruang-aman-berpikir-kritis-di-kelas-agama-f4bc0fd1f4da
author_url
https://medium.com/@izuddinamrasyid25
status
ok
fetched_at
2026-06-21 07:44:09