Evaluasi Harian
#77: Sepertinya mudah, kenyataannya sebaliknya
REFLEKSI
Evaluasi Harian
#77: Sepertinya mudah, kenyataannya sebaliknya
Tak kurang-kurang dalam ceramah para asatidz mengajak jamaah untuk mengingat kembali apa saja yang dilakukan dalam satu hari hidup kita. Ketika masih di dalam majelis tentu bukan hal sulit untuk mengingatnya, lain halnya saat sudah sampai di rumah atau youtube mati jika daring. Padahal hal itu relatif mudah apalagi ke diri sendiri.
Coba diingat, dalam satu hari sejak bangun pagi hingga menjelang tidur kembali, apa saja perbuatan baik dan buruk yang telah dilakukan. Alhamdulillah jika teringat semua, tetapi jika tidak, mana yang cenderung diingat, amal shalih atau justru maksiat?
Photo by Marc-Olivier Jodoin on Unsplash
Mengapa harus repot-repot mengingat dan menambah beban pikiran? Toh sudah ada malaikat yang mencatat dan pasti benar. Bukankah tidak boleh mengingat kebaikan agar terhindar dari rasa riya’ atau sombong? Ya, keduanya benar, justru itu manfaatnya jika dilakukan dengan benar.
Kita ambil dari poin terakhir, terhindar dari sombong. Jika mengingat kebaikan yang telah dilakukan justru memunculkan kesombongan, artinya ada yang salah di hati kita. Hanya Allah yang berhak sombong karena keagungan dan kesempurnaan-Nya. Ketika muncul kesombongan bisa diartikan dengan keyakinan bahwa amalan kebaikan itu pasti diterima dan menjadi pemberat timbangan amal baik kelak di akhirat.
Pertanyaannya, seberapa yakin bahwa amalan kebaikan itu pasti diterima, apakah bisa memastikan? Bagaimana jika ternyata sebaliknya? Tentu tidak bisa, lantas bagaimana kita bisa sombong? Akan lebih baik jika berdoa agar amalan baik itu diterima dan Allah menjaga hati kita dari kesombongan.
Kemudian poin berikutnya, malaikat sudah mencatat dengan sangat teliti tidak mungkin salah, untuk apa kita repot mengingat? Justru karena catatan malaikat itu sangat teliti, kita yang harus bertanya-tanya, apakah amalan yang menurut diri itu baik, memang tercatat sebagai amalan baik, atau sebaliknya?
Setidaknya terdapat dua syarat diterimanya amalan. Pertama adalah keikhlasan, dan kedua adalah sesuai dengan ketentuan Allah dan tuntunan Rasulullah, tidak ditambah maupun dikurangi. Dengan demikian, kita akan rutin berdoa agar Allah perbaiki hati, berikan keikhlasan dan amalan yang diterima.
Beberapa sahabat Rasulullah bahkan sering menangis hingga air mata kering karena takut amalan mereka tidak diterima Allah, bagaimana dengan kita?
Dengan kondisi seperti itu, apakah masih bisa tenang dan santai? Kehidupan yang singkat ini jadi waktu untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya di kehidupan akhirat yang kekal.
Oleh karena itu, bukankah sudah seharusnya muhasabah harian itu rutin dilakukan?
‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu‘anhu pernah mengatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, itu akan memudahkan hisab kalian kelak. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak. Ingatlah keadaan yang genting pada hari kiamat”
Pertanyaan berikutnya, mengapa sepertinya susah melakukannya, bahkan lebih sering lupa. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya maksiat yang dilakukan, tanpa menyadari bahwa yang dilakukan itu termasuk maksiat. Bahkan merasa sudah berbuat baik, itu pun bisa dianggap bibit kesombongan.
Mengapa ketika melakukannya semua jadi terasa sempit dan terbatas? Salah satu potongan hadits yang saya ingat adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman“.
Melalui muhasabah itu kita sadar bahwa memang sebagai mukmin dengan pemahaman yang benar sesuai tuntunan, tentu terasa serba terbatas karena harus selalu berhati-hati dalam hal urusan dunia. Padahal melalui sarana itu pula, kita memohon pada Allah untuk diberikan hidayah dan taufik untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Hidayah adalah petunjuk, tetapi untuk merespon dan menindaklanjutinya membutuhkan taufik.
Semakin sering menghisab diri termasuk dalam bagian tazkiatun nafs atau penyucian jiwa, yang dengannya hati menjadi lebih sehat, dan selalu dalam petunjuk Allah. Dengan kondisi hati seperti itu, nikmat Allah yang mana lagi yang mau kita manusia dustakan?
메타데이터
- post_id
- f4fb282f34a6
- slug
- evaluasi-harian-f4fb282f34a6
- url
- https://medium.com/@anhalfengineer/evaluasi-harian-f4fb282f34a6
- canonical_url
- https://medium.com/@anhalfengineer/evaluasi-harian-f4fb282f34a6
- author_url
- https://medium.com/@anhalfengineer
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 21:48:21