← Back to list

23 Tahun Mantra Nihilis Netral

Selama hidup dalam kekangan pandemi, saya selalu berusaha untuk tetap waras di tengah padatnya pekerjaan, mencoba berdamai dengan keadaan…

Koncos Club in koncosclub · 2021-01-29 08:35 · 0 claps · 4.6 min read
#netral #music #articles #review #indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🎵 · Music & Audio 🧘 · Spirituality

23 Tahun Mantra Nihilis Netral

Teks oleh Ken Norman.

Selama hidup dalam kekangan pandemi, saya selalu berusaha untuk tetap waras di tengah padatnya pekerjaan, mencoba berdamai dengan keadaan meskipun rasa muak kerap membuncah, toh mengutuk keadaan juga tidak akan pernah menimbulkan guna. Pandemi, sedikit banyak membuat saya belajar, dari mulai mengeksplorasi hal-hal baru sampai dengan menggali kembali hal-hal lama yang selama ini tidak saya ketahui.

Dalam konteks album musik, pandemi membuat saya menemukan album lama yang justru baru saya temukan di masa kini dan pada akhirnya mematri telinga saya sampai dengan detik ini.

Album yang telah saya tasbihkan sebagai salah satu album terbaik, album yang mengubah hidup saya, dan terpenting, album yang mengajarkan bahwa ke-tidakbermakna-an dapat menjadi sebuah makna yang baru.

Adalah Album Minggu Ini (1998) yang secara tidak sengaja mengisi keruhnya hari-hari saya selama menjalani masa pandemi. Album ini adalah mahakarya terakhir dari trio orisinil Netral yang kala itu masih beranggotakan Bagus Dhanar Dhana alias Om Bagus (Vocal/Bass), (Alm.) Ricky Dayandani alias Miten (Gitar), dan Gabriel Bimo Sulaksono alias Bimo (drum), sebelum akhirnya Bimo hengkang dan bergabung dengan supergroup Ahmad Band dan Dewa 19.

Saya lupa bagaimana awal mula saya kepincut dengan album ini, yang jelas kala itu saya sudah sering mendengar reputasi “Pucat Pedih Serang” yang masyhur menjadi buah bibir banyak orang, terutama tentang kelihaian seorang Om Bagus yang ahli dalam mempadupadankan kata-kata acak menjadi sebuah kalimat yang terdengar nihil makna namun ajaibnya akan selalu membuat kita ingin menyanyikannya keras-keras kala lagu tersebut dimainkan dengan sangat bising oleh sebuah band dari dalam sebuah bar di bilangan Jakarta Selatan.

[embed]

Album ini secara hitung-hitungan awam jauh dari kata ramah di telinga apalagi menjual. Album ini bahkan kalah dari album pertama Netral yang dinobatkan oleh majalah Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu dari 150 album Indonesia terbaik. Album ini memang bukan untuk semua orang, namun satu hal yang dapat saya pastikan adalah album ini merupakan salah satu album terbaik yang pernah dihasilkan oleh musisi Indonesia dalam kurun waktu dua dekade terakhir, atau paling tidak oleh formasi awal Netral.

Bila umumnya sebuah album musik dapat dikatakan sebagai album terbaik karena didasari oleh konsep yang segar, aransemen lagu yang sebagian besar ear-catching, atau membawa nuansa yang berbeda dari yang pernah ada, maka album ini tidak memiliki itu semua. Sebab, album ini hanya didasari oleh rasa substansi yang tinggi.

Ketika semua band pendatang baru bermunculan dengan genre Ska yang karib dengan terompet atau saxophone di setiap lagunya dan sekonyong-konyong menjadi favorit sebagian besar anak muda di akhir tahun 90-an, alih-alih mengikuti perubahan genre musik layaknya band-band industri di era melayu 2010, Netral justru mengadaptasi tren tersebut dengan memasukkan unsur instrumen musik tiup di album ini. Kawin silang antara musik alternative yang lebih terasa indierock ala Netral dengan alat musik tiup terompet begitu serasi terdengar.

Tercatat “Selamat Datang — Si Licik” dan “Pucat Pedih Serang” adalah dua nomor yang sarat dengan isian musik tiup di beberapa part lagunya dan hanya di kedua lagu ini penggunaan terompet dilakukan, sehingga tidak terdengar berlebihan dan tidak menghilangkan ciri khas Netral sebagai band alternative yang kuat dengan sound gitar yang creamy dan berisik, sound drum yang terdengar vintage, dan sound bass yang sangat terdengar plug and play.

Hal yang membedakan Album Minggu Ini dengan para pendahulunya adalah, di album ini Netral mencapai titik kedewasaan dalam bermusik, sekaligus mencapai ‘titik tertinggi’ yang cenderung lewat dari batas kesadaran. Meskipun dari segi penulisan lirik tidak banyak berubah, tetapi eksplorasi musik yang dihadirkan lebih kompleks dibanding album Wa..lah (1995) dan Tidak Enak (1997).

Bila di kedua album awal Netral sangat terdengar minimalis, musik yang (kadang tidak) ngebut tetapi bising, aransemen yang cukup hanya dengan drum, bass, dan improvisasi gitar dari Miten, di Album Minggu Ini justru Netral terdengar lebih eksploratif dan jauh dari kata stagnan dalam segi aransemen musik. Bahkan terdengar lebih rumit dengan ditambahkannya musik tiup dan sequencer yang pada akhirnya dapat bersatu dengan ciamik di album ini. Fakta uniknya, proses rekaman album ini sama sekali tidak menggunakan metronome.

Lupakan soal trio so called experimental jazz Sungsang Lebam Telak yang pernah mencuri perhatian dengan memberikan judul-judul lagu yang di atas nalar, atau mungkin Sajama Cut dengan album GODSIGMA yang secara judul dan penulisan lirik dipenuhi oleh diksi yang terkesan unik — apabila tidak bisa dikatakan asal — karena Netral sudah lebih dulu memulainya.

Tidak pernah terpikir di dalam benak saya jika Om Bagus akan membuka album ini dengan kalimat, “Busuk mulutku, harum simbahan nanah. Tipis lidah cabang, rapuh keropos menang di tolak pinggang. Satu, dua, ikut kawan di neraka.” Sepenggal bait yang cukup untuk membuat dahi bersedia untuk dikernyitkan sesaat.

Sejujurnya, saya sendiri tidak mengerti dan tidak akan pernah mampu untuk memahami apa yang ditulis oleh seorang Om Bagus di tiap lirik yang ada di album ini. Namun, ajaibnya segala kalimat yang tertuang di album ini sangat mengimpresi saya. Kadang, saya merasa lirik yang Om Bagus tulis memiliki nilai magis tersendiri, bagaimana tidak, bait “Taring-taringmu, cakar-cakar manismu habis ku tebas. Salut kaum pendekar. Langkahku bebas, ya kiri, ya kanan. Cintaku mati, ku gantung tali” bisa dinyanyikan secara lugas tanpa terdengar sumbang sedikit pun, padahal secara diksi terkesan berantakan. Tapi ya, namanya juga Netral.

Selain memuat lirik-lirik yang terdengar nirmakna dan absurd, album ini juga memberikan tema-tema yang variatif. Dari senang menyaksikan wanita cantik menderita dan perlahan terbujur kaku, tripping dengan jamur tahi sapi, sampai dengan memprotes keadaan lingkungan yang perlahan rusak. Memang tidak ada keterkaitan di antaranya, namun Netral berhasil menjahit benang merah di semua lagu ini dengan liar dan penuh eksplorasi tinggi. Jagoan saya dari album ini tentu saja “Kau” sebagai satu-satunya track yang paling manis namun tetap bising.

Meskipun album ini tidak menemui hoki dari segi penjualan — mungkin juga dikarenakan oleh ketiadaan launching album — esensi dari album ini tidak sedikit pun memudar sebagai album terbaik yang pernah lahir di industri musik tanah air.

Pengaruh substansi, walaupun bukan hal yang bagus untuk selalu digantungkan, juga terkait faktor regulasi, ternyata dapat memberikan suatu dampak yang berbeda bagi sebuah karya. Walaupun sepanjang yang saya tahu, penggunaan substansi tinggi untuk sebuah lagu, bahkan album, seringnya malah menghasilkan album yang keren. Paling tidak di zaman dahulu.

Source: pophariini.com

Source: pophariini.com

Pada akhirnya, Album Minggu Ini dan Netral formasi awal akan selalu hidup di relung-relung setiap pendengarnya, tak akan lekang dimakan goresan halus di cangkang kaset berbahan plastik bersampul lighter api rusak dengan motif warna putih sebagai backgroundnya. Perlu dicatat, album ini tidak kalah oleh riak kerongkongan jurnalis musik senior yang kerap sibuk memberikan opini musik di rubrik-rubrik resensi, album ini hanya dikalahkan oleh sebuah keadaan tak menentu atas hajat hidup banyak orang yang bernama krisis moneter, dan tentunya album ini menjadi pengantar yang manis bagi lengsernya Orde Baru.

Selamat 23 tahun, Album Minggu Ini!


메타데이터
post_id
f52d43184ea6
slug
23-tahun-mantra-nihilis-netral-f52d43184ea6
url
https://medium.com/koncosclub/23-tahun-mantra-nihilis-netral-f52d43184ea6
canonical_url
https://medium.com/koncosclub/23-tahun-mantra-nihilis-netral-f52d43184ea6
author_url
https://medium.com/@koncosclub
status
ok
fetched_at
2026-07-28 13:47:05