← Back to list

Tumbuh di Tempat yang Salah: Memoar SMP dan Tubuh yang Berusaha Aku Sembunyikan

Aku selalu mengira sekolah adalah tempat untuk tumbuh dengan aman. Tempat untuk belajar, berteman, dan mengenal diri sendiri.

Adobonekalandaklili · 2026-06-02 07:56 · 0 claps · 3.9 min read
#pelecehan-verbal #bullying #smp #pubertas #trauma
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧠 · Mental Wellness

Tumbuh di Tempat yang Salah: Memoar SMP dan Tubuh yang Berusaha Aku Sembunyikan

Aku selalu mengira sekolah adalah tempat untuk tumbuh dengan aman. Tempat untuk belajar, berteman, dan mengenal diri sendiri.

Tapi saat SMP, aku justru lebih banyak belajar cara menyembunyikan diri.

Ini adalah bagian pertama dari cerita masa sekolahku. Sebelum aku bercerita tentang kisah-kisah yang lebih manis di masa TK, SD, atau SMA, ada satu masa yang rasanya perlu kuselesaikan terlebih dahulu: masa SMP.

Bukan karena aku membencinya.

Bukan juga karena aku masih menyimpan dendam.

Aku hanya ingin mengingatnya dengan jujur.

Bagian Satu: Tubuh yang Menjadi Bahan Pembicaraan

Masa SMP adalah masa ketika tubuhku mulai berubah. Saat sebagian besar teman perempuanku masih terlihat seperti anak-anak, tubuhku berkembang lebih cepat.

Aku tidak terlalu memikirkannya pada awalnya.

Sampai komentar-komentar itu mulai muncul.

Setiap pelajaran olahraga, beberapa anak laki-laki sering melihat ke arahku, berbisik satu sama lain, lalu tertawa. Kadang mereka menunjuk. Kadang mereka sengaja berbicara cukup keras supaya aku mendengar.

Yap. yang mereka komentari adalah payudaraku.

Waktu itu aku tidak tahu bagaimana harus merespons. Aku hanya tahu bahwa aku merasa sangat malu.

Aku mulai berjalan dengan badan sedikit membungkuk. Aku mulai berusaha membuat tubuhku terlihat lebih kecil. Aku tidak pernah benar-benar sadar melakukannya sampai kebiasaan itu menjadi bagian dari diriku.

Saat itu aku berpikir mungkin kalau aku tidak terlalu terlihat, mereka akan berhenti memperhatikanku.

Sekarang aku tahu bahwa tidak ada yang salah dengan tubuhku waktu itu.

Aku hanya seorang anak perempuan yang sedang bertumbuh.

Bagian Dua: Ketika Aku Menjadi Bahan Lelucon

Selain komentar tentang tubuhku, ada juga seorang teman sekelas yang cukup sering mengejekku.

Kadang dia memukulku dengan alasan bercanda.

Kadang dia mendorong atau menjahiliku sampai badanku benar-benar sakit.

Tapi yang paling kuingat justru bukan pukulannya.

Yang paling kuingat adalah sebuah lagu.

Waktu itu ada lagu yang bagian reff-nya berbunyi, “You make me, make me, make me…

Entah sejak kapan, dia mulai mengubah liriknya.

Bagian setelah “you make me” diganti dengan kata yang merujuk pada alat kelamin perempuan, lalu diakhiri dengan namaku.

Dia menyanyikannya berulang-ulang.

Di kelas.

Di depan teman-teman.

Saat jam istirahat.

Saat guru belum masuk.

Kadang sendirian, kadang diikuti teman lelaki yang lain.

Aku masih ingat bagaimana rasanya duduk di bangku sambil pura-pura tidak mendengar.

Padahal aku mendengar semuanya.

Awalnya aku mencoba diam. Aku berharap dia bosan sendiri.

Tapi ternyata tidak.

Semakin lama, semakin sering.

Sampai akhirnya aku pulang dan bercerita kepada papaku.

Aku sudah tidak tahan.

Papaku marah. Beliau datang dan menegur anak itu secara langsung.

Waktu itu aku pikir semuanya akan selesai.

Ternyata aku salah.

Ejekan tentang lagu itu memang berhenti, tetapi aku mendapatkan julukan baru.

“Wadulan.”

“Cepu.”

Aku masih ingat bagaimana teman-teman mulai menggunakannya seolah aku telah melakukan kesalahan besar.

Rasanya aneh.

Aku yang diejek.

Aku yang dipermalukan.

Tapi aku juga yang dianggap bersalah karena berani meminta bantuan.

Sejak saat itu aku jadi lebih sering diam, tidak berani bercerita ke bapak.

Bukan karena semuanya baik-baik saja.

Aku hanya tidak ingin masalahnya menjadi lebih besar lagi.

Bagian Tiga: Hari Saat Aku Menjadi Tontonan Satu Sekolah

Ada seorang kakak kelas yang cukup dekat denganku waktu itu.

Aku merasa nyaman berteman dengannya karena pembawaannya santai dan menurutku mudah diajak mengobrol. Dia juga lelaki yang tergolong feminim.

Dan aku menganggapnya teman.

Suatu hari, menjelang pulang sekolah saat jam kosong, dia datang ke kelasku sambil merekam video menggunakan ponselnya.

Lalu dia mengarahkan kamera ke arahku.

‘Guys, ini lho cewek yang suka sama aku.’

Kurang lebih seperti itu.

Orang-orang tertawa.

Aku langsung kesal.

Aku merasa dipermalukan di depan banyak orang.

Aku mengejarnya karena hanya ingin dia menghapus video itu.

Dia berlari.

Aku berlari.

Dia melompati kursi di halaman sekolah.

Aku mencoba mengikutinya.

Lalu aku terjerembap.

Posisiku tepat di tengah lapangan, dengan kedua kaki yang tertekuk ke belakang.

Saat itu banyak siswa dari kelas tujuh, delapan, dan sembilan yang sedang berada di luar karena jam pulang sekolah sudah dekat.

Yang paling kuingat bukan rasa sakit saat jatuh.

Yang paling kuingat adalah suara tawa.

Banyak orang melihat.

Banyak orang tertawa.

Dan aku merasa sangat malu.

Hanya seorang guru yang datang menghampiriku dan membantu berdiri.

Di rumah, aku hanya bilang kepada bapak bahwa aku keseleo saat bermain.

Sampai sekarang, terkadang kakiku masih terasa nyeri saat cuaca dingin.

Tidak parah.

Tapi cukup untuk sesekali mengingatkanku pada hari itu.

Bagian Empat: Ramah yang Disalahartikan

Aku adalah tipe orang yang suka berteman.

Aku suka menyapa orang lebih dulu.

Tapi di masa SMP, hal-hal seperti itu sering disalahartikan.

Aku pernah menyukai seorang kakak kelas.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Kami hanya beberapa kali berbalas pesan via WhatsApp.

Lalu suatu hari, karena keisengan adikku yang menggunakan ponselku (ponsel bersama sih), banyak orang mengetahui perasaanku.

Setelah itu gosip menyebar ke mana-mana.

Aku diledek terus-menerus.

Aku dikunci di dalam kelas bersama kakak kelas itu.

Aku dijadikan bahan lelucon.

Dan aku pulang dengan perasaan malu lagi.

Malu seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah.

Padahal aku hanya seorang anak SMP yang menyukai seseorang.

Hal yang sebenarnya sangat biasa.

Lama-kelamaan aku jadi takut terlihat terlalu dekat dengan siapa pun.

Takut disalahartikan.

Takut menjadi bahan gosip baru.

Padahal sebenarnya aku hanya orang yang ramah.

Penutup: Mengenang Tanpa Membenci

Kalau ada yang bertanya apakah aku marah kepada mereka sekarang, jawabannya tidak.

Aku tidak menulis ini untuk membalas atau membenci siapa pun.

Aku juga tidak menulis ini karena masih menyimpan dendam.

Sebagian dari mereka mungkin bahkan sudah lupa bahwa semua ini pernah terjadi.

Aku hanya sedang mengingat seorang anak perempuan yang dulu sering merasa malu menjadi dirinya sendiri.

Anak perempuan yang membungkuk saat berjalan.

Anak perempuan yang takut salah bicara.

Anak perempuan yang takut salah berteman.

Anak perempuan yang sering berpikir bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

Padahal sebenarnya tidak ada.

Tidak ada yang salah dengan tubuh yang sedang bertumbuh.

Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan kepada orang tua.

Tidak ada yang salah dengan bersikap ramah kepada orang lain.

Dan tidak ada yang salah dengan menjadi diriku sendiri.

Kalau ada satu hal yang ingin kusampaikan kepada diriku yang masih SMP waktu itu, mungkin hanya ini:

“Kamu tidak perlu mengecilkan dirimu supaya orang lain merasa nyaman.”

Karena sekarang aku tahu, masalahnya bukan terletak pada diriku.

Aku hanya tumbuh di tempat yang belum tahu bagaimana memperlakukan seorang anak perempuan dengan baik.


메타데이터
post_id
f53b1e9142fb
slug
tumbuh-di-tempat-yang-salah-memoar-smp-dan-tubuh-yang-berusaha-aku-sembunyikan-f53b1e9142fb
url
https://medium.com/@AdolandaknyaLili/tumbuh-di-tempat-yang-salah-memoar-smp-dan-tubuh-yang-berusaha-aku-sembunyikan-f53b1e9142fb
canonical_url
https://medium.com/@AdolandaknyaLili/tumbuh-di-tempat-yang-salah-memoar-smp-dan-tubuh-yang-berusaha-aku-sembunyikan-f53b1e9142fb
author_url
https://medium.com/@AdolandaknyaLili
status
ok
fetched_at
2026-06-13 12:55:53