TULISAN INI DIBUAT OLEH 3 ORANG
oleh Ali, Wildan, Yusuf Iskandar (2025) — Persatuan Ler Nation
TULISAN INI DIBUAT OLEH 3 ORANG
oleh Ali, Wildan, Yusuf Iskandar (2025) — Persatuan Ler Nation
“Ali di Jakarta, gas ketemu ga?” pesanku di chat yang ditengah kebingungan.
“Gass dimana dia? Sampe kapan?” balasnya dengan semangat.
“Gatau nih belum dibales, lagi kerja kayaknya, tapi kayaknya dia bakal lama di Jakarta” akhir dari percakapan sore itu
*sampai di Plaza Blok M
“WOI BOOORID” ucapku ke Wildan saat ketemu
Dengan tampang tidak meyakinkan sebagai manusia, dia melihatku dan tertawa dengan menyedihkan, sembari mengucap “WOIIIIIII”
Aku yang kasihan melihatnya menyiramkan air panas ke mukanya, dengan semangat perjuangan.
“WOIIII PANAS BANGSATTT” ucapnya dengan lantang sambil menghindar.
*Di sudut lain Blok M
Aku sedang menunggu dua sahabat jauh dari balik kaca jendela. Bila di tempat ini orang mendapatkan lelah justru aku di sini mendapatkan ketenangan.
Melihat chat dari sahabatku aku terheran hanya untuk parkir di sini saja harus jauh sekali. Begitulah cara pikir pemikir ekonomi yang sangat perhitungan bahkan hanya soal uang 5.000. Membeli kopi mampu tapi hanya untuk uang 5.000 demi badannya sendiri sungguh amat pelit.
Dalam cerita ini kenapa aku jadi monolog yah. Gaess para pembaca, sebenarnya aku membuat karya ini asal-asalan karena aku dipaksa oleh salah satu sahabat jauhku dari negara yang sudah lama runtuh, Uni Soviet.
Itulah intermezzo dari kami …
Dan Begitulah kami,
Bukan tiga penulis handal yang duduk di satu meja saat menulis ini, bukan pula tiga nama besar dengan ambisi yang sama. Kami hanya tiga sahabat yang dipertemukan oleh hati, bukan oleh harta, bukan oleh tahta.
Kami tidak sering bertemu. Bahkan bisa dibilang, perjumpaan kami jarang dan singkat. Tidak ada rutinitas ngopi bareng tiap minggu, tidak ada foto bersama yang rutin diunggah. Namun anehnya, jarak tidak pernah benar-benar memisahkan. Ada sesuatu yang tetap utuh, tetap hangat, meski kami berjalan di jalan cerita hidup yang berbeda.
Kami bersatu di obrolan.
Obrolan panjang yang sering kali dimulai tanpa rencana. Telepon malam hari, saat dunia mulai sepi dan pikiran tidak lagi sibuk berpura-pura kuat. Saat satu dari kami lelah, yang lain mendengarkan. Saat satu dari kami jatuh, yang lain tidak menghakimi, hanya menemani.
Kami berbicara tentang hal-hal sederhana. Tentang hari yang melelahkan, tentang mimpi yang belum tercapai, tentang ketakutan yang jarang berani diucapkan di siang hari. Kadang kami tertawa tanpa alasan, kadang terdiam lama karena masing-masing tahu, ada rasa yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Persahabatan ini tidak dibangun dari kepentingan. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Tidak ada hitung-hitungan siapa memberi apa. Yang ada hanya kehadiran. Dan ternyata, kehadiran itu cukup.
Kami belajar bahwa persahabatan tidak selalu harus dekat secara fisik. Ia bisa tumbuh dari perhatian kecil, dari pesan singkat yang datang di waktu yang tepat, dari suara di ujung telepon yang berkata, “Gue di sini.”
Tulisan ini dibuat oleh tiga orang, karena hidup kami pun berjalan bertiga dalam banyak doa yang tak terucap. Kami mungkin tidak selalu saling menggenggam tangan, tapi kami tahu ke mana harus kembali ketika hati terasa kosong.
Dan jika suatu hari jarak semakin jauh, waktu semakin sibuk, kami percaya satu hal.
Yang menyatukan kami bukan kebetulan, melainkan rasa.
Rasa yang memilih untuk tinggal, meski segalanya berubah.
Namun, perjalanan kami tidak selalu mulus. Pernah ada masa ketika perbedaan pendapat terasa lebih keras dari biasanya. Pernah terjadi intrik kecil dalam lingkaran kami, rasa tidak enak, salah paham, bahkan diam yang panjang. Ada saatnya obrolan terasa canggung, ada kalanya ego ingin menang sendiri. Kami sempat berjalan menjauh, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tapi anehnya, tidak ada yang benar-benar pergi.
Tidak ada yang memutuskan untuk menyerah.
Kami belajar bahwa berbeda pendapat bukan tanda berakhirnya persahabatan. Justru di sanalah kami diuji. Kami bertabrakan, kami saling kesal, kami saling menyakiti dengan kata-kata yang seharusnya bisa ditahan. Namun pada akhirnya, kami kembali duduk di tempat yang sama, meski lewat jalan yang berliku.
Kami saling membully, iya.
Kadang kejam, kadang tanpa ampun. Tapi di balik itu, kami tahu, tidak ada niat menjatuhkan. Bully kami adalah cara aneh untuk berkata, “Kami peduli.” Cara kikuk untuk menunjukkan sayang tanpa harus terdengar lemah.
Kami bisa tertawa setelah bertengkar.
Kami bisa bercanda setelah diam lama.
Karena di balik semua perdebatan dan kekacauan kecil itu, ada rasa yang tidak pernah benar-benar hilang.
Tulisan ini dibuat oleh tiga orang yang pernah berbeda, pernah retak, tapi memilih untuk utuh kembali. Kami tidak sempurna, kami sering salah, tapi kami selalu menemukan jalan pulang satu sama lain.
Dan mungkin, justru karena itulah persahabatan ini bertahan.
Bukan karena tidak pernah terluka,
melainkan karena kami memilih untuk tetap peduli, meski tahu risikonya..
…
Oke mantap, menyala abangku. Thx ya gaes
메타데이터
- post_id
- f571b4cbc3bd
- slug
- tulisan-ini-dibuat-oleh-3-orang-f571b4cbc3bd
- url
- https://medium.com/@wildannbm/tulisan-ini-dibuat-oleh-3-orang-f571b4cbc3bd
- canonical_url
- https://medium.com/@wildannbm/tulisan-ini-dibuat-oleh-3-orang-f571b4cbc3bd
- author_url
- https://medium.com/@wildannbm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-11 03:32:43