← Back to list

Shin Tae Yong Bukan Satu-satunya Faktor

msirod | April 28, 2024

Sirod Muhammad · 2025-01-16 01:09 · 0 claps · 2.5 min read paywalled
#pssi #erick-thohir #jokowi #indonesia #sepakbola
Open on Medium ↗

Shin Tae Yong Bukan Satu-satunya Faktor

msirod | April 28, 2024

Photo by Tommy Satria Ishar on Unsplash

Photo by Tommy Satria Ishar on Unsplash

Bangsa ini biasanya terlalu mudah dan gampang menganalisasi lalu berisik pada sesuatu yang tidak systemic, sifatnya permukaan dan menjadi ramai karena bisa memberikan feed back diskusi karena ia tau sedikit soal tersebut.

Begitu juga dengan sepak bola akhir-akhir ini. Mulai dari drama kebencian pada aktor-aktor PDIP seperti Ganjar Pranowo dan Gubernur Bali yang ingin maju kembali i Wayan Koster, publik begitu cepat memberi respon negatif bila keduanya mencoba-coba membuat narasi sepak bolah, entah memuji atau menyesal terkait issue Israel dulu. Padahal sebenarnya bila keduanya benar-benar pembela Israel, seharusnya mereka membuat tulisan seperti Presiden ke-8 Prabowo Subianto di The Economics tentang Dual Standard Amerika & Barat soal konflik berpuluh-puluh tahun ini.

Tapi dasar pencitraan memang, Ganjar dan tim medianya sepertinya kapok. Seorang kawan mengamati dari 4 postingan Ganjar soal U23 atau PSSI semuanya direspon dengan celaan. Mungkin itu kenapa ia tidak lagi merespon soal kemenangan U23 yang digawangi pelatih Korea fenomenal Shin Tae Young ini.

KEBERHASILAN ERICK & ARAHAN JOKOWI

Presiden Jokowi meminta ET (Erick Thohir) fokus membangun PSSI selain tugas utamanya menjadi menteri BUMN. Fokus negara dan pemerintahan men-support PSSI dengan stadion-stadion wah, megah dan gelontoran anggaran adalah bukti konkrit Jokowi menaruh harapan besar padanya. Semua pemimpin negara yang punya visi besar sadar, semangat anak negeri lewat olahraga adalah indikator kemajuan negeri tsb.

Ada banyak champion memperkuat kepengurusan PSSI pasca tragedi Kanjuruhan yang memilukan dengan parade lepas tangan dari elit PSSI. Rakyat dan peminat sepak bolah luar biasa marahnya saat itu. Gerak cepat para ponggawa negeri termasuk Jokowi, ET dan para pihak untuk mengambil alih PSSI yang tengah menjadi perhatian publik (karena saat itu menjelang pemilu juga) menjadi “asset” bagus buat para pesohor ini.

KEBERHASILAN TIM NATURALISASI

Saya bukan penyuka sepakbola, apalagi peminat seluk-beluk industrinya. Tetapi harus diakui ada kultur baru di pola permainan sepak bola kita gara-gara tangan dingin Shin Tae Yong dan darah-darah baru hasil tangan dingin tim naturalisasi. Saya tidak kenal banyak orang di Kemenpora atau PSSI, tapi ada seorang kawan bernama Hamdan Hamedan menjadi orang yang tekun di akun media sosialnya mengawal proses tersebut.

Talent-talent terbaik yang terserak menjadi diaspora di seluruh dunia, ia dan tim-nya ajak masuk kembali memperkuat asal tanah airnya. Agak sedikit mengernyitkan dahi sebenarnya melihat muka-muka dan nama-nama asing memperkuat tim PSSI muda ini. Tetapi dalam industri dan kompetisi semua aspek, resources dan kemungkinan musti dimaksimalkan asalkan sesuai aturan dan regulasi.

Tim naturalisasi di bawah kendali kemenpora berhasil memberikan yang terbaik untuk PSSI dan membuat kita berdecak kagum ketika melihat tim Garuda Muda melesak memainkan si kulit bundar dengan umpan-umpan pendek, berlari bertenaga sampai ke bibir gawang berkali-kali. Seperti bukan Indonesia, ya memang Indonesia rasa import hahaha..

ANIMO PEMAIN KE-13

Supporter kita itu memang gila bola. Peminat bola di tanah air inline dengan karakter penyuka bola dan demografi tanah air. Ada beberapa riset yang menjelaskan hal ini. Hiburan sport seperti ini sudah biasa di banyak negeri yang maju industri olah raganya.

Dulu kita menanti-nati bulu tangkis bila melawan negeri jiran Malaysia, China atau Denmark. Kini kita punya alternatif lain, menyaksikan pertandingan kelas dunia dengan lambang merah putih di bangku penonton. Ini kebanggaan dan kesadaran komunal. Membangkitkan rasa percaya diri secara efektif.

Bangsa demokrasi semenjak Julius Caesar selalu membuat tontonan menarik untuk publik, agar rasa dan emosi kesal dan sulitnya hidup terhibur dengan ajang kontestasi seperti ini. Emosi penonton diaduk-aduk, sehingga sementara waktu melupakan morat-marit kehidupannya sehari-hari.

Tiket di Qatar saya dengar ludes dibeli penonton Indonesia, seperti biasa pasti ada calo yang menangguk keuntungan haha..


메타데이터
post_id
f592fd8b73af
slug
shin-tae-yong-bukan-satu-satunya-faktor-f592fd8b73af
url
https://medium.com/@msirod/shin-tae-yong-bukan-satu-satunya-faktor-f592fd8b73af
canonical_url
https://medium.com/@msirod/shin-tae-yong-bukan-satu-satunya-faktor-f592fd8b73af
author_url
https://medium.com/@msirod
status
ok
fetched_at
2026-06-26 21:52:29