Rinjani dan 20 Perantau: Kisah Lelah, Tawa, dan Jalan Pulang yang Tidak Biasa
Pendakian ini sebenarnya tidak pernah masuk rencana. Saya datang ke Lombok untuk mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka, bukan untuk…
Rinjani dan 20 Perantau: Kisah Lelah, Tawa, dan Jalan Pulang yang Tidak Biasa
Pendakian ini sebenarnya tidak pernah masuk rencana. Saya datang ke Lombok untuk mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka, bukan untuk menguji kemampuan lutut atau menebus dosa karena kurang olahraga selama semester sebelumnya. Tetapi begitulah hidup di rantau, selalu ada ide spontan yang muncul hanya karena kalimat sederhana: “Mumpung di Lombok, kapan lagi naik Rinjani?” Dan seperti biasa, ide yang paling tidak masuk akal justru yang paling cepat disetujui oleh semua orang.
Tiba-tiba terbentuklah rombongan berisi dua puluh mahasiswa perantau yang energinya campur aduk antara nekat, antusias, dan takut ketinggalan momen. Enam cowok, empat belas cewek, lengkap dengan karakter masing-masing yang membuat perjalanan ini terasa seperti film ensemble cast. Kami memilih naik melalui jalur Kandang Sapi dan berencana turun lewat Torean. Namanya memang unik, tetapi setelah dijalani, kedua jalur itu jauh lebih menantang daripada kesan pertama.
Awal perjalanan masih penuh tawa. Ada yang sibuk mengambil foto, ada yang membuat video pendek untuk story, dan ada yang terlalu percaya diri mengatakan bahwa pendakian ini akan mudah. Keyakinan itu bertahan hanya sampai tanjakan pertama. Setelah itu suasana berubah drastis. Nafas mulai tidak beraturan, kaki mulai terasa berat, dan kata-kata hiburan perlahan berubah menjadi desahan capek yang sinkron tanpa perlu dikomando.
Yang mengejutkan, para cewek justru tampil paling stabil. Mereka berjalan perlahan tetapi konsisten, tidak terburu-buru, dan jarang mengeluh. Sementara para cowok yang awalnya tampak paling kuat perlahan mulai menyerah pada realitas. Ada yang mulai minta istirahat, ada yang memegang lutut sambil menatap jauh, dan ada yang mulai mempertanyakan keputusan hidupnya sambil duduk termenung. Rasanya seperti pelajaran hidup dalam bentuk sederhana, bahwa kekuatan bukan soal otot, melainkan soal ritme dan kesabaran.
Ketika akhirnya tiba di Pelawangan, kami disambut oleh angin yang seolah sedang melakukan audit kekuatan mental. Tenda bergoyang hebat, suara kain beradu dengan hembusan angin terdengar seperti musik latar film petualangan. Namun justru di tengah cuaca yang keras itu, muncul momen yang paling hangat. Kami duduk bersama, menyeruput coklat panas, bertukar cerita tentang perjalanan masing-masing, dan tertawa sampai lupa bahwa tubuh sedang kelelahan. Keindahan gunung bukan hanya soal pemandangan, tetapi juga soal siapa yang menemani kita di tengah dingin malam.
Summit attack dimulai ketika jam menunjukkan pukul dua pagi. Mata masih ingin tidur, tetapi kaki harus melangkah. Jalur menuju puncak adalah gabungan antara siksaan dan komedi situasi. Pasir yang licin membuat setiap langkah terasa tidak pasti. Dua langkah maju, satu langkah mundur, kadang lebih mundur daripada maju. Ada teman yang hampir menyerah, ada yang berhenti lama sambil menenangkan diri, ada juga yang menyamarkan rasa lelah dengan alasan ingin mengambil foto. Tetapi karena kami berjumlah dua puluh orang, semangat itu terus berpindah dari satu orang ke lainnya. Yang hampir jatuh diberi dukungan, yang ingin berhenti diajak bercanda, dan yang merasa tidak sanggup diingatkan bahwa ia tidak berjalan sendirian.
Saat matahari mulai muncul dan kami akhirnya mencapai puncak, tidak ada yang mengatakan apa pun. Pemandangan bukan yang paling dramatis dan sempurna seperti di unggahan media sosial, tetapi justru di situlah keindahannya. Kami tiba dengan kondisi seadanya, dengan langkah yang mungkin berantakan, tetapi hati yang penuh rasa bangga. Rasanya seperti memenangkan sesuatu yang sejak awal bahkan tidak kami rencanakan dengan matang.
Perjalanan turun melalui Torean menjadi babak baru yang tidak kalah seru. Jalur Torean memiliki suasana yang berbeda sama sekali. Tebing, lembah, aliran sungai, dan air terjun membuat perjalanan terasa seperti masuk ke dunia lain. Setiap tikungan memiliki keindahan baru, tetapi juga tantangan baru. Lutut mulai protes, kaki mulai goyah, dan tubuh mulai mengingatkan bahwa gravitasi bukanlah teman. Meski begitu, perjalanan turun terasa jauh lebih ringan karena dilakukan bersama. Ada yang terpeleset dan langsung ditertawakan sebelum dibantu, ada yang kelelahan tetapi tetap memaksakan pose ketika melihat spot foto bagus, dan ada yang berjalan seperti karakter game yang hidupnya tinggal satu bar.
Sesampainya di bawah, kami saling pandang sambil tertawa. Rasa capeknya luar biasa, tetapi justru itu yang membuat perjalanan ini terasa bermakna. Kami bukan hanya mahasiswa yang kebetulan berada di Lombok, tetapi perantau yang menemukan keluarga baru di tengah perjalanan yang melelahkan. Rinjani memberi kami sesuatu yang tidak bisa ditemukan di kelas, yaitu pengalaman yang mengubah cara kami melihat diri sendiri dan orang lain.
Kami datang sebagai mahasiswa PMM yang hanya ingin menghabiskan waktu dengan cara berbeda. Kami pulang sebagai teman seperjalanan yang membawa cerita panjang tentang lelah, tawa, dan jalan pulang yang tidak pernah biasa.
메타데이터
- post_id
- f5c03ae97c8b
- slug
- rinjani-dan-20-perantau-kisah-lelah-tawa-dan-jalan-pulang-yang-tidak-biasa-f5c03ae97c8b
- url
- https://medium.com/@nurabidinn/rinjani-dan-20-perantau-kisah-lelah-tawa-dan-jalan-pulang-yang-tidak-biasa-f5c03ae97c8b
- canonical_url
- https://medium.com/@nurabidinn/rinjani-dan-20-perantau-kisah-lelah-tawa-dan-jalan-pulang-yang-tidak-biasa-f5c03ae97c8b
- author_url
- https://medium.com/@nurabidinn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-18 04:47:05