Kota Malang Memang Indah, tetapi Bukan Berarti Tanpa Masalah
Mulai dari sound horeg hingga parkir liar
Kota Malang Memang Indah, tetapi Bukan Berarti Tanpa Masalah

Ilustrasi: yoursay.id
Nyaris serupa dengan Bandung, Kota Malang yang lokasinya berada di daerah cekungan, dikepung oleh dataran tinggi dan pegunungan, nasibnya selalu berakhir sebagai objek romantisasi. Daerahnya dingin, begitu orang-orang acap kali berujar. Dan dingin, kita tahu, adalah suasana terbaik untuk berduaan, mungkin kencan, atau sekadar menikmati obrolan intim bersama pasangan.
Jika ingin merasakan suasana yang lebih romantis, sebagian yang lain akan menyarankan Kota Batu, hanya sekitar satu jam dari pusat Kota Malang. Menginap di vila atau resor, menghirup udara pegunungan yang masih perawan, bakar jagung, berkemah, dan keseruan lain, menjadi dambaan beberapa orang kala liburan.
Di atas itu semua, Malang tersohor, salah satunya, karena Bromo. Jika sebelumnya kita jenuh dengan pemandangan belantara perkantoran di ibu kota, atau rumah-rumah berderet di bantaran sungai, tempat ini menjanjikan sesuatu yang sama sekali berbeda. Lanskap perbukitan hijau membentang, puncak yang didambakan para penakluk ketinggian, semua ada di sini. Wisatawan luar kota acap menjadikan Bromo sebagai tujuan utama sebelum menentukan pilihan lainnya.
Namun, di balik semua imaji indah dan romantis tentang Malang, kota ini juga menyimpan sekian masalah. Entah yang berhubungan langsung dengan kawasan satelit di sekitarnya atau karena faktor-faktor lain termasuk konstruksi sosial-budaya di kota ini. Dari sekian masalah yang ada, tiga di antaranya cukup bikin kesal, terutama jika suasana hati juga sedang remuk.
Kemacetan, Truk-Truk Besar, dan Lampu Lalu Lintas
Jalanan Kota Malang bukanlah jalanan lebar seperti di Surabaya atau Jakarta. Kira-kira hanya setengahnya. Ironisnya, jalanan yang tak terlalu lebar ini kerap dilewati truk-truk gandeng pengangkut tebu, batu, beton, pasir, dan seterusnya yang sekali jalan iring-iringannya serupa parade. Di jalur Pandanwangi-Pakis, misalnya, truk raksasa pengangkut tebu mendominasi dan, sudah pasti, menyumbang kemacetan sekaligus kengerian tersendiri, lebih-lebih di tanjakan sisi barat jembatan Pandanwangi.
Dulu, saya kira Pandanwangi adalah jalur paling jahanam di Malang, ternyata masih ada Suhat dan Tlogomas yang padat-merayap dengan roda dua dan roda empat, terutama kendaraan pribadi (maklum, sih, area kampus, mulai dari Polinema, UB, Unisma, hingga UIN). Kita juga tidak boleh melupakan Muharto, yang kapan waktu, dari sebuah video viral di Instagram, tampak seperti saudara kembar daerah Kopo di kawasan Bandung Selatan.
Belakangan, saya sering lewat Jalan Ki Ageng Gribig, lanjut Buring, lalu Arjowinangun. Ya Tuhan ... saat sore, luar biasa padatnya. Apalagi di area jembatan Buring. Segala macam truk dan pikap ada semua. Saya terkadang mengekor di belakang truk pengangkut ayam potong, atau gas melon, pasir, atau batu kali. Dengan kondisi semacam itu, satu-satunya hal yang paling saya inginkan ialah cepat sampai rumah!
Permasalahan di atas masih diperparah lagi dengan durasi lampu lalu lintas yang nyaris bersamaan di beberapa perempatan. Ambil contoh di perempatan Sulfat. Dari arah timur (Sawojajar), ketika lampu hijau, sekian detik kemudian, dari arah barat juga hijau. Kan, ruwet. Mau belok kanan harus antre lagi. Suasana makin runyam saat klakson kendaraan bergantian digilas pemiliknya.
Saran saya, jika suatu saat Anda terjebak dalam kondisi semacam ini, entah di Malang atau di tempat-tempat lain, ingatlah kembali prinsip Stoikisme: kemacetan, truk-truk raksasa, dan lampu lalu lintas yang menguji kesabaran, semuanya berada di luar kendali kita.
Sound Horeg dan Karnaval yang Berlarut-larut
Akhir-akhir ini, muncul perdebatan tentang fatwa haram sound horeg (sound artinya pengeras suara atau suara itu sendiri, sedangkan horeg artinya getaran yang dahsyat). Ia, oleh sebagian orang, dianggap sebagai hiburan rakyat, bahkan ada klaim, budaya ini ada sejak zaman Soekarno (entah, maksudnya saat Soekarno masih kanak-kanak, saat ia remaja, atau ketika sudah memimpin bangsa ini).
Jauh sebelum fatwa haram itu mencuat, kolom komentar unggahan konten sound horeg kerap jadi arena sabung pendapat. Komentar warganet sungguh beragam: ada yang mencemooh pemilik jasa dan pendukung sound horeg sebagai kaum IQ jongkok; ada yang dengan enteng mengatakan, "sound horeg boleh, asal didengarkan sendiri pakai penyuara jemala (earphone)"; ada yang menulis komentar berlarat-larat—biasanya sembari memaparkan contoh kasus kerusakan rumah akibat sound horeg—yang intinya menolak keras aktivitas ini.
Di kubu yang berlawanan, pendukung sound horeg juga tak kurang-kurang jawaban. Misalnya, mereka menyatakan bahwa orang-orang yang rumahnya rusak akibat sound horeg malah ketawa dan berani bayar mahal pawang sound horeg. Ada juga yang berkelit, mengalihkan topik pembicaraan dengan mengatakan kalimat seperti, "Sejak kapan sound horeg haram? Tidak ada dalilnya di Al-Qur'an! Yang haram itu korupsi! Aneh, hiburan rakyat, kok, diharamkan!" atau perbandingan yang sejujurnya tidak apple to apple seperti, "Kalau sound horeg haram, tempat karaokean juga haram, lalu bagaimana dengan pengeras suara untuk azan?"
Lantas, posisi saya di mana? Sudah jelas, saya bersama kelompok penentang sound horeg. Saya lahir dan tumbuh di Jawa Timur, kemudian selama sekian tahun merantau ke Bandung, dan sekarang tinggal di Malang sebagai pendatang. Saat pertama kali merasakan dentuman pengeras suara dengan tingkat kebisingan di atas rata-rata, saya kaget sekaligus kesal luar biasa. (Jangankan sound horeg, istri saya menyetel musik atau siniar terlalu nyaring saja saya protes, kok). Saya belum tahu namanya, kala itu. Tapi kaca jendela kontrakan saya bergetar, dan seorang tetangga yang punya bayi nampak gelisah hingga keluar rumah. Saya makin terkejut ketika budaya ini ternyata galib seantero Malang—juga di beberapa daerah di Jawa Timur, khususnya di desa-desa ataupun kampung-kampung perkotaan. Saban lewat depan orang hajatan, dada saya seperti digedor-gedor. Berulang kali saya ngomel, "Telinga orang Malang terbuat dari apa, sih? Kok, bisa tahan?"
Yang lebih menakjubkan, saat bulan Agustus (dan mungkin hingga September awal), kombo maut sound horeg plus karnaval tiap pekan sungguh melelahkan. Bukan hanya mengakibatkan polusi suara, tetapi juga menyumbang kemacetan di beberapa titik.
Saya, sebagai orang yang memuja kesunyian, benar-benar tidak bisa berkompromi dengan hal-hal semacam ini. Solusinya apa? Saya pindah domisili, mencari rumah sewa jauh dari jalan raya dan perkampungan yang di dalamnya jamak ber-sound-horeg-ria.
Parkir Liar
Dua ribu per motor selama sekian jam per hari, dikali tiga puluh, saya yakin, penghasilan bulanan Sam* Parkir melampui karyawan tetap medioker—apalagi guru honorer. Sialnya, parkir liar di Malang menjamur di mana-mana. Nyaris di setiap toko, fasum, atau gedung-gedung dengan kapasitas area parkir terbatas, bermunculan Sam Parkir-Sam Parkir ajaib. Beberapa orang menghindari Sam Parkir, tetapi pada praktiknya tidak semudah itu, Fergusso, karena di setiap lahan kosong, di sanalah cuan tumbuh dengan subur.
Sementara itu, di banyak sekali kota di Indonesia, termasuk Malang, fasilitas seperti transportasi umum belum memadai. Jumlahnya terbatas dan di beberapa daerah, konon katanya, malah menjadi penyumbang kemacetan. Sedangkan jika kita terus-menerus pakai jasa ojol atau taksi online, bakalan boncos juga. Jadi, solusi terbaik, ya, pakai kendaraan pribadi, meskipun harus keluar anggaran buat tarif parkir.
Pembaca yang budiman, sebagai penutup, saya tegaskan bahwa tulisan ini memang tidak hendak memberikan solusi konkret atas permasalahan di Malang. Ini sekadar sambatan seorang warga biasa yang kebetulan sedang merantau di kota ini. Dan, kita tahu, setiap keluhan selalu bersifat subjektif—kendati mengeluhkan hal yang sama, kadar emosi tiap orang berbeda. Barangkali ada orang lain yang sama sekali tidak masalah dengan sekian hal yang saya keluhkan di atas. Namun, bukan tidak mungkin, sebagian sisanya merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan, betul?
—H
*Sam adalah anagram dari kata "Mas." Di Kota Malang, ada budaya membalik kata (membaca dan menulis kata aslinya dari belakang), tetapi ada aturan mainnya; tidak semua kata bisa dibolak-balik seenak jidat. Tolong, camkan.
메타데이터
- post_id
- f5fa45d03d6d
- slug
- kota-malang-memang-indah-tetapi-bukan-berarti-tanpa-masalah-f5fa45d03d6d
- url
- https://medium.com/@ucendoit/kota-malang-memang-indah-tetapi-bukan-berarti-tanpa-masalah-f5fa45d03d6d
- canonical_url
- https://medium.com/@ucendoit/kota-malang-memang-indah-tetapi-bukan-berarti-tanpa-masalah-f5fa45d03d6d
- author_url
- https://medium.com/@ucendoit
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 18:07:28