Setelah Detox Sosial Media Selama Satu Minggu

Sumber : Dokumentasi pribadi
Bermula dari mata yang mulai lelah sebab melihat layar seharian, merasa berdosa dengan laku dan memutuskan untuk menghabiskan seharian meraih alam guna membayar dunia nyata yang kurang diperhatikan. Di bawah pohon besar, di mana cahaya mentari menemukanku melalui sela-sela daun yang rimbun, aku merasakan nafasku lagi.
Kala itu jiwaku bingung mengimani yang mana antara bahagia dan sedih terhadap diri. Melihat orang-orang yang sedang dipaksa mengekspresikan “rasa”nya lewat foto lalu diunggah ke akun sosial media mereka, untuk memenuhi tugas-tugas sebagai mahasiswa baru. Melihat postingan satu persatu lewat di beranda membuatku bertanya “Sedang apakah aku sekarang ini?”, lalu sampai di titik di mana aku melihat diriku di cermin dan mulai membandingkan hidupku dengan yang lain, menyedihkan.
Setelah merampungi pertempuran panjang di kepala aku memutuskan untuk memilih damaiku dengan menerima kenyataan dan sedikit me-merdekakan diri dengan menghilang, agar tak terdistraksi oleh hal lain. Kebetulan juga raga dan jiwaku lelah kala itu.
Awalnya hanya kuputuskan untuk sekedar istirahat, membuang energi negatif dan memeluk sejuknya energi positif di tengah hutan tak jauh dari rumah, namun ternyata tidak seperti itu, di tengah rimbunnya pohon, aku tenang. Angin yang menerpa rambut lepekku, suara hewan-hewan kecil yang ku tak tahu apa jenisnya dan dari mana asalnya, mengalahkan suara ramainya kepalaku yang riuh sebelumnya. Aku menghabiskan dua jam di sana, sekedar diam dan mengamati apa yang alam sedang lakukan. Pikiranku nyaman dibuatnya.
Mentari telah pergi dan gelap mulai memakan bayangku. Sesampainya dirumah, aku disambut ranjang yang entah menapa seakan berbisik “Kemarilah, dan akan kubuat kau nyaman sampai mentari memaksa kelopak matamu terbuka.”
Esoknya aku memulai hari seperti biasa dengan sibuknya jadwal kerja 9–5, lalu malam pun tiba dan aku tersadar seharian ini aku tak banyak mengeluh memikirkan apa yang terjadi dengan mereka di layar hpku, mungkin karena hari ini dibuat sibuk oleh pekerjaan.
Aku tersadar, mungkin rasa bingungku kala itu muncul karena aku lebih dominan hidup dalam khayal ketimbang hidup dengan nyata. Aku mulai meng-iyakan rasa-rasa yang datang dari mana saja. Sampai kapan kita akan menolak rasa yang memang ditujukan kepada kita? Walau sakit tapi memang kenyataannya seperti itu kan?
Terimalah dan berilah jeda waktu untukmu menghakimi diri, setelahnya tolong berdandan agar lukamu rapi tertutupi, biar waktu dan tindakanmu setelah ini yang menyembuhkan luka itu.
메타데이터
- post_id
- f628dc7d68d1
- slug
- setelah-detox-sosial-media-selama-satu-minggu-f628dc7d68d1
- url
- https://medium.com/@mandoan/setelah-detox-sosial-media-selama-satu-minggu-f628dc7d68d1
- canonical_url
- https://medium.com/@mandoan/setelah-detox-sosial-media-selama-satu-minggu-f628dc7d68d1
- author_url
- https://medium.com/@mandoan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 23:32:06