← Back to list

Selamat Jalan, Kakakku

Ruang ketiga, dalam rumah berdukaku

Akhyatun Nisa in Suara Duka · 2026-05-20 04:59 · 490 claps · 1.9 min read paywalled
#suara-duka #duka #storytelling #grief #grief-and-loss
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 🧠 · Mental Wellness

Selamat Jalan, Kakakku

Ruang ketiga, dalam rumah berdukaku

Baca gratis di sini.

Setelah melalui serangkaian pengobatan yang sangat memberatkan, akhirnya kamu tidak kesakitan lagi. Akhirnya tubuhmu menyelamatkanmu dengan mencabut semua penderitaan di dunia. Mereka tahu jika bertahan akan lebih menyulitkan sehingga pilihan terbaik adalah berhenti.

Selamat jalan, kakakku.

Photo by omid bonyadian on Unsplash

Photo by omid bonyadian on Unsplash

Pagi ini ritualku tidak lagi membaca buku atau menggulirkan jemari pada video pendek yang ada di media sosial. Bersama lamunku yang entah mengapa belum mandek dari kemarin, aku melihat semua foto kebersamaan kita. Dari yang mutakhir, sampai yang lawas. Aku menyukai senyum yang senantiasa kamu tautkan tatkala berfoto. Rupanya “berfoto ria” adalah definisi dirimu.

Aku menemukan foto yang tampaknya, resistensi insulin belum menyerangmu kala itu. Masih bugar, tanpa keriput, tanpa bengkak, dengan bawah kelopak mata yang juga belum punya garis hitam. Tidurmu mungkin masih teratur kala itu, makananmu masih belum dibatasi, dan bahagiamu masih begitu elementer untuk diharapkan dan diimpikan. Kamu laksana gadis kecil orangtua kita. Manis dengan cita-cita yang tak muluk-muluk, ingin hidup yang cukup.

Menit demi menit berlalu. Sembari aku melihat setiap foto itu, sembari bayang kenangan merapatiku. Merengkuh rinduku, menghapus air mata yang cukup deras, dan menenangkan sesakku. Aku ingat semua momen yang bersamamu aku bisa sedikit usil. Terutama tatkala lebaran dan berboncengan di motor menuju rumahmu. Kupelankan laju kendaraan, agar suaramu kudengar dengan jelas. Sayang kalau semua ceritamu dilewatkan dan ditelan angin yang berhembus kencang.

Dulu, ketika semua inci kehidupan belum menyerang bahagiamu yang meneduhkan, aku sering mampir ke rumahmu. Melihat dan mengenali budaya Jambe, sembari makan masakan beragammu. Aku selalu bersemangat untuk itu, meski proporsi mainnya lebih banyak berbincang di dalam rumah.

Dengan penyakit yang berat, yang setiap minggu kolang-kaling rumah sakit, aku membayangkan bahwa di sela-sela itu, kamu pun mengeluh. Mempertanyakan mengapa hidup rasanya begitu berat. Meragukan takdir, mengapa rasanya begitu tak adil. Kamu manusia biasa, ada kalanya merasakan itu. Dan kau tahu? Aku begitu salut karena kamu, di depan semua orang — tak pernah meluapkan amarah itu. Sebesar apa pun amarah yang mungkin sudah membara besasr dalam dirimu, kamu tak pernah memberontak untuk membuat semua orang di sekitar tak nyaman. Andai orang itu bukan kamu, kita semua, atau mungkin mereka — tak mungkin setabah itu.

Terima kasih karena sudah menjadi contoh tegarku. Izinkan aku memasukkanmu sebagai terkasih berdukaku, bersama ayah dan ibu. Meski ini kehilangan ke sekian kali, rasanya masih sesak. Tapi tenang saja, aku tidak akan mengeluh. Setidaknya sepertimu, tidak akan memberontak agar semua orang tahu.

Tenanglah, kakakku. Jika surga dan neraka ada, seharusnya Tuhan tahu — ganjaran seperti apa atas semua derita yang sudah kamu lewatkan dan rasakan. Kuharap, engkau mendapatkan surga itu.

— Suara Duka — Akhyatun Nisa


메타데이터
post_id
f6409ca51bf9
slug
selamat-jalan-kakakku-f6409ca51bf9
url
https://medium.com/suara-duka/selamat-jalan-kakakku-f6409ca51bf9
canonical_url
https://medium.com/suara-duka/selamat-jalan-kakakku-f6409ca51bf9
author_url
https://medium.com/@akhyatunnisa
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12