← Back to list

Kebijakan Ekonomi Boleh Carut Marut, Tapi Kita Tak Boleh Kalut

Belajar dari Para Filantropis; Aktivitas Ekonomi itu Bukan Sekadar ‘Konsumsi' dan ‘Produksi' tapi juga ‘Distribusi'

DyPa Dinara in Cerita Uang & Perekonomian · 2026-05-19 02:38 · 559 claps · 5.6 min read paywalled
#cuan #ekonomi #filantropi #raja-ampat #politics
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🏛️ · Politics

MENGGAGAS EKONOMI BERKEADILAN#2

Kebijakan Ekonomi Boleh Carut Marut, Tapi Kita Tak Boleh Kalut

Belajar dari Para Filantropis; Aktivitas Ekonomi itu Bukan Sekadar ‘Konsumsi' dan ‘Produksi' tapi juga ‘Distribusi'

Akses baca, melalui tautan teman klik di sini

Foto oleh Mitchell Luo di Unsplash

Foto oleh Mitchell Luo di Unsplash

“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” bersanding dengan “hemat pangkal kaya”, dan begitulah kita berubah menjadi orang yang sangat berhitung akan uang.

Kalau tidak salah, pepatah diatas banyak ditulis di dinding kelas waktu kita SD ya.. bersyukurnya saya termasuk seseorang yang pilah pilih dalam menginternalisasi pelajaran ketika SD.

Misal pelajaran IPS tentang KB, saya menerjemahkannya menjadi keluarga besar. Namun saya ingat satu poin, bahwa untuk mengurangi angka pengangguran dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Walhasil, cita-cita menjadi enterpreneur diam-diam sudah tertanam sejak kecil. Ya, walaupun berganti-ganti, pernah ingin jadi peragawati, lalu guru, dosen, dan wanita karir, toh sampai saat ini tetap sebagai enterpreneur.

Maka pepatah ‘hemat pangkal kaya’, termasuk hal yang tidak saya sepakati.

Karena yang tepat adalah ‘sedekah pangkal kaya’.

Tunjukan pada saya, pengusaha, atau orang kaya, yang berkata;

Saya bisa kaya karena rajin menabung”

Bahkan Warren Buffett sendiri, seorang investor berkepala dingin yang sangat hati-hati dalam menempatkan investasi, menjalankan aksi filantropi diluar nalar. Dia menyedekahkan hampir 90 persen hartanya, setara USD 62 milyar. Namun bukannya habis, hartanya malah berkembang lebih dari dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Tercatat pada 14 Agustus 2025, total kekayaan Warren Buffet mencapai USD 143,1 miliar. Coba kalikan dengan Rp 17.500, berapa rupiah kekayaan Warren Buffett? (hitung sendiri ya)

Warren Buffett seorang yang hidupnya sangat sederhana. Bukan karena ia pelit, tapi justru karena ia memprioritaskan filantropi. Ia membatasi konsumsi untuk diri sendiri, namun melebihkan distribusi melalui aksi filantropi.

Mengambil contoh Warren Buffett mungkin kurang pas ya? ia putra dari Howard Buffett, yang pernah menjadi anggota Kongres AS dari partai Republik. Karenanya Warren Buffett bisa memulai membeli saham pada usia 11 tahun, dan mulai membuat laporan pajak di usia 13 tahun. Usia dimana saya masih memanjat pohon sambil makan jambu biji dan berkejaran dengan ‘gibas' (salah satu jenis domba) yang kami ternakkan.

Tapi, kalau dipikir-pikir, di usia segitu saya juga sudah melakukan aktivitas ekonomi ‘produksi’, karena saya rajin memberi pakan untuk ternak ayam dan kambing kami. Bahkan di usia SMP, saya sering ikut para ibu untuk ‘tandur' istilah Jawa dari menanam padi. Kami tidak digaji hari itu, tapi menunggu panen tiba. Dan ‘gajian' saat panen sangat tergantung dari hasil panen, bila bagus kami dapat banyak. Bila rusak karena hama wereng, ya kami gigit jari.

Ok, kembali pada Warren Buffett,

Menjadi orang kaya sejak kecil, alias ‘balung gajah' mungkin itu yang menyebabkan Warren Buffett menjadi filantropi ya, dia sudah bosan dengan ‘sesuatu' berupa harta. Kebahagiaannya dia peroleh dari berbagi. Investasi yang hati-hati, dia gunakan untuk filantropi. Dia tidak mau rugi dalam hal investasi, tidak rakus, tidak gelap mata, dan tidak mau dibohongi. (Ingat Investasi berbeda dengan spekulasi, berbeda dengan menabung). Namun Warren Buffett memilih secara sadar mengeluarkan hartanya dalam jumlah yang sangat besar, salah satunya melalui Gates Foundation.

Sedangkan kita?

Tanpa sadar kita berubah menjadi homo economicus, yang selalu rasional dalam mengambil keputusan terkait uang, Apa-apa harus produktif, harus untung, diukur dari sisi kepentingan pribadi.

Padahal manusia mahluk sosial kan? sejak kapan kita menjadi egois ketika berhadapan dengan uang? Saya jadi teringat, nilai yang saya pegang sendiri, bahwa kedekatan dalam persahabatan bukan sekadar berapa banyak waktu yang kita habiskan bersama seorang sahabat, tapi juga seberapa jauh, seorang sahabat mengganggu dompet kita. Walau tentu saja hitungannya hutang ya.. (kadang berupa bantuan atau hadiah) Tapi ingat-ingat deh, kamu pasti punya satu-dua sahabat yang kamu benar-benar ‘ikhlas' berbagi dengannya.

Sebuah nilai yang membuat saya akhirnya tersadar bahwa saya sedang dimanfaatkan oleh tetangga. Dia yang selalu mengeluh soal kerjaan, soal sekolah anak, soal istrinya yg sakit. Dan saya yang ‘baik hati' meringankan bebannya dengan 100–200 ribu rupiah. Sampai suatu hari saya bilang;

“Saya juga nyekolahin anak, pakde! Coba deh merapat ke masjid, mereka punya grup WA untuk mengumpulkan donasi bila ada jamaah yang kesusahan.”

Beruntungnya pakde menuruti kata-kata saya, sehingga selama beberapa tahun terakhir di bulan puasa, pakde tidak perlu pusing urusan ‘buka puasa' karena masjid telah menyediakan, dan kami tinggal di Sidoarjo, dimana masjid berlomba-lomba memberikan takjil terbaik untuk siapa saja yang mau ke masjid.

Di tingkat inilah, saya melihat banyak aksi filantropi yang tidak terlalu kentara. Yang tidak diliput kamera, bahkan ada masjid yang tidak mengumumkan siapa donaturnya. Pokoknya, datang buka puasa ke masjid setiap hari, aman, porsi banyak tidak kekurangan.

Apa jadinya, jika aksi filantropi di bulan puasa itu berlanjut di bulan bulan berikutnya?

Berapa banyak orang seperti ‘pakde' yang terbantu kebutuhan nutrisinya? Untuk masjid ‘saya' diatas masih menyediakan makan besar gratis di kamis malam jumat dan jumat siang alias jumat berkah. Ada masjid lain yang mengadakan pengajian di hari minggu pagi lengkap dengan menu makan besar prasmanan. Berpindah pindah masjid bisa jadi solusi makan bernutrisi.

Aksi filantropi ditingkat bawah, mungkin tidak kita sadari telah menyumbang nilai yang sangat besar, untuk ketahanan ekomomi masyarakat. Bahkan dalam Islam pengaturan menjadi sangat teknis, dengan gerakan sedekah shubuh.

Mari kita buat hitungan sederhana (Ah, sebagai anak akuntansi, saya suka sekali berhitung dengan uang, bukan pelit lo, tapi bermain hitung-hitungan) Di Sidoarjo ada 560 ribu kepala keluarga, bila setiap keluarga aktif sedekah shubuh seribu rupiah sehari, dalam satu bulan sudah terkumpul dana Rp16,8 Milyar. Dalam setahun lebih dari Rp200 milyar. Ingat ini baru di Sidoarjo. Jika kita tarik pada skala nasional dimana tercatat 98 juta kepala keluarga. Maka sedekah shubuh seribu sehari, dalam setahun mencapai angka Rp 35,770 trilyun, setara satu persen nilai APBN Indonesia 2026. Itu baru seribu rupiah sehari looo

Mari bandingkan potensi tersebut, dengan kekayaan alam Indonesia, pemberian Sang Pencipta. Nilainya menjadi sangat kecil, karena anugerah Sang Pencipta pada bumi Indonesia memang luar biasa. Saya ambil satu wilayah khusus saja, yaitu kawasan Raja Ampat.

Hitung saja, potensi nikel di kawasan Raja Ampat mencapai 482 juta ton (kata Ferry Irwandy dalam kanal YouTubenya). Harga satu metrik ton nikel murni sekitar Rp 280 juta. Anggap saja satu ton nikel murni diperoleh dari 100 ton bijih nikel. Maka potensi nilai rupiah dengan eksploitasi tambang nikel di kawasan Raja Ampat setara dengan Rp 1.349 trilyun. Empat puluh kali lipat dari potensi sedekah subuh seribu sehari seluruh kepala keluarga di Indonesia.

Artinya, rakyat Indonesia bisa kok membeli tambang nikel di Raja Ampat, dengan sedikit pengorbanan. ‘Hanya' dalam empat tahun sedekah shubuh dengan angka sepuluh ribu rupiah per hari! mengusir mereka dan menjadikan kawasan tersebut murni taman nasional.

Mungkin satu kawasan bisa menjadi contoh, untuk menyelamatkan wilayah ‘tambang' yang lain, dari kerusakan alam karena kerakusan segelintir manusia.

Sayangnya kita selalu melihat potensi penduduk sebagai orang-orang tidak berdaya, kita selalu percaya bahwa kebanyakan kita miskin, bahwa cari uang susah, bahwa ekonomi dirancang dengan ‘zero sum game’.

Padahal kita tinggal di bumi kaya raya, tidak perlu mengeruk jauh ke dalam bumi, tidak perlu menjual pulau sampai ratusan tahun kepada kapitalis asing (atau Pribumi, entahlah). Potensi tiap kita yang mau mengolah alam di atas permukaan bumi saja, sudah sangat besar angkanya.

Sayangnya, kita membiarkan diri kita dihasut (oleh entah siapa) bahwa negara dikuasai oleh orang-orang yang tidak peduli kepentingan rakyat. Padahal semua ini sifatnya tarik ulur. Ayo, teriak lebih keras, supaya pengambil kebijakan mendengar suara kita.

Namun, bila memang kita, rakyat kebanyakan memiliki suara yang berbeda dengan pemerintah. Mungkin sudah saatnya, kita menyiapkan diri untuk memilih pemimpin yang dapat ‘lebih mendengar' dan ‘lebih berpihak'

Agak sedikit jauh, tulisan ini berbelok dari bahasan awal.

Mari kita kembali pada pola pikir ‘hemat pangkal kaya’ menjadi ‘sedekah pangkal kaya’

Dari karakter menahan dan pelit, menjadi karakter pemurah dan berkelimpahan.

Dari orang yang berpikir harus produktif dalam bekerja dan harus mengonsumsi lebih banyak agar terlihat kaya, menjadi orang yang lebih aktif dalam mendistribusikan kekayaan.

Saya tidak mengajak kita mengumpulkan uang untuk membeli Raja Ampat. Tanpa dibeli pun, bila pemerintah berpihak, tambang tersebut akan ditutup selamanya.

Saya juga tidak mengajak untuk sedekah gila-gilaan dengan harapan pengembalian masif yang jauh lebih besar.

Saya sedang mengajak setiap kita untuk lebih sadar diri bahwa potensi kita sangat besar. Berhenti mengeluh. Memang miskin, memang hidup susah, makanya sadar, jangan scroll HP terus.

Ayo dong mulai aktivitas ekonomi dengan kesadaran.

Bangun pagi, bukannya mengkonsumsi kopi panas, melainkan mendistribusikan harta dengan sedekah seribu ke masjid. Setelah itu, kita tahu seberapa konsumsi yang kita butuhkan untuk melakukan aktivitas produksi di hari itu.

Berbagi dulu, merasa berkelimpahan dulu sehingga muncul rasa bahagia dan lebih semangat dalam bekerja.

Sambil berpikir “Siapa pemimpin yang bakal tegas, dan berani berpihak pada rakyat banyak?”

Lihat berapa carut marutnya ekonomi kita; simak dalam tulisan Daeng Amril Taufik Gobel, berikut ini;

[embed]*Kapal Tanpa Kompas *Seruan Bulungan Mengurai Wajah Asli “Drifting Economy” Indonesia di Era Disrupsi Global medium.com


메타데이터
post_id
f693754adf2c
slug
kebijakan-ekonomi-boleh-carut-marut-tapi-kita-tak-boleh-kalut-f693754adf2c
url
https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/kebijakan-ekonomi-boleh-carut-marut-tapi-kita-tak-boleh-kalut-f693754adf2c
canonical_url
https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/kebijakan-ekonomi-boleh-carut-marut-tapi-kita-tak-boleh-kalut-f693754adf2c
author_url
https://medium.com/@dypa
status
ok
fetched_at
2026-08-18 12:52:22