Sebelum Malam Datang, Bertahanlah
Sore itu, setelah Sabito selesai merapikan tasnya, ia terduduk malas di kursinya sembari menatap matahari yang akan terbenam. Sinarnya…
Sebelum Malam Datang, Bertahanlah

Sore itu, setelah Sabito selesai merapikan tasnya, ia terduduk malas di kursinya sembari menatap matahari yang akan terbenam. Sinarnya menggapai ruang kelas yang sekarang sudah sepi. Anak-anak murid yang lain sudah keluar, bel pun sudah berbunyi sedari tadi. Namun, kenapa Sabito masih duduk disini dan enggan untuk pulang?
Ya, jawabannya karena ia malas bertemu dengan Giyuu.
Giyuu pasti pulang di jam-jam seperti sekarang ini. Osis. Pasti ada rapat, atau mungkin hal lainnya. Sabito tidak mau tau dan tidak peduli. Sang lelaki berambut merah muda itu hanya tidak ingin berurusan dengan mantan temannya yang sekarang menjalin hubungan dengan Giyuu.
Mantan teman?
Kalimat itu terasa lucu di kepala Sabito.
4 tahun bersama, seakan terbuang sia-sia. Sabito benci mengakui bahwa ia rindu hal-hal konyol yang sudah terjalin di masa lalu. Jujur saja, Obanai dan Sanemi merupakan setengah jiwa Sabito, jika Sabito berani mengakuinya.
Sabito pengecut. Namun, Sanemi lebih pengecut. Sabito benci pada fakta bahwa Sanemi menjalin hubungan dengan si culun berambut panjang itu. Giyuu lemah. Sanemi dulu menindasnya, sekarang malah menjalin hubungan dengannya. Bermuka dua. Tidak setia kawan. Lebih parah, ia lupa pada Sabito sendiri.
Sepertinya, Obanai pun juga terkena ancaman si lelaki pemarah itu. Bagaimana bisa Obanai dan Sanemi bisa bersekolah bersama di SMA ini, sementara Sabito sibuk untuk mencari informasi mereka berdua? Dimana mereka bersekolah, bagaimana keadaan mereka. Sialan.
Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, Sabito menghela napas pelan sebelum bangun dari kursinya. Ia memakai tasnya di satu bahu dengan tidak peduli dan akhirnya melangkahkan kaki keluar kelas.
Angin berembus hangat, menyapa Sabito yang sekarang sudah berjalan di tepi jalan yang sedikit lebih tinggi itu. Betul saja, Giyuu baru keluar tadi dari gerbang. Untungnya, Sabito sudah jalan lumayan jauh dari gerbang utama sekolah sebelum bisa berpapasan dengan si culun.
“Woi, anjing!” Suara sepeda motor kencang menggelegar. Tidak hanya satu, tetapi banyak. Sabito yang sedang berjalan dalam diam itu berhenti, membalikkan badan ke arah suara sang empu. Matanya menatap malas gerombolan anak SMA di hadapannya.
SMA Jujutsu.
Sialan, SMA lamanya.
“Tumben lu kaga bawa motor? Lagi dihukum papa, ya?” mereka semua tertawa mengejek. Sabito menatap malas. Matanya berubah dingin. “Kita nyari lu kemana-mana, anjrit. Ternyata pindah kesini, ya?”
“Maju aja satu-satu, jangan banyak ngomong.” Suara Sabito rendah. Dalam. Ia sudah terlalu malas berurusan dengan para anjing liar ini. Tidak menghasilkan apa-apa juga.
Salah satu dari mereka berdecih kesal. “Lu yang banyak ngomong, anjing!”
Cahaya matahari seakan menjadi saksi perkelahian mereka. Namun, sepertinya Sabito salah dugaan. Berkelahi melawan banyak orang seperti ini tanpa adanya Obanai dan Sanemi, sangat terasa hampa. Terasa tidak nyaman.
Terasa, lemah.
───
Tergeletak di tanah terasa dingin ternyata. Sendiri, tanpa siapapun.
Sabito menatap ke langit. Badannya terasa sakit dari atas kepala sampai ujung kaki. Hidungnya berdarah. Rambutnya sudah basah dengan keringat. Ia tidak ingat terakhir kali berkelahi tetapi kalah seperti ini. Energinya seakan terserap habis. Untuk menggerakkan jarinya saja sudah sangat berat.
Sialan.
Kepalanya berputar. Tatapannya mulai tidak bisa fokus.
Sabito tertawa kecil.
Pahit.
Ia merasa miris pada dirinya sendiri.
Ia lelah.
Sudahi saja hari ini.
Sabito tidak bisa melanjutkannya.
메타데이터
- post_id
- f6abb4f6ed60
- slug
- sebelum-malam-datang-bertahanlah-f6abb4f6ed60
- url
- https://medium.com/@suguruc/sebelum-malam-datang-bertahanlah-f6abb4f6ed60
- canonical_url
- https://medium.com/@suguruc/sebelum-malam-datang-bertahanlah-f6abb4f6ed60
- author_url
- https://medium.com/@suguruc
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01