Apakah Kita Sudah Benar-benar Beragama?
Apakah menjadi beragama cukup dengan konsisten menjalankan ibadah tepat waktu? Apakah bertuhan cukup dengan mencantumkan informasi di KTP…

Source : Pinterest
Apakah Kita Sudah Benar-benar Beragama?
Apakah menjadi beragama cukup dengan konsisten menjalankan ibadah tepat waktu? Apakah bertuhan cukup dengan mencantumkan informasi di KTP? Lalu bagaimana dengan pemuka agama jika ia melakukan dosa, atau orang-orang yang mencurangi sesamanya kemudian berlindung dibalik nama tuhan, apakah masih pantas disebut beragama?
Sudah hal yang umum diketahui rasanya, bahwa orang yang terlihat agamis, sering kali adalah yang paling egois. Orang dengan penampilan tertutup sopan, sering kali adalah yang paling mudah merendahkan. Orang dengan ritual agama paling rutin, sering kali adalah orang yang dalam hatinya tidak ada rasa prihatin. Banyak survei dan penelitian membuktikan. Namun tentu tidak semuanya begitu, Kawanku. Jadi jangan juga dipukul rata.
Agaknya kita tumbuh dalam kebiasaan yang menuntut hafalan teks-teks keagamaan namun tidak memahaminya dengan dalam dan benar. Kebiasaan yang dibangun agar kita tumbuh dengan rasa was-was, selalu takut dibalas neraka jika berbuat salah — bukan karena kesadaran bahwa kesalahan yang dilakukan bisa merugikan dan menyakiti orang lain. Kebiasaan untuk tunduk, patuh dan hormat buta, bukan kebiasaan untuk memahami bahwa semua manusia setara pada dasarnya.
Bukankan setiap agama memiliki nilai dasar yang serupa untuk saling mempermudah dan membahagiakan sesama? Bukankah setiap agama sepakat bahwa; saling menghargai, bertanggungjawab, jujur, tolong menolong, empati, toleransi, dan norma baik lainnya adalah amanah tuhan? Setiap pertanyaan ini bisa memiliki ragam jawaban, Kawanku. Maka sebelum kita bertanya pada lainnya, menyalahkan yang menurut kita berbeda, atau mengasingkan yang tidak sepakat dengan kita, mari duduk sejenak dan tanyakan pada diri sendiri, apakah eksistensi nilai-nilai kebaikan dalam diri sendiri — sebagai manusia yang beragama dan bertuhan, benar-benar ada?. Mari kita bercermin kembali, apakah kesadaran dan kepekaan kita sebagai manusia selama ini tetap tumbuh seiring rutinitas ritual ibadah dan perjalanan berpikir di ruang kelas atau meja kerja? Alih-alih menghakimi kedekatan orang lain dengan tuhannya, bukankah lebih elok jika kita tetap bersikap baik dengan empati dan pengertian kepada siapapun yang berbeda? Sebab terkadang, manusia yang sudah lahir beragama pun masih perlu menempuh jalan untuk menemukan dan mengenal tuhannya, serta instrospeksi panjang untuk benar-benar menjadi "manusia lahir dan batin". Maka jangan heran, Kawanku, jika kelak kau temukan orang-orang yang mengaku tidak bertuhan, namun bersih hatinya, bijak pemikirannya, baik perilakunya. Karena tuhan tidak hanya bisa dikenal lewat ritual dan teks keagamaan yang kau hafal, melainkan lebih dari itu. Tuhan bisa dikenal dan “ditemukan” pada hal-hal yang lebih luas.
Sebagai umat beragama, alih-alih menjadi sesuatu yang seram, mengancam, dan menakutkan, teks-teks keagamaan selayaknya dijadikan teman renungan.
Ada satu quote yang kalau aku tidak salah ingat, bunyinya begini, Kawanku:
Sometimes we do something good not because we are afraid of "what" or "who". Deep down, we do good things just because we totally realize that it is the right thing to do as a human.
~Diva A
메타데이터
- post_id
- f6d12e5fbba2
- slug
- apakah-kita-sudah-benar-benar-beragama-f6d12e5fbba2
- url
- https://medium.com/@adibahjh/apakah-kita-sudah-benar-benar-beragama-f6d12e5fbba2
- canonical_url
- https://medium.com/@adibahjh/apakah-kita-sudah-benar-benar-beragama-f6d12e5fbba2
- author_url
- https://medium.com/@adibahjh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 17:31:34