← Back to list

Overcome — Her Savior

Hanin dan Sarah sudah duduk di ruang pertemuan yang akan digunakan, dengan laptop dan dokumen tertata rapi di depan mereka. Mereka kini…

Sorta Outta · 2026-05-10 13:48 · 0 claps · 8.0 min read
#wlw #gxg #fiksi #bahasa-indonesia #alternate-universe
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

Overcome — Her Savior

Hanin dan Sarah sudah duduk di ruang pertemuan yang akan digunakan, dengan laptop dan dokumen tertata rapi di depan mereka. Mereka kini berada di ruang rapat lantai 19 Gedung Graha Energy Tower yang merupakan kantor pusat perusahaan JOB-Sinergi Nusantara.

Ruangan itu terasa megah dengan interior minimalis dan dikelilingi dinding kaca yang menghadap langsung ke arah gedung-gedung tinggi Jakarta.

Hanin menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa gugup. Sementara Sarah di sebelahnya terlihat lebih tenang, meskipun dari ekspresinya jelas tidak jauh berbeda.

Claudia Anastasia, orang yang selama ini hanya Hanin dan Sarah lihat dari balik layar kini berada di hadapan mereka. Kepala divisi yang sangat dihormati di perusahaan itu duduk di ujung meja sambil mempersiapkan catatan dan menunggu dengan sabar. Di sebelah Claudia, ada Jihan Adira, mentor yang selalu memberi arahan dan membantu mereka selama magang.

Selain Claudia dan Jihan, terdapat beberapa wajah familiar yang Hanin maupun Sarah kerap temui dalam rapat internal tim eksplorasi. Kehadiran mereka tentu membuat keduanya makin merasa dalam tekanan batin.

Hanin menarik napas panjang dan menatap layar presentasi mereka yang sudah siap. Sarah menekan tombol untuk memulai slide pertama yang menampilkan judul paparan.

Obrolan yang sebelumnya sayup terdengar di antara kerumunan anggota tim sekarang hilang bak ditelan bumi.

Semua mata seakan tertuju pada keduanya yang sudah berdiri di depan.

“Sarah dan Hanin,” Jihan tersenyum menenangkan. “Kalian sudah bekerja keras selama magang di sini. Sekarang kalian perlu memaparkan hasilnya, ya. Kami siap mendengar presentasi kalian, oke?”

Hanin menganggukkan kepala berusaha mengusir rasa gelisah yang mendera dada, akan tetapi ia bisa merasakan debaran jantungnya yang makin tidak beraturan. Selama berbulan-bulan mereka mengikuti magang, ada rasa takut bahwa hasil presentasi ini tidak hanya berdampak pada penilaian individu, melainkan juga membawa nama besar almamater universitas di mata perusahaan. Kecerobohan sedikit saja dapat merugikan semuanya.

Sarah memulai dengan menjelaskan presentasi mereka, di mana mereka merangkum hasil laporan terkait analisis risiko untuk memproyeksikan potensi cadangan minyak yang ada di wilayah Indonesia bagian Timur.

Presentasi mereka berjalan lancar—terstruktur dengan baik dan didukung data yang relevan. Hanin mengisi sebagian besar penjelasan dengan informasi teknis dan analisis yang lebih rinci.

“Untuk mendukung analisis, kami juga membandingkan data dengan blok sejenis di kawasan tersebut. Berdasarkan data yang kami kumpulkan, kami menemukan bahwa blok A memiliki struktur geologi yang mirip dengan hasil eksplorasi sebelumnya dan memiliki viskositas yang rendah.”

“Sehingga dari data yang ada juga, kami memperkirakan bahwa blok A memiliki potensi cadangan minyak yang cukup prospek setelah disimulasikan dengan dynamic model terhadap data DST aktual.”

Hanin menggeser slide ke grafik perbandingan antara blok A dengan blok-blok lain di kawasan timur. Dia memaparkan bagaimana kondisi reservoir dan kedalaman pengeboran dapat dioptimalkan untuk meningkatkan efisiensi produksi.

“Kami juga memperhitungkan tantangan operasional yang mungkin muncul.” Hanin lanjut memaparkan. “Seperti cuaca ekstrem di wilayah ini, yang dapat menghambat proses pengeboran. Namun, dengan teknologi pengeboran yang tepat, kami yakin potensi ini bisa dimaksimalkan.

Setelah Sarah dan Hanin menyelesaikan presentasi, Jihan membuka sesi tanya jawab. Beberapa anggota tim mengajukan pertanyaan teknis terkait dengan perhitungan mereka, sementara Claudia, yang dari tadi diam mengamati, akhirnya berkomentar.

“Paparan yang disampaikan cukup baik dan saya lihat kalian sudah berusaha untuk memberikan analisis yang menyeluruh.” ujar Claudia sambil membuka percakapan di antara mereka. “But there’s always room for improvement right? Ada beberapa aspek yang masih bisa diperdalam, terutama terkait strategi mitigasi risiko di blok A. Tadi kalian baru mengutip kemungkinan jika terjadi hambatan saat pengeboran ‘kan? Bagaimana casenya, kalo terjadi kegagalan dalam proses pengeboran?”

Hanin tertegun sejenak mendengar pertanyaan Claudia yang sangat spesifik, tapi dia berusaha menjawab dengan tenang. “Kami memang memperkirakan adanya risiko kegagalan pengeboran, terutama di tahap awal, Bu. Untuk itu, kami menyarankan agar perusahaan melakukan analisis geologi yang mendalam sebelum memulai pengeboran salah satu langkahnya dengan menerapkan permodelan tadi. Ini mencakup pengumpulan data yang akurat dan melakukan survei yang menyeluruh untuk memahami kondisi lapangan. Diharapkan dengan melakukan permodelan 3D terhadap data seismik lokasi, dapat menjadi langkah awal untuk menentukan representasi yang tepat pada kondisi flow liquiditas reservoir. Dengan informasi yang optimal kita dapat melakukan efisiensi dan mengurangi kemungkinan risk di lapangan.”

“Namun jika sudah terlanjur terjadi, kita perlu menerapkan rencana kontinjensi yang jelas ketika pengeboran terhenti, tim harus siap untuk melakukan evaluasi dan penyelidikan ulang dengan segera. Dan apabila ada biaya tambahan pun, proyek tetap dapat terselesaikan dalam tenggat waktu yang ditetapkan sehingga profit dari hasil pengeboran dapat dimaksimalkan.”

Claudia memberi isyarat setuju dengan anggukan kepala, tampak puas dengan jawaban yang Hanin berikan barusan. Setelah menjawab beberapa pertanyaan lain dari anggota tim eksplorasi, presentasi mereka pun berakhir pada pukul lima sore.

Jihan memberikan beberapa komentar positif, menekankan kerja keras yang dilakukan Hanin dan Sarah selama magang.

“Terima kasih, kalian berdua sudah bekerja keras sebagai bentuk kontribusi yang baik untuk perusahaan. Semoga kalian bisa bawa pengalaman ini ke jenjang berikutnya, ya.” tutup Jihan pada pertemuan hari itu dengan optimis diikuti dengan tepuk tangan seluruh audien.

Tidak berselang lama, ruang rapat pun mulai lengang ditinggalkan orang-orang dan Hanin hanya bisa mengembangkan senyum, merasa lega setelah melewati salah satu momen penting dalam hidupnya.

Ia melihat Sarah tengah diajak bicara oleh salah satu anggota tim eksplorasi dan dirinya memutuskan untuk merapikan beberapa dokumen ke dalam tas terlebih dahulu.

“Hanin…” panggil Jihan yang tiba-tiba saja sudah berada tepat di sampingnya. Ia menoleh kaget. Padahal seingatnya tadi, Jihan masih berbicara dengan Claudia di sudut ruangan, namun sekarang keberadaan kepala divisi itu juga sudah tidak ditemukan di sana.

“Bu Claudia mau bicara sama kamu sebentar di ruang sebelah.” ujarnya pelan, sambil memberi tatapan yang seolah mengatakan bahwa ini merupakan hal penting.

Hanin seketika merasa was-was.

“Sama Bu Claudia? Sekarang, Mba?” tanyanya sambil memastikan lagi.

“Iya, sekarang. Jangan khawatir gitu dong mukanya, Nin…” Jihan tertawa kecil begitu menyadari perubahan ekspresi Hanin. Ia kemudian menepuk bahunya dengan lembut. “Kamu gak akan dimarahin kok, ayo ikut aku.” Hanin mengangguk pelan dan segera mengikuti Jihan menuju ruangan yang dimaksud.

Saat Hanin sampai di depan pintu ruangan, ia mengetuk dengan ragu-ragu. Dan setelah mendapat izin, dirinya kemudian melangkah masuk dengan takut-takut.

“Silakan duduk.” kata Claudia sambil menunjuk kursi di depan mejanya, tangannya bergerak untuk menutup laptop yang sempat terbuka. Hanin menurut dan duduk dengan perasaan gusar. Claudia tidak kunjung berbicara dan itu membuatnya makin grogi.

Hanin kembali mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam sambil menunggu apa yang akan Claudia sampaikan kepadanya. Dalam hati ia mewanti-wanti, apa hal yang akan dibicarakan itu terkait pembahasan dosen pembimbing yang disampaikannya pada Jihan tempo hari?

Jihan memang belum mengabarinya lagi tentang hal itu, tapi Hanin juga tidak ambil pusing karena ia memang tidak berharap banyak. Lagipula sangat tidak mungkin seorang Claudia, kepala divisi eksplorasi perusahaan sektor minyak dan gas ternama — mau secara sukarela menjadi dosen pembimbingnya. Untuk membayangkannya saja Hanin merasa tidak pantas.

“Presentasimu tadi cukup baik, Hanin.” Claudia akhirnya memulai perbincangan. “Jauh melebihi ekspektasi saya.”

Hanin sedikit tersenyum, namun dalam hati ikut merasa luar biasa bangga karena mendapatkan apresiasi dari Claudia yang selama ini dikenal sangat kritis. “Terima kasih, Bu Claudia. Kami hanya berusaha memberikan yang terbaik.” jawab Hanin sambil menjaga nada bicaranya agar tetap sopan.

Claudia memberikan anggukan kecil, lalu ia memajukan tubuhnya sedikit ke depan, membuat percakapan mereka terasa lebih personal. “Saya sudah dengar kabar dari Jihan bahwa kamu belum memiliki pembimbing kedua untuk tugas akhir…” ucap Claudia, memastikan kembali informasi yang sudah ia terima. “Kamu rencana lulus tahun ini ‘kan?”

“Betul, Bu Claudia.” balas Hanin, suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya.

Claudia menatapnya lekat, seakan memberinya waktu untuk berbicara lebih lanjut dan Hanin pun berusaha memberikan kronologi singkat terkait kendala yang ia alami.

“Jadi sebenarnya di kampus saya pun tidak diwajibkan untuk memiliki pembimbing kedua, Bu. Namun karena dosen utama saya sulit dihubungi, saya jadi mengalami kesulitan dalam penyusunan tugas akhir belakangan ini.”

Hanin mengusap wajahnya, raut frustrasi terpatri jelas di sana. “Saya juga sudah mengajukan usul pergantian dosbing ke Kaprodi, namun tetap tidak bisa diganti, Bu. Entah untuk alasan apa juga saya bingung. Jadi Kaprodi mengusulkan untuk cari pembimbing kedua saja.”

Sekilas ia melirik Claudia yang masih menatapnya intens. Hanin memutuskan untuk merundukkan pandangan, terlampau takut bertatap muka langsung dengan atasannya tersebut.

“Dari situ pun… saya akhirnya mendiskusikan topik saya dengan beberapa dosen lain, hanya saja belum ada yang benar-benar setuju menjadi pembimbing kedua untuk tugas akhir saya, Bu.”

Claudia menyimak dalam diam, memahami keadaan yang Hanin hadapi.

“Saya paham. Begini saja… jika kamu berkenan,” Claudia berkata sambil melipat kedua lengannya di atas meja. “Saya bersedia menjadi pembimbing kedua bagi kamu.”

Hanin sontak mendongak. Ia tertegun, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Ini serius, Bu?” tanya Hanin hampir tidak bisa berkata-kata.

Claudia tersenyum simpul, sedikit melonggarkan ekspresi di wajahnya.

“Ya, saya serius. Saya ingin bantu kamu menyelesaikan tugas akhir dengan baik. Saya akan pastikan kamu dapat bimbingan yang kamu butuhkan.”

“Bu Claudia, saya…” Hanin terdiam, mencoba mencari kata-kata yang tepat.

“Saya sangat berterima kasih. Tapi, bukannya… B-bukannya nanti merepotkan Bu Claudia?” Hanin menggigit bibir bawahnya lagi—kebiasaan yang ia lakukan jika berada dalam situasi gugup. “M-maksud saya, Bu Claudia sudah sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Saya tidak ingin mengganggu waktu Bu Claudia lebih dari yang seharusnya.”

“Kamu tidak mengganggu kok.” Claudia menatap lamat-lamat mahasiswi di depannya itu tepat di mata, seperti menyadari sepenuhnya kebingungan yang dialami Hanin. “Saya hanya lihat potensi dalam diri kamu. Kamu punya banyak hal yang bisa dikembangkan, tapi ingat, ini perjalanan yang tidak mudah. Saya akan menuntut kerja keras dari kamu.”

Hanin termangu. Ia merasakan ketulusan dalam kata-kata Claudia, namun dirinya juga tahu jika dia tidak pantas mendapatkannya. Selama ini Hanin merasa ia belum cukup baik. Dia bahkan tidak lulus tepat waktu—yang mungkin bagi sebagian orang menunjukkan bahwa dirinya masih belum cukup kompeten. Bagaimana mungkin Claudia melihat potensi besar dalam dirinya, yang ia sendiri tidak bisa lihat?

“Kamu jangan khawatir. Saya tahu kamu sudah bekerja keras untuk mengejar pendidikanmu. Dan saya rasa kamu tidak memerlukan bantuan terlalu banyak karena saya yakin kamu bisa melakukannya dengan kemampuan yang kamu miliki.”

Seakan bisa membaca kegelisahan pikirannya, tatapan Claudia kali ini melembut. “Jadi kamu harus percaya pada dirimu sendiri, Hanin.”

Hanin mengangguk berulang kali, merasa sangat terhormat sekaligus terharu. “Saya sangat bersyukur, Bu Claudia. Terima kasih banyak atas kesediaannya. Ini benar-benar bantuan yang besar untuk saya.”

“Kamu tidak perlu berterima kasih sama saya. Saya hanya butuh ketelitian dan keseriusan dari kamu. Jadi kamu harus bisa menunjukkan kemampuan terbaikmu.”

Sudut bibir Hanin tersungging naik. “Saya siap bekerja keras, Bu Claudia. Saya akan memastikan penelitian saya sesuai standar yang Bu Claudia harapkan.”

“Itu hal yang mau saya dengar.” Claudia balas tersenyum simpul. “Nanti jika kamu sudah selesai mengurus administrasi kampus terkait kesediaan dosen pembimbing kedua, Jihan akan menginfokan kamu jadwal saya dan juga hal yang perlu kamu persiapkan untuk bimbingan.”

Setelah beberapa saat, Claudia berakhir berdiri seraya mengulurkan tangan tanda bahwa pembicaraan mereka telah usai dan mencapai kesepakatan. Hanin menerima uluran tangan Claudia dan mengangguk penuh. “Terima kasih sekali lagi, Bu Claudia.”

Begitu Hanin keluar dari ruangan Claudia, ia merasa perasaannya meluap-luap. Ia merasa bangga dan bersyukur mendapatkan pembimbing yang begitu hebat seperti Claudia. Tetapi Hanin juga merasa sedikit takut, mengingat betapa tingginya reputasi Claudia. Dalam benaknya, Hanin bertekad untuk memberikan yang terbaik dan tidak membuat Claudia kecewa.

Ketika Hanin kembali ke ruang rapat, di sana sudah ada Sarah yang masih membereskan tumpukan dokumen mereka. Ia langsung memanggil temannya sembari melangkah mendekat. “Sar, gue barusan dari ruangannya Bu Claudia…” ungkap Hanin perlahan.

Sarah menoleh dengan penasaran. “Loh? Ngapain lo ke sana? Ada apaan?”

“Sar…” Hanin baru bisa mengulas senyum lebar. Perasaan lega sekarang memenuhi dadanya. “Bu Claudia setuju jadi dosbing kedua gue…”

Sarah terbelalak, refleks melompat kegirangan. “What??? Serius lo?! Gila, keren banget, Hanin! Kesempatan besar buat lo dan lo udah kerja keras selama ini. Gue yakin lo bakal sukses!”

Selama ini Hanin memang sedikit lebih merasa tertinggal darinya dalam hal akademis—Sarah sudah lebih dulu mengerjakan draft proposal tugas akhir yang merupakan proyek dosen mereka. Sedangkan Hanin, masih merasa bingung dengan pilihan topik yang tepat, keberadaan dosen pembimbing utama yang sulit dihubungi serta ditambah proses administrasi kampus yang seringkali memusingkan — dan begitu mendengar kabar bahwa Claudia bersedia untuk membantu sahabatnya itu membuat Sarah bersukacita.

“YES!!! SELANGKAH LEBIH DEKAT DAPET GELAR SARJANA!!!”

Hanin hanya dapat mengiyakan, hatinya dipenuhi berbagai perasaan yang sulit dijelaskan. Namun, satu hal yang pasti—sekarang babak baru dalam perjalanan hidupnya sudah dimulai. Babak di mana Claudia Anastasia akan menjadi bagian penting dalam hidupnya.


메타데이터
post_id
f6d684d8b4e3
slug
overcome-her-savior-f6d684d8b4e3
url
https://medium.com/@sortaoutta/overcome-her-savior-f6d684d8b4e3
canonical_url
https://medium.com/@sortaoutta/overcome-her-savior-f6d684d8b4e3
author_url
https://medium.com/@sortaoutta
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56