Masa Depan Korea Selatan di Tangan Presiden Konservatif: Yoon Suk-yeol
Oleh: Muhammad Nailul Fathul Wafiq
Masa Depan Korea Selatan di Tangan Presiden Konservatif: Yoon Suk-yeol

Oleh: Muhammad Nailul Fathul Wafiq
Research And Analysis Staff
General Overview
Tepat pada tanggal 10 Maret 2022 lalu, Korea Selatan resmi mengumumkan pemenang dalam pemilu Korea Selatan tahun 2022, seorang mantan jaksa pemberantas korupsi yang terkenal tegas dan berani dalam mengatasi masalah korupsi, bernama Yoon Suk-yeol. Yoon merupakan seorang yang percaya akan konservatisme dan melihat budaya serta sejarah sebagai aset penting yang harus dijaga oleh masyarakat Korea Selatan.
Di lain sisi, Yoon melihat Korea Utara sebagai “hama yang mengganggu”, selain itu Yoon merupakan seorang yang anti terhadap pergerakan feminisme. Hal ini kemudian menjadi menarik untuk dibahas dan dikaji ketika melihat keadaan masyarakat Korea Selatan sekarang yang sudah kental akan paham Liberalisme dan isu kesetaraan dan kemanusiaan (HAM). Hal ini juga membuat kaum wanita muda dilanda kegelisahan dan kekhawatiran atas terpilihnya Yoon. Lantas, bagaimana kelanjutan negara yang terkenal akan K-Drama dan K-Pop ini ke depannya? Bagaimana arah politik Korea Selatan selanjutnya di masa kepemimpinan Yook Suk-yeol? Berikut pembahasan lengkapnya.
Profil Singkat Yoon Suk-yeol
Dilansir dari Xinhua kanal berita China, Yoon lahir pada 18 Desember 1960 di Seoul, kedua orang tuanya merupakan seorang tenaga pendidik di jenjang universitas. Yoon yang dibesarkan dengan pendidikan yang disiplin dari kedua orang tuanya, membuat Yoon kecil kritis dan peduli terhadap sekitarnya. Hingga pada akhirnya, di tahun 1979 Yoon menyelesaikan sekolah menengah di Chungnam Seoul, dan melanjutkan bangku kuliahnya di Seoul National University dengan jurusan hukum atas saran dari ayahnya. Di Tahun 1983, Yoon menyelesaikan jenjang sarjananya dan melanjutkan tingkat Master hingga tahun 1988. Setelah lulus, Yoon bergabung menjadi seorang pengacara di kejaksaan Korea Selatan.
Kontribusi Politik
Dalam karir politiknya, Yoon merupakan seorang anak baru dalam hal ini. Didasari atas Yoon yang baru bergabung menjadi bagian seorang politisi pada Partai Kekuatan Rakyat Korea di bulan Juni 2021, hanya berselang kurang dari 1 tahun, Yoon berhasil mendapatkan posisi sebagai orang nomor 1 Korea Selatan. Lantas apa sebenarnya alasan Yoon dapat memenangkan kursi Presiden tersebut?
Hal ini tidak terlepas dari karir cemerlang Yoon di kejaksaan, Yoon terkenal berani dan tegas dalam menindak suatu kasus yang terjadi tanpa pandang bulu dan rasa takut, salah satunya yaitu kasus yang menyeret mantan Presiden Park Geun Hye. Di kala Park masih menjadi Presiden Korea Selatan pada tahun 2017, Yoon tanpa ada rasa takut bergerak menyelidiki Presiden Park dan kolega-koleganya yang dicurigai melakukan tindakan pemerasan dan korupsi.
Kala itu, Yoon masih berposisi sebagai kepala tim Investigasi dari penasihat independen di Kejaksaan Tinggi Daegu dan Daejeon. Hasil penyelidikan yang dilakukan Yoon terbukti dan berhasil, mengakibatkan Presiden Park dimakzulkan secara tidak hormat atas kasus korupsi yang menyeretnya.
Sikap berani yang diperlihatkan Yoon membuat Presiden terpilih Korea Selatan 2017 Moon Jae In terpikat akan kelihaian Yoon. Akhirnya, Yoon diangkat menjadi kepala kejaksaan Seoul dan pada Juli 2019, Yoon diangkat menjadi Jaksa Agung Korea Selatan. Namun, tak berselang lama hubungan Moon Jae In dengan Yoon tidak berjalan begitu baik dikarenakan adanya ketidaksepahaman kedua belah pihak. Yoon akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari kursi jaksa agung tersebut.
Korea Selatan di Tangan Yoon Suk-yeol
Setelah Yoon Suk-yeol memundurkan diri dari kursi jaksa agung, Yoon memutuskan bergabung menjadi bagian seorang politisi dari partai Kekuatan Rakyat pada Juni 2021. Hal ini didasari atas keinginannya untuk menjadi menjadi seorang Presiden. Pilihannya itu kemudian membuahkan hasil bagi Yoon.
Yoon yang pada awalnya bukan aktor populer dalam ranah perpolitikan melesat menjadi pemenang dari pemilu kali ini. Melalui janji-janji di kampanye seperti memberantas tindakan korupsi, memberikan keadilan secara merata, mengembalikan perekonomian, menurunkan harga properti, dan pembersihan rumah pada pemerintah Moon yang dirasa banyak kecurangan dan ketidakadilan bagi rakyat Korea Selatan.
Selain itu, Yoon juga berjanji akan bertindak keras pada tetangganya yaitu Korea Utara dan China. Yoon beranggapan bahwa kedua negara itu mengancam kedaulatan dan keamanan negaranya dan lebih mendekatkan diri pada sekutunya Amerika Serikat. Selain itu, hal lain yang menjadi perhatian publik adalah janji Yoon untuk menghapuskan Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga. Yoon beranggapan paham feminisme membuat tingkat kelahiran di Korea Selatan menjadi rendah dan melihat kementrian tersebutlah yang bertanggung jawab atas pecahnya isu-isu kesetaraan gender di Korea Selatan. Hal ini tentu membuat kemarahan para pegiat feminisme Korea Selatan yang menganggap bahwa Yoon anti terhadap Feminisme.
Tetapi hal itu bukan menjadi masalah bagi Yoon, sebab melalui janji pengembalian ekonomi serta harga properti murah, membuat halangan dan rintangan dapat diatasi Yoon. Yoon mengguli raihan persaingan yaitu Lee Jae Myung dari partai Liberal sebesar 0.73% dan memenangkan kursi Presiden lewat suara yang didominasi kaum laki-laki dengan torehan 59% laki-laki berusia dua puluhan dan 53% laki-laki berusia tiga puluhan.
Kritik dan Harapan
Menurut opini pribadi penulis, pergerakan yang dilakukan Yoon dirasa tepat dan pintar. Yoon berhasil melihat celah kemenangan dengan menggaet suara dari kaum milenial laki-laki dengan melihat harga properti yang mahal yang mana membuat kaum milenial kesulitan untuk memiliki hunian. Yoon yang melihat celah tersebut berhasil memanfaatkannya dan menjadikanya kunci kemenangan bagi dirinya. Hal ini terbukti dari kaum laki-laki yang mendominasi suara kemenangan Yoon pada pemilu ini.
Selain itu, ekonomi yang merosot di era kepemimpinan Moon menimbulkan kekecewaan masyarakat Korea Selatan. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari sikap Moon yang kurang tegas dan banyaknya kecurangan pada pemerintahan Moon. Sikap liberal yang dibawa Moon dirasa gagal dalam mengembangkan Korea Selatan
Semenatara itu, isu kesetaraan semakin kental dan meningkat pada era Moon. Hal ini membuat masyarakat Korea Selatan jenuh dan bosan akan kinerja para politisi serta membutuhkan pemimpin baru yang lebih tegas serta inovatif. Kemudian, pada akhirnya Yoon sebagai seorang yang konservatif berhasil memikat hati masyarakat Korea Selatan melalui ketegasan dalam kepemimpinannya.
Namun, Yoon yang penuh akan kontroversi menimbulkan stigma buruk pada masyarakat internasional maupun rakyat Korea selatan itu sendiri, terlebih bagi kaum wanita. Janji penghapusan Kementerian Kesetaraan Gender membuat rasa takut serta khawatir muncul dari kaum wanita Korea Selatan. Banyak wanita menganggap Yoon seorang yang kolot dan patriarki dengan pandangannya terhadap isu HAM serta feminisme sebagai suatu hal yang buruk.
Akan tetapi, stigma buruk ini dibantah oleh kaum laki-laki yang melihat Kementerian itu tidak berguna sama sekali. Maka, penulis memprediksi alur konflik kesetaraan Korea Selatan di era Yoon akan meningkat atau lebih parah dibandingkan era Moon, apabila melihat dari janji serta sikap Yoon dalam pemilu ini. Selain itu, wacana Yoon yang akan bertindak tegas pada Korea Utara dan China dirasa terlalu agresif untuk seorang Presiden dengan negara yang memiliki etnis dan budaya yang hampir sama. Hubungan diplomasi perdamaian yang telah dibangun di era Moon akan dirusak oleh Yoon yang penuh akan kontroversi, membuat perpolitikan menjadi tegang kembali.
Penulis berharap perdamaian yang dicanangkan Moon seharusnya dijaga oleh Presiden Korea Selatan selanjutnya. Hubungan yang berangsur-angsur membaik seharusnya dipertahankan dan diteruskan, terlebih karena Korea Utara dan Korea Selatan merupakan negara dengan budaya dan etnis yang hampir sama. Bila mana terjadi konflik , maka masyarakat lah yang menanggung penderitaan. Selanjutnya, walau nantinya wacana penghapusan Kementrian kesetaraan akan benar-benar dihapuskan, pemerintahan Yoon harus melakukan tindakan nyata yang mengurangi gap gender tersebut.
Referensi
Jurnal
Kartini, Indriana. 2018. Deklarasi Panmunjom dan Prospek Perdamaian Korea di Era Moon Jae-In dan Kim Jong-Un. Jurnal : Penelitian Politik LIPI, Penerbit : LIPI. Jakarta Selatan.
Sulistia, Adinda. 2018. Pemakzulan Park Geun Hye sebagai Presiden Korea Selatan. Jurnal : Paradigma Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Yogyakarta.
Surbakti, Anggi. 2020. Upaya Reunifikasi Korea massa Moon Jae In (2017–2019) Harapan dan Tantangan. Universitas Sumatera Utara.
Artikel Online
Agatha, Diviya. 15 Maret 2022. Korea Selatan Akan Dipimpin Presiden Baru Yook Suk-yeol, Sosok yang Terkenal Anti Feminisme. Liputan6.con. Diakses : 18 Maret 2020 17.00 WIB. Link :
Hun, Choe Sang. 9 Maret 2020. Yoon Suk-yeol, South Korean Conservative Leader, Wins Presidency. NyTimes. Com. Diakses 18 Maret 2022 17.00 WIB. Link :
https://www.nytimes.com/2022/03/09/world/asia/south-korea-election-yoon-suk-yeol.html
Patrio, Zidan. 10 Maret 2022. Profil Yoon Suk-yeol, Presiden Korea Selatan yang Mantan Jaksa. IDNtimes.com : Diakses 18 Maret 17.00 WIB. Link :
메타데이터
- post_id
- f70bd300910f
- slug
- masa-depan-korea-selatan-di-tangan-presiden-konservatif-yoon-suk-yeol-f70bd300910f
- url
- https://medium.com/@fpciuii/masa-depan-korea-selatan-di-tangan-presiden-konservatif-yoon-suk-yeol-f70bd300910f
- canonical_url
- https://medium.com/@fpciuii/masa-depan-korea-selatan-di-tangan-presiden-konservatif-yoon-suk-yeol-f70bd300910f
- author_url
- https://medium.com/@fpciuii
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-09 23:44:43