Intro, 1.
Halo,
Intro, 1.
Halo,
Tujuan pembuatan akun ini untuk menuliskan apa yang dipikirkan, agar tidak tertumpuk dan terpendam saja. Dikarenakan belum mendapatkan teman untuk mengobrol tentang semua hal. Isinya akan memuat banyak hal apa saja yang terpikir. Semoga si orang ini, konsisten untuk menuangkannya di sini.
Aku menangis, tersedu lagi, rasanya ingin sekali ditemani jika sendiri. Rasanya ingin berbagi banyak hal tentang kegiatan yang dijalani setiap harinya. Aku mau bercerita, didengarkan, dan mendengarkan. Banyak orang sebenarnya di sekitar, hanya saja banyak hal juga yang ranah ceritanya bukan untuk dibagi ke sembarang orang. Tentang sensitivitas, kesedihan, pengakuan, dan kegagalan. Mungkin karena sedang di tahap quarter-life crisis, semua hal dipikirkan, karena ya saat ini hidup sedang harus seberjuang itu.
Kerinduan akan satu orang yang sebelumnya selalu menemani memenuhi lagi. Dulu, rasanya kapan saja dan apa saja keadaannya, aku bisa pulang dan bercerita. Didengarkan dengan sabarnya, berdiskusi dengan panjangnya, dan berakhir dengan merasa nyaman karena sudah meluapkannya. Andai, aku bisa lebih sabar dan tahan sedikit saja dan tidak memaksakan banyak hal saat itu, mungkin saat ini aku masih bisa mengobrol panjang lebar dan merayakan banyak hal yang berhasil bersama. Andai aku menaruh banyak percaya daripada berkata ‘ah yaudah lah…’ mungkin sekarang masih bersama.
Bagaimana caranya mengatakan aku sangat rindu sampai kata-kata itu sangat bergema hingga kau kembali? Bagaimana menjelaskannya jika aku sememohon itu? Bagaimana caranya agar kau yakin bahwa aku sungguh meminta maaf atas hal yang sudah sangat mengecewakanmu? Bagaimana caranya meyakinkanmu untuk memulai kembali hal yang sebelumnya gagal diwujudkan? Jawaban yang mungkin dikeluarkan olehmu adalah, “Tidak ada cara lagi, kita sudah berakhir dan tidak ada titik untuk kembali.”
Maaf ya atas banyak hal yang buatmu kecewa. I’ll always be here.
…
Kalau bisa, rasanya aku ingin memonetisasi kesedihan ini, karena dunia makin hari semakin gila, gaya hidup konsumtif dan mewah bertebaran di media sosial, taraf hidup sejahtera saja tak tercukupi di masyarakat. Tidak munafik, semua orang membutuhkan uang untuk hidup. Sial.
메타데이터
- post_id
- f70eb6e2468e
- slug
- intro-1-f70eb6e2468e
- url
- https://medium.com/@hani123/intro-1-f70eb6e2468e
- canonical_url
- https://medium.com/@hani123/intro-1-f70eb6e2468e
- author_url
- https://medium.com/@hani123
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 23:56:40