← Back to list

Lemonade Malam

Aku kembali menyeruput lemonade. Setiap seruputan mengajak pikiranku yang berkeliaran untuk kembali menjejak.

Dys · 2026-01-25 01:16 · 0 claps · 1.8 min read
#lemonade #commuter #mrt #cerebral-palsy #refleksi
Open on Medium ↗

Lemonade Malam

Ilustrasi Lemonade (AI)

Ilustrasi Lemonade (AI)

Malam itu, kami baru saja pulang dari kegiatan rutin di akhir pekan. Aku bersama tiga kawan lainnya dan saat tiba di salah satu stasiun MRT, kami berpisah arah. Aku bersama satu kawanku ke arah A, dan dua kawan lainnya ke arah B.

Aku beberapa kali mendengar temanku menanyakan ada rencana makan apa malam ini. Namun, belum sempat terjawab, ada pengumuman bahwa kereta kami segera tiba. Aku mengajaknya bergegas masuk ke kereta.

Di gerbong MRT, temanku berulang kali bertanya, “Mba, ga laper?”

“Engga, udah makan gemblong tadi,” jawabku meyakinkan.

“Kok bisa makan gemblong doang tapi ga laper? Abis muter-muter kan.”

Belakangan aku paham, beliau sedang lapar dan sudah bertekad menggunakan voucher promo “Beli 2 roti, gratis 2”, dan ingin berbagi sebagiannya denganku.

Sesampainya di stasiun transit, kami mampir ke toko roti itu untuk menukarkan voucher promo dengan roti.

Saat transaksi, beliau bertanya lagi. “Mba mau lemonade ga?”

“Engga,” jawabku. Raut wajahnya agak sedih. Aku membatin, kenapa dia?

Semenit kemudian aku paham, salah satu item gratisnya adalah lemonade dingin. Beliau lalu sampaikan bahwa beliau tidak bisa minum air dingin. Saat otakku sedang menimbang antara mubazir dan apakah lambungku aman untuk minum lemonade, mulutku bereaksi lebih cepat, “Oke aku mau.”

Beliau langsung girang dan memberikan satu roti hangat serta lemonade dingin. Kami melanjutkan perjalanan ke stasiun berikutnya. Sambil menaiki eskalator, beliau cerita tentang penyakitnya. Kondisinya sempat serius, namun kini alhamdulillah sedang pasif. Jika minum air dingin, bisa kalang kabut dibuatnya.

Perbincangan kami mengalir, diselingi sesi gigitan roti dan seruputan lemmonade.

Entah bagaimana, obrolan itu sampai pada pasien-pasien anak pengidap palsi serebral. Mungkin karena ada benang merah yang sama terkait penyebab penyakit temanku dan pasien CP yang aku tahu.

“Kamu tahu kebutuhan anak CP? Itu besar banget. Sebulan bisa 5–10 juta hanya untuk susu tinggi nutrisi dan popok sekali pakai. Sementara itu, orang tua berpenghasilan 2–4 juta untuk lima anggota keluarga.”

Aku menyeruput lemonade, kecutnya meresap ke lidah, mengalir ke kerongkongan, menyapa lambung.

“Susu dan pampers ga dicover BPJS ya, Mba?” Beliau menggigit lagi rotinya.Kali ini cukup besar gigitannya.

“Engga. Belum lagi kalau bolak-balik RS itu perlu kendaraan yang layak juga. Bayangin perjuangan ibunya…”

Kereta kami tiba, sesi makan berhenti. Obrolan berlanjut di kereta sampai kami berpisah.

Di perjalanan dari stasiun akhir menuju rumah, otakku memikirkan banyak hal. Kesehatan, kuatnya perjuangan orang tua pasien, sabarnya pasien, harapan, doa-doa mereka.

Aku kembali menyeruput lemonade. Setiap seruputan mengajak pikiranku yang berkeliaran untuk kembali menjejak.

“Aarhh…” kecutnya membuyarkan lamunanku.

I love my job.” Semoga hati ini selalu Allah jaga.


메타데이터
post_id
f70f06eb33ef
slug
lemonade-malam-f70f06eb33ef
url
https://medium.com/@dysstories/lemonade-malam-f70f06eb33ef
canonical_url
https://medium.com/@dysstories/lemonade-malam-f70f06eb33ef
author_url
https://medium.com/@dysstories
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56