PROBLEMATIK — BAB IV (12) : Hari Aksi
Langit Jakarta pagi itu menggantung kelabu. Awan tampak berat menahan hujan, seolah langit pun tahu ada sesuatu yang akan terjadi hari ini…
PROBLEMATIK — BAB IV (12) : Hari Aksi
Langit Jakarta pagi itu menggantung kelabu. Awan tampak berat menahan hujan, seolah langit pun tahu ada sesuatu yang akan terjadi hari ini. Di halaman utama kampus, massa mulai membentuk barisan. Bendera-bendera ormawa dan aliansi berkibar rendah, setengah malas tertiup angin yang hanya lewat sesekali.
Aku menyalakan HT, menerima laporan dari titik barisan belakang.
“Barisan Fakultas Teknik sudah siap.” lapor Fred dari arah kiri.
“Copy. Yang belom absen diingetin buat absen ya nama-namanya,” sahutku.
Aku sempat memindai kerumunan. Sekilas, aku menangkap sosok Andien... yang bergabung di massa FBS dengan slayer kuning dan almet yang tampaknya enggan dipakai tapi mau tidak mau harus ia pakai. Dia tampak senyam-senyum kayak lagi having the time of her life.
“Pres…pres… oy malah bengong, jangan ngeliatin ceweknya aja wei” suara Fred di HT menyadarkanku.
“Apasih elah, udah ready kah semuanya?”
“Udah udah, langsung masuk bis aja kali yak semuanya”
”Gas”
”Okelah langsung aja yak, lu nanti masuk di barisan FBS aja yak”
”Harus banget nih spesifik?”
”Ya biar ga keciri, kok lu sensitif gitu dah ama FBS, ada si ini yaaa” ujar Fred usil.
”Dah dah, atur aja deh mereka-mereka ini. Kasih ke Dafa aja. Lu temenin gue”
”AYO KAWAN-KAWAN KITA LANGSUNG MASUK KE BUS YAK, PRES GUEH DIATAS YAH” Dafa berteriak dengan Toa yang dia pegang sedari tadi.
”BEBAS” jawabku setengah berteriak yang hanya dibalas jempol saja.
Aku segera bergabung dengan barisan FBS dengan Almamater yang sama dengan lainnya, tanpa PDH BEM ataupun pin penanda untuk menyamarkan posisiku. Ya karena aku malas terlihat mencolok juga sih, biar Dafa aja deh yang bawa-bawa Toa selama perjalanan ini.
— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —
Tubuhnya masih tegap bahkan saat bersandar di pintu Kopaja sambil sesekali bergelantungan layaknya kondektur yang mencari penumpang, rambut yang biasanya rapih menjadi sedikit acak-acakan. Almetnya digulung setengah, sebenarnya hal itu cukup menarik perhatianku karena menunjukkan otot tangannya yang terbentuk dan terlihat kuat, tubuhnya seperti pahatan patung Yunani yang dihidupkan, dia tampak asik sendiri memainkan HT nya yang sedari tadi ada di tangannya.
“Demo bawa HT udah kayak intel aja” aku iseng menyentil dirinya yang asik sendiri.
“Kalo bawa HP rawan abis baterainya, mendingan bawa HT” sahutnya sambil tersenyum tipis, matanya tampak enggan menatapku.
“Iya juga sih” jawaban terakhir yang akhirnya menjadi percakapan terakhir selama di perjalanan menuju DPR
Hanya ada suara berisik orang mengobrol, nyanyian lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan mereka diatas kopaja, klakson, dan sesekali ada yang bertanya padaku, sedangkan ia tampak memilih untuk diam saja di perjalanan, entah enggan berbicara atau sedang banyak pikiran, aku tidak tahu bagaimana isi kepalanya berteriak.
Udara panas mulai terasa menyengat dari dalam kopaja, sepertinya tuhan memberkati kami yang ingin berangkat aksi. Sebab mentari mulai bersinar terik.
— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —
Ribuan mahasiswa memadati depan TVRI. Barisan depan diisi orang-orang yang memegang bendera organisasi-organisasi ekstra dan BEM berbagai universitas, spanduk dibentangkan didepan mobil komando yang dipegang beberapa orang. Teriakan korlap mulai terdengar ketika semuanya sudah merapat menyatu dengan suara klakson yang bersahut-sahutan yang seakan menyambut kami yang akan melakukan longmarch ke DPR.
“Kita bukan anak kecil yang bisa ditakut-takuti! Kita mahasiswa, dan kami datang menagih janji!” suara Lahda, Menteri Sospol BEM Universitas Ekasakti terdengar lantang saat mengawali long march menuju DPR RI
Aku memutuskan untuk berada di atas mobil komando, sembari memperhatikan bagaimana laju jalan massa aksi sambil sesekali turun untuk ikut mengatur jalanan lalu naik lagi.
Dari sekian banyak kepala, aku masih bisa mengenali satu kepala yang tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Andien dengan syal Kuningnya yang selalu stand by setiap aksi ataupun sehari-hari.
Kami bertemu pandang, beberapa detik yang ada untuk sekedar menyapa lalu pandangannya teralihkan.
Mobil komando berjalan pelan sembari Lahda terus berorasi dan aku yang masih mengawasi barisan dan berkali-kali pandanganku terpaku pada Andien seorang.
”Bang boleh naek juga ga si?” tanya mahasiswa dengan almet abu-abu khas Moestopo dan lanyard Pers Mahasiswa menyadarkan dari lamunan tengah hari bolong.
”Boleh boleh” ucapku sambil membantunya naik sambil membawa kameranya.
Hingga akhirnya tiba di depan DPR RI, Massa mulai memenuhi jalanan, membuat polisi kewalahan sehingga harus menutup seluruh badan jalan yang tadinya hanya ditutup setengah.
Para orator mulai naik bergantian, dan aku hanya bertugas untuk memperhatikan massa, membakar semangat dengan orasi-orasi sambil sesekali turun untuk mengecek keadaan.
Ternyata di depan DPR sudah banyak massa umum yang memadati. Aku melihat Ibu menyampaikan orasinya diatas mokom milik buruh dan dibawah sudah dijaga intel-intel kiriman ayah. Aku hanya tersenyum dari jauh dan ibu tampaknya memahami Bahasa kode itu untuk pura-pura tidak mengenal dulu sekarang.
Setelah ibu berorasi, ia langsung turun dan langsung dikerubuti orang-orang termasuk mahasiswa-mahasiswa yang berlomba ingin berfoto dengannya. Sungguh aku bangga memiliki ibu yang hebat dan bapak yang suportif. Tampaknya ibu tidak lama di aksi kali ini. Setelah diwawancarai stasiun televisi, ibu langsung pergi menjauh dari kerumunan massa aksi perlahan sambil dijaga intel-intel bapak yang berpakaian seperti mahasiswa biasa, lengkap dengan setelan Skena dan kaos yang lebih kiri daripada mahasiswa kiri sekalipun yang membuatku tersenyum geli.
Massa berjalan tertib, yang direncanakan untuk mengibarkan kain merah di depan DPR, performance, bakar-bakar ban, hingga akhirnya di titik batas waktu aksi damai. Aku melihat Polisi mulai siaga menyiapkan barisan di sisi kanan DPR, aku turun dari mokom, kini berdiri di baris koordinasi depan. HT di tangan, megafon di pinggang, mata tak lepas dari garis depan lalu mundur kembali untuk berkoordinasi dengan Fadlan selaku Korlap dan tanpa perlu diumumkan para Dinlap masing-masing kampus sudah berkumpul untuk memastikan apa yang harus dilakukan.
“Kita sebaiknya mundur deh” ucap Lahda dengan wajah seriusnya.
“Tapi sebelum mundur, baiknya kain yang kita bentangkan ini kita bakar dulu, gimana? Setidaknya ini agar menarik perhatian media dan juga sedikit merepotkan polisi agar Water cannon yang disiapkan tidak menembak ke massa aksi dulu, tapi ke kain ini” ujar perempuan yang memakai slyer hitam di lehernya dan almet Universitas Indraprahasta.
“Ide bagus, sambil kita coba mundur perlahan agar memastikan semuanya aman. Kawan-kawan tolong lindungi yang perempuannya ya” ujar Lahda lagi memberi intruksi.
Mokom mulai mundur perlahan, polisi sudah berjejer siap memukul mundur massa yang keras kepala.
Aku mencari satu sosok yang harus kujaga sedari tadi, Andien. Dimana dia?
Andien berdiri persis hampir dekat dengan formasi tameng, setelahnya sudah berubah, slayernya sudah menutupi sebagian wajahnya, ia memakai sarung tangan seakan siap untuk merusuh di aksi kali ini.
Satu lemparan batu dari arah belakang memecah segalanya.
DUK! PRANG!
Suara kaca pecah. Kemudian terlihat derap langkah yang semakin mendekat di formasi tameng-tameng besi yang dibawa barisan depan.
Seperti isyarat kiamat kecil, ketika akhirnya Maghrib tiba, senja yang mulai tampak, tampak pula kebringasan aparat yang sepertinya sudah tertahan dari siang.
Semuanya berjalan kebelakang sambil posisi kawan yang paling belakang dari barisan yang berarti adalah barisan terdepan menghadapi aparat membentuk bordir sambil berjalan mundur perlahan. Aku melihat Andien yang hendak menjadi border kebelakang yang tanpa ba bi bu langsung ku tarik ke belakang.
“Jangan Ndien, ikut mundur aja di dalam border” ujarku yang hanya dibalas tatapan heran tapi dia menurut.
Polisi mulai maju perlahan, barisan Kolektif Lahan Rindang dibawah komando Ariel dengan baju hitam-hitamnya dan buff merah mulai melemparkan beberapa molotov dan petasan kembang api untuk menjaga jarak peserta aksi dengan barisan polisi sementara dan kuyakin juga untuk seru-seruan.
“Fan Mundur Fan” Aku mendengar suara Fred di HT memberitahukan untuk segera mundur
Aku segera mundur setengah berlari untuk menghampiri kumpulan bendera KBM UNARJA yang berkibar diantara massa yang berkumpul untuk mundur perlahan.
“ALERTA ALERTA” terdengar suara Daffa yang masih saja meneriakkan yel-yel untuk menambah semangat sekaligus mendistrak massa agar tidak panik
“ANTI FASCISTA!” ramai-ramai suara massa menyahut teriakan itu.
Seruan itu berkali-kali terdengar, kadang Hidup Mahasiswa, kadang Hidup Rakyat, Hidup Buruh, sampai Hidup perempuan yang melawan hingga seruan Revolusi lantang terdengar berulang-ulang. Polisi dari sisi kiri jalan keluar Tol, beruntung massa sudah ditarik mundur hingga tidak jadi terbentuknya Cettle Formation untuk menjebak massa aksi yang berjumlah ratusan, mungkin ribuan itu.
Aku melihat Andien tampak berjalan sendirian saja di pinggir sambil turut menyahut seruan-seruan tanpa menyadari ada sesosok pria yang tampak mengikutinya yang sontak membuatku langsung berlari mengejarnya menabrak kerumunan tanpa peduli seberapa penuhnya massa yang berkumpul.
“ANDIEN!” Aku berusaha memanggilnya agar ia sadar dengan sikon di sekitarnya tepat pria yang sudah kucurigai membekap mulut Andien.
Syukur sekali saat Andien hampir dibawa mundur keluar dari barisan akku sudah sampai di tempat yang langsung refleks memisahkan pria mencurigakan itu dari andien.
“INTEL NIH INTEL!” teriakku memancing massa agar bisa memisahkan Andien darinya.
Sontak massa yang semangatnya masih membara langsung berkerumun menarik pria itu dan aku membawa Andien dari lokasi yang tampak goyah.
“Aduh pusing” keluh Andien dengan langkah yang semakin goyah.
Refleks aku langsung menggendongnya dari belakang dan berlari sambil berteriak “MEDIS! MEDIS!”
JEDAR
Terdengar suara tembakan gas air mata dari kejauhan yang membuat massa yang tadinya berjalan tenang menjadi panik bersamaan dengan teriakanku mencari medis
Beruntung teriakanku langsung ditanggapi kawan-kawan Paramedis Jalanan yang langsung mengarahkan sedikit ke pinggir ke ambulans yang masih terparkir ditengah kerumunan mahasiswa yang mulai berlari. Pas-pasan ternyata Hera juga ada disitu.
“Cok kemana aja luh anjir, gue nyariin”
“Andien hampir diculik dan ini dia setengah sadar, Her tolong temenin dia di ambulans ya, arahan semuanya ke Moestopo” ujarku dengan cepat.
“Siap, lu arahin semuanya ke Moestopo ya, kayaknya buat kita balik ke kampus masih belom bisa deh, Polisi udah jaga di kampus soalnya” ujar Hera memberitahu sebelum pintu ambulans ditutup.
Aku melepas kepergian Ambulans dengan hati berat namun aku harus kembali ke barisan kawan-kawan yang sedang menyiapkan kembang api untuk memperlambat laju aparat yang berlari ke arah mahasiswa.
“Pres lari pres, biar kita yang nahan” Ariel dalam buff merah nya memberitahuku sambil menyalakan Bom Molotov dan melemparkannya ke arah formasi aparat yang sukses membuat mereka sedikit melambat.
“MUNDUR! PATRIA O MURTE” Teriak Ariel yang sepertinya langsung dipahami anak-anak yang tergabung dengannya yang langsung mundur dan beberapa ada yang menyalakan kembang api dan mengarahkan ke barisan aparat.
Aku pertama kali melihat formasi langsung Kolektif Lahan Rindang yang rapih seperti ini, tidak hanya di cerita ibuku saja. mereka ternyata memang se rapih itu. Rapihnya Kolektif mengalahkan organisasi resmi dan menyamai brigade-brigade Aparat.
Aku menyalakan HT yang aku yakin kawan-kawan UNARJA cukup tersebar untuk mengarahkan kawan-kawan lainnya agar tidak masuk Senayan Park karena rawan diculik disana karena pintu Mall bisa ditutup sewaktu-waktu untuk menjebak massa aksi yang masuk.
“Unarja unarja, tolong siapapun dimanapun jangan arahkan massa aksi ke Senayan Park, semuanya ke Moestopo” ucapku di HT
“Copy pres, Daf disini, beberapa mahasiswa ama warga ada yang masuk Senayan Park lagi”
“Alah, oh iya Kopaja kita mana cuy?” tanyaku ke Dafa lagi
“Gatau anjir udah gaada aja tadi” ujar Dafa di HT
“SEMUANYA KE ARAH MOESTOPO!” perintahku secara langsung dan di HT yang segera diamini kawan-kawan yang lainnya.
Gerung suara motor trail mulai bersahut-sahutan terdengar, sepertinya sweeping sudah mulai dan lebih cepat dari sebelumnya.
Beruntung ada kampus lain yang masih memiliki tempat di Kopajanya dan aku segera meminta kepada massa perempuan untuk naik Kopaja ke arah Moestopo semuanya dan banyak juga yang memilih berlari ataupun menggunakan motor pribadi yang sebelumnya diparkir di TVRI, sebab polisi tampaknya sudah mau membentuk formasi mengepung lagi dan tempat evakuasi yang cukup aman tinggal kampus Moestopo.
…………..
Suasana dalam kampus Moestopo ramai tapi pelan. Beberapa mahasiswa terlihat merebahkan tubuhnya dan juga tergeletak di lantai PKM Moestopo, beberapa lagi sibuk membasuh mata dengan larutan garam. Suara HT sudah dimatikan, diganti obrolan pelan dan rintik hujan di luar. Ambulans milik paramedis jalanan terparkir didepan. Andien sudah turun dari Ambulans dan turut dibawa di kawasan PKM juga bersama dengan yang lainnya.
Aku duduk berkumpul dengan para petinggi kampus yang lainnya yang juga sama terjebak di Moestopo, begitu juga dengan Presma dan BPM FIKOM moestopo yang turut hadir ditengah lingkaran. Beberapa masih memiliki sisa jejak odol di bawah matanya, beberapa ada yang kena pukul sehingga masih ada memar-memar yang jadi bahan candaan.
Suasana yang hangat namun mataku tetap tak bisa mengalihkan pandangan pada Andien yang masih terbaring lemas, dia sudah sadar, rambutnya sedikit acak-acakan, kaosnya penuh debu dan matanya tampak sembab. Tapi dia tetap... cantik dalam caranya sendiri. Kukira aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya. Tapi ternyata tidak.
Dan itu mengganggu.
Rasanya aku ingin menghampirinya sekedar untuk menanyakan keadaannya namun obrolan mengenai langkah gerakan juga seru. Jadi aku mengikuti arah pembicaraan sambil mendengarkan bagaimana kawan-kawan menyikapi hal ini sambil mengecek keadaan masing-masing. Bersyukur tidak ada yang tertangkap di massa nya UNARJA, hanya saja ada dari kawan-kawan UVJ ada yang tertangkap, begitu juga dengan massa dari kampus lain yang tentu membuatku tergerak untuk mencoba menghubungi ayahku untuk mengecek ada atau tidak massa massa mereka yang tertangkap di Polres Jakarta Pusat.
Setelah melaporkan bagaimana situasi, aku segera pamit sebentar untuk menghampiri Andien yang masih terbaring sambil memainkan ponselnya, tak jauh darinya ada Genta yang sedang mencoba menelpon seseorang.
“Gue gak nyangka bakal digendong di tengah aksi,” ucapnya tiba-tiba, nadanya setengah geli, setengah malu.
“Gue juga gak nyangka bakal gendong lu... pas semua orang liat,” jawabku sambil melihat pintu Sekretariat KOSMIK Moestopo.
“Gak takut reputasi lu jadi bahan gossip?”
“Cuek orang juga ngeliatnya mau nolong, dan yaaa daripada lu keangkut dan jadi kaos yang dipake tiap Kamisan.”
Dia diam sejenak. Lalu tertawa kecil. “Iya juga ya.”
Aku menoleh pelan, melihat wajahnya yang sekarang menunduk, berusaha membuka notifikasi dari ponselnya yang tampaknya persentasenya rendah di baterainya. Dia nggak bisa menyembunyikan bahwa perasaannya lagi berantakan. Tapi dia tetap keras kepala, dan aku menghormatinya untuk itu.
“Lu sadar gak sih,” lanjutku, “tiap kali gue nyari strategi, mikir tentang gerakan, nama lu muncul terus di kepala gue.”
Dia menoleh cepat. “Apalah”
“Gue gak tahu,” jawabku, jujur. “Mungkin karena lu satu-satunya orang yang berani nyentil semua yang gue gak berani sentuh. Atau... karena kalau lu ilang dari gerakan ini, gue ngerasa semuanya kosong.”
Andien terdiam. Detik-detik terasa lama. Kayaknya dia menganggapku aneh dan aku juga gatau kenapa aku bisa mengatakan hal meracau semacam itu. Gas air mata mengandung halusinogen atau apa sih kok aku tiba-tiba begini. Aku berfikir keras mencoba memikirkan hal apa ya untuk memperbaiki perkataanku yang terlalu absurd ini.
“Cape?” tanyaku pelan, mencoba untuk tetap mengobrol tapi tidak mau melanjutkan pembahasan sebelumnya karena tampaknya ia tak nyaman.
Dia ngangguk, “Lumayan. Tapi lega juga akhirnya bisa turun bareng. Gak nyangka semua lancar sampai... ya, sebelum chaos tadi. Makasih ya udah selamatin gue, kalo gaada lu mungkin gue bakal hilang malam ini”
“Sama-sama, itu udah tugas gue kan ndien, dan gue juga lega kita semua selamat.”
Andien tertawa pelan, “Lah lu? Penuh strategi dan skenario cadangan, sampe security kampus aja lu udah siap-siapin buat prepare ada perusuh sebelum Teklap.”
“Lu mikirnya gue gitu terus ya?” sahutku sambil menoleh. “Dingin, taktis, selalu punya rencana?”
“Bukannya emang begitu?”
“Kadang,” gue berhenti sebentar, “gue juga pengen lepas santai. Tapi gak bisa.”
Dia memiringkan kepala, penasaran. “emang kenapa dah anjay?”
Aku mengangkat bahu. “Karena tanggung jawab. Karena... orang berharap sama gue. Gak bisa egois. Berat predikat Presma ini bu rasanya”
Andien diam, lalu menarik napas pelan. “Deym, ah tapi sama sih. Makanya gue gak bisa sembarang buka diri ke orang, jadi…..ya gitu deh.”
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak hari itu, sejak kita bareng di mobil menuju aksi, dia tampak lebih santai dari sebelumnya, seperti saat aku menyetirnya pulang sehabis Teklap
“Berarti kita mirip,” ucapku pelan.
“Mirip?” alisnya naik sebelah.
“Dua orang yang sama-sama dibebanin ekspektasi tinggi”
Andien menoleh, mata kita akhirnya ketemu. Lama. Dan gila... aku pengen waktu berhenti di momen ini sampai aku berkata cukup untuk memandang mata cokelat gelap yang penuh cerita dan penderitaan itu.
“Tapi lu masih anak bagian dari... sistem, Half, yaa setengah masalah hiduplu harusnya sih udah beres ya, kayaknya ga perlu lagi takut dikejar atau ditangkep karena ada aja orang yang bisa nge bail out lu” ucapnya akhirnya. “Dan kadang gue bingung, gimana bisa orang kayak lu bener-bener peduli.”
“Gue gak minta dipercaya sekarang. Tapi yang gue perjuangin bukan topeng,” jawabku tenang. “Gue bisa berdiri di dua kaki gue sendiri, bahkan kalau akhirnya gue jatuh dari keduanya.”
Dia tersenyum tipis. “Puitis juga lu ya ternyata.”
“Biasa, belajar dari Hera, dia kan puitis banget.”
Andien lalu tertawa kecil, nadanya lelah tapi hangat. “Gue capek sebenernya.”
“Bisa ya capek?”
“Menurut ngana?” jawabnya setengah bercanda dan agak mencubit bahuku.
Deg!
Sentuannya sukses membuatku sedikit lag bingung tidak bisa berkata apapun..
“Lu gak salah capek,” jawabku. “Karena itu manusiawi sih.”
Dia gak bilang apa-apa lagi. Aku sedikit menggeser tubuhku agak mendekat. wajahnya tampak bingung hendak mengatakan apalagi, tapi tubuhnya tidak bergerak sama sekali, tidak menjauh ataupun mendekat, hanya diam di tempat seakan membiarkan aku ada di dekatnya.
“Apalah tiba-tiba sok filsuf” ucapnya
“Yaaaa kayaknya gue kecapean, haha” jawabku berusaha menyembunyikan kenyataan kalau sebenarnya aku menginginkan dirinya secara menyeluruh sekarang.
Dan aku tahu, mungkin aku gak akan pernah bisa sepenuhnya menyentuh hatinya sekarang... tapi malam ini, dia gak sepenuhnya menghindar.
Dan itu cukup buatku. Untuk saat ini.
Selama bermalam satu persatu mulai dijemput, ada yang akhirnya pulang sendiri atau menginap di rumah saudara mereka yang terdekat. Bahkan Andien juga dijemput Pak Dekan di tengah malam dan beberapa yang tersisa akhirnya memutuskan untuk menginap di Moestopo semalam.
“Bagaimana Pres, aman kah?” ujar Esa dari Senat FIKOM Moestopo menanyaiku
“Aman udah, lu bagaimana anjay anak-anak lu”
“Aman, berkat informasi dari lu sih ini” ujarnya sambil membakar rokok kretek yang sedari tadi dipegang di tangannya saja.
“Cewek yang tadi itu cewek lu kah?” tanya Esa penasaran.
“Apaan sih lu tiba-tiba nanyain begitu”
“tanya saja sih Pres haha, biar ada bonding-bonding kita”
“Bondang bonding, perasaan kita sering nongkrong bareng dah, masih saja kurang”
“Ya soalnya lu ga pernah keliatan punya cewek anjir”
“Ga penting-penting amat soalnya” jawabku sambil coba untuk mengalihkan perbincangan
“Tapi masih suka cewek kan?”
“Masih lah” jawabku sambil tersenyum kecil karena tiba-tiba wajah Andien lah yang teringat saat menjawab pertanyaan Esa.
Malam akhirnya dihabiskan dengan perbincangan ngalor-ngidul bersama dengan yang tersisa di Moestopo bersama dengan sisa-sisa kampus lain yang masih bertahan.
(To Be Continued)
메타데이터
- post_id
- f77360daf413
- slug
- problematik-bab-iv-12-hari-aksi-f77360daf413
- url
- https://medium.com/@jochen.j.ryth19/problematik-bab-iv-12-hari-aksi-f77360daf413
- canonical_url
- https://medium.com/@jochen.j.ryth19/problematik-bab-iv-12-hari-aksi-f77360daf413
- author_url
- https://medium.com/@jochen.j.ryth19
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01