Kolobendu Indonesia
Jika Jepang luluh lantak habis di bom oleh Amerika, yang ditanya pertama kali oleh kaiser adalah berapa sisa guru yang ada. Sedangkan di…
Kolobendu Indonesia
Rasanya kita sedang diserang bertubi-tubi, dari kanan dan kiri, dari atas dan bawah, dari depan seperti memberi BLT, dari belakang yang mengeksploitasi lingkungan rakyat. Yang miskin makin miskin, yang kaya makin kaya, yang pinter tetap pintar tapi dibungkam, yang bodoh tetap bodoh dan dibuat bodoh secara sistematis, yang korupsi makin aman dalam ekosistem impunitas, yang jujur dan kritis makin direpresi sebagai ancaman negara. Ini bukan lagi situasi yang normal dan baik-baik saja. Ini sudah tiba pada fase di mana semuanya kehilangan sejati ning urip — kehilangan makna hakiki dari kehidupan itu sendiri.
Bicara tentang keadilan, kesejahteraan, perdamaian, dan persatuan hanyalah angan-angan utopis. Bagai duduk di teras, sambil sebats membayangkan hari yang nyaman, hari yang indah, duit berlimpah, sawah dan hutan jadi lebat. Sangat-sangat utopis untuk di waktu sekarang ini. Karena environtment-nya sudah terlalu kotor, sudah najis. Yang mungkin awalnya masih najis mukhaffah — sekarang sudah menjadi najis mugalladhah, najis berat yang mengental, yang perlu disucikan tujuh kali, salah satunya dengan tanah — tanah air ibu pertiwi. Menurutku, sistem ini tidak bisa lagi disucikan dengan retorika reformasi, undang-undang lah, atau sekedar ganti rezim yang ternyata sama saja. Perlu ditharahkan. Disucikan total. Tidak bisa sendiri-sendiri. Harus bersama-sama. Satu generasi misal, yang bergerak bersama sebagai subjek sejarah, bukan objek kuasa.
Apa yang perlu dibersihkan sebetulnya bukan hanya pakaian kebijakannya, bukan cuman fasad gedung parlemen, tetapi jiwanya. Jiwa-jiwa rakyat kita yang sudah terlampau lama dicekoki kebenaran palsu bahwa kemiskinan adalah takdir. Jiwa-jiwa pemerintah kita yang sudah tertular kleptokrasi akut, di mana jabatan bukan lagi amanah rakyat tetapi alat akumulasi kapital. Itu baru yang dinamakan suci lahir batin. Tapi agaknya sulit untuk menyucikan, karna air untuk suci sendiri sekarang sudah dinajiskan oleh pemerintah. Dalam arti lain, undang-undang telah dirobah sedemikian rupa — agar kita sulit untuk menyucikan sistem negara ini. Koruptor masih berlenggak-lenggok di pangggung jabatan. Antek-antek asing masih berkeliaran di antara kabinet, wajahnya si pribumi tapi jiwanya komprador, menjadi perpanjangan tangan global kapital — memastikan negeri tetap terbelakang untuk menyuplai pusat. Naga-naga tidur nyenyak beralaskan uang tambang, emas, nikel — sementara rakyat tidur beralaskan kardus di kolong jembatan, di gubuk ala kadarnya, menunggu pagi dengan perut kosong menagih 19 juta lapangan pekerjaan. Inikah yang disebut sebagai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?
Setiap hari senin, semua aparat, semua pendidik, semua rakyat dengan sorak, dengan khidmat membaca sila-sila pancasila. Meneriakkan “kemanusiaan yang adil dan beradab” sambil berdiri di atas tanah yang kelak nanti dirampas untuk proyek strategis nasional yang tidak jelas untungnya untuk siapa — adakah tetesan air mata di antaranya? adakah getaran batin yang menyadari jurang antara teks pancasila dan realitas Indonesia? Tentu tidak. Mereka sudah dininabobokkan oleh harta dan kuasa, di mana menurut konsep hegemoni, bahwa penguasa tidak hanya memerintah lewat represi, tetapi lewat persetujuan yang direkaya melalui pendidikan, budaya, dan media — sehingga yang tertindas justru mencintai penindasnya, memuja menjilat oligarki: dari mahasiswa hingga artis. Bagi mereka tiada berharga selain harta dan kuasa. Apalah rakyat kecil, yang hanya menjadi kutipan-kutipan jargon orasi, pidato. Apalah sumber daya alam, yang hanya menjadi bahan pamer ke negara lain dalam konferensi Internasional, tetapi di daalam diperkosa habis-habisan, dihisap darah buminya, sampai masyarakat adat kehilangan living-space-nya, persis seperti yang digambarkan Hannah Arendt dalam The Origins of Totalitarianism tentang penghancuran ruang hidup manusia menjadi sekedar angka yang terisolasi.
Ini dan sekarang, kita telah memasukan zaman kolobendu — zaman kesengsaraan, zaman kegelapan, zaman kekacauan. Dalam siklus kosmologi jawa, ini adalah era Kolo Bendu, di mana para dewa seolah tidur dan raksasa berpesta pora di atas kehancuran. Ini tidak ada bedanya dengan zaman jahiliyyah modern: sebuah erae kebodohan yang terstruktur, di mana nilai-nilai dibalik. Sudah wolak-walik e zaman. Yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Demokrasi dibungkam lewat mimikri. Ruang sipil dipersempit menjadi sekedar penolakan demo. Ruang aparat justru diperluas hingga menjadi petani, menjadi juru masak MBG. Guru honorer dihapus dan diberhentikan dengan alasan efisiensi, padahal justru menghancurkan tulang punggung pencerdasan bangsa. Bukankah di dalam UUD sendiri tertera “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Huft. Ini sebetulnya dapat menjadi titik awal dari keruntuhan tiang Indonesia
Jika Jepang luluh lantak habis di bom oleh Amerika, yang ditanya pertama kali oleh kaiser adalah berapa sisa guru yang ada. Sedangkan di Indonesia, jika APBN habis melompong, maka yang ditanya pertama kali oleh presiden, berapa sisa dapur MBG yang ada.
Kita kehilangan nilai luhur sebagai manusia Indonesia yang nusantara. Saya agak tricky untuk menggunakan kata “Indonesia” , karena Indonesia sendiri adalah hasil campur tangan jajah — kontruksi kolonial. Sedangkan “Nusantara” adalah akar hidup dari negeri kita — kesadaran kosmopolitanisme, dimana keberagaman ditenun oleh jarum bhineka yang otentik, bukan slogan jinak menjinak. Dan di sekeliling kita, ada banyak Indonesia-Indonesia yang bukan nusantara. Ada Indonesia yang kebarat-baratan sampai hilang jati dirinya. Ada Indonesi yang ke-Amerika-an, adopsi budaya konsumerism, pamer kemewahan di tengah kemiskinan sebagai sebuah prestasi. Ada Indonesia ke-Cina-an, mengekor model kapitalisme negara otoriter dan sentralis. Ada Indonesia yang ke-Rusia-an, oligarki yang terbentuk dari kroni pasca kekuasaan, mengendalikan sumber daya alam sebagai bancakan. Yang saya ingin ajak bersama adalah ayo kita kembali ke nilai luhur budi kita sebagai manhusia nusantara, sebagai manusia keris — manusia yang tak lagi fokus pada kuasa hampa, tetapi pada luhur jiwa manusia, pada spritualitas ekologis yang memandang tanah, air, dan udara sebagai cacak, kakang, saudara tua, bukan objek eksploitasi seperti apa yang disuarakan barat. Ini bukan romantisasi masa lalu yang naif, tetap sebuah manifesto dekolonialisasi pikiran. Kita harus delinking dari cara pandang kolonial-kapitalistik junto postkolonial, dan menciptakan kembali tata dunia dari filosofi kita sendiri menuju gemah ripah loh jinawi.
Zaman kolobendu sudah pernah terjadi pada tahun 1965 hingga 1998 — yang mana pada saat itu benar-benar chaous, semua berhamburan kacau berantau. Pembantaian massal sebab ideologi menjadi luka abadi, konflik saudara, konflik etnis, konflik campur tangan asing, bahkan krisis moneter yang justru melahirkan kroni-kroni baru. Bagaimana dengan sekarang? Seperti hampir 11–12 dengan apa yang sudah pernah terjadi pada orba. Hanya saja lebih halus, lebih samar gejolakannya. Tidak seradikal ‘98 yang gedung-gedung dibakar dan mahasiswa turun ke jalan dengan darah mendidih; penindasan kini bekerja seperti konsep biopolitik — bukan lagi otot besi yang selalu tampak, melainkan pengelolaan kehidupan, mengatur populasi melalui kebijakan, data, dan wacana keamanan. Kita dikelola untuk tetap hidup tetapi tidak berdaaya, bernafas tetapi tidak bebas. Serang tentu tidak dari depan, kita diserang dari dalam, dari belakang, melalui manipulasi psikologis individu, sosiologis masyarakat, perang informasi, pembusukan mental anak muda, dan penciptaan ketergantungan ekonomi — Kekuasaan yang tidak menekan dari luar, tetapi menembus ke dalam psike, membuat kita secara sukarela mengeksploitasi diri sendiri, menganggap beban sebagai kebebasan. Di Indonesia, kita melihat itu semua: influencer yang jadi corong kebijakan tanpa sadar, buzzer yang dibayar untuk menyebarkan amarah terarah, rakyat yang bangga menjadi “smart power” bagi rezim, padahal hanya sedang dijadikan baterai bagi mesin propaganda.Oleh karena itu, sekarang lebih kacau, lebih gelap daripada yang lalu. Mungkin impactnya tidak langsung terasa seperti krisis moneter yang langsung melompatkan harga, tetapi ini adalah efek domino yang sedang dipersiapkan rapi — Hancurnya akal sehat dan solidaritas sosial. Kelak nanti akan ditimpa dan terasa di akhir menit pertandingan, ketika tirani yang banal — meminjam istilah “banality of evil” nya Arendt — sudah begitu biasa hingga kejahatannya tidak lagi kelihatan sebagai kejahatan.
Dulu di jaman orba, suharto hanya ada satu. Sentral ketertindasan, pusat hirarki yang jelas sehingga mudah dijadikan target kemarahan akumulatif. Sekarang, suharto banyak. Ada suharto DPR, yang denga tenang mengesahkan undang-undang membonsai demokrasi. Ada suharto menteri, yang kementeriannya jadi sapi perah partai. Ada suharto provinsi, bupati dan gubernur, dengan politik KKN nya yang kental. Ada suharto kabinet, para teknokrat dengan kata-kata manisnya menyembunyikan kerusakan lingkungan. Ada suharto kampus, rektor dan ornamin yang dulu sumber kritis, sekarang sibuk duduk di kursi jabatan untuk membungkam diskusi. Hahaha. Semua orang berebut menjadi suharto, berebut kuasa mikro dengan logika banal dan predator yang sama: memonopoli, represi dan klaim kata-kata manis. Ini adalah suhartoisme yang sudah melekat di darah-darah mereka, menyebar ke sel-sel masyarakat, menjadi kultur, menjadi metabolisme. Inilah wajah zaman kelabu mencekik: bukan lagi diktator tunggal yang bisa dijatuhkan dengan lengser, tetapi sistem oligarki terdesentralisasi yang diproduksi setiap hari, setiap pemilu, dengan bungkus demokrasi prosedural. Habitus kekuasaan di Indonesia hari ini adalah habitus ketidakmaluan: mereka pamer korupsi, pamer poligami, pamer mobil mewah, pamer ibadah, lalu minta kita bertepuk tangan lalu mencoblosnya ketika pemilu. Taek!
Maka, thaharah jiwa bangsa ini harus dimulai dari menyadari kompleksitas najis mugalladhah yang sudah mengental, dan menemukan kembali air suci yang masih tersimpan di sumber-sumber telaga kearifan nusantara.
메타데이터
- post_id
- f77aff346192
- slug
- kolobendu-indonesia-f77aff346192
- url
- https://medium.com/@penulisjalang/kolobendu-indonesia-f77aff346192
- canonical_url
- https://medium.com/@penulisjalang/kolobendu-indonesia-f77aff346192
- author_url
- https://medium.com/@penulisjalang
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 18:46:00