← Back to list

Mau Berekspektasi Apa Dari Kos 300 ribuan ?

“Huru-hara dan drama konyol kos 300 ribuan yang membuat saya sadar soal harga tak pernah bohong, hanya saja saya yang ngeyel”

Alan Jabbar · 2025-07-21 09:31 · 0 claps · 6.5 min read
#kos-kosan #cerita #komedi #kehidupan #pengalaman
Open on Medium ↗

Mau Berekspektasi Apa Dari Kos 300 ribuan ?

“Huru-hara dan drama konyol hidup di kos 300 ribuan membuat saya sadar soal ada harga ada kualitas”

Ilustrasi Kos Animal Friendly/Chatgpt.com

Ilustrasi Kos Animal Friendly/Chatgpt.com

Dislclimer tulisan ini adalah adaptasi dari materi stand up comedy kawan se kos setiap open mic. Nabil Genjul namanya. Respect kawankuh hehehe.

Cerita ini sebenarnya sudah menjadi keresahan saya sejak lama. Tepatnya sejak akhir tahun 2024, sekitar bulan november saya memutuskan pindah kos dikarenakan harga kos lama sedikit tidak ramah dikantong saya yang hidupnya terlalu pas-pasan.

“Kos Pojok” — nama kosan yang saya tempati sekarang — direkomendasikan oleh kawan yang namanya sudah saya disclimer-kan di awal, lantaran harganya cukup miring. Sebetulnya harganya bukan 300 ribu, melainkan jauh lebih murah lagi dari itu yaitu 900 ribu per 2 bulan. Itupun bisa ditempati 2 orang dengan harga yang sama, yang artinya per orang cukup membayar 225 ribu setiap bulannya.

“Ada kamar kosong nih sebelah kamarku, kalo kamu mau”, begitu kira-kira tawaran dari genjul pada saya yang kebetulan juga sedang berkejaran dengan waktu untuk segera pindahan.

Tanpa basa-basi maka, kami setuju untuk survei esok harinya melihat-lihat kondisi kos dan juga akses jalannya, sekaligus meminta nomor pemilik kos untuk kemudian kami lunasi sekalian jika benar cocok.

Saat survei, sekilas tak ada yang mengganjal dari fasilitas dan lingkungannya. Semuanya tampak normal dan biasa saja selayaknya kos pada umumnya.

Kamarnya juga cukup luas seukuran 3 x 3m dengan fasilitas kasur besar , satu bantal gepeng, dan satu buah lemari kayu. Fasilitas yang bisa dibilang cukup oke sebenarnya dengan harga semiring itu, meskipun kamar mandinya terpisah namun itu bukan masalah besar bagi saya dan kawan — lek dzakir.

Lingkungannya juga sangat tenang karena memang letaknya di pojok paling ujung gang buntu, sesuai dengan namanya “Kos Pojok”. Akses masuknya juga lebar, seukuran 1 truk lah kira-kira, bebar portal alias 24 jam dan yang paling penting akses parkiran cukup luas meskipun tak semua sudut parkiran tertutup kanopi.

Selain itu, kos ini juga punya “bonus demografi” — jika meminjam istilah dari wapres kita, gibran — karena hanya berjarak sekitar 20–30 meter dari pasar ataupun jalan raya utama, dan seperempat kilometer dari lapangan olahraga atau pusat keramaian lainnya.

Tapi… tapi… nanti dulu, itu baru bonus demografinya saja. Ada hal yang jauh lebih membagongkan dari kos ini setelah kurang lebih 7 bulan menjadi penghuni kosnya. Dari mulai konsep kamar mandi, tingkah para penghuninya, sampai pada stereotip kandang hingga budidaya serangga.

Kamar Mandi Kedap Udara, Kolam Sabun, Hingga Kloset Aneh

Hal mengganjal yang mulai terasa pertama kali di bulan pertama adalah konsep kamar mandi yang makin hari, makin tak bisa di terima. Sebab, dari 4 kamar mandi yang ada di kos ini, hanya 2 yang bisa digunakan mandi, dan hanya 1 yang bisa digunakan untuk “Buang Hajat/ ngisingKalo kata orang jawa”.

Pada awalnya, saya tak keberatan dengan jumlah kamar mandinya sampai pada akhirnya saya merasakan langsung kebringasan para penghuninya. Mulai dari yang ogah-ogahan ngidupin sanyo / mesin pompa air tandon padahal air di bak mandi itu sisa kurang dari sejengkal dari dasar, sampai pada kebiasaan rokokan sambil “ngising”.

Bayangkan saja, Kamar mandi yang kedap udara alias minim sirkulasi udaranya itu harus berkelahi dengan asap rokok para pengguna yang “ngising” sambil rokokan. Alasannya tak rasional, karena mereka tak kuat menghirup bau pesing kamar mandi katanya.

Laaah, dikira saya dan pengguna kamar mandi selanjutnya kuat menghirup asap rokok yang mengepul dan berdesakan mencari jalan keluar itu ?. Itu baru soal rokok.

Lain halnya, kawan saya genjul. Dia sampai pernah naik pitam hanya karena harus menguras bak mandi yang memutih karena ada sabun atau seuprit odol mengendap di dasar bak mandi. Dan itu bukan hanya sekali atau dua kali, melainkan hampir setiap minggu terjadi.

Saya sampai heran, bagaiamana orang-orang itu mandi kok bisa air di bak sedikit butek/ keruh akibat sabun. Atau jangan-jangan setelah sabunan mereka langsung nyebur bak mandi seukuran 1 x 1,5 meter itu?. Jika benar demikian, berarti selama ini saya berkumur-kumur air kubangan bekas, hehehe.

Dan satu lagi permasalahan soal kamar mandi adalah soal konsep kloset dan model pembuangannya. Bagian ini akan sedikit menjijikkan, dan alangkah baiknya kalian lewati saja jika memiliki fobia terhadap kotoran.

Kloset di kos saya ini unik, pasalnya tiap kali kotoran itu di siram mereka ini susah sekali untuk masuk seolah enggan untuk berpisah. Paling tidak untuk sekali cemplungan dibutuhkan 5 sampai 7 kali siraman untuk menghadapi kotoran yang berakrobat dan salto-salto di genangan kloset.

Puncak kekonyolannya adalah saat septic tank kos ini penuh, dan semua penghuni mengetahui jika mereka tak bisa BAB dulu sampai di kuras oleh pemilik kos tapi masih ada yang ngotot buang hajat. Kek, otak you dimana ?. Dan sialnya, saya adalah orang pertama yang mengetahui dan baru sadar saat saya sedang mandi.

Nukang Tengah Malam Hingga Drama Air Terjun saat Hujan Deras

Gelagat absurd penghuninya mulai makin meresahkan buat saya setelah 3 bulan mendekam di kos ini. Salah satu tetangga kamar dengan santai dan percaya diri nukang di malam hari. Jika tidak salah waktu itu sekitar pukul setengah 1 dini hari.

Bayangkan saja, para penghuni kos yang hampir separuhnya adalah pekerja dan sedang tidur seperti saya dikagetkan dengan suara getokan palu cukup kencang. Awalnya saya acuh, karena menganggap getokan palunya tak akan lama sampai akhirnya mungkin salah satu penghuni yang kamarnya bersampingan pas menegurnya untuk melanjutkan kerjaannya dekor kamar esok pagi saja.

Saya dan kawan — lek kir sedikit terkekeh malam itu, sambil melanjutkan aktivitas masing-masing, lek kir melanjutkan desain sedangkan saya mencari posisi enak untuk kembali tidur.

Tak sampai disitu, selang dua malam setelah kejadian itu ekspektasi tentang kamar yang nyaman dan dingin saat awal survei kemudian runtuh. Penyebabnya adalah hujan deras yang melanda Semarang hampir seharian hari penuh.

Hasilnya ?, ya kamar saya kebanjiran. Bukan karena bajir, melainkan sambungan tembok dan genteng di atas kamar kami mungkin retak yang membuat air hujan mengalir cukup deras dari sela plafon dan dinding bak air terjun.

Ini sontak membuat saya dan lek kir, terjungkal bangun dari tidur karena kasur kami basah. Akhirnya selama 7 hari kami berdua harus bertahan dengan tidur di atas matras dengan penuh was-was setiap malamnya. Kejadian ini terjadi selama hampir 10 hari sampai membuat dinging kamar berjamur, dan kamar kami benar-benar berada di titik lembab paling parah.

Rupanya, keluhan itu bukan hanya terjadi di kamar saya dan lek kir melainkan juga di 3 kamar samping kanan kiri saya juga. Dan dari kejadian itu, kemudian saya dan para penghuni kamar yang terdampak selalu was-was tiap kali hujan deras mengguyur semarang. Sampai akhirnya 2 minggu kemudian pemilik kos memperbaiki kebocoran, namun sialnya kamar kami luput dari perbaikan karena acian semennya habis dan perlu menunggu waktu lagi menunggu hari cerah untuk.

Kejadian-kejadian ini membuat saya dan lek kir tepok jidat sambil menggerutu:

“Emang ngga bisa berekspektasi banyak sama kos 300 ribuan. Kudu pinter-pinter survive kalo kayak gini”.

Kebun Binatang Dan Tempat Ramah Untuk Satwa Liar

Selang kurang lebih 5 bulan berlalu, saya kemudian makin relate tentang stereotip kos ini sebagai kos rasa kebun binatang sepertu yang pernah kakak kelas saya ucapkan dulu saat pertama menempati kos pojok ini.

Cerita ini semakin saya afirmasi karena mengalami langsung bertemu dengan berbagai satwa liar baik itu di dalam kamar, halaman kos, atau bahkan di kamar mandi.

Mau cari apa di kos ini ?, kucing ?Anjing ? atau sebangsa unggas seperti Angsa dan ayam ? atau mungkin sejenis serangga seperti kelabang ? atau kalajengking semua ada di sini. Apalagi Tikus ? pasti banyak karena dekat dengan pasar. Kecoak ? jangan tanya, itu pasti ada dan bahkan jadi bahan berburu mas genjul hampir setiap malam. Tokek ? ada juga bahkan besarnya selengan.

Dan pengalaman pertama kali yang saya jumpa adalah kalajengking berukuran kurang lebih se jari kelingking di dalam kamar. Pertemuan saya dengan satwa liar ini berawal saat saya dan lek kir yang tengah bersih-bersih kamar dan mengeluarkaan baju bekas yang semula digunakan untuk menghambat air terjun supaya tidak bergerak ke kasur.

Tepat setelah saya mengangkat baju yang di jadikan lap itu, tiba-tiba seekor kalajengking betina jatuh dan langsung mengacungkan jari tengahnya. Eh, maksudnya capitnya kepada kami. Sontak saya berteriak yang disambut tatapan waspada lek kir dengan sapunya. Sesuai anjuran orang tua dulu, tanpa basa-basi kami habisi dan membakar kalajengking itu.

Satwa lain yang membuat saya cukup kesal karena sering berkunjung ke kos kami adalah kumpulan angsa. Ya, kumpulan angsa milik warga sekitar yang sering di buru oleh bocil-bocil absurd dan membuat unggas-unggas tadi sering memilih berlindung di kos pojok ini.

Angsa ini adalah kawanan satwa paling meresahkan, sebab jika sudah berkunjung selain berisik dengan suaranya, juga mesti meninggalkan oleh-oleh berupa tai-tai yang bertebaran di mana-mana. Iya jika tainya di halaman. Kadangkala kotoran-kotoran itu bertebaran hingga teras depan kamar kami pas.

Jadi tak jarang, saya sering naik pitam dan memarahi bocil-bocil yang menggiring angsa-angsa itu kedalam kos kami. Berbekal sebilah sapu yang saya acungkan sambil berteriak kearah mereka

“Wooy, siapa yang nyuruh giring angsa kesini ?. Pergi Pergi!” disusul dengan teriakan ketakutan bocil dan tetangga kamar yang kaget karena teriakan saya.

Belum lagi, gongongan anjing dan dengkuran kuda ataupun sapi dari belakang kos yang merupakan tempat pemeliharaan anjing liar dan kuda milik yayasan panti asuhan yang menghiasi heningnya malam. Jadi lengkap sudah rasanya warna-warni kehidupan kos pojok ini dibuatnya.

Suara-suara alam liar sangat lekat sekali dengan kos ini. Sampai terkadang membuat saya begidik sendiri jika sendirian di kos. Sebab, lampu teras dan halaman yang cukup remang-remang membuat nuansa sedikit horor seperti desa penari atau loron-lorong rumah sakit di film horor.

Jika saja nuansanya ditambah dengan sedikit sentuhan suara gamelan dan sinden mungkin saya akan lebih percaya jika sebenarnya kos ini memiliki 2 dimensi antara alam manusia dan alam ghaib wkwkwk.

Dari pelajaran-pelajaran itu kemudian membuat saya menarik sebuah kesimpulan yang utuh untuk tak banyak berekspektasi dari kos murah meriah ini.

Kejadian-kejadian tadi juga semakin menambah kesabaran saya dan membuka nalar logika bahwa “ada harga tentu ada rupa, dan harga tidak akan berbohong soal kualitas”.

Kos Pojok, 18 Juli 2025


메타데이터
post_id
f797c0aa7bf7
slug
mau-berekspektasi-apa-dari-kos-300-ribuan-f797c0aa7bf7
url
https://medium.com/@alanjabbar/mau-berekspektasi-apa-dari-kos-300-ribuan-f797c0aa7bf7
canonical_url
https://medium.com/@alanjabbar/mau-berekspektasi-apa-dari-kos-300-ribuan-f797c0aa7bf7
author_url
https://medium.com/@alanjabbar
status
ok
fetched_at
2026-07-08 10:57:59