Salahkah Menjadi Pesimis?
Ketika saya ditanya kamu tipikal orang yang seperti apa, dengan lantang saya akan berkata “Pesimis”. Tentu saja, lawan bicara saya akan…
Salahkah Menjadi Pesimis?
Ketika saya ditanya kamu tipikal orang yang seperti apa, dengan lantang saya akan berkata “Pesimis”. Tentu saja, lawan bicara saya akan langsung menasehati saya untuk jadi orang yang optimis, jangan menyerah, jangan putus asa lah dan bla bla bla. Mereka sama sekali tak menanyakan apa itu pesimisme yang saya maksud? Mengapa saya memutuskan menjadi pesimis?
Cara berpikir saya mungkin cukup bertentangan dengan semangat teologis agama yang saya anut atau mungkin buku-buku psikologi yang mendoktrin orang untuk optimis guna mencapai tujuan dan kebahagian dalam hidup. Namun, saya justru malah mengambil jalan ninja yang berbeda dalam menjalani hidup. Tapi tak apa, Karena hidup adalah takdir dan kenyataan, tapi menjalani hidup adalah pilihan. Dan saya memutuskan memilih menjadi pesimis.
Lanjut ke pembahasan apa itu pesimisme? Mungkin awal mula saya berkenalan dengan pesimisme ketika kecil. Tentu saja saya yakin kalian para pembaca yang budiman pernah mengalami fase pesimis. Entah itu pesimis untuk mengejar mba pacar, pesimis mengerjakan soal matematika, pesimis mau daftar ABRI, atau mungkin pesimis dengan keadaan. Namun tak apa, namanya fase hidup perlu dialami dan dirasakan, toh juga nanti bakal hilang dengan sendirinya. Bedanya, pembaca yang budiman mungkin akan membiarkan pesimisme hilang begitu saja, tapi saya justru malah menjadikannya pacar.
Saya mulai serius untuk PDKT dengan pesimisme ketika berkenalan dengan Arthur Scopenhaeur, seorang filsuf pendiri mazhab pesimise yang nantinya akan mengilhami pemikiran Niectzhe, Camus, Enstein, Horkheimer, Jung, Freud, Wagner, Wittgenstein dan dunia barang kali.
Pandangan pesimisme yang saya anut dan saya pahami lebih menitikberatkan bagaimana cara saya memahami dan menyikapi sesuatu. Bukan tiba-tiba putus asa, galau, atau insecure. -Kalau itu mah mending ke psikiater.- Pesimisme yang saya maksud disini adalah mencoba sadar bahwa segala sesuatu dapat membawamu pada penderitaan dan dengan kesadaran itu menumbuhkan sikap untuk “alon lan waspada” agar tak jatuh pada penderitaan.
Pernah nonton film Soe Hoek Gie engga? Doi pernah berkata kalau:
“Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah mereka yang mati tua”.
Dari quotes mas ganteng tersebut bisa dirasakan nuansa pesimisnya sangat kental sekali. Kalau coba kita bedah, nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan maksudnya mereka yang tidak dilahirkan merupakan orang yang beruntung karena tidak pernah merasakan yang namanya penderitaan. Yang kedua dilahirkan tadi mati muda maksudnya mereka mati dengan menjaga idealismenya, dan mereka yang mati tua maksudnya mereka mengalami penderitaan yang lebih lama.
Pandangan tersebut adalah pondasai dasar pesimsisme. Bahkan, budha sendiri pernah bersabda bahwa neraka atau penderitaan adalah menjalani hidup dan reinkarnasi. Orang yang bebas adalah orang yang mati dan berhenti menjalani reinkarnasi.
Penderitaan dalam pesimisme begitu ditekankan karena hakikatnya hidup itu adalah rangkaian penderitaan. Atau mungkin hidup adalah rangkaian harapan? Bisa jadi, namun dalam harapan pun terdapat penderitaan. Orang yang berharap artinya ia berekspetasi dan ketika ekspetasinya tak terpenuhi maka ia akan menderita.
Konsep tersebut sama seperti konsep dualisme dalam eksistensi. Tidak mungkin menikmati nikmatnya makanan kecuali ia merasakan pedihnya menahan lapar. Tidak mungkin mensyukuri nikmatnya sehat kalau belum pernah merasakan yang namanya sakit. Tidak mungkin mengatahui adanya siang kalau tidak ada yang namanya malam. Atau Tidak mungkin merasakan yang namnya cinta kalau tidap pernah merasakan rindu yang menggebu-gebu.
Begitu pula dalam hal kebahagiaan, tidak mungkin merasakan yang namanya kebahagiaan kalau tidak pernah mengalami yang namanya penderitaan. Kecuali kamu penganut stoikisme, kebahagian dalam stoik adalah tidak merasakan emosi apapun.
Namun disini, pesimisme menyoroti sisi penderitaannya daripada sisi bahagianya. Bila orang optimis selalu berpikir positif untuk meraih tujuannya. Orang pesimis akan memikirkan kemungkinan terburuk dalam mencapai tujuannya. Dari situ ia bisa membuat berbagaimacam rencana untuk meminimalisir kemungkinan buruk itu terjadi. Dan yang lebih penting lagi orang pesimis lebih bersiap menghadapi realita karena dalam berharap mereka akan menurunkan ekspetasinya, sehingga apabila hasil tak sesuai ekspetasi meraka tak akan menderita secara mendalam.
Uniknya ada sebuah studi yang berjudul “Deensive Pessimism, Anxiety, and the Complexity of Evaluating Self-Regulation” memaparkan bahwa mahasiswa yang selama masa perkuliahannya menganut pesimisme (pesimisme difensif) memiliki harga diri yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki kecemasan berlebih. Bahkan, ukuran harga diri mereka bisa sama tingginya dengan mereka yang optimis.
Mungkin hal ini bisa terjadi karena orang yang pesimistis difensif mampu mengatasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang mereka bayangkan. Sehingga mereka dapat membuat skenario-skenario alternatif untuk mengatasi hal tersebut.
Artinya tidak sepenuhnya menjadi pesimisme itu buruk, bahkan malah bisa menjadi alternatif dalam menjalani atau memaknai hidup. Hanya tinggal hal itu cocok dengan diri kita atau tidak.
Lalu mengapa saya bisa memutuskan menganut menjadi kaum pesimis atau pengikut Scohpenheurian? Sederhana saja, saya jenuh dengan buaian iming-iming optimisme yang sering disodorkan tanpa tanggung jawab. Bahkan terkadang tidak realistis. Terlalu banyak orang yang membual dengan semangat optimisme dan janji-janji tinggi yang membuat saya enggan untuk optimis kembali.
Memang saya juga tak sepenuhnya 100% pesimis, saya juga masih memiliki sisi optimis dan harapan. Bahkan harapan saya untuk desire to be close dengan m̶b̶a̶ ̶p̶a̶c̶a̶r̶ Gebetan saya yang sudah tiga kali ditolak masih saya pelihara. Ironis banget ya huhuhuu…
Kemuakan akan hal-hal itulah yang memutuskan saya menjadi pesimis. Saya ingin lebih dekat dengan realita, berdamai dengan kenyataan, melihat realita apa adanya sebagaimana mestinya, dan mampu menanggulangi penderitaan yang kadang datang dari diri kita sendiri.
Dalam praktik sehari-hari, pesimisme saya amalkan saat proyek lomba dan pkm. Didalam tim, biasanya si Pak Junaedi akan bertugas sebagai gas yang akan mmemberikan dorongan motivasi dengan semangat optimismenya untuk menggerakan tim. Sedangkan saya, akan betugas sebagai rem, yang akan menghentikan pergerakan tim apabila langkah yang diambil dapat membawa tim pada jurang, tentu saja dengan pertimbangan yang rasional dan realistis.
Optimisme itu penting, untuk menjaga harapan dan mimpi-mimpi kita, dan itulah tugas Pak Junaedi. Tapi, pesimisme juga tak kalah penting untuk tetap melihat realita apa adanya, tetap rasional, sertamampu memenejemen penderitaan, dan itulah tugas saya.
Itulah jawaban saya mengapa saya memutuskan menjadi pesimis. Kalau ditanya Salahkah menjadi pesimis sesuai judul artikel ini? Emm well, saya akan menjawab tidak juga ah. Lagi pula pesimis dan optimis bukanlah hal normatif. Menurut saya itu adalah pilihan hidup, bagaimana cara kita menjalani hidup, bagaimana cara kita menghadapi kenyataan hidup, dan bagaimana cara kita memaknai hidup. Benar atau salahnya semua kembali lagi ke masing-masing pribadi lebih cocok memakai yang mana. Gitu aja kok repot..
Terakhir, saya akan tutup artikel ini dengan quotes Arthur Scopenhaeur bapak sadboy sedunia:

Bagaimana? Itu kata-kata yang terlontar dari bapak pencetus aliran pesimsime loh…
메타데이터
- post_id
- f799d3b43e2d
- slug
- salahkah-menjadi-pesimis-f799d3b43e2d
- url
- https://medium.com/@mistersulivantherev/salahkah-menjadi-pesimis-f799d3b43e2d
- canonical_url
- https://medium.com/@mistersulivantherev/salahkah-menjadi-pesimis-f799d3b43e2d
- author_url
- https://medium.com/@mistersulivantherev
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 04:11:33