Hai, Apa Kabar?
Bagaimana Kabar dan Kondisimu Terkini?
Photo by Christin Hume on Unsplash
Hai, Apa Kabar?
Bagaimana Kabar dan Kondisimu Terkini?
Lanjutkan membaca bagi non Member dengan klik ini.
Terakhir saya menulis dan bertukar kabar dengan teman-teman di sini hampir satu bulan yang lalu. Bagi seseorang yang biasa menyalurkan pikiran dan perasaan melalui tulisan kemudian ‘terpaksa’ hening, rasanya tidak nyaman sekali. Ada banyak hal yang ingin saya baca maupun saya bagikan, tetapi, benang kusut ini rasanya begitu rumit hingga saya bingung harus mulai dari mana.
Umm, mungkin dari kabar terkait buku saya terlebih dulu. Hal yang terakhir sempat saya ceritakan di sini.
Alhamdulillah, buku telah memasuki masa cetak. Penerbit mengabari saya bahwa harapannya pekan depan sudah tersedia dan bisa dikirimkan ke perpusnas — sebagai arsip dan syarat ISBN — maupun kepada penulisnya. Hehe. Penerbit sedang mempertimbangkan opsi menggunakan marketplace, tetapi potongan, pajak, dan biaya lain-lain membuat mereka masih mempertimbangkan terkait itu; selain fakta bahwa mereka perlu memastikan kesediaan stok.
Namun sebagai gantinya, mereka menyediakan opsi pengiriman dengan harga yang cukup bersahabat. Terakhir saya cek, untuk pengiriman ke Jabodetabek dari Surabaya hanya perlu menambah 20 ribu rupiah. Bagi warga Surabaya ataupun adik-adik yang satu almamater dengan saya, buku itu nantinya juga bisa didapatkan di STID MART maupun Beemart.
Bagi teman-teman lain yang ingin memilikinya, bisa menghubungi saya atau penerbit. Apa pun opsi yang dipilih penerbit maupun teman-teman pembaca, saya berdoa semoga diberikan yang terbaik.
Kemudian, akhir bulan lalu saya berniat konseling dengan psikolog terkait dinamika usia dewasa — yang tidak jauh-jauh dari karier dan asmara. Karier terutama. Kemudian psikolog saya menyarankan untuk mengikuti tes MMPI, semacam ‘rontgen’ untuk psikologis kita. Hasilnya baru saya terima kemarin, dan memang ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian.
“Kamu pernah punya pikiran buat bunuh orang gak?” 🧐
“Bu, astagaa. Mana beraniii!” 😩😭
“Oh, yasudah, selanjutnya coba kamu tulis genre horror dan thriller. Itu release yang baik”
Huuh, ada-ada saja beliau ini.
Nah, kan. Sekarang sudah lebih baik. Selanjutnya saya ingin menulis tentang ‘Di Balik Meja Kerja, di Atas Harapan’ dan catatan perjalanan mengenai tiga aktivitas ekstrem yang saya lakukan dua bulan ini: paralayang, canyoning, dan snorkeling.
Saya jadi ingin melakukan olahraga ekstrem lain, seperti paraboat (apa sih, yang terbang sembari ditarik kapal di laut itu?), mendaki Sindoro Sumbing (musim seperti ini cuacanya bagus sekali, apalagi lautan awannya, tapi dompet sepertinya meminta diam dulu), dan juga flying fox di Sukabumi, yang katanya terpanjang di Indonesia itu.
Ngomong-ngomong tentang olahraga ekstrem, ada beberapa hal yang membuat saya melakukannya maupun membuat saya banyak berpikir pasca melakukannya. Ada mas-mas yang sempat membuat saya confess, yang ternyata adalah mas-mas yang sama yang membuat saya paralayang dan canyoning beberapa waktu lalu. Dia ternyata tidak hanya lari-lari di jalanan Sydney, tetapi juga di pikiran saya.
Tapi, ya, begitulah. Ada banyak hal yang perlu ditata dan dipertimbangkan. Hemm, saya juga sempat bertemu teman SD di faskes, dan ternyata dia sudah menjadi perawat. Kami sudah banyak berubah, tentu saja. Sudah lebih dari satu dekade sejak masa sekolah dasar. Walaupun beberapa ciri fisik cukup familier dengan ketika masa sekolah, perubahan tetaplah perubahan.
Dan entah mengapa, hal ini relevan dengan tulisan baru Pak Rudi Widiyanto tentang CLBK — btw saya gen Z tapi familier dengan istilah itu lho, Pak Rudi.
Ternyata kehidupan asmara ketika dewasa terasa lebih ekstrem dari olahraga ekstrem itu sendiri. Sama yang lebih tua, katanya cintanya habis di orang lama dan berdalih punya segudang trauma. Sama yang lebih muda, berondong, fasenya sedang berbeda. Sama yang seumuran, dalihnya fokus ini itu, sudah punya pasangan, tidak cocok, atau sejenisnya.
Ya, mungkin itu yang menjadi alasan semakin banyak orang mengikuti race dan mencoba berbagai cabor.
Ah, saya sudah lebih baik rasanya sekarang.
Bagaimana cerita kalian?
메타데이터
- post_id
- f7b4be19a485
- slug
- hai-apa-kabar-f7b4be19a485
- url
- https://medium.com/heart-sanctum/hai-apa-kabar-f7b4be19a485
- canonical_url
- https://medium.com/heart-sanctum/hai-apa-kabar-f7b4be19a485
- author_url
- https://medium.com/@karuniasafitri17
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 01:22:44