← Back to list

Di Antara Langkah dan Langit Gunung Merbabu

Kericuhan unjuk rasa yang sudah terjadi selama beberapa hari terakhir membuat saya resah. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mendaki…

Nurul Amanda · 2026-01-13 01:03 · 0 claps · 4.7 min read
#cerita #merbabu #jogja
Open on Medium ↗

Di Antara Langkah dan Langit Gunung Merbabu

Kericuhan unjuk rasa yang sudah terjadi selama beberapa hari terakhir membuat saya resah. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mendaki Gunung Merbabu melalui Jalur Pendakian Suwanting dengan harapan bisa menenangkan diri dari hiruk pikuk demokrasi Indonesia. Gunung Merbabu adalah gunung tercantik yang masuk dalam salah satu list gunung yang harus saya daki sebelum saya mati.

Pada tanggal 30 Agustus 2024 akhirnya saya berangkat. Dengan persiapan yang kurang maksimal, tim pendakian dibagi menjadi 2 tim dengan titik kumpul Basecamp Suwanting Gunung Merbabu. Tim pertama berangkat dari Tangerang dengan jumlah 4 orang dan tim kedua berangkat dari Yogyakarta dengan jumlah 3 orang. saya berangkat dari Yogyakarta menuju Magelang dengan dua teman pendakian menggunakan motor yang sudah disewa sebelumnya.

Langkah Awal

Perjalanan dimulai pada pagi hari, udara Jogja yang sejuk pada saat itu membuat saya sedikit tenang setelah kericuhan unjuk rasa semalam, meskipun aksi demonstrasi di Yogyakarta menerapkan aksi damai, tetapi di sebagian wilayah Indonesia mengalami kericuhan, hal itu membuat perhatian saya selama beberapa terakhir ini. Lamunan saya buyar, pemandangan di depan sana sangat memanjakan mata, sungguh, indah sekali.

Jalan Garon, Banyuroto, Kab. Magelang

Jalan Garon, Banyuroto, Kab. Magelang

Setelah menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan, saya dan teman-teman akhirnya sampai di Basecamp Pendakian Gunung Merbabu Jalur Suwanting. Jalur Suwanting digadang-gadang sebagai salah satu jalur pendakian Gunung Merbabu yang sangat menyiksa kaki. Tidak ada keraguan dalam diri saya, saya sangat percaya diri dan yakin bahwa saya bisa menaklukkan jalur ini.

Dimulainya Pendakian

Tidak membutuhkan waktu lama untuk packing ulang dan pembagian tugas dalam logistik, keril yang saya pakai memiliki kapasitas yang pas untuk membawa air 1,5 lt air dengan jumlah 3 botol air mineral, 2 botol air mineral dengan kapasitas 600 ml, dan sisanya teman-teman saya yang membawa peralatan kelompok. Pendakian akhirnya dimulai. Diawali dengan menyewa tukang ojek yang mengantar saya dan teman-teman sampai pos simaksi untuk registrasi pendakian. Tak lama kemudian, langkah kaki kami benar-benar sudah masuk ke dalam Jalur Pendakian Suwanting.

Matahari yang terik dengan jalur yang ekstrim bukanlah hal yang mudah, banyak pendaki di jalur ini yang menyerah dan kembali untuk turun ke basecamp. Namun, tidak dengan saya, saya masih berpegang teguh dengan tujuan awal saya, mencari ketenangan untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk demokrasi Indonesia.

Jalur Pendakian Suwanting

Jalur Pendakian Suwanting

Berjalan berjam-jam dengan tanjakan yang curam membuat energi saya habis. Minum dan memakan makanan ringan di saku sudah tidak bisa lagi menahan rasa lapar yang sudah melanda sejak tadi. Sampai di Pos 3 Dampo Awang, kami memutuskan untuk memasak mie dengan harapan bisa mengganjal lapar sampai di Sunrise Camp Suwanting.

Pos 3 Dempo Awang

Pos 3 Dempo Awang

Langkah semakin berat, jalur semakin curam, langit semakin gelap, kabut semakin tebal, stok air semakin menipis, udara semakin dingin, dan Sunrise Camp belum juga muncul, saya bertanya-tanya, untuk apa saya mendaki sampai sejauh ini? mana ketenangan yang saya harapkan? mental saya goyah, saya menyerah, saya ingin pulang, cukup sampai di sini saja.

Semesta sepertinya tahu isi hati saya, di depan sana terlihat Pos Mata Air dengan lahan yang terbuka, langkah kaki saya semakin cepat, kabut mulai menghilang dan saya berhenti, di kejauhan sana, terlihat senja ditemani dengan bulan yang sedang menampakkan diri, air mata saya hampir jatuh. Kami memutuskan untuk beristirahat sebentar untuk mengisi air dan memakai jaket agar udara dingin tidak menusuk ke dalam tubuh. Semangat saya sedikit terisi dan sepertinya saya harus melanjutkan perjalanan ini.

Pos Mata Air Jalur Suwanting

Pos Mata Air Jalur Suwanting

Pos Mata Air Jalur Suwanting

Tidak jauh dari Pos Mata Air, kami sampai di Sunrise Camp tepat pukul 6 petang. Suhu semakin menurun dan tidak banyak percakapan yang dilontarkan. Kami segera mendirikan tenda dan bergantian untuk mengganti baju yang hangat dengan tujuan menjaga suhu tubuh agar tidak terkena hipotermia. Setelah itu, makan malam dibuat dan disantap bersama-sama.

Teman-teman saya memilih tidur untuk mempersiapkan summit besok pagi. Berbeda dengan saya, saya memilih keluar dari tenda dan mencari ketenangan yang masih saya cari-cari. Salah satu teman menemani saya berkeliling area camp. sampai di ujung camp, kami memutuskan untuk berhenti dan berbincang-bincang. City light terlihat indah di bawah sana. Namun, sampai akhir obrolan pun ketenangan belum juga kunjung datang dan kami memutuskan untuk kembali ke dalam tenda.

Sunrise Camp Jalur Suwanting

Sunrise Camp Jalur Suwanting

Pagi datang begitu cepat dan mata saya tidak kunjung tertutup. Satu-persatu dari teman saya bangun, mereka bersiap-siap untuk perjalanan ke puncak dan membawa tas kecil yang berisi makanan ringan serta bekal masing-masing

Perjalanan Akhir

Perjalanan ke puncak pun dimulai. Penglihatan yang terbatas bermodalkan cahaya headlamp, udara pagi yang menusuk kulit, dan jalur yang semakin curam membuat pertanyaan itu muncul kembali, untuk apa saya harus jauh-jauh mencari ketenangan di sini? Kenapa saya tidak memilih untuk tidur saja di tenda?

Lagi-lagi semesta seperti tahu apa yang sedang saya pikirkan. Dari belakang, terdengar teman saya berteriak menyuruh saya untuk berbalik melihat ke belakang. Setelah saya berbalik, saya terkejut melihat indahnya pemandangan di depan saya. Merapi menunjukkan kegagahannya dan mengeluarkan asap tipis dari aktivitas vulkanik gunung tersebut.

Perjalanan Menuju Summit Jalur Suwanting

Perjalanan Menuju Summit Jalur Suwanting

Harapan muncul kembali, pencarian ketenangan dilanjutkan. Semakin naik, semakin cantik pemandangan yang disuguhkan, hal itu membuat saya bersemangat untuk segera menemukannya. Sampai akhirnya, saya sampai di Puncak Suwanting dan yap, ketenangan itu datang setelah melihat keindahan di depan saya. Saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan.

Puncak Suwanting

Puncak Suwanting

Saya berhenti untuk tidak melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi Gunung Merbabu (Puncak Triangulasi) karena dari awal, puncak tertinggi Gunung Merbabu bukanlah tujuan awal saya.

Rasa kantuk mulai menyerbu, saya memilih untuk tidur di pinggir jalur pendakian sembari menunggu teman-teman saya turun dari Puncak tertinggi Gunung Merbabu (Puncak Triangulasi).

Puncak Suwanting

Puncak Suwanting

Pendakian bukan sekadar menaklukkan puncak gunung, melainkan menaklukkan keraguan di dalam diri sendiri. Saya berangkat membawa keresahan tentang negara dan pulang membawa kedamaian dalam diri saya sendiri. Setelah pendakian ini, saya merasa lebih tenang untuk menghadapi situasi demokrasi di Indonesia.


메타데이터
post_id
f7bb243c28dd
slug
di-antara-langkah-dan-langit-gunung-merbabu-f7bb243c28dd
url
https://medium.com/@nurulamanda843/di-antara-langkah-dan-langit-gunung-merbabu-f7bb243c28dd
canonical_url
https://medium.com/@nurulamanda843/di-antara-langkah-dan-langit-gunung-merbabu-f7bb243c28dd
author_url
https://medium.com/@nurulamanda843
status
ok
fetched_at
2026-08-16 13:12:23