← Back to list

Gadis Tahanan

Seketika selepas pengumuman nilai ujian SMA, aku kembali ke rumah menuju bapak dan ibuk yang sudah menungguku dengan harapan nilaiku dapat…

Vandi · 2021-09-29 05:59 · 0 claps · 5.7 min read
#gadistahanan #prosa #cerpen #jalang #prostitusi
Open on Medium ↗

Gadis Tahanan

Seketika selepas pengumuman nilai ujian SMA, aku kembali ke rumah menuju bapak dan ibuk yang sudah menungguku dengan harapan nilaiku dapat memenuhiperguruan tinggi. Tapi ada yang dibingungkan dari kedua orang tuaku masalah kepergianku nanti. “mir, bagaimana nilaimu? Bagus kan?” “tentunya bagus dong buk, kan anaknya bapak!” kata yang pertama terucap dari mereka. Aku dengan santainya menjawab “bagus buk Alhamdulillah 3 besar disekolahan” mereka sangat bangga dengan apa yang kucapai. Mana mungkin aku tega berjauhan dengan orang tuaku sedangkan aku selalu ketergantungan pada mereka. Aku adalah Mira remaja 17 tahun yang masih mereka anggap bocah 7 tahun. Sejak kecil aku bisa dibilang aku adalah anak yang manja dan anak rumahan berbeda dengan anak-anak lainnya di desa di kota Purwokerto yang masih suka bermain-main dengan kawan sebayanya namun aku lebih memilih dirumah menulis puisi dan melukis.

Beberapa karyaku sudah banyak dipublish di Koran-koran salah satunya adalah karya cerpenku yang dipublish Koran Jawapos harian. Aku ingat kala itu bapak dan ibuk sangat bangga denganku di usiaku yang masih remaja yang kala itu baru saja masuk bangku SMA. Dengan kesendirianku aku masih bisa berkarya dan banyak beberapa temanku mendekatiku karena karyaku ada juga temanku yang memintaku membuatkan puisi untuk pacarnya dan menggantinya dengan traktiran makan dikantin SMA. Selepas masa SMA ku yang lumayan mengasikan aku mulai menata untuk hidupku selanjutnya. Ibuk dan bapak sepertinya belum bisa menerimaku pergi jauh aku pun masih saja kekanak-kanakan ibarat kura-kura dalam tempurung. Aku tetap memutuskan untuk pergi ke Jogjakarta dan melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi di Jogja. Ibuk dan bapak pun merestui meski biayanya cukup mahal sedangkan bapak adalah buruh pabrik dan ibuk adalah wanita yang sedari kecil menjagaku dan seorang adik laki-lakiku.

Kelak akan kubuktikan bahwa aku bisa sukses dan membuat keluargaku terangkat dari hinaan-hinaan para tetangga. Esok hari setelah burung hantu tertidur dan bulan mulai memejamkan matanya aku berangkat menuju perantauanku diantar bapak dan ibuk ke stasiun kereta sedangkan adikku seperti biasa tidak ikut karena sedang tanding sepak bola. “Pak, Buk. Kulo pamit, doaken Mira sukses nggih” kataku. Namun mereka hanya bisa memelukku tanpa ada satu kata terucappun. Aku mengerti perasaan mereka ketika melepas seekor burung pertamanya yang akan terbang kealam bebas, mengadu nasib sendirian dan selalu menunggu berita kepulangan. Ketika langkahku mulai jauh dan ibuk kembali mengejarku seakaan-akan ingin melepaskan pelukan terakhirnya sebelum aku menjamu perantauanku. Pelukannya terasa sangat hangat aku bisa merasakan ketidak-tulusan ibuk melepasku, aku membalasnya dengan pelukan yang tulus agar ibuk percaya bahwa anaknya tidak sedang main-main di Jogja. Setelah itu aku melanjutkan langkahku karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan melambaikan tangan lewat kaca kereta yang mulai melaju.

Seiring waktu berjalan kereta pun tiba di kota Jogjakarta, lalu aku menuju tempat kos yang sudah kupesan pas setelah pengumuman nilai keluar. Beberapa minggu kemudian aku mulai masuk kuliah dan sebelum-sebelumnya cuma mengurus biaya dan persyaratan lainnya. Seperti perihal kesukaanku aku mengambil jurusan sastra di kampusku. Dan kali ini tidak akan ada yang mentraktirku dikantin lagi karena kubuatkan puisi. Beberapa temanku yang baru terlihat sama sepertiku lebih suka menulis daripada banyak omongnya. Aku merasa cocok dengan kehidupanku dikampus. Dan aku merasa ingin melanjutkan jejak-jejak seniorku yang hilang pasca tragedi ’98 menjadi penulis, dengan tulisan bisa mengubah sistem suatu negara. Semangatku membara ketika baru saja menjadi maba (Mahasiswa Baru).

Kehidupan yang cukup nyantai di kota ini membuatku ingin berjalan-jalan ketika malam hari, aku meminta ijin kepada bapak kos dan sekaligus membayar uang bulanan. “Pak, saya mau cari angin dulu. Ini uang kosan bulan ini.” “oh iya silakan dik Mira, jangan lupa kunci pintu pagarya.” Katanya sambil matanya melotot kearah payudaraku, namun ketika aku pergi melewati pagar matanya bergantian melotot kearah bokongku. Tapi tak kuhiraukan sama sekali kuanggap ia lelaki yang sudah lama menduda. Lelaki itu kerap mondar-mandir dikosan sambil clingak-clinguk diantara beberapa kamar,namun sepertinya ia baik. Tugu 0 kilometer adalah tujuanku berjalan-jalan kali ini. Setibanya disana banyak orang berfoto ria dan melunturkan moodku yang langsung mengganti arah ke jalanan Malioboro lalu duduk di bawah pohon rindang melihat orang-orang lalu-lalang kunyalakan sebatang rokok dan menikmati jalanan ini. Beberapa menit kemudian datang lelaki muda dengan pakaian yang nyentrik.

“jual berapa mbak?”

seraya mengagetkanku, aku berdiri sambil menyaut pertanyaannya.

“gila! aku bukan jablay!”

“oh, maaf mbak saya kira anda seorang jablay.” Katanya.

“meski saya berpakaian seperti ini dan menyalakan rokok tapi jangan anggap saya seorang jablay.” Sahutku lagi.

“iya saya tahu, sekali lagi maaf kan saya, sudah kurang ajar sama anda.”

Dari perkataannya terakhir aku tidak tahu mengapa bisa memaafkannya dan malam itu obrolan kami berlanjut sampai larut lalu berujung tukar nomor telepon, yang nomor teleponnya kunamai Idris ponsel.

Seiring waktu berjalan aku dan Idris kian dekat juga perkuliahanku berjalan cukup cepat tidak terasa sudah menginjak semester empat. Disini aku mulai mengalami masalah dengan kehidupanku, kebosanan kuliah dan terus terang aku ingin mencari biaya tambahan mengingat biaya pribadi yang membeludak. Seakan takdir memanggil namaku, bapak kos yang biasanya matanya jelalatan menawariku pekerjaan ketika ku bayar uang kosan padanya. “Dik Mira ingin kuliah saja? Ndak ingin sambil kerja ya? Kalo ingin bapak ada kenalan.” “Oh ya pingin toh pak, memang kerjanya apa pak?” balasku langsung. “Sudah kerjanya enak kok ndak susah, nanti malam saja dik Mira siap-siap ikut saya” “Oh ya, jangan panggil saya pak terus. Panggil Bang Jek saja, disini semuanya juga panggil gitu” tambahnya lagi. “Baik Bang Jek.” Sudah kukira orang ini memang benar-benar baik. Malam harinya pun aku pergi bersama Bang Jek menuju tempat dimana aku akan bekerja.

Tiba disebuah gang-gang kecil seperti warung yang ada didalam rumah hanya saja remang-remang. “Meki delivery.” Bisik Bang Jek kepada seseorang yang sudah menunggunya. Aku masih duduk sambil menyedot rokokku yang baru saja bercumbu dengan korek api, tak lama kemudian datang seorang lelaki muda dan berkata “Boleh minta tolong temani saya?” akupun meng iyakan permintaannya. Lalu mengikutinya pergi kedalam ruangan-ruangan yang ada dalam rumah itu, kukira aku bekerja sebagai penjaga kedai kopi ternyata aku diperdaya, penisnya masuk keselah-selah selangkanganku. Malam itu adalah malam yang buruk, aku tidak bisa melawan. Kini keperawananku sudah hilang, yang sudah lama kusiapkan untuk suamiku nanti. Esok harinya Bang Jek memberiku uang segepok, dan berkata “Jika nanti malam kamu kerja lagi, kamu tidak perlu bingung untuk biayamu di kota ini.” “Setan! Anjing!” gumamku menyesal. Beberapa waktu yang lalu aku diteriaki jablay dan aku melawan, tapi kini? Hubunganku dan Idris kian dekat, di era 2000-an ini memang banyak jablay yang tidak ingin disebut dirinya jablay.

Aku dan Idris melakukan kencan di sabtu malam tepat dimana aku dan ia bertemu. Seiring kedekatanku yang semakin serius ia pun menembakku ditempat itu. Sebenarnya aku merasa kasihan dengannya berpacaran dengan seseorang yang sudah tidak perawan. Tapi aku sudah merasa nyaman dengannya dan pekerjaanku saat ini. Entah bagaimana aku mengabari Bapak dan Ibuk bahwa anaknya sekarang berprofesi sebagai jablay, semoga ketidaktahuan mereka akan abadi. Benar-benar nagih kerjaan ini, lama-kelamaan aku menikmati kesalahanku sendiri toh menangis lama-lama buat apa juga.

Selepas hari jadiku dengan Idris aku selalu beralasan sudah tertidur ketika aku menjadi kupu-kupu malam, beberapa rekan kerjaku juga seperti itu kepada pacarnya. Seperti Ranti yang ternyata ia juga mahasiswa yang sekampus denganku hanya saja ia terjun lebih lama daripada aku “Hey juniorku, dari mana saja jam segini baru datang?” candanya. “Sedang ada orderan jalan.” Jawabku sambil cengengesan. Malam-malam pun kulewati melalui selangkangan-selangkangan yang berkecamuk tiap malam. Aku sudah berkomitmen akan menekuni dunia ini sampai aku benar-benar mati dan hidup kembali. Sialnya malam itu pelangganku sendiri adalah pacarku. Idris ternyata sudah berlangganan di panti ini dan sudah lama ia tidak pernah kesini. Ketika aku memasuki kamar, aku dan Idris sama-sama kaget karena tidak saling tahu. Disaat itu juga Idris marah besar padaku tetapi pada saat itu ia tetap menyetubuhiku. Kemarahannya sangat terlihat ketika ia memasukkan penisnya ke sela-sela selangkanganku dengan kasar, ia pun mencekikku dan berkata “Kalau memang jablay, teriak saja jablay! Sampah!” “Jangan sekali-sekali kau hina jablay, diselangkanganku tumbuh benih-benih sepertimu!” balasku. Dan ia pun pergi seraya melemparkan uangnya padaku.

Apes sekali malam itu, tetapi aku merasa lega karena sudah tidak ada yang kutakutkan lagi. Idris pun tidak pernah keihatan sama sekali setelah kejadian itu mungkin ia sedang terpuruk dan sedang sibuk dengan jablay-jablay yang lainnya atau sedang menghukum dirinya dengan memotong alat kelaminnya. Mau bagaimana lagi aku adalah gadis tahanan dalam ruang petak ini.

Setelah kejadian itu aku teringat orang tuaku di desa, aku memberi kabar pada ibuk dan bapak lewat pesan singkat. “Pak, Buk. Mira sudah dapat kerjaan di Bank dan biaya kuliah Mira akan Mira tanggung sendiri. Mira pasti pulang tapi belum tahu kapan karena nasabah Mira banyak yang harus dilayani.” Toh tidak sia-sia juga aku kuliah jurusan sastra bisa membuat analogi sebagus ini.


메타데이터
post_id
f7db6ee3f147
slug
gadis-tahanan-f7db6ee3f147
url
https://medium.com/@Ivandilaksana/gadis-tahanan-f7db6ee3f147
canonical_url
https://medium.com/@Ivandilaksana/gadis-tahanan-f7db6ee3f147
author_url
https://medium.com/@Ivandilaksana
status
ok
fetched_at
2026-07-27 23:02:56