Satu-satunya yang Ibu Sayang
“Kak,” panggil Angela pada Elrina yang sedang menyeruput teh lemon hangatnya itu.

Satu-satunya yang Ibu Sayang
“Kak,” panggil Angela pada Elrina yang sedang menyeruput teh lemon hangatnya itu.
“Apaan?” sahut Elrina yang sekarang sudah beralih sibuk membaca laporan dari tabletnya.
“Lo udah ngomong ke Juna gak sih kalo kita pergi ke Lombok dadakan?” tanya Angela memastikan pasalnya, feelingnya bersugesti tidak begitu baik. Elrina diam terlalu fokus pada tabletnya. Angela jengah karena diabaikan. “Kak El!” suara Angela naik satu oktaf agar Elrina menotisnya.
“Eh, maaf, maaf … gimana, Ngel?”
“Lo tuh kerjaan terus yang diutamain. Anak lo gimana? Gila, jahat banget lo sampe ngabaiin anak sendiri,” sungut Angela setengah kesal.
Elrina menaruh tablet di meja lipat seatnya lalu memfokuskan diri pada Angela yang berstatus sebagai sekretaris di kantornya. Ibu satu putra itu menghembuskan napasnya sejenak lalu berkata, “Nih ya, Ngel, anak gue udah gede. Bukan anak SMA yang umurnya tujuh belas tahun. Dia udah gede, mau skripsian, udah otewe semester akhir, apalagi gue udah mendidik dia supaya gak terlalu bergantung dengan orang lain kecuali gue, sih. My son grows up so well. Gue mantau perkembangannya terus kok. Tenang ajalah.”
“Bisa ya lo ngomong enteng kaya gini, Kak,” Angela sungguh tidak percaya dengan apa yang diucapkan Elrina baru saja. Bukan Elrina seperti biasanya. “Otak lo bisa mikir gak sih, Kak? Juna itu masih butuh lo. Gak peduli dia mau semester terakhir kek, mau skripsian kek, dia cuman butuh lo. Lo sinting ya pergi kaya gini gak ngabarin anak lo?” Angela ngegas sanking jengkelnya kepada Elrina.
Wanita yang kepalanya ditutupi oleh bucket hat itu terdiam. Ia merasa janggal dengan apa yang ia rasakan ditambah ultimatum dari Angela. Terasa tercubit hatinya mendengar pernyataan Angela.
“Diem lo?” sarkas Angela. “Gue gak percaya lo kaya gini, Kak. Feels … it’s not you like before. Bangun! Inget, ada Juna yang nunggu lo.”
Elrina tersadar lalu mengeluarkan ponsel dari tasnya. Segera ia menghubungi putra semata wayangnya tetapi ia tidak mendapatkan balasan apapun. Nihil, putra tersayangnya telah mengabaikannya: Elrina menyesal.
“Sorry gue udah ngomong kasar baru aja, Kak,” kata Angela yang terdengar menyesal juga karena telah berkata yang tidak mengenakkan kepada Elrina.
Kepala Elrina menggeleng keras tidak menampik setiap kata yang Angela utarakan itu benar semua. “Juna satu-satunya yang gue punya saat ini. G-gue … ibu yang buruk,” lirihnya.
“No!” Angela tidak terima dengan Elrina yang menyalahkan dirinya sendiri. “Ada saatnya semua orang tua khilaf dengan apa yang mereka lakukan ke anak mereka tapi jangan selalu nyalahin diri sendiri itu juga gak bener, Kak. Lo boleh nyesel tapi berusahalah untuk memperbaiki. Juna is your son, your one and only.”
Elrina merasa dirinya buruk, ingin sekali ia menangis tetapi entah kenapa tidak bisa. Apa dia terlalu jahat kepada putranya? Ya, itu benar sekali.
“Stop to judging yourself itu gak akan menyelesaikan segalanya, Kak, kalo kita udah landing lo kabarin Juna secepetnya.”
“Oke. Thanks, Ngel.”
Benar saja, setelah pesawat yang ditumpangi Elrina dan Angela landing di Bandara Internasional Lombok, Elrina segera menghubungi Arjuna tetapi suara operator yang selalu menjawab teleponnya. Hati ibu mana yang tidak perih? Ingin rasanya ia pulang lalu memeluk putranya yang tinggi badannya semakin menjulang itu di rumah.
Ini semua salahnya, kenapa harus menganggap enteng putranya yang telah tumbuh? Seharusnya ia tidak boleh egois. Menomor satukan pekerjaan dibandingkan putra semata wayangnya yang membutuhkannya. Elrina merasa bodoh, sangat bodoh.
Sehari hampir berlalu tetapi Arjuna tidak kunjung merespon telepon maupun pesan yang Elrina kirimkan. It is a big disaster among them. Keegoisan yang menyebabkan bencana ini sehingga muncullah penyesalan di akhir.
Elrina kalut meski ia harus menghadiri beberapa meeting penting dengan para kolega yang telah mengundangnya. Namun, Elrina Heriza tetaplah Elrina Heriza berusaha mengenyampingkan masalah pribadi sejenak dengan fokusnya terhadap pekerjaan. Angela yang paham kekalutan ibu manajernya ini juga turut membantu meredam kekalutan Elrina meski keberhasilannya amatlah kecil.
makasih sudah membaca! maaf kalau kurang memuaskan. semoga ada sedikit pesan yang bisa kalian ambil dari tulisan ini ya.
boleh kasih kritik dan sarannya melalui dm twitter @.eyespirin atau wattpad: appetitae 🌻
메타데이터
- post_id
- f7e415a187ec
- slug
- satu-satunya-yang-ibu-sayang-f7e415a187ec
- url
- https://medium.com/@eyespirin/satu-satunya-yang-ibu-sayang-f7e415a187ec
- canonical_url
- https://medium.com/@eyespirin/satu-satunya-yang-ibu-sayang-f7e415a187ec
- author_url
- https://medium.com/@eyespirin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 12:13:18