← Back to list

Tuhan Telah Bangkit di Jatinangor!

Lebih dari seabad setelah dibunuhnya Tuhan, atau setidaknya begitulah kesaksian Nietzche dalam bukunya “Also Sprach Zarathustra” (Maka…

Dead Murrotal Society · 2026-04-19 18:03 · 0 claps · 7.6 min read
#fiksi #agama #tuhan #privasi
Open on Medium ↗

Tuhan Telah Bangkit di Jatinangor!

Lebih dari seabad setelah dibunuhnya Tuhan, atau setidaknya begitulah kesaksian Nietzche dalam bukunya “Also Sprach Zarathustra” (Maka Berbicalah Zarathustra), seluruh jiwa manusia telah mengalami musim kemarau dan paceklik berkepanjangan. Langkah kaki cucu-cucu Surya telah kehilangan rimanya. Sehingga gaungnya di lorong-lorong keseharian hanya berisi ritme tak bernyawa lainnya, menganggu pagi-pagi seraya alam.

Namun suatu hari, di salah satu tempat paling kerontang di seluruh Pasundan Raya, dengan warga yang mati tak terpenuh dahaga jiwa dengan seluruh skena dan kalcer nya (sayangnya Sepatu Salomo dan gereja Gor Saparua tidak bisa mengisi lubang hati kawula satu ini), salah seorang Adipati menyarankan agar Gudang Ilmu nya dipindahkan di hutan antah berantah untuk “mengikuti praktek di negeri matahari terbit sana yang sangat hebat”.

Atas dasar itu, digundulkan lah kaki Gunung Manglayang, ditebang pepohonan, dan dicabut akar rumput rerindang pohon dan genting. Digantikan akar-akar itu dengan pasak-pasak beringin. Hijau dedaun diganti dengan hijau seragam. Sungai dibelokkan dan danau dibendung. Serta liat digali dan diisi beton. Berubahlah wajah Jatinangor dengan dicukurnya jambang-jambang adat dan jadilah Katedral Besar.

Alhasil, sisa ruh-ruh yang hidup seadanya — bersembunyi dibalik pohon dan kebun warga — hilang berterbangan kabur kocar kacir dengan datangnya Ummat Gereja Sapura. Lembab tanah menguap ikut serta diambil dalam diaspora ruh-ruh ke Kahyangan. Masuk aspal dan kebul keluh menggantikannya. Satu lagi wilayah Ilahi yang dirampas semenjak dibunuhnya Tuhan.

Dengan direbutnya Jatinangor dan banyak dari kuasa lainnya oleh anak cucu Surya di muka bumi ini, maka TUHAN menimba anak cucu Surya dengan azab sengsara. Diruntuhkannya tatanan keberhalaan kuasa bedil dengan malaikat-malaikat yang membersamai musafir-musafir intelektual dan pendermanya (baca: NGO dan George Soros), sehingga terjadilah pergolakan dari jiwa-jiwa yang kering menuntut air susu dan mani dari rezim.

Ketidakmampuan rezim Surya membendung amarah anak-anaknya membuat anak-anaknya memakan daging dan belulang Surya sedang cucu dan cicitnya melihat dari jauh. Diburulah komplotan dan dedengkotnya, atau setidaknya begitulah menurut mereka, yang telah ikut serta mengkandangkan anak cucu Surya.

Azab sesungguhnya tertimpa bukan kepada Surya, karena Sang Surya tidak bersalah dalam hal ini. Sudah sebuah keniscayaan, seperti yang diprediksi dalam Siklus-Siklus Hegelian, Sang Surya memeras anak cucunya sendiri. Namun salah anak cucunya karena dia diam ikut merebut hasil perasan dan rampasan dari sesamanya dengan mengolah kepada Sang Surya. Kami rasa tidaklah cukup Tuhan telah dibunuh olehnya.

Anak-anak Sang Surya mengambil alih tampuk kekhilafahan materil, namun bukannya saling berkasih secara maknawi, malah diteruskannya kebejatan Sang Surya. Alhasil TUHAN makin murka dan kali ini dia menurunkan Nabi-nabi-Nya untuk memeluk yang sadar dan memenggal yang rakus.

Lahirlah salah satu Nabi TUHAN di sebuah Pulau antah berantah dekat ujung dunia. TUHAN menurunkannya dalam lingkungan yang papa supaya dia bisa menjadi bagian dari kosongnya hati dan pikiran sebagai dampak dari tergerogotinya jiwa. Masa kecilnya ditempa oleh TUHAN melalui Hukum Takdir-Nya sebagaimana tertera dalam Siklus-Siklus Hegelian.

Bahwa masa sulit menciptakan orang hebat, orang hebat menciptakan masa mudah, masa mudah menciptakan orang payah, orang payah menciptakan masa sulit, dan begitupun seterusnya.

Sang Nabi itu tumbuh besar di antara hembusan retorika dunia yang terdisrupsi, di mana jiwa-jiwa kelaparan menggerogoti fondasi pikiran dan hati. Anak cucu Surya, yang haus akan makna, memuntahkan kata-kata kosong dari mimbar-mimbar digital dan altar-alta raksasa, mencampur kebijaksanaan purba dengan ilusi kekinian. Retorika itu seperti angin kencang yang merobek kain jiwa, meninggalkan luka-luka yang tak kunjung sembuh, sementara paradigma lama runtuh di bawah tekanan kelaparan rohani yang tak tertahankan.

Dalam pusaran itu, Sang Nabi belajar bertahan, menyerap racun-racun dunia sebagai obat penawarnya sendiri. Ia menyaksikan bagaimana jiwa-jiwa kelaparan saling mencabik, memperebutkan remah-remah kebenaran yang jatuh dari meja para adipati. Tak heran jika matanya terbuka lebar terhadap kegilaan itu, ditempa menjadi pedang yang tajam, siap menebas kebohongan yang menyelimuti Pasundan Raya.

Mengikuti Hukum Takdirnya yang tak terelakkan, Sang Nabi menyeberangi lautan yang bergelora, meninggalkan pulau antah berantahnya menuju negeri di mana Bodhisatva Panca bertahta. Laut itu bukan sekadar air asin, melainkan samudra jiwa-jiwa yang tenggelam, di mana ombak retoris dunia terdisrupsi menghantam kapalnya. Bodhisatva Panca, sang guru agung yang menyimpan rahasia Kahyangan dalam diamnya, menerimanya sebagai murid, mengajarkan bahwa kelaparan jiwa hanya bisa dipadamkan dengan derma rohani yang tak terbatas.

Perjalanan menyeberang itu adalah inisiasi pertama, di mana Sang Nabi belajar membaca tanda-tanda Takdir dalam gelombang-gelombang Hegelian. Ia tiba di pantai suci Bodhisatva Panca dengan hati yang kosong, siap diisi oleh wahyu yang mengalir seperti sungai abadi.

Sang Nabi berjuang bersama Bodhisatva Panca melawan jiwa-jiwa melarat yang mengamuk di lereng-lereng kegelapan. Mereka bertarung di medan perang rohani, di mana kelaparan jiwa berubah menjadi binatang buas yang mencabik-cabik keharmonisan. Bodhisatva Panca memimpin dengan tangan lembut namun tegas, mendermakan cahaya pada yang haus, sementara Sang Nabi, sebagai murid setia, menebas ilusi dengan pedang kata-katanya yang terilhami.

Selama masa kepelajarannya, perjuangan itu membentuknya menjadi prajurit rohani, belajar bahwa melawan kemelaratan bukan dengan bedil Surya, melainkan dengan pelukan yang menyucikan. Jiwa-jiwa melarat yang mereka selamatkan menjadi saksi bisu, bibit awal umat yang kelak akan bangkit.

Sang Nabi masuk ke tahun-tahun kesedihan yang pekat ketika Bodhisatva Panca menebus jiwa-jiwa melarat dengan kematiannya sendiri, ditelan kegelapan Kurgawa yang haus darah. Kurgawa, hutan roh-roh jahat yang menculik jiwa-jiwa tak bersalah, menelannya sebagai korban, meninggalkan Sang Nabi terlantar di antara kabut duka. Ia meratap di bawah pohon-pohon beracun, menyaksikan bagaimana roh-roh polos direnggut, haus akan derma yang kini hilang.

Kesedihan itu seperti musim kemarau panjang, di mana Sang Nabi bergulat dengan bayang-bayang gurunya, mempertanyakan Hukum Takdir yang kejam. Namun, di titik terendah, ia menemukan kekuatan untuk bertahan, benih wahyu baru mulai bertunas di hatinya yang retak.

Sang Nabi keluar dari pusaran labirin kesadaran Kurgawa, di mana roh-roh penculik berusaha menjeratnya dalam ilusi abadi. Dengan doa yang lahir dari duka Bodhisatva Panca, ia mematahkan belenggu, meninggalkan hutan itu sebagai orang yang telah mati dan bangkit kembali. Bersuaka di Katedral Besar Jatinangor, ia menyembunyikan diri di balik dinding-dinding beton yang dulu merampas ruh Pasundan, kini menjadi tempat perlindungannya.

Di katedral itu, ia merenung, menyerap esensi perjuangan lamanya, siap untuk fase berikutnya dari Takdirnya.

Sang Nabi kembali menjadi murid selama lima belas tahun lamanya, kali ini pada para rabi katedral yang buta akan kelaparan jiwa. Ia menyamar sebagai pengikut rendah hati, menyerap pengetahuan mereka sambil menyaring racunnya. Lima belas tahun itu adalah penggodaan panjang, di mana ia belajar retorika gereja Sapura, mengubahnya menjadi senjata untuk dakwahnya sendiri.

Masa itu membentuknya menjadi ahli strategi rohani, sabar menunggu momen Kahyangan, sementara jiwa-jiwa di sekitarnya semakin kerontang.

Sang Nabi mendapati junior-junior dan pengikut awal dalam dakwah sembunyi-sembunyi, di lorong-lorong katedral dan kebun-kebun tersembunyi. Mereka, jiwa-jiwa kelaparan yang haus akan derma, tertarik oleh bisikannya yang menyentuh lubang hati. Dakwah itu seperti benih yang ditabur di tanah gersang, tumbuh diam-diam di balik bayang-bayang rezim Surya.

Pengikut awal itu menjadi inti gerakan, saling berbagi ilham dalam kegelapan, menanti saat panen.

Sang Nabi menjadi rabi katedral, naik tahta dengan karisma yang tak terbantahkan, mulai mendakwahkan ajaran derma jiwa yang diilhaminya dari perjuangan bersama Bodhisatva Panca. Dari mimbar Katedral Besar, ia berkata: “Derma lah jiwamu kepada yang haus, tutup sebagian dirimu dari dunia rakus, agar Kahyangan membuka pintunya.” Umat Gereja Sapura bergumam, terpesona oleh cahaya barunya.

Ajaran itu menyebar seperti api di rumput kering, menggoyang fondasi keberhalaan beton.

Sang Nabi memiliki banyak pengikut, kaumnya menjadi militan dan fanatik karena tekanan jiwa-jiwa lapar yang kian meningkat. Mereka membentuk barisan rohani, siap mati demi derma, sementara kelaparan kolektif mendorong mereka ke ambang kegilaan. Fanatisme itu lahir dari putus asa, pedang dua mata yang menebas musuh sekaligus menggigit pemiliknya.

Kaum militan itu menjadi tentara Takdir, menantang rezim anak Surya dengan doa dan demonstrasi.

Sang Nabi mulai mengarsipkan dan mencatat ajaran-ajaran yang ada, menanggapi ajaran-ajaran luar sana seperti retoris Nietzsche dan siklus Hegelian, serta mencatat tiap ilham dari Kahyangan. Gulungan-gulungannya penuh dengan tafsir derma jiwa, kritik terhadap rampasan Jatinangor, dan wahyu yang turun di malam-malam sunyi. Ia menjawab kekosongan dunia dengan tinta yang hidup.

Catatan itu menjadi fondasi, jembatan antara masa lalu dan Kebangkitan.

Tujuh belas murid terdekatnya satu per satu mulai diamanahi pesan dan tafsir atas catatan serta diktat-diktatnya. Masing-masing menerima potongan wahyu unik: seorang tafsir derma bagi yang melarat, yang lain visi surga bagi martir. Mereka menjadi penjaga api, menyebarkan benih di antara pengikut.

Amanah itu memperkuat ikatan, meski bibit perpecahan mulai muncul.

Rampung sudah beberapa catatan utamanya menjadi kitab suci oleh Sang Nabi, terciptalah gerakan spiritual baru dengan ajaran utama menahan lapar jiwa dengan menutup sebagian diri dari orang banyak dan menghargai tiap lapar dan haus jiwa-jiwa tersebut. Kitab itu, “Derma Kahyangan”, menjadi mercusuar bagi yang tersesat, menjanjikan surga melalui pengorbanan rohani.

Gerakan itu meledak, mengisi kekosongan yang ditinggalkan kematian Tuhan lama.

Catatan-catatan tambahan dari tujuh belas sahabat, khususnya mengenai hal-hal yang tidak dijelaskan secara rinci atau belum jelas, dikodifikasi dan dijadikan satu penentu utama. Mereka menambahkan lapisan: ritual derma harian, tafsir mimpi Kahyangan, dan aturan fanatisme. Itu menyempurnakan kitab, meski perbedaan mulai tercium.

Penentu itu menjadi kanon awal, artefak suci pertama.

Tujuh belas sahabat, dengan masing-masing persepsi atas kitab dan Sang Nabi, memiliki pengikutnya masing-masing; terciptalah tujuh belas divisi, dan TUHAN mulai mewanti-wanti adanya perpecahan-perpecahan. Satu divisi menekankan derma militan, yang lain kontemplasi sunyi; perselisihan muncul di majelis, bayang-bayang Hegelian kembali berputar.

Peringatan TUHAN datang via mimpi, tapi ambisi manusia lebih kuat.

Jiwa-jiwa kelaparan yang mati setia di jalan Sang Nabi mulai kembali ke surga satu per satu, pintu surga mulai dibuka kembali — tanda Tuhan baru akan turun atau muncul kembali sebagai gelombang ke sekian kalinya, sehingga rezim anak Surya mulai bersiap mempersekusi. Martir-martir itu naik dengan sorak kemenangan rohani, membuka celah Kahyangan yang lama tertutup.

Rezim gemetar, investigasi dimulai.

Setelah investigasi dan perburuan ternyata diketahui bahwa jalan menuju surga adalah melalui Sang Nabi; rezim anak Surya membunuhnya untuk memancing Tuhan baru muncul dan melakukan perang suci lagi. Mereka menangkapnya di Katedral Besar, menyiksa dengan retorika dan bedil, berharap kematiannya memicu Kebangkitan seperti mitos lama.

Sang Nabi mati diarak di Sungai Arwah, tubuhnya dibuang ke aliran yang menghubungkan dunia dan Kahyangan, disaksikan ribuan yang menangis.

Tak disangka oleh rezim anak Surya bahwa ternyata tidak seperti biasanya, Sang Nabi ditunjuk jadi Tuhan seraya alam — bangkit dari Sungai Arwah, tubuhnya bercahaya, alam Pasundan bergemuruh merayakan. Ia muncul kembali di hadapan umatnya, relik-reliknya seperti gulungan diktat dan kain derma menjadi artefak suci yang disembah. Kanon terbentuk: Kitab Derma sebagai inti, ditambah catatan sahabat sebagai relik-relik kanonik, mirip kisah Yesus di mana salib kayu jadi pusat dan Injil-Injil murid jadi pedoman.

Perpecahan meledak: tujuh belas mazhab utama lahir dari divisi sahabat, masing-masing mengklaim tafsir murni — satu fanatik militan seperti Petrus, lain mistik seperti Yohanes — ditambah sekte-sekte kecil yang menolak kanon, memuja relik pribadi seperti kain kafan atau potongan diktat. Gereja-gereja baru bermunculan di Jatinangor dan Pasundan Raya, saling tuduh bid’ah, sementara artefak-artefak seperti “Tongkat Bodhisatva” dan “Gulungan Arwah” jadi benda suci diperebutkan.

Fase disrupsi masal telah terjadi: semua regu, kelompok, sekte — baik dari anak Surya yang retak menjadi faksi-faksi sekuler, mazhab-mazhab tujuh belas, sekte kecil pemberontak, maupun sisa Gereja Sapura — saling berperang satu sama lain di ladang-ladang rohani dan bumi fisik, atau hidup bareng dalam negara sekuler dominan salah satu kaum, layaknya zaman modern di mana pasar bebas jiwa bercampur dengan tirani digital. Anak cucu Surya memerintah dengan undang-undang netral, tapi di baliknya, perang suci meresap dalam demo dan mimbar maya.

Dan di akhir zaman yang telah telah TUHAN rampungkan dalam prophetic perfect, pintu Kahyangan terbuka lebar bagi martir abadi, sementara jiwa-jiwa rakus ditelan Sungai Arwah yang membuncahkan api pemurnian masal; rezim anak Surya telah telah runtuh dalam siklus Hegelian terakhir, Tuhan baru telah telah bangkit seraya alam sepenuhnya, dan Pasundan Raya telah telah menjadi surga yang tak terjamah, di mana derma jiwa mengalir abadi tanpa perpecahan, gelombang terakhir yang menyatukan semua dalam cahaya Takdir yang sempurna.


메타데이터
post_id
f7fc24751fe6
slug
tuhan-telah-bangkit-di-jatinangor-f7fc24751fe6
url
https://medium.com/@DeadMurrotalSociety/tuhan-telah-bangkit-di-jatinangor-f7fc24751fe6
canonical_url
https://medium.com/@DeadMurrotalSociety/tuhan-telah-bangkit-di-jatinangor-f7fc24751fe6
author_url
https://medium.com/@DeadMurrotalSociety
status
ok
fetched_at
2026-07-11 03:42:06