What’s Next?
Hari ini seorang pemuda bernama Affan Kurniawan berusia 21 tahun yang sedang bekerja mencari nafkah telah gugur dilindas mobil taktis…
What’s Next?
Hari ini seorang pemuda bernama Affan Kurniawan berusia 21 tahun yang sedang bekerja mencari nafkah telah gugur dilindas mobil taktis Polisi di tengah unjuk rasa perjuangan menyuarakan aspirasi warga Indonesia.
Selain dari kejadian ini tentunya banyak sekali kasus — kasus yang terkait dengan polisi baik yang sudah selesai maupun masih bergulir.
Di ingatan kita masih ada kasus kanjuruhan yang memakan 135 korban.
Penembakan KM 50 Cikampek 6 korban, Penembakan Gamma anak SMK berusia 17 tahun dan dituduh melakukan tawuran.
Udahlah dibunuh lalu diftinah. Well, apa kata yg LEBIH dari kejam?
Gw google (well sorry informasinya cm dari google, but i think it’s already summarized the context), Amnesty International Indonesia mencatat sepanjang tahun 2024 (SAJA). Ada 29 kasus pembunuhan di luar proses hukum yang dilakukan oleh anggota Polri terhadap warga sipil. Lo tau maksudnya di luar proses hukum? yang baru tau kaya gw nih, itu 29 korban semuanya ga diproses secara hukum dulu dan langsung ditembak di tempat atau disiksa atau apapun itu lah sampai kehilangan nyawa.
Ga perlu lah ya gw lanjutin informasi yg bisa kalian cari sendiri dengan mudah hanya dengan google. Kayanya orang normal yang masih punya empati secara sadar pasti akan marah, kesel, meminta pertanggungjawaban yang tidak pernah ada sehingga berakhir meminta POLRI untuk dibubarkan.
Well I’m one of them, that’s for sure. Daripada menunggu mereka untuk berbenah yang udah diomongin sejak jamannya Dai Bachtiar jadi Kapolri ya mending bubarin aja dulu. Minimal ga makan anggaran dari APBN 138 Triliun dulu deh.
Banyak narasi yang gw baca bahwa jangan benci polisinya, jangan marah ke polisinya tapi marah ke pejabat — pejabat yang sementara masyarakat yang unjuk rasa kenaikan tunjangan DPR dibenturkan dengan polisi, pejabat yang “nyuruh” malah kerja WFH dengan nyaman di ruangan ber-AC.
Gini deh, ga ada yg bilang DPR ga salah. Tapi Polri juga punya porsi kesalahan disini, lah Kapolri-nya aja mengakui kesalahannya kok, jadi ga usah minta dikasi simpati, emang kalian salah. Terus kalo salah kan bisa diperbaiki? udah dikasi kesempatan dan waktu yang cukup juga kan? so aspirasi kami bahwa polri harus bubar udah final.
Now we’re talking about DPR.
Hei DPR, kalian tau ga kami — kami ini kesulitan? cari kerja susah, buat makan susah, buat berobat susah. Bahkan berita terakhir yang gw denger (iya ini berita terakhir krn gw udh ngerasa capek tiap hari dpt berita buruk) balita bernama Raya yang meninggal karena ada 1 Kg cacing di tubuhnya and gabisa berobat karena harus bayar 23 juta. Lah elu joget — joget karena seneng dapet tambahan tunjangan. Dah lah gw rasa banyak yang sepakat sama gw kalo DPR harus dibubarin.
Weits DPR emang bisa dibubarin? Polri bisa dibubarin?
Okey kita coba elaborate dikit — dikit, karena ilmu gw juga dikit. kita mulai dengan apa tugas dan fungsi Polri dan DPR.
Sesuai UU №17 tahun 2014, DPR fungsinya ada 3 yaitu Legislasi, Anggaran dan pengawasan eksekutif dalam hal ini Presiden beserta jajarannya ya.
Anyway, ada argumen yang bilang kalo DPR itu gabisa dibubarin karena salah satu fungsi trias politica jadi ga berjalan which is 3 lembaga yang saling check and balance eksekutif — legislatif — yudikatif. Karena legislatif sebagai perwakilan rakyat (makanya namanya DPR — Dewan perwakilan rakyat) harus ada, kalo ga ada berarti perwakilan rakyat juga ga ada.
WALAUPUN SEKARANG JUGA FUNGSI ITU GA BERJALAN SIH wkwkwkkkk…..
kalo DPR ga ada? siapa yang ngawasin presiden dalam menjalankan pemerintahan? naikin pajak bisa sewaktu — waktu, alokasi APBN bisa sesuka hati, Undang — undang sebagai batasan eksekutif juga ga ada yang bikin dongs. Ibaratnya presiden bisa jadi seorang yang berkuasa penuh dan ga ada yang bilang “Hoi lo udah kelewatan loh”. Kalo argumennya hanya itu (atau lebih ga bermutu dari itu :P) gw ga setuju sepenuhnya.
Why? karena gw setuju perlu ada fungsi check and balance terhadap lembaga eksekutif. Gw ga percaya manusia 100% brow. Power intends to corrupt. Orang kalo dikasi kekuasaan penuh secara psikologis pasti jadi sewenang-wenang, at least sampe skrng yg gw percaya ga begitu ya cuma Rasulullah SAW.
Tapi gw ga percaya fungsi itu hanya bisa dicapai dengan seonggok DPR yang joget — joget kemaren itu. Yaahh akhirnya gw kulik — kulik dongs (again gw emang ilmunya dikit), di Swiss bisa tuh buat Undang — undang yang strategis dibuatnya pake referendum. Dari KBBI, referendum tuh adalah pemungutan suara langsung oleh masyarakat untuk memutuskan isu — isu politik atau legislatif penting. Jaid setiap ada UU yang berpengaruh secara luas ke semua warga, mereka ngambil suara (setuju/menolak).
Kalo ada yang counter argumen dgn bilang “ah kejauhan lu”, okay yang deket — deket deh, itu Singapura ada. Mereka udah ada nuansa teknokrasi di parlemennya, well ga fully teknokrasi. Tapi idenya adalah ada teknokrat yang memiliki fungsi legislatif instead of fully politician. Gw ga bilang di Swiss atau Singapura udah proven works, mereka pasti ada kelemahan — kelemahan pake model begitu. Tapi yang gw mau bilang adalah, ada kok alternatif selain bentuk saat ini yaitu DPR yang terhormat itu.
Sekarang kita ngomongin kepolisian.
Sesuai UU №2 tahun 2002, tugas pokok kepolisian ada 3 yaitu : memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Well, gw ga merasa aman, hukum belum ditegakkan, gw jg ga merasa diayomi. Gagal dongs?
Terus kalo gagal dan kita sepakat kepolisian dibubarin siapa yang menanggung tugas — tugas tadi? Ada yang siap?
Mau jawaban serius atau bercanda neh? kalo bercanda mah satpam BCA aja dah yang udah terbukti ngasi pelayanan yang superb. Ada yang sepakat? :D
Kalo mau serius ya kita bangun institusi baru, kita bikin aturan mainnya, meritokrasi sebuah keharusan. Yang milih pemimpin institusi baru ini harus dari rakyat, caranya? ya referendum lagi. Dengan bantuan teknologi harusnya ga mahal. Udah jaman AI brow, masih nyoblos pake kertas aje.
Okay kita (banyak yang) sepakat kalo Polri harus dibubarin, DPR dibubarin. Kita tau ada alternatif — alternatifnya sebagai pengganti mereka, baik bentuk baru atau mekanisme baru. Alternatif yang ada belum mature, tapi kita juga ga perlu nunggu ada alternatifnya muncul baru kita pake.
Bisa aja kan kita yang menyempurnakan bentuknya. Gw yakin kita punya kemampuan itu. Jadi marah boleh, minta keadilan HARUS, Menyalurkan aspirasi membubarkan DPR dan Kepolisian HARUS BANGET. Tapi juga jangan lupa buat diskusi, bikin ruang diskursus yang spesifik membahas bentuk apa setelah ini. Dicatat diskusinya dan disebarkan ke seluruh masyarakat.
Sehingga kita bisa menjawab setelah kita bubarin DPR dan kepolisian, WHAT’S NEXT?
메타데이터
- post_id
- f83024e3665b
- slug
- whats-next-f83024e3665b
- url
- https://medium.com/@in_fourth_avenue/whats-next-f83024e3665b
- canonical_url
- https://medium.com/@in_fourth_avenue/whats-next-f83024e3665b
- author_url
- https://medium.com/@in_fourth_avenue
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-07 03:48:46