← Back to list

How to Be Happy Though Married

Karena pernikahan memang belum tentu jadi sumber kebahagiaan

Ringgo in Booknotations · 2026-05-15 16:03 · 265 claps · 5.7 min read paywalled
#pernikahan #life-lessons #booknotations #self-improvement #mei
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology 🚀 · Self Improvement

How to Be Happy Though Married

Karena pernikahan memang belum tentu jadi sumber kebahagiaan

Dokumentasi pribadi.

Dokumentasi pribadi.

Belum jadi anggota Medium? Klik di sini untuk lanjut membaca secara cuma-cuma. 🔑🔓

How to Be Happy Though Married adalah buku yang unik bahkan sejak judulnya. Kalimat “bahagia meski sudah berumah tangga” (happy though married) terdengar seperti lelucon jenaka, seolah penulisnya, E. J. Hardy, mengakui sesuatu yang selama ini enggan diucapkan banyak orang, yaitu bahwa pernikahan belum tentu jadi sumber kebahagiaan meskipun tanggung jawab yang muncul begitu terlipatgandakan.

Buku ini tak menjual fantasi romantis tanpa cela. Sejak awal, buku ini bahkan menegaskan bahwa kebahagiaan pernikahan merupakan sesuatu yang harus diusahakan, bukan hadiah yang otomatis datang bersama cincin dan upacara sakralnya. Pernikahan dipandang sebagai latihan karakter, ruang pengorbanan, dan seni hidup berdampingan dengan manusia lain yang sama-sama tak sempurna.

Dengan subjudul Being a Handbook to Marriage, buku ini berisi campuran esai, nasihat moral, humor, kutipan sastra, anekdot sosial, hingga renungan religius. Struktur bukunya cukup panjang dan mencakup banyak topik, dari mulai memilih pasangan, bulan madu, pengelolaan uang rumah tangga, persiapan menjadi orang tua, pendidikan anak, kesopanan di dalam rumah, pertengkaran dengan pasangan, sampai bagaimana menjaga cinta agar tetap awet setelah menikah.

Buku How to Be Happy Though Married terbit pertama kali pada tahun 1885 dalam bahasa Inggris. Salinan digital seperti yang ada di tangan saya bisa kamu peroleh secara gratis dan legal di laman Project Gutenberg ini. Kalau kamu lebih suka versi PDF hasil pindaian salinan cetaknya, kamu bisa mendapatkannya di laman Internet Archive ini.

Inti sari buku ini

Dalam bab-babnya, How to Be Happy Though Married berkali-kali menegaskan bahwa pernikahan bukan mesin pencetak kebahagiaan otomatis. Kebahagiaan rumah tangga lahir dari disiplin emosional sehari-hari. Dari kesabaran, dari pemakluman, dari perhatian kecil, dan dari kemampuan dan kemauan menahan ego.

Dalam bab pertama buku ini, kamu akan mendapati kalimat yang menegaskan bahwa hal-hal sepele sering jadi sumber kesengsaraan rumah tangga (trifles produce domestic misery). Sejak dulu hingga sekarang, memang banyak hubungan pernikahan runtuh bukan karena tragedi besar, melainkan akumulasi kelelahan-kelelahan kecil yang terus-menerus diabaikan. Bentuknya bisa nada bicara yang kasar, penghinaan kecil yang dianggap “bercanda”, sikap tak peduli, kebiasaan meremehkan, atau keengganan untuk mendengar keluhan.

Menurut buku ini, cinta tak semestinya dimaknai sebagai sebuah perasaan intens semata. Ia mesti dibuktikan melebihi itu. Salah satunya adalah dengan mengusahakan kemampuan untuk menanggung beban bersama. Tak mustahil dalam pernikahan, ada seseorang yang hanya ingin terus menerima kasih sayang tanpa sungguh-sungguh belajar memberi kasih sayang kepada pasangannya. Padahal, pernikahan sejatinya merupakan latihan mental untuk keluar dari pusat egoisme diri sendiri.

Buku ini membawa realisme yang menekankan bahwa dua manusia yang lahir, tumbuh, dan dibesarkan dengan kebiasaan, ego, dan harapan yang berbeda pasti sesekali akan saling melukai. Jika dijalani dengan dewasa, kondisi yang demikian bisa bermuara pada pemelajaran untuk tetap saling menjaga, memelihara, dan mencintai meski berada dalam ketidaksempurnaan rumah tangga.

Kekuatan buku ini

Saya kira kekuatan terbesar How to Be Happy Though Married ada pada gaya blak-balakannya. E. J. Hardy yang menulis buku ini menggunakan nama samaran “Seorang Lulusan Universitas Pernikahan” (A Graduate in the University of Matrimony) tak menjelaskan pernikahan seperti seorang penjual mimpi. Ia paham betul bahwa dalam rumah tangga, akan ada masa-masa melelahkan, membosankan, bahkan mengecewakan. Akan tetapi, ia juga memahami bahwa dari kondisi-kondisi semacam situlah rumah tangga bisa mendewasakan kita.

Ada kelembutan tertentu dalam cara buku ini memandang kehidupan berkeluarga. Ia menggarisbawahi urgensi tata krama di rumah, perhatian-perhatian sederhana, dan kesungguhan untuk membuat suasana rumah terasa tenang dan nyaman. Pada era ketika banyak pasangan suka memamerkan ekspresi cinta yang fantastis di media sosial, buku ini mengingatkan bahwa kebahagiaan rumah tangga justru sering kali berfondasikan hal-hal yang nyaris tak pernah dipertontonkan.

Kekuatan lain buku ini adalah kemampuannya menyeimbangkan humor dan keseriusan. Sejumlah anekdot dalam buku ini terasa jenaka, tetapi tak lantas menjatuhkannya pada sinisisme. Agar bisa bertahan menjalani hidup bersama orang lain selama puluhan tahun, agaknya kita memang perlu menempatkan tawa sebagai bagian yang harus selalu ada dalam resep kelanggengan pernikahan.

Sungguhpun demikian, buku ini punya keterbatasan. Ditimbang dengan moralitas modern, beberapa pandangannya tentang perempuan terasa terlalu paternalistik. Ada bagian-bagian buku yang terlalu mengidealkan peran domestik perempuan dan menempatkan moralitas rumah tangga dalam kerangka gender tradisional. Namun bahkan di tengah keterbatasan semacam itu, buku ini tetap menghormati pilihan-pilihan idealisme berbeda, termasuk orang-orang yang memilih tak menikah.

Relevansinya dengan kehidupan kita

Meski ditulis hampir 150 tahun yang lalu, di sela-sela gaya Victorian-nya, How to Be Happy Though Married masih mampu menawarkan sensitivitas yang manusiawi. Di Bab The Choice of A Wife dan Bab The Choice of A Husband, misalnya, buku ini mengkritik orang yang menikah hanya karena takut dicap terlambat dan mengingatkan bahwa bagi sebagian orang, boleh jadi tidak menikah itu lebih baik baginya daripada menjalani pernikahan tanpa cinta dan ketulusan.

Buku ini juga memaklumi bahwa sebagian orang memilih hidup lajang demi memenuhi tanggung jawab atau tujuan hidup tertentu. Dan menilik kapan buku ini terbit, pandangan semacam itu benar-benar unik. Sampai hari ini, kita pun masih bisa mendapati sebagian orang yang merasa hubungan romantis terlalu melelahkan secara emosional dan ekonomi. Banyak orang menunda menikah, menunda punya anak, atau memilih tak punya anak sama sekali (childfree).

Bagi seseorang yang menikah lebih lambat dibandingkan teman-teman seumuran, buku ini bisa jadi pengingat bahwa dalam pernikahan, kedewasaan emosional jauh lebih penting daripada sekadar pesta seremonial. Banyak orang sekarang menunda pernikahan bukan karena berhenti mencinta, tetapi karena sadar bahwa hidup bersama benar-benar butuh kesiapan psikologis dan ekonomi. Dan buku ini begitu menekankan bahwa pernikahan tak selayaknya dilakukan hanya karena tekanan sosial.

Bagi pasangan yang childfree, buku ini juga menarik untuk dibaca secara kritis. Buku ini memang berasal dari zaman yang sangat menekankan pentingnya anak dalam rumah tangga. Namun, salah satu nilai terpenting dalam buku ini bukan soal reproduksi, melainkan soal komitmen perhatian dan tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga. Dan oleh karenanya, saya kira pasangan tanpa anak pun tetap bisa menemukan resonansi emosional di dalamnya.

Sedangkan bagi mereka yang memilih tak menikah sama sekali, buku ini menawarkan gagasan yang bernas: bahwa hidup lajang bukan merupakan kegagalan moral. Dalam hidup, memang ada orang-orang yang tetap melajang demi tanggung jawab keluarga atau karena belum juga menemukan pasangan yang tepat, dan itu bisa menjadi pilihan yang terhormat.

Di tengah budaya internet hari ini yang sering memandang hubungan percintaan secara ekstrem, yaitu antara mengglorifikasi romantisme atau membencinya secara sinis, buku ini hadir dengan pendekatan yang lebih tenang dan lebih rasional. Buku ini tak memuja pernikahan secara buta, tetapi juga tak merendahkannya. Ia membobotkan kehidupan pernikahan sebagai sesuatu yang bisa menjadi sangat indah, sekaligus sangat sulit.

Dan mungkin memang begitu kenyataannya.

Refleksi akhir

Dengan latar moralitas abad ke-19, How to Be Happy Though Married jelas bukan panduan psikologi romantisme kontemporer. Akan tetapi di balik latar kunonya itu, ada pemahaman manusia yang tetap bertahan hingga hari ini, yakni bahwa kedekatan antarmanusia dalam hubungan cinta selalu memerlukan kerendahan hati yang saling timbal balik.

Dari buku ini, saya merasa diajari kembali bahwa cinta dalam pernikahan memang harus terus dirawat dalam bentuk komitmen tanggung jawab dan perhatian sehari-hari yang cenderung tak istimewa, kadang membosankan, dan sering kali tak dipamerkan kepada orang lain.

Pada era globalisasi moralitas Barat yang begitu menekankan kebebasan individu, gagasan seperti itu mungkin terdengar berat. Namun kalau kita berkenan merenunginya, justru karena dunia modern kita sering membuat seseorang cepat pergi hanya karena hubungan mulai tak terasa nyaman itulah gagasan-gagasan dalam buku ini jadi terasa makin substansial. Terutama bahwa ketidaknyamanan, selama masih dalam kadar yang wajar, tak mesti bermuara pada berakhirnya romansa.

Tentu saja, tak berarti semua pernikahan harus dipertahankan apa pun yang terjadi. Ada hubungan yang memang merusak, abusif, atau membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Dan saya harus jujur mengatakan bahwa How to Be Happy Though Married tak sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas hubungan yang seperti itu.

Dan barangkali, baris-baris pesan terpenting dari buku adalah tentang kebahagiaan itu sendiri. Dengan atau tanpa menikah. Dengan atau tanpa punya anak. Karena memang, kebahagiaan sejati dalam hubungan percintaan jarang datang sebagai hadiah yang langsung siap terima. Ia lebih sering lahir dari kemampuan dan kemauan kita merawat hubungan dengan sabar dan sadar, bahkan ketika percikan-percikan romantisme awal mulai memudar.

Terima kasih telah membaca sejauh ini. Jika menyukainya, mungkin kamu juga akan menyukai tulisan-tulisan saya tentang **buku, [film dan musik](https://ringgo.medium.com/list/music-0d42ebfd8fc4), [linguistik](https://ringgo.medium.com/list/linguistics-b96094909652)a, [refleksi diri](https://ringgo.medium.com/list/reflections-85ee21d6f0ec), dan yang [lainnya](https://ringgo.medium.com/list/others-cf2bebaa976a)**.

Foto oleh MediaEcke di Unsplash.

Foto oleh MediaEcke di Unsplash.

Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!

[embed]*Submission Guideline — Booknotations *Panduan mengirim tulisan ke Booknotations medium.com


메타데이터
post_id
f85d5cd041d4
slug
how-to-be-happy-though-married-f85d5cd041d4
url
https://medium.com/booknotations/how-to-be-happy-though-married-f85d5cd041d4
canonical_url
https://medium.com/booknotations/how-to-be-happy-though-married-f85d5cd041d4
author_url
https://medium.com/@ringgo
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30