← Back to list

Esai: Parodi Para Puisi

Jadi, parodi yang dibuat puisi bisa melebihi lawakan OVJ?

Aterra Nian · 2025-12-23 11:54 · 5 claps · 5.2 min read
#kritik-sastra #puisi #parodi #esai #sastra
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

Esai: Parodi Para Puisi

Photo by Europeana on Unsplash

Photo by Europeana on Unsplash

Dibanding air seni,

kira-kira puisi adalah seni yang paling manis di abad ini. Gerak-geriknya bagai kalong di antara segelimpangan angin malam yang mendayu-dayu, tak ada yang tahu kecuali memberinya perhatian penuh. Ia hadir seperti itu. Dibanding air seni juga, puisi geraknya terlalu dinamis, ia mengimitasi apa-apa saja dari yang sedap sampai yang amis. Mungkin saya terkesan sedang terlalu memuja-muja puisi, nyatanya puisi adalah diksi yang paling aman untuk mematri keraguan tak berperi.

Makna puisi dijual terpisah dengan makna yang hendak disampaikan oleh pemasaknya. Soal bagaimana si pencicip merasakan hal yang berbeda-beda, itu juga hal yang lain. Kebanyakan sama, kebanyakan juga berhasil menebak kehendak si pembuat puisi, tetapi tidak sedikit juga kalau tentang persoalan yang tidak berhasil dan malah membelokkannya dengan jauh. Ini biarlah, sebab seperti tadi, puisi terlalu dinamis.

Coba Anda pikirkan, dunia nyata yang agak sedikit buruk rupa itu, ditiru puisi dan buruk rupanya jadi tambah sedikit. Memangnya bisa? Nah, jawaban saya ihwalnya bisa, kalau kita lihat dari perspektif menyempit seperti sebuah parodi. Kamus menyuntikkan arti parodi dengan harfiah seakan parodi itu berkicau dalam karya sastra atau seni yang mencoba menjadi peniru untuk mencari celah kelakar. Masalahnya, yang harfiah ini terlanjur membatasi arti supaya mulai dari akarnya terlebih dahulu. Konsep parodi yang dilakukan puisi semestinya kita cari sendiri, semisal, parodi itu peniru yang bagaimana? Parodi itu suka kelakar yang bagaimana? Atau, puisi itu melakukan parodi untuk alasan yang seperti apa?

Umpamanya, parodi bisa dibilang berfungsi menjadi alat dari posmodernisme. Parodi-parodi dalam karya seni digunakan untuk mengajak duel narasi besar modernisme. Seluruhnya karena Jean-François Lyotard (1984) membuka peluang untuk parodi berkecimpung di posmodernisme yang “incredulity towards metanarratives” — menjadi medan ekspresi atas keraguan akan narasi besar. Singkatnya, parodi bukan dijadikan alat penolakan, melainkan sebagai alat untuk merekonstruksi kembali narasi yang sebelumnya merajalela.

Di samping itu, sebelum menjadi alat posmodernisme sesungguhnya parodi telah berdiri atas kakinya sendiri. Pilliang (2000: 153) bilang, pengaplikasian parodi itu berasal dari aktualisasi diri sang pengarang yang dimitasi untuk kemudian menjadi absurd, mengandung humor, dan bermaksud mengikuti hal yang nyata, tetapi kemudian dibelokkan. Pembelok-belokan melalui cara imitasi inilah yang memunculkan komedi. Sering kali tujuan parodi berbeda-beda, dan inilah alasan pembuktian komedi yang menyenangkan atau malah menyedihkan (dark comedy) itu belakangan, pokoknya komedi saja dulu.

Lalu di manakah peran puisi di sini? Kalau tadi parodi menjadi salah satu alat posmodernisme berlenggak-lenggok di panggung Lyotard, maka puisi yang menjadi salah satu alat dari parodi. Puisi memang berjalan sendiri, tetapi puisi dijalankan berdasarkan makna yang interpretatif, dan itu berarti bisa dijalankan dengan parodi.

Kali ini saya akan membawa puisi yang di antaranya dibumbui parodi-parodi yang bersemedi. Dari kumpulan puisi berjudul Jantung yang Berdetak dalam Batu (2025) — selanjutnya disebut JyBdB — milik sastrawan perempuan Indonesia, Helvy Tiana Rosa, ada beberapa puisi yang saya sangka menjadi alat parodi. Meskipun puisi dalam buku dengan judul tersebut sarat akan ekspresi pengarangnya, beberapa puisi tersebut tampak bisa berdiri sendiri.

Buku kumpulan puisi JyBdB saya temukan pertama kali wujudnya saat saya menemukan unggahan poster acara “Pesta Puisi: Peluncuran, Diskusi Buku, dan Pentas Karya Jantung yang Berdetak dalam Batu karya Helvy Tiana Rosa” yang diadakan pada Minggu (27/4/2025) di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki. Kala saya menghadirinya, puisi-puisi dalam buku itu dibahas secara kritis oleh beberapa kritikus sastra. Jadi, saya cukup melihat cuplikan baris hingga bait puisi yang tengah dikritik dan ditampilkan melalui tayangan salindia.

Rupa-rupanya, satu-dua puisi seolah menyentak saya. Demikian kedua puisi tersebut tak lain ialah “Deklarasi Hak Asasi Manusia” dan “Resital di Gedung Tak Bernama”. Dari judul-judulnya saja, sudah terlihat samar-samar parodi yang tengah diinisiasi, tetapi mari coba bahas lebih jauh.

JyBdB secara garis besar menggambarkan atensi Helvy dalam isu-isu yang melingkupinya: Gaza, kurikulum sastra yang darurat, korupsi, bahkan tokoh-tokoh penting di Indonesia yang jasanya kian dilupakan. Namun, gayanya seakan diolah dengan bumbu yang sama dengan sedikit penambahan sejumput bumbu baru. Helvy berada di zona nyamannya yang seakan sungkan keluar untuk mencari pembaruan.

Untungnya, “Deklarasi Hak Asasi Manusia” tidak sampai sebegitu membuktikan Helvy tetap di zona nyamannya. Puisinya masih membahas Gaza dan alienasinya dari jagat yang padahal telah mengenalnya lewat baris, “Di layar televisi, penjajah menangis / merasa menjadi korban / sementara anak-anak Gaza berhenti bertanya”.

Melihat pengumpamaan yang didatangkan, layar televisi menerangkan hal yang demikian terjadi, kecuali ketika Helvy menulis bahwa anak-anak Gaza berhenti bertanya. Padahal, sampai sekarang anak-anak Gaza itu belum kunjung mendapatkan kembali tanah airnya, tetapi di baris itu digambarkan seakan mereka berhenti. Berhenti bisa disebabkan karena lelah memohon jawaban, atau bisa juga berhenti karena layar televisi berhenti menayangkan. Dari situ, Helvy terlihat membukanya dengan imitasi sebagaimana layar televisi menampilkan tayangannya, tetapi kemudian membelokkan imitasi dari anak-anak Gaza yang tak terlihat presensinya.

Parodi lainnya secara jelas menunjukkan dirinya pada baris “Di layar televisi, seorang pemimpin dunia berkata: / ‘Hak hidup adalah hak yang suci.’” yang kurang lebih sama dengan baris sebelumnya, yaitu membawa imitasi dari tayangan di layar televisi. Hanya saja kali ini yang tampil adalah sang “pemimpin dunia”. Baris itu kemudian dilanjutkan dengan “Lalu muncul iklan: Diskon 30% untuk senjata terbaru! / Beli sekarang, bayar nanti. / Syarat dan ketentuan berlaku.” Pertanyaannya, siapa yang tidak pernah melihat kalimat-kalimat ini tatkala berkunjung ke mal atau membaca detail kemasan sebuah produk? Kecuali mungkin untuk “senjata terbaru” dan pengecualian inilah komedi pedih atas hal-hal yang sering saya atau Anda lihat di sekitar.

Mengenai komedi pedih yang saya sebutkan karena frasa “senjata terbaru” sesungguhnya menjadi perwakilan dari jenis bumbu humor yang dipercikkan ke “Deklarasi Hak Asasi Manusia”. Puisi ini menggaungkan kesendirian padahal ramai; lawakan padahal miris. Imitasi yang dilakukan Helvy mungkin condong terasa gampangan, karena malas dan mengambil sampel populer, akan tetapi imitasinya mencemooh hingga terselip makna yang hina dina.

“Resital di Gedung Tak Bernama” juga menolak untuk kalah. Ia bahkan mengungkapkan parodi dengan cara yang jauh rumit. Intisarinya mengimitasi resital yang ditonton oleh orang-orang yang bisa membayarnya. Baris “tapi karena amplop-amplop / berdansa di bawah lampu kristal” adalah salah satunya. Memangnya ada amplop yang berdansa? Apa Helvy mau coba melucu? Jelas tidak, dalam resital yang berdansa pasti manusia, tetapi kali ini dibelokkan menjadi amplop. Artinya, amplop itu mengisi resital sampai-sampai bisa berdansa.

Begitu pula pada baris “‘Tuang sedikit untuk rakyat,’ / kata seorang pemain utama. / ‘Tapi jangan terlalu banyak’” yang nampak berusaha meniru hadirin dalam resital pada umumnya. Mereka menuangkan minuman tentunya, tetapi yang janggal adalah bahwa yang dituang itu ditujukan “untuk rakyat”, kemudian disampaikan agar “jangan terlalu banyak”. Di sini, nyatanya bukan minuman secara harfiah, melainkan kesejahteraan yang dialegorikan oleh minuman yang tengah dituang tersebut. Arahan untuk memberikan tidak terlalu banyak adalah tanda, bahwa rakyat tak bisa mendapat kesejahteraan tersebut secara utuh. Kalau kita tilik kembali, kejanggalan ini muncul karena sebagian besar melalui proses ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) terhadap kejadian serupa, sedangkan sebagian besarnya lagi adalah bagian humor buruk yang ditempatkan sengaja.

Dibandingkan dengan “Deklarasi Hak Asasi Manusia”, persoalan parodi dalam “Resital di Gedung Tak Bernama” cenderung kurang familier karena adopsi budaya massa lebih diminimalkan. Walaupun begitu dua-duanya sama-sama lucu dan berhasil berkelakar. Bukan lucu yang disampaikan melalui tertawaan atau cengiran girang nan geli, tetapi lebih ke lucu yang membuat dahi berkerut dan alis bertaut. Hening.

Puisi-puisi sejenis dalam JyBdB lainnya juga hadir, seperti “Panduan Sukses Seorang Koruptor”, “Panduan Menulis Puisi untuk Dunia yang Sibuk Sendiri”, dan “Resep Membuat Puisi”. Gayanya penuh ironi yang padahal mungkin memiliki anasir yang kita kenali sehari-hari. Mengingatkan saya pada puisi Joko Pinurbo, “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya”. Ada pencemaran dalam puisi-puisi tersebut, tetapi seperti yang saya bilang tadi, yang buruk rupa jadi sedikit tambah buruk rupa. Halnya jadi poin plus puisi-puisi berciri sama.

Referensi:

Lyotard, Jean-François. (1984). The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, translated by Geoff Bennington and Brian Massumi. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Pilliang, Yasraf Amir. (2000). Hiperrealitas Kebudayaan: Semiotika, Estetika, Posmodernisme. Yogyakarta: Jalasutra.


메타데이터
post_id
f89f160e874a
slug
parodi-para-puisi-f89f160e874a
url
https://medium.com/@nebulaphile/parodi-para-puisi-f89f160e874a
canonical_url
https://medium.com/@nebulaphile/parodi-para-puisi-f89f160e874a
author_url
https://medium.com/@nebulaphile
status
ok
fetched_at
2026-06-28 04:42:08