Masih Mati
Aku masih mati.
Masih Mati
Aku masih mati.
Setidaknya begitu yang kurasakan setiap pagi ketika bayi di rumah sebelah merengek dan tubuhku bangun lebih dulu daripada jiwaku.
Diri ini masih disiplin. Suka makan, mandi dua kali sehari, dan bekerja. Jantung ini pun masih berdetak. Masalahnya, aku tidak pernah benar-benar ikut berdetak bersamanya.
Apa sebenarnya arti hidup?
Apakah ia sekadar bekerja, makan, tidur, lalu mengulanginya?
Ataukah ia tentang mencintai, membenci, kecewa, berharap?
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku benar-benar menanyakannya pada diriku sendiri. Sebetulnya, apa yang aku cintai? Apa yang benci? Apa yang nembuatku kecewa? Apa yang memberiku harapan? Dan jawabanku tidak jauh-jauh dari kematian.
Aku mencintai kematian. Aku kecewa karena Yang Kuasa masih memperpanjang umurku. Aku benci pada obat tidurku yang gagal membuatku overdosis. Aku berharap ada yang meracuniku setiap kali aku akan makan.
Jika begitu, apakah aku menjalani hidup dengan benar? Hidup yang diisi dengan doa agar aku mati hari ini, apakah itu masih terhitung hidup?
Ah, ternyata sudah lama sekali aku tidak mempertanyakan apa pun. Tidak mempertanyakan tujuan, tidak mempertanyakan arah, bahkan tidak mempertanyakan kekosongan yang menggerogoti dadaku pelan-pelan. Aku tak tahu sejak kapan, tapi rasanya sudah sangat lama aku hanya mengikuti arus yang bahkan tak pernah kupastikan ke mana muaranya.
Pernah suatu malam aku mencoba menangis. Kuputar lagu yang kata para pengguna X, menyayat hati. Kuingat-ingat kegagalan, kehilangan, nama-nama yang dulu sempat membuatku gemetar. Namun aku tak merasa runtuh. Air mataku seperti menolak tugasnya.
Barangkali di situlah letak kematianku.
Barangkali aku akhirnya berhasil membunuh diriku sendiri.
Mungkin beginilah rasanya menjadi mayat yang lupa dikuburkan.
Kemudian saat aku memeriksa dadaku sendiri, aku bisa memastikan jantung itu masih bekerja. Dokter akan menyebutku baik-baik saja. Namun siapa yang bisa mendiagnosis ketiadaan rasa?
Aku sebetulnya masih mati.
Aku mayat yang berpakaian rapi.
Berbicara seperlunya.
Mengangguk pada kesedihan orang lain dengan empati yang pura-pura, sebab aku tak mengerti cara merasa.
Satu waktu aku pernah iri pada orang-orang yang marah. Setidaknya mereka terbakar. Aku juga pernah iri pada mereka yang patah hati. Setidaknya ada sesuatu yang patah. Sedangkan aku? Aku utuh seperti ruang kosong, lengkap di dalam ketiadaannya.
Aku masih mati. Aku sudah lama mati.
Dunia ini tidak lagi menyentuhku, dan aku pun tidak ingin menyentuhnya.
Jika suatu hari orang-orang menyadari bahwa aku ini mayat berjalan, mereka mungkin akan terkejut. Padahal aku sudah lama tahu. Hanya saja, aku terlalu mati untuk membuat keributan soal itu.
메타데이터
- post_id
- f8a4b3157e6f
- slug
- masih-mati-f8a4b3157e6f
- url
- https://medium.com/@coklatkeju/masih-mati-f8a4b3157e6f
- canonical_url
- https://medium.com/@coklatkeju/masih-mati-f8a4b3157e6f
- author_url
- https://medium.com/@coklatkeju
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13