← Back to list

Naksir Temen Sekelas Itu Kayak Ujian Mendadak: Deg-degan, Tapi Nggak Pernah Siap

Oleh: Muhammad Rasyad Amrullah — News Reporter

RTC UI FM · 2025-06-30 03:01 · 6 claps · 2.8 min read
#cinta #naksir #teman #sekelas
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🥊 · Combat Sports

Naksir Temen Sekelas Itu Kayak Ujian Mendadak: Deg-degan, Tapi Nggak Pernah Siap

Oleh: Muhammad Rasyad Amrullah — News Reporter

pinterest.com

pinterest.com

Gen Muda pasti pernah dengar orang ngomong gini “Cinta tuh datang dari pandangan pertama.” Tapi buat anak kelas-kelas kayak kita, kadang cinta datangnya pas dia minjem pulpen atau waktu dia senyum sambil bilang, “Eh, absennya udah?”

Yah, dari situ mulai chaos. Rasanya kayak dunia berubah sedikit lebih cerah, walaupun dosen lagi bahas akuntansi atau sejarah yang setebal skripsi.

Naksir temen sekelas tuh tricky banget. Lo tiap hari ketemu, tiap hari liat mukanya, bahkan hafal kebiasaan-kebiasaan kecilnya: dari cara dia nyapu rambut pake jari, suara dia pas baca presentasi, sampe playlist Spotify-nya yang kebetulan lo stalk. Tapi anehnya, walaupun udah sedeket itu secara fisik… tetep aja, lo kayak nggak berani deket secara emosional.

Deg-degannya tuh nyata. Tapi langkahnya? Nggak pernah jelas mau ke mana.

Kadang lo duduk cuma dua kursi dari dia, tapi kayak jaraknya sejauh bumi dan Mars. Lo pengen ngobrol, tapi otak lo keburu nge-freeze. Ujung-ujungnya cuma senyum kaku atau pura-pura baca materi, padahal mata lo nyolong pandang. Lo tau itu nggak keren, tapi tetep dilakuin.

Yang paling ngeselin tuh pas dia ngobrol sama orang lain dan ketawa lepas. Lo ngerasa… aneh. Padahal dia bukan siapa-siapa. Tapi hati lo udah nganggep dia penting. Dan itu nggak lo omongin ke siapa-siapa, cuma lo simpen sendiri, kayak kunci loker yang ilang tapi tetep lo bawa-bawa.

Dan ya, puncaknya adalah momen tugas kelompok. Kalau semesta lagi baik, lo sekelompok sama dia. Awalnya seneng banget. Chat-an, diskusi, kadang call bareng. Tapi makin sering bareng, makin sadar juga: “Oh… dia nggak ngeliat gue kayak gue ngeliat dia.” Karena di sela tawa dan kerja bareng itu, lo doang yang deg-degan. Dia? Santai aja, kayak kerja bareng temen biasa.

Di situ kadang lo mikir, “Gue doang ya yang baper?” dan biasanya… iya.

Tapi lo tetep stay. Lo tetep di situ, dengan harapan-harapan kecil yang lo tanam sendiri. Harapan yang muncul pas dia bilang “makasih ya” setelah lo bantu cari referensi, atau pas dia ngetik “wkwkwk” di chat dan lo mikir, “Wah, lucu juga gue.” Padahal ya… bisa aja dia ngetik itu ke semua orang.

Pernah nggak sih lo ngerasa pengen banget ngungkapin? Cuma sekadar bilang, “Gue suka sama lo. Dari kemarin. Dari minggu lalu. Dari semester lalu.” Tapi otak lo langsung ngebayangin semua skenario buruk yang mungkin kejadian: dia awkward, dia ngejauh, lo jadi bahan gibah sekelas, atau yang paling nyesek: dia bilang, “Maaf ya, kita temenan aja.”

Akhirnya lo mundur. Lo pilih diam. Lo simpen semua rasa itu dalam file zip di kepala lo. Lo pura-pura nggak suka, pura-pura biasa aja. Padahal tiap hari lo ngarep, semoga dia sadar.

Sadar dari mana? Lo juga nggak tau. Karena realitanya, kita semua berharap orang lain peka terhadap rasa yang bahkan nggak pernah kita tunjukin.

Sampai akhirnya… semester berakhir. Kelas bubar. Lo nggak sekelas lagi. Dan lo cuma bisa liat dia dari jauh — kadang di lorong, kadang di kantin, kadang nggak sama sekali. Rasa itu masih ada, tapi udah mulai berubah bentuk. Dari suka, jadi sayang diam-diam. Dari sayang, jadi cerita.

Cerita yang bakal lo bawa terus: tentang seseorang yang pernah lo tatap diam-diam dari bangku belakang, tentang jantung yang pernah deg-degan cuma gara-gara denger namanya disebut di kelas, tentang rasa suka yang lo pelihara sendiri sampai akhirnya lo putuskan untuk dilepasin… tanpa pernah benar-benar disampaikan.

Dan itu nggak apa-apa.

Karena nggak semua rasa harus berujung jadi hubungan. Kadang, cukup jadi kenangan yang lucu. Biar suatu hari, pas lo udah jauh dari bangku kuliah atau sekolah, lo bisa senyum-senyum sendiri sambil bilang:

“Gila ya, dulu gue pernah suka banget sama orang sekelas gue. Dan dia nggak pernah tau.”

Lucu sih. Tapi ya… indah juga. Gen Muda ada yang relate sama kejadian kayak gini? Komen di bawah, ya!

Referensi:

Widya, R. (2021, Januari 5). 6 hal yang dialami saat naksir teman sekelas. IDN Times. https://www.idntimes.com/hype/entertainment/6-hal-yang-dialami-saat-naksir-teman-sekelas-c1c2-1-01-n5rc2-j8n0j4


메타데이터
post_id
f8a6136bd0f7
slug
naksir-temen-sekelas-itu-kayak-ujian-mendadak-deg-degan-tapi-nggak-pernah-siap-f8a6136bd0f7
url
https://medium.com/@rtcuifm/naksir-temen-sekelas-itu-kayak-ujian-mendadak-deg-degan-tapi-nggak-pernah-siap-f8a6136bd0f7
canonical_url
https://medium.com/@rtcuifm/naksir-temen-sekelas-itu-kayak-ujian-mendadak-deg-degan-tapi-nggak-pernah-siap-f8a6136bd0f7
author_url
https://medium.com/@rtcuifm
status
ok
fetched_at
2026-07-19 05:40:23