Pria Berkaos Hitam
Sebuah fiksi anekdot tentang identitas dan stereotip.
Pria Berkaos Hitam

Sumber: chatgpt.com
Sebuah fiksi anekdot tentang identitas dan stereotip.
Teman-temanku sudah pergi beberapa menit yang lalu. Aku masih menetap di kafe bergaya rumah jadul ini. Aku mengambil dan menyeruput secangkir kopi susu di samping laptopku. Di tatakan cangkirnya terdapat ampas dari kopi yang sepertinya luber dari cangkir saat dituang. Tedapat pula bekas ampas yang menutupi gambar bunga merah muda di permukaan samping cangkir putih itu. Aku memalingkan pandanganku sebentar dari laptop untuk mengambil ponselku. Di sisi atas layar ponsel terlihat notifikasi pesan whatsapp dari ibuku.
‘Gimana tadi bekalnya?’
‘Biasa,’ balasku.
Nyatanya, hanya butuh lima menit untukku menghabiskan seporsi nasi, pakcoy bawang putih, dan telur mata sapi buatan ibuku. Bukan pertama kali pula aku menyebut bekal buatan ibuku “biasa”. Aku yakin ibuku pasti paham kalau aku hanya bercanda. Ibuku memiliki toleransi candaan yang cukup longgar. Pernah satu hari aku berdebat kecil dengan ibuku dan memanggilnya “meksiko”. Ibuku hanya membalas ‘kurang ajar’ sambil tertawa terbahak-bahak.
‘Mama ya yang berkelas rek, bukan yang urakan gitu,’ lanjutnya.
Ibuku lahir dan besar di Situbondo. Ia fasih berbahasa Madura dan Jawa. Namun, sampai sekarang aku tidak tahu apakah ia fasih berbahasa Jawa sejak dulu atau sejak ia berkuliah dan bekerja di Malang sampai bertemu ayahku yang dari Surabaya.
Hal ini mengingatkanku pula saat aku membantu ibuku mengisi formulir lamaran pekerjaan digital. Setelah mengisi hampir semua kolom data diri, terdapat satu kolom berisi “suku bangsa”.
‘Ma, ini suku bangsa tak isi Madura ya berarti?’
‘Ngawur! Ya Jawa lah!’
‘Mama kan orang Situbondo? Ya Madura dong,’
‘Nggak, wes, udah isi Jawa aja,’
Aku lupa apakah itu formulir untuk pekerjaan yang masih ibuku lakukan sampai sekarang. Kumasukkan ponselku ke dalam tas sebelum mengembalikan fokusku ke laptop. Aku melanjutkan mengetik sembari sesekali melihat pemandangan pinggir jalan di luar dari jendela dengan jaring besi yang dibalut cat putih yang memudar dan berdebu. Saat jari-jariku melompat-lompat di keyboard, suara ketikan dari keyboard tersamarkan oleh suara nyaring laki-laki yang berbincang di belakangku.
Aku tidak tahu apa yang laki-laki itu bicarakan, tapi aku tahu betul itu bahasa Madura dari intonasi dan suara “b” yang diikuti sedikit hembusan nafas.
‘Biar kutebak,’ pikirku.
Seketika aku membayangkan seorang pria kurus berwajah kering dan berkulit gelap, mungkin mengenakan celak di pinggir matanya. Kubayangkan juga seorang pria yang mengenakan kemeja longgar kumal dan topi warna abu tiruan dari merek ternama. Atau, jika tidak mengenakan topi, memiliki gaya rambut jabrik yang disemir pirang sebagian.
Saat aku menoleh ke belakangku, aku melihat seorang pria muda berkulit kuning langsat dengan badan cukup berisi. Wajahnya halus, matanya tidak bercelak, dan rambut pendeknya dibelah pinggir dengan cukup rapi dan terlihat seperti baru dicukur. Pria itu mengenakan kaos hitam berukuran pas, terlihat di lengannya yang hampir memenuhi lengan kaosnya. Dan pria itu berbicara dengan bahasa Madura.
메타데이터
- post_id
- f8bfd2fb00c2
- slug
- pria-berkaus-hitam-f8bfd2fb00c2
- url
- https://medium.com/@wijaya.leo2003/pria-berkaus-hitam-f8bfd2fb00c2
- canonical_url
- https://medium.com/@wijaya.leo2003/pria-berkaus-hitam-f8bfd2fb00c2
- author_url
- https://medium.com/@wijaya.leo2003
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 19:37:43