mungkin nanti kita sampai
“Di bulan Puasa, sebelum aku bertemu dengan Allah”
mungkin nanti kita sampai

RS PON Cawang, 17 Maret 2026
Ya mungkin nanti kita sampai.
Entah nantinya kita sebelum wafat sampai di rawat di rumah sakit,
entah nantinya sampai dikubur di liang lahat,
entah apabila memang kehidupan setelah mati itu memang benar adanya, sampai pada fase-fase prosesi pasca kematian.
Aku sendiri harus menanggung siap untuk memahami fakta bahwa akan ada suatu saat, tidak tahu kapan waktunya, aku dirawat di rumah sakit.
Siap juga untuk menanggung beban untuk pasanganku nanti.
Rasanya memikirkan sejauh ini akhirnya membuat lega pikiran dibanding untuk berpikir bagaimana mencapai hal-hal yang achievemental untuk karir. Jelas dulu waktu SMA ketika sedang tinggi-tingginya belajar agama, ‘mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan baik di masa kehidupan’ merupakan topik pelukan hangat kontemplasi tiap hari.
“Ganti-gantian ya, satu orang-satu orang." “Ganti-gantian ya, dua orang-dua orang".
Oh menunggu giliran untuk menemani Nenek tiada bandingnya dengan Nenek menunggu perawat, Nenek menunggu kamar rawat inap, Nenek menunggu teman ngobrol tiap sesi jengukan per harinya, dan Nenek menunggu kapan perawat bisa ganti popoknya. Nenek terkena struk, pendarahan di otak, dan harus kontrol jantung, sehingga tidak bisa bangun dari baringnya.
“Nenek minta maaf. Nenek minta maaf untuk semua.” katanya.
“Ya sama-sama lah. Aku juga minta maaf.” “Ijal juga minta maaf ya nek.” kata anak dan cucunya.
“Di bulan Puasa, sebelum aku bertemu dengan Allah”
Nenek pun telah sampai di posisi itu sebelum hari H dilarikan ke IGD. Posisi di mana ia memohon permintaan maaf dengan anak-cucunya, kepada semua-semua yang pernah bertemunya. Aku memahaminya karena ia kelak minta dilancarkan untuk kehidupan setela kematian.
“Iya Nek, kami paham, agar semua dilancarkan”
Oh Tuhan aku hampir meneteskan mata. Tapi kelak perasaan sedih itu perlahan menjadi seperti biasa kembali. Aku telah berada di kamar rawat inap Nenek, sendirian, namun berdua dengannya.
“Nenek. Ijal di sini ya, Nek.” berharap Nenek merespon kabarku.
메타데이터
- post_id
- f8e0f46a05ea
- slug
- mungkin-nanti-kita-sampai-f8e0f46a05ea
- url
- https://medium.com/@thenewrepublic/mungkin-nanti-kita-sampai-f8e0f46a05ea
- canonical_url
- https://medium.com/@thenewrepublic/mungkin-nanti-kita-sampai-f8e0f46a05ea
- author_url
- https://medium.com/@thenewrepublic
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 18:57:25