← Back to list

Ada Duka Di Angkasa

Oleh : Afgan D. Kusumanegara

AfganKusumanegara · 2026-06-07 09:29 · 11 claps · 4.3 min read
#cerita-pendek #bulan #astrological
Open on Medium ↗

https://id.pinterest.com/pin/130815564165018375/

https://id.pinterest.com/pin/130815564165018375/

Ada Duka Di Angkasa

Oleh : Afgan D. Kusumanegara

Rembulan membulat sempurna menjelma purnama. Menerangi gulita bak lentera, menjadi sebab para gemintang iri pada lembut cahaya yang menyelimuti raganya. Bundaran raksasa itu kini bertengger sendirian, ditengah legamnya angkasa. Malam akan terasa pilu tanpa kehadiran rembulan.

Namun, seperti ciptaan lainnya, ia tak selalu sempurna. Kesendirian ini sungguh menyiksanya. Ia bermandi cahaya, tapi tidak dengan hatinya. Ia benderang, tapi jiwanya justru mengerang.

Maka mengeluhlah ia pada Tuhan :

“O, Tuhan. Mengapa tak kau perkenankan aku seseorang tuk dimiliki, wahai yang Maha Mengasihi?”

Ia meratapi luka yang kian hari, kian menjadi. Berharap hati kosongnya segera berpenghuni.

Hingga tiba suatu masa, saat garis takdir menuntun sebuah komet singgah di sisi rembulan.

“Apa kabarmu, Bulan?” Komet itu membuka bicara.

Bulan yang sedikit terkejut, berusaha membalas sapaan komet.

“Hai. Kabarku baik. Sebuah kehormatan berjumpa dengan komet hebat sepertimu, Halley.”

Walaupun sudah berusaha, Bulan tetap tidak bisa menyembunyikan kekaguman dalam nada bicaranya.

Jantan dan menawan, begitulah para gemintang menyematkan kehebatan dan keberaniannya yang tersohor ke seluruh angkasa. Sang pengembara dari Bimasakti, menjelajah dimensi mengorbit melintas galaksi. Tak disangka, komet itu kini singgah di sisinya.

”Kamu terlalu berlebihan, Bulan. Tujuanku kesini hanya ingin menumpang gravitasi. Sekedar mengisi tenaga, tuk lanjutkan perjalanan lagi. Apakah ciptaan cantik sepertimu, tak keberatan jika aku berada disini untuk sementara waktu?”

Begitu manisnya pujian itu, memaksa Bulan mengangguk tersipu. Kalau saja tak terdistorsi cahayanya sendiri, niscaya rona merah pipinya akan memancarkan gerhana ke bumi.

”Silahkan saja, menumpanglah sesukamu. Tapi, satu hal yang perlu kau ketahui. Tidak ada yang gratis di Bimasakti ini, Tuan Halley.” Bulan mencoba menggodanya.

“Oh, benarkah begitu? Baiklah, berapa biaya yang engkau minta, Bulan?” Halley mengernyit bingung.

“Satu hari menumpang gravitasiku, ditukar dengan satu kisah pengembaraan serumu. Bagaimana tawaranku, Tuan Halley?” Bulan tersenyum.

Halley yang sempat bingung, kini tertawa mendengar tawaran lucunya.

“Baiklah, aku setuju. Kurasa aku mulai nyaman disini.”

Halley balas menerbitkan senyum yang sudah lama tak pernah seterang ini.

“Mungkin, untuk mengawali kisah pengembaraanku, aku akan memulainya dengan planet kelahiranku di ujung galaksi ini. Pluto, namanya. Planet kecil yang indah dan kebiruan.”

Halley pun mulai berbagi kisah pengembaraannya kepada Bulan yang antusias menyimak tanpa berkedip. Ia sendiri bingung antara memperhatikan cerita, atau paras komet Halley yang menawan. Jam demi jam terlewatkan, tak sedetik pun mata Bulan teralihkan. Setiap untaian kata yang terucap, terdengar seperti nyanyian yang indah, menenangkan.

Cara Halley menyampaiakan peristiwa-peristiwa astrologi dengan wibawa, menyihir hati kosongnya, tuk langsung menjadikan nama Halley memenuhi setiap sudutnya. Sesekali, Bulan sengaja menanyakan hal kecil hanya untuk berlama-lama mendengar penjelasan dari Halley.

Mungkinkah ini jawaban atas doa yang telah kupanjatkan selama ini, Tuhan? Senyuman Bulan seketika merekah tanpa aba aba.

“Bulan? Kau baik-baik saja?

Gawat. Halley melihatnya tersenyum sendiri.

Memerahlah wajah Bulan.

“Eh? Aku masih mendengarkanmu, Halley.”

“Cahayamu berpendar memerah. Manis sekali. Apa yang membuatmu tersenyum begitu lebarnya? Cerita apa yang ada di balik pendar merah merona itu?” Halley sungguh lihai membaca setiap jengkal permukaan ekspresi Bulan.

“Aku hanya membayangkan seluruh ceritamu di kepalaku. Hanya itu.”

“Baiklah jika begitu. Tapi aku sudah letih bercerita. Aku ingin mendengarkan kisahmu, Bulan.”

“Ah, hidupku membosankan. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan.”

“Aku hanya ingin mendengar lebih banyak tentangmu, Bulan. Apakah kamu cukup akrab dengan bumi?”

“Sebenarnya, Bumi adalah saudara kandungku. Aku bagian dari pecahan tubuhnya beberapa abad yang lalu. ”

Maka mengalirlah Bulan dengan curahan hatinya yang selama ini disimpan sendiri. Semakin intens, semakin dalam. Keduanya saling berbagi cerita masing masing. Mengakar jauh ke hati terdalam setiap mereka. Meski tak tersurat, mereka tau ada perasaan yang perlahan subur disana.

Terlebih lagi Bulan, yang tersihir habis-habisan oleh pesona Halley. Awalnya, tumbuh rasa percaya, lalu suka, lalu nyaman, lalu, lalu, lalu… sampai berujung pada sebuah rasa yang sulit sekali dideskripsikan. Semacam perasaan menggelitik aneh dalam tubuh Bulan yang membuatnya tak henti tersenyum saat di dekat Halley. Caranya bercerita, caranya mendengar, manis tutur kata, kehangatan di sekitarnya, senyumnya, wajahnya, semua-muanya. Ia jatuh hati pada Halley, hanya dalam beberapa hari bercengkerama. Waktu seolah membeku bagi mereka; dua benda langit yang sedang dilanda cinta. Gemintang pun iri membicarakan, mereka berdua yang sedang kasmaran.

Hari berganti pekan, tak terasa mereka lalui tanpa bosan. Hingga tibalah waktunya, komet Halley akan pergi menjelajah kembali.

“Bulan, sepertinya waktu singgahku tak lama lagi. Aku harus kembali pergi, memenuhi takdirku sebagai penjelajah sejati.”

“Tak bisakah sehari lebih lama lagi? Aku masih belum puas didekatmu — eh, maksudku mendengar cerita-ceritamu.” Bulan menunduk sedih tak terperi. Ia belum siap sendirian lagi.

“Maafkan aku, Bulan. Aku punya panggilan yang harus dipenuhi. Ada mimpi yang harus ku gapai.” Halley menatap lurus tanpa ragu ke dalam mata Bulan.

Hening sejenak. Masing masing berusaha mengumpulkan puing-puing kebahagiaan dari kenangan singkat yang tersisa.

“Baiklah, jika itu pilihanmu. Siapalah aku menghentikan komet legendaris sepertimu.” Bulan mengangkat bicara. “Tapi izinkan aku lancang bertanya satu hal ; apakah hatimu sudah memiliki tempat pulangnya yang sejati?”

Bulan bertanya dengan kenekatan yang entah datang dari mana. Ia tak mau menyesal melewatkan kesempatan ini. Sekarang, atau tidak sama sekali.

“Rembulan,” Halley mendekatkan dirinya. Lekat. Seakan berusaha menghangatkan hatinya yang dingin oleh perpisahan.

“Beribu planet telah ku jelajahi. Berjuta satelit telah ku singgahi. Tapi Demi Waktu dan Semesta, tidak kutemukan yang se sempurna dirimu sebagai tempat singgah sejati.”

Bulan menitikan air mata. Mengharu-biru.

Ia tak menyangka, rasa yang tumbuh dihatinya ternyata berbalas cinta padanya. Sebelum bersiap pergi, Halley menoleh sebentar mengucap kalimat perpisahan.

“Rembulan, aku jatuh hati pada cantik keindahan paras dan pribadimu. Aku tak ingin hubungan kita hanya sebatas tempat singgah belaka. Setelah semuanya selesai, aku akan pulang. Kembali padamu. Maukah kau menunggu kedatanganku?

O, Rembulan, maukah kau menjadi rumah sejati bagiku?” mata Halley tak mampu menyembunyikan dinginnya kesedihan. Sementara itu, Rembulan tergugu berlinang.

Hening mengambil alih sejenak, saat Bulan mengangkat wajahnya lurus kepada komet yang baru saja menyatakan cinta padanya. Dengan penuh tekad dan kepastian, Bulan memberikan kalimat balasan yang tak kalah pilu.

“Meski Langit tak lagi utuh.

Meski Surya enggan memberi restu.

Meski gemintang bertabur, meremah, memerah, lalu melebur menjadi berjuta Lubang Hitam yang melahap semesta kedalamnya.

Aku akan tetap disini, menunggumu.”

Senyum Halley merekah. Ia yakin tak salah memilih rumah,

“Aku mencintaimu, dan akan terus begitu. Selalu. Jaga dirimu, Bulanku.”

Komet itu melesat melintasi gelapnya angkasa. Mengembara ke antah berantah, meninggalkan Bulan, yang masih memandangi jejak cahayanya.

“Walau sejuta tahun lamanya. Aku akan tetap setia. Menunggumu pulang hingga akhir datang. Setiap butir debu, setiap jengkalku, bahkan setiap pendar cahayaku adalah milikmu, komet Halley.”

Demikian.

Bulan kembali jatuh ke dalam lembah kesedihan.

Dipeluk kembali oleh kesepian.

Kini, ia kembali sendirian, dalam panjangnya masa penantian.

-Selesai

12 April 2023, Bangil, Jawa Timur.

Afgan D. Kusumanegara


메타데이터
post_id
f97af0d6b731
slug
ada-duka-di-angkasa-f97af0d6b731
url
https://medium.com/@djanggiee/ada-duka-di-angkasa-f97af0d6b731
canonical_url
https://medium.com/@djanggiee/ada-duka-di-angkasa-f97af0d6b731
author_url
https://medium.com/@djanggiee
status
ok
fetched_at
2026-06-22 19:40:15