Perut Kenyang, Hidup Senang
Tiga kali sehari, saya merasa lebih berbahagia
Perut Kenyang, Hidup Senang
Tiga kali sehari, saya merasa lebih berbahagia
Setiap hari, saya selalu menunggu-nunggu sepiring nasi dan lauk sedap berada di atas meja makan. Ketika masa itu, semua tugas melelahkan dapat saya singkirkan sementara. Kredit gambar: Ali Inay.
Sebagai mahasiswa, saya diliputi kekhawatiran dari keempat penjuru hala mata angin. Tugas tidak boleh sampai saya kumpulkan melewati tenggat, apalagi biarkan sampai menggunung dan tiba-tiba longsor; keterlibatan dengan himpunan-himpunan jangan lupa saya hiraukan; uang diharuskan tetap menambunkan dompet saya; dan teriakan ragawi harus selalu saya tunduki supaya ketiga keharusan sebelumnya masih mungkin saya jalani.
Kehidupan saya jauh berbeda sekali jika dibandingkan dengan sewaktu saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Kala itu, saya masih bisa bersantai-santai sembari mengerjakan sedikit demi sedikit semua tugas yang jumlahnya tidak banyak — dan mengumpulkannya bilamana waktu pengumpulan sudah dekat. Hal itu tidak lagi berlaku — padahal saya masih mengingininya — pada kehidupan perkuliahan bermula.
Adakalanya, saya masih bisa bertahan dengan tekanan berlarut-larut dari dunia perkuliahan, tetapi manusia akan tumbang juga pada akhirnya — dan bangkit bila waktunya sudah tiba. Ketika muak berkuasai dalam sanubari, merajuknya saya tidak memperbolehkan pembendungan oleh niat sebesar yang apa pun itu. Pada masa itu, semua informasi yang berusaha menuju otak dicegah oleh polisi batin, dan kegiatan lain sebagai pengalihan harus saya jalankan.
Salah satu kegiatan itu merupakan makan. Mengasupkan makanan melalui kerongkongan bukan sekadar keperluan manusiawi saya, melainkan pula waktu jiwa dan raga saya menyanggupkan seluruh diri saya kembali untuk kegiatan-kegiatan yang masih tertunda.
Daur trimatra
Matahari menyambut
Penolakan saya terhadap semangkok bubur ayam untuk sarapan merupakan suatu kemuhalan. Manakala saya disodori dengan hidangan tersebut — mau dan tanpa tidak mau — saya selalu bersemangat menghabiskannya sampai suapan terakhir. Setiap suapan suam-suam kukunya mengawani pagi yang dingin tanpa peduli musim, dan kadang-kadang memberikan kejutan kecil melalui lidah saya. Kredit gambar: Zaky Hadi.
Sebelum menjalani pagi dengan kuliah atau — jikalau libur — mengerjakan sampai selesai semua tugas kuliah, saya disuguhi dengan semangkok bubur ayam. Ketika orang ramai memperdebatkan cara memakannya yang benar — diaduk atau tidak diaduk — saya lebih mempermasalahkan kenyang atau tidak kenyangnya saya sesudah sajian tersebut dihabiskan dan melalui kerongkongan saya untuk nanti dicerna oleh sistem pencernaan saya.
Cantik sekali penampakan semangkok bubur ayam ciptaan orang rumah ketika bersinggah di atas meja kamar tidur saya. Pada bagian puncak, ada taburan daun bawang yang menghasilkan kesan asri alam dan tersebar secara merata seakan membentuk angin puting beliung yang menarik saya masuk untuk mengajak saya melahap keseluruhan bubur ayam. Di pusat tarian angin itu, jiwa menjumpai kerumunan kacang tanah yang diitari oleh potongan-potongan telur puyuh, dan di bawah keduanya — selapis di atas bubur — ada suwiran daging ayam yang ketika digigit menyerbakkan kegurihan ke segala penjuru lidah saya.
Manakala saya tidak bersemangat dengan bubur ayam — manusia adakala bisa merasa bosan — saya mengganti hidangan sarapan tersebut dengan yang masih mengandung nasi, yakni nasi goreng. Sederhana tampangnya, tetapi turut mengenyangkan perut dan memuaskan sanubari saya. Nasi goreng di rumah saya merupakan amalgam semua jenis kenikmatan yang mampu dibayangkan oleh pemasak dan penggemar nasi goreng — daging ayam, bakso, telur ceplok, mentimun, dan kerupuk udang.
Selepas membuang sisa dari hari sebelumnya dan membasuh sekujur tubuh, saya selalu menyempatkan diri menyarap — tanpa pengeculian dan tanpa prasyarat. Bak mobil tanpa bensin yang tiada boleh berjalan, diri saya tidak dapat bergiat bilamana asupan gizi di dalam perut masih kosong melompong. Sarapan bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan pokok, dan sewaktu suapan pertama mendarat di lidah saya, tiada nikmat lain apa pun yang mampu — ataupun pantas — menandinginya.
Matahari berkuasa
Jus buah merupakan si pemalum andal dan tiada tandingan. Bila waktunya berkena, saya meminumnya sewaktu siang bolong terik berdiam di awang-awang. Cepat dibuat, mudah dicari, dan enak dirasa — ketiga hal itu harus dan pasti selalu pada setiap jus buah pilihan saya. Kredit gambar: Jugoslocos.
Sang raja mentari bertengger dan memantau dari atas sana seluruh umat manusia yang tengah menjalani kegiatan mereka masing-masing. Tatkala musim kemarau menghunjam, panas mendatangkan cucuran keringat sebagai tamu istimewa; bilamana musim hujan mengambil alih takhtanya, dingin sampai merinding pada keseluruhan tubuh tidak terhindari. Adakala panas bermula ketiga matahari menyambut, dan dingin berlanjut ketika turunlah panas dari singgasana.
Dualistik cuaca di kediaman saya, dualistik pula cara saya menghaturkan senyuman hangat pertanda sambutan kepada dirinya. Jikalau saat itu merupakan panas di segala penjuru, saya menyantap sesuatu yang dapat beresonansi dengan suasana sekitaran — dan memalumkan saya sampai nanti sore bila saya beruntung. Pertama dan paling utama, buah-buahan menjadi santapan yang mendampingi kala itu, dan supaya lebih cepat dimasukkan ke dalam lambung, saya kadang mencari bentuknya sebagai jus buah.
Jika sekitaran saya hanya mengirimkan jarum-jarum penggigil, makanan dingin menjadi pantangan — bila dilanggar, mungkin besok hari saya harus berizin — dan makanan hangat menjadi keharusan. Bagaikan api unggun penghangat sebadan-badan di tengah pegunungan yang bisa mengundang hipotermia, bihun kuah menjadi penyelamat saya ketika suasana dingin merajalela dan memenuhi asupan gizi setelah bersarap dengan kehangatan tadi pagi.
Pada saat seperti itu, saya mungkin sekali menghabiskan waktu dengan para sejawat perkampusan, dan seraya menghabiskan makanan, saya juga memenuhi kebutuhan saya sebagai manusia dalam hal sosial. Sejenak, tugas-tugas saya taruh ke samping, saya anggap tidak pernah ada, dan saya abaikan dan anggap begitu sampai suapan — atau seruputan — terakhir.
Matahari berpulang
Sebagai penuntas daur trimatra, sepiring nasi dengan lauk-pauk ialah hidangan yang tidak pernah terlupakan. Terserah kepada orang rumah sebagai pemilih pendamping nasi, tetapi ayam bakar ialah salah satu kesukaan saya — dan nikmatnya menukik naik pesat jika dibubuhi mentimun dan selada. Kredit gambar: Mufid Majnun.
Apabila masih berhinggap di dalam kampus atau sudah bermenclok di dalam rumah setaka, dan matahari sudah makin memudar dari jangkauan mata — ditelan oleh kegelapan dan berganti dengan rembulan — tidak ada satu masa pun ketika saya melewati — entah atas keinginan saya maupun tidak — masa itu hanya dengan perut kosong. Seusai berkegiatan seharian dan berlelah sampai kering kerontang gara-gara wabah kelelahan yang memborbardir seluruh tubuh, tibalah waktu bagi saya bersantap dengan makanan yang jauh lebih memuaskan daripada yang dimakan oleh saya pada dua masa terdahulu — nasi dan lauk-pauk.
Biasanya, matahari hendak kembali ke sangkarnya — menjauh dari muka buana — tetapi tugas-tugas dari kuliah sudah menjelma sebagai gunung. Sebagai pembenci kebiasaan menunda-nunda segala gawai, saya terdorong menuntaskan semua kewajiban kemahasiswaan saya secepat yang bisa saya jangkau. Akan tetapi, ketika waktu makan malam sudah tiba, setiap penghuni di dalam tubuh saya menolak ingin lanjut dengan tugas, dan justru meminta jatah asupan wajib agar ada pasokan tenaga terakhir pada hari itu.
Nasi harus tersedia — saya mengambil secukupnya — sementara penghuni rumah menyediakan kepada saya lauk-pauk sesuai dengan keberadaan bahan masakan pada hari itu, dan saya hanya diminta duduk manis — dan sesekali membantu penyajian bilamana ada kesulitan — dan memakan lahap-lahap seluruh sajian yang ditaruh di atas meja makan. Apa pun yang kepada saya disajikan — tumis kangkung atau ayam bakar— saya telan dengan bersemangat membara karena saya mengetahui bahwa semuanya sehat demikian adanya — dan membuangnya gara-gara ketidakselarasan dengan selera saya merupakan pantangan.
Guna menghindarkan diri dari kebosanan, saya membohongi otak sendiri dengan menciptakan suasana keramaian palsu melalui tontonan pada layar ponsel genggam. Saya tidak terlalu pemilih sebagai penikmat video daring, maka video teratas — asalkan bukan iklan — akan langsung saya tekan dan jadikan tontonan sampai makanan saya habis. Lalu, bagaimana dengan tugas? Tetap saya perlakukan selayaknya saat siang hari — abaikan sementara, seolah-olah tidak pernah ada, dan kembali berpusing akannya sesudah pembersihan piring makan saya mencapai koda.
Tuntas makan, lanjut bekerja
Kenyang pada perut tidak hanya rasakan setelah makan, tetapi juga lega jiwa karena bisa meluangkan waktu sebentar saja guna melepaskan diri dari tugas perkuliahan yang menjerat. Selama makan, tidak hanya terjadi perpindahan makanan dari piring ke mulut, lalu kerongkongan, dan terakhir sistem pencernaan, sebelum menjadi kotoran di kamar mandi; tetapi pula keseronokan temporer dari kegiatan sampingan sembari makan, yaitu berbincang dengan sepantar dan menyaksikan tontonan lewat peranti ginerak.
Sejujurnya, saya masih ingin keasyikan selama makan tidak berakhir segera sesudah butir nasi terakhir memasuki mulut saya — dan kemudian saya telan — tetapi apalah yang bisa saya perbuat. Kesibukan berkuliah terlalu menyita waktu dan menguras banyak tenaga — fisik maupun psikis. Makan terus-menerus bisa menjadi pelarian bagi saya; setidaknya, saya mempunyai alasan yang bagus — meyakinkan dan berfondasi kuat — supaya bisa mengabaikan pekerjaan kuliah — sungguhpun hanya sementara.
Namun, saya tidak bisa terus-terusan menghibur diri dengan kesenangan tersebut, tetapi malah abai akan kewajiban akademis saya. Meskipun tidak akan pernah sampai kapan pun saya merasa bosan dengan kegiatan makan, hal itu tidak meniadakan semua tugas yang makin berjarak dekat dengan langit-langit rumah saya.
Bagaimanapun, saya harus mampu menyeimbangkan kedua kegiatan tersebut. Tiga kali sehari, saya makan sesuai takaran, dan langsung setelah itu melanjutkan sampai tuntas — jika sempat pada hari itu juga — semua tanggung jawab yang ada. Apabila berkeinginan melenceng dari ketetapan tersebut — dan malah berhasil — kenikmatan selama makan mungkin tidak bisa saya resapi, dan keberadaan tugas malah menjadi siksaan yang berkali lipat.
Dengan peralihan fase kehidupan saya dari siswa menjadi mahasiswa, saya menyadari satu hal, yakni keharusan saya mampu menjadwalkan setiap kegiatan dan mematuhi jadwal tersebut. Kebebasan dari tugas-tugas masih boleh dirasakan oleh saya ketika makan, tetapi tidak boleh menjadi alasan saya melenakan diri. Dengan melama-lamakan makan, saya turut melama-lamakan penuntasan semua tugas saya — dan kedatangan tugas baru takkan bergantung pada kehendak saya.
Maka dari itu, saya harus mencukupkan waktu makan. Kunyahlah setiap sayur-mayur yang melintasi gigi dengan kuat sampai melembek dan sudah layak ditelan, dan sembari itu, nikmatilah setiap saat sebelum harus kembali ke masa pencobaan — dan mengulangi siklus itu entah pada hari yang sama ataupun besok. Sekarang, perut saya berkeroncong. Saya hendak menenangkannya terlebih dahulu.
메타데이터
- post_id
- f97e6b4bb02e
- slug
- perut-kenyang-hidup-senang-f97e6b4bb02e
- url
- https://medium.com/@nicholasmhalim/perut-kenyang-hidup-senang-f97e6b4bb02e
- canonical_url
- https://medium.com/@nicholasmhalim/perut-kenyang-hidup-senang-f97e6b4bb02e
- author_url
- https://medium.com/@nicholasmhalim
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-01 03:22:41