← Back to list

Reading Broken Strings at This Age

when feeling broken feels too familiar

oseanrk · 2026-01-25 09:15 · 18 claps · 1.9 min read
#mindfulness #books #mental-health #life #psychology
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Mental Health & Psychiatry GEN · Genomics & Sequencing PSY · Psychology 📚 · Books & Reading 🧘 · Spirituality

Reading Broken Strings at This Age

when feeling broken feels too familiar

Aku baca Broken Strings karya Aurelie Moeremans di usia di mana hidup belum sepenuhnya runtut. Emosi naik-turun, relasi datang dan pergi, dan banyak hal terasa berat tanpa tahu harus dijelasin ke siapa. Buku ini nggak terasa kayak “buku motivasi”, tapi lebih kayak catatan jujur yang kebetulan ditaruh di tangan kita. It doesn’t try to sound wise, it just feels real.

Yang paling kerasa dari Broken Strings adalah capeknya. Capek bertahan, capek berharap, capek jadi kuat terus. Dan di usia sekarang ini, capek itu sering diremehkan “kamu masih muda, nanti juga lewat.” Tapi buku ini nggak ngecilin rasa itu. It validates the exhaustion, even when you’re still growing, still figuring things out.

Broken Strings juga nggak ngajarin cara “sembuh”. It doesn’t promise closure or a happy ending. Buku ini cuma duduk bareng kamu di tengah kekacauan itu, bilang kalau it’s okay to feel lost, it’s okay to feel broken. Feeling this much doesn’t mean you’re weak it means you’re alive and learning.

Buat aku, buku ini cocok dibaca di usia yang masih penuh tanda tanya. When you don’t need answers yet, just understanding. Karena kadang, yang kita butuhin bukan solusi tapi pengakuan kalau apa yang kita rasakan itu valid, dan masuk akal.

Sudut pandang lain untuk melihat Broken Strings adalah dengan membacanya bukan sebagai buku tentang perasaan, tapi sebagai produk dari budaya emosi generasi sekarang. Buku ini menarik bukan cuma karena isinya sedih, tapi karena ia merepresentasikan cara anak muda hari ini memproses luka, fragmented, short, reflective, dan sangat personal. Broken Strings terasa seperti emotional documentation bukan untuk diselesaikan, tapi untuk disimpan. Dan itu bikin kita perlu kritis apakah buku ini membantu kita memahami rasa sakit, atau justru menormalisasi staying in it?

Aurelie doesn’t position pain as something that needs to be confronted or resolved. Pain is observed, archived, bahkan almost aestheticized. This works well for readers our age who feel unheard, because it validates emotional chaos without demanding maturity too soon. Tapi di sisi lain, buku ini bisa dibaca sebagai refleksi budaya “sad but self-awarewhere being broken becomes an identity rather than a phase. Broken Strings doesn’t challenge the reader to outgrow the pain… it lets the pain stay, comfortably. And that’s a bold choice.

Buku ini bukan soal healing, tapi soal recognition. It tells you… your sadness is real, even if it goes nowhere. Untuk remaja, itu powerful but also risky. Because validation without direction can either feel freeing or quietly trapping. Broken Strings akhirnya lebih cocok dibaca sebagai arsip emosi usia muda, bukan panduan hidup. A snapshot of a generation learning how to feel deeply, but still unsure what to do with those feelings once they’ve been named.

25/1/2026


메타데이터
post_id
f98c8eabe3ed
slug
reading-broken-strings-at-this-age-f98c8eabe3ed
url
https://medium.com/@oseanrk/reading-broken-strings-at-this-age-f98c8eabe3ed
canonical_url
https://medium.com/@oseanrk/reading-broken-strings-at-this-age-f98c8eabe3ed
author_url
https://medium.com/@oseanrk
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13