← Back to list

APAKAH PERSEPSI PASAR TURUT ANDIL DALAM MENGGERAKKAN RUPIAH? STUDI KASUS GEJOLAK RUPIAH 2025 & 2026

ECOFINSC FEB UNDIP · 2026-04-14 16:39 · 0 claps · 21.0 min read
#ekonomi #keuangan #kajian #rupiah #ecofinsc
Open on Medium ↗

APAKAH PERSEPSI PASAR TURUT ANDIL DALAM MENGGERAKKAN RUPIAH? SEBUAH STUDI KASUS GEJOLAK RUPIAH DI TAHUN 2025 & 2026

BAB 1

OVERVIEW

(1.1 PERKEMBANGAN RUPIAH)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami tekanan dan mencapai titik terendah pada Januari 2026 di kisaran Rp16.900 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan domestik, seperti penguatan dolar AS, meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, serta keluarnya aliran modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia. Data menunjukkan bahwa pada Januari 2026 rupiah sempat berada di sekitar Rp16.840–Rp16.945 per dolar AS, yang menandakan adanya tekanan signifikan terhadap stabilitas nilai tukar.

Gejolak rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak kuartal III (Q3) tahun 2025. Pada periode tersebut, nilai tukar rupiah menunjukkan pergerakan yang fluktuatif dan cenderung melemah. Hal ini dipengaruhi oleh sentimen global seperti kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, meningkatnya permintaan dolar di pasar internasional, serta ketidakpastian kondisi ekonomi dunia. Kondisi tersebut menyebabkan investor global lebih memilih aset berdenominasi dolar sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Jika dilihat dari grafik pergerakan nilai tukar, rupiah sempat mengalami penguatan pada pertengahan 2025 sebelum kembali melemah menjelang akhir tahun hingga awal 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti arus modal internasional dan kondisi pasar global, serta faktor domestik seperti permintaan valuta asing dari sektor korporasi dan kebutuhan impor. Oleh karena itu, koordinasi kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dan stabilitas ekonomi domestik menjadi faktor penting dalam menjaga nilai tukar rupiah.

Grafik 1: USDIDR 21 Maret 2026, source; tradingeconomics.com

Grafik 1: USDIDR 21 Maret 2026, source; tradingeconomics.com

(1.2 Kondisi Dalam Negeri (potensi pengurangan credit rating Indonesia oleh S&P dan Moody’s)

Potensi penurunan credit rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Standard & Poor’s (S&P) dan Moody’s Investors Service menjadi salah satu perhatian dalam kondisi ekonomi dalam negeri. Credit rating merupakan penilaian terhadap kemampuan suatu negara dalam membayar utang dan menjaga stabilitas fiskalnya. Pada 2026, S&P Global kembali mengafirmasi peringkat kredit jangka panjang Indonesia pada BBB (investment grade) dan jangka pendek pada A-2 dengan outlook stabil pada Selasa, (29/07), tapi negara tetap harus waspada karena S&P global khawatir dengan risiko penurunan bila beban utang yang dimiliki Indonesia melewati batas yang semestinya. Begitupula begitupula dengan Moody’s yang juga masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2 (investment grade), namun juga mengubah outlook menjadi negatif karena adanya kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan ekonomi dan risiko fiskal di masa depan. Meskipun demikian, Indonesia dinilai masih memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil, sumber daya alam yang melimpah, serta kebijakan moneter yang relatif kredibel.

Jika peringkat kredit Indonesia benar-benar diturunkan di masa depan, dampaknya dapat memengaruhi kepercayaan investor global terhadap perekonomian Indonesia. Penurunan rating biasanya membuat investor menilai risiko investasi menjadi lebih tinggi sehingga arus modal asing (capital outflow) dapat berkurang dan biaya pinjaman pemerintah meningkat. Selain itu, lembaga pemeringkat juga menyoroti potensi tekanan fiskal, seperti meningkatnya defisit anggaran dan biaya pembayaran bunga utang pemerintah yang dapat memengaruhi kesehatan fiskal negara. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal, stabilitas kebijakan ekonomi, serta meningkatkan penerimaan negara agar kepercayaan pasar internasional tetap terjaga.

(1.3 Kondisi Global (Ketegangan Timur Tengah yang nantinya akan menaikkan risk premium))

Perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, yang dimulai pada tahun 2018, merupakan konflik ekonomi besar yang melibatkan dua ekonomi terbesar dunia. Konflik ini ditandai dengan penerapan tarif tinggi oleh AS terhadap barang impor dari Tiongkok senilai sekitar $350 miliar, sementara Tiongkok membalas dengan tarif pada barang ekspor AS senilai $100 miliar. Perang tarif ini mencerminkan persaingan ekonomi dan teknologi yang intens, serta upaya AS untuk mempertahankan hegemoninya di tengah kebangkitan ekonomi Tiongkok. (Fajgelbaum & Khandelwal, 2022). Tentu saja perang tarif ini akan memiliki dampak secara global seperti perubahan aliran perdagangan, gangguan rantai pasok, kerugian ekonomi. Dalam jangka panjang perang tarif ini akan mempengaruhi Foreign Direct Investment (FDI) di negara-negara berkembang seperti Indonesia dan akan menciptakan pula potensi decoupling economic dan friendshoring dalam konteks ekonomi geopolitik.

Selain perang tarif, ada juga konflik yang sedang memanas akhir-akhir ini yaitu konflik Timur Tengah. Timur Tengah tetap menjadi kawasan penting dalam geopolitik dan keuangan global, dengan konflik yang berulang, ketergantungan sumber daya, dan aliansi strategis yang membentuk stabilitas ekonomi internasional. Ketegangan geopolitik yang berasal dari kawasan ini — seperti Arab Spring, krisis GCC, dan konflik yang sedang berlangsung — secara konsisten meningkatkan risk premium global, mempengaruhi harga aset, sentimen inestor, dan volatilitas pasar di seleruh dunia termasuk Indonesia. (Ahmed et al., 2025). Indonesia memiliki ketergantungan impor energi pada negara-negara timur tengah sehingga rentan terhadap akumulasi harga energi akibat konflik Timur Tengah. Ketidakstabilan di kawasan ini juga dapat mempengaruhi hubungan dagang dan investasi Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah. (Rismawati et al., 2025)

Perang tarif dan konflik di timur tengah juga akan mempengaruhi stabilitas perokonomian Indonesia termasuk nilai tukar rupiah. Ketidakpastian global akibat perang tarif dan konflik Timur Tengah meningkatkan risk premium, yaitu biaya tambahan yang harus ditanggung investor untuk berinvestasi di negara-negara dengan risiko tinggi. Hal ini dapat mempengaruhi aliran investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia sehingga adanya risiko geopolitik dan ekonomi global dapat menurunkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi, meskipun kebijakan reformasi telah dilakukan untuk meningkatkan daya saing. (Sakinah et al., 2025).

BAB 2

BALANCE OF PAYMENT

(2.1 Memahami Balance of Payment/NPI)

IMF (1996) mendefinisikan neraca pembayaran (balance of payment (BOP)) sebagai laporan statistik yang meringkas secara sistematis, selama periode waktu tertentu, transaksi ekonomi suatu negara dengan negara-negara lainnya. Transaksi antara penduduk (residents) dengan bukan penduduk (nonresidents) meliputi barang, jasa, pendapatan, tranfer serta klaim finansial atas dan kewajiban finansial kepada negara-negara lain. Secara sederhana dapat disimpulkan balance of payment merupakan catatan transaksi ekonomi perdagangan internasional antara negara dengan negara lain dalam periode tertentu.

Di Indonesia, biasanya Bank Indonesia rutin mengumumkan laporan neraca pembayaran, baik secara bulanan maupun kuartalan. Publikasi ini biasanya dikenal dengan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Pada tahun 2025 triwulan IV mencatat ketahanan sektor eksternal yang tetap terjaga, di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Transaksi berjalan tahun 2025 mencatat defisit yang terkendali sebesar 1,5 miliar dolar AS (0,1% dari PDB), lebih rendah dibandingkan dengan defisit tahun 2024 sebesar 8,6 miliar dolar AS (0,6% dari PDB).

Dalam neraca pembayaran terdapat beberapa bagian utama. Bagian pertama adalah transaksi berjalan, yang mencakup ekspor dan impor barang dan jasa, pendapatan yang diperoleh dari investasi, serta jenis transfer seperti kiriman uang yang dilakukan oleh tenaga kerja yang bekerja di luar negeri. Mengalami surplus terjadi ketika jumlah ekspor lebih besar daripada jumlah impor, sehingga negara tersebut menerima lebih banyak uang dari luar negeri. Sebaliknya, jika impor lebih besar daripada ekspor, maka akan terjadi defisit yang berarti uang keluar negeri lebih banyak dibandingkan uang masuk.

Bagian kedua menggambarkan transaksi modal dan finansial, yang mencatat arus investasi yang terjadi antar negara. Contohnya meliputi investasi langsung yang dilakukan oleh perusahaan asing, pembelian saham atau obligasi, serta pengambilan pinjaman dari luar negeri. Bagian ini menjelaskan cara modal atau dana berpindah dari satu negara ke negara lain untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi, seperti membangun pabrik atau melakukan investasi perusahaan.

(2.2 Memahami perbedaan CA (Current Account) dan CFA (Current Financial Account))

Neraca pembayaran (balance of payments) merupakan catatan yang menunjukkan seluruh transaksi ekonomi antara suatu negara dengan negara lain dalam periode tertentu. Dua komponen penting dalam neraca pembayaran adalah Current Account (CA) dan Current Financial Account (CFA). Current Account mencatat transaksi ekonomi yang bersifat riil, seperti perdagangan barang dan jasa, pendapatan faktor produksi seperti bunga dan dividen, serta transfer seperti remitansi. Melalui akun ini dapat diketahui apakah suatu negara mengalami surplus atau defisit dalam perdagangan internasional.

Sementara itu, Current Financial Account mencatat arus masuk dan keluar modal antarnegara yang berkaitan dengan kepemilikan aset keuangan. Transaksi dalam akun ini meliputi investasi langsung luar negeri (foreign direct investment), investasi portofolio seperti pembelian saham dan obligasi, serta perubahan cadangan devisa. Berbeda dengan Current Account yang berfokus pada aktivitas ekonomi riil, Current Financial Account lebih berkaitan dengan pergerakan investasi dan aliran modal dalam sistem keuangan internasional.

Dalam praktiknya, kedua akun ini saling berkaitan dalam menjaga keseimbangan ekonomi suatu negara. Defisit pada Current Account sering kali dibiayai oleh surplus pada Current Financial Account melalui masuknya investasi asing. Hal ini dapat memberikan manfaat bagi perekonomian karena menambah sumber pembiayaan bagi pembangunan dan investasi domestik.

Namun demikian, ketergantungan yang terlalu besar pada arus modal asing juga dapat menimbulkan risiko bagi stabilitas ekonomi, seperti ketidakstabilan nilai tukar mata uang serta memicu volatilitas ekonomi saat terjadi penurunan kepercayaan investor atau perubahan kondisi ekonomi global sehingga arus modal dapat keluar (capital outflow) secara tiba-tiba. Oleh karena itu, keseimbangan antara Current Account dan Current Financial Account menjadi penting agar perekonomian suatu negara tetap stabil dan berkelanjutan.

(2.3 Memahami Capital and Financial Account & Mengapa CFA negatif = Capital Outflow)

Capital and Financial Account (CFA) merupakan instrumen dalam Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mencatat perubahan neto kepemilikan aset finansial antarnegara. Secara fundamental, terjadinya net capital inflow (aliran modal masuk) merepresentasikan CFA positif. Kondisi ini terjadi ketika investor asing menanamkan modalnya di suatu negara, misalnya melalui investasi langsung atau pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Sebaliknya terjadinya net capital outflow (aliran modal keluar), ketika investor asing menarik modalnya dari pasar keuangan domestik atau ketika investor domestik menanamkan modalnya di luar negeri, melampaui total investasi asing yang masuk ke dalam negeri. Dalam konteks stabilitas moneter, CFA negatif menandakan bahwa Indonesia sedang kehilangan basis pendanaan eksternalnya, yang secara langsung menguras cadangan devisa untuk menjaga keseimbangan pasar valuta asing.

Berdasarkan data ekonomi Indonesia pada kuartal III tahun 2025, posisi CFA diprediksi mengalami tekanan defisit yang signifikan sebesar USD 8,1 miliar. Kondisi ini dipengaruhi oleh respons terhadap “kejut ekonomi” akibat suku bunga bank sentral global yang tinggi (higher-for-longer). Persepsi pasar yang memburuk terhadap narrowing spread (penyempitan selisih bunga) antara instrumen SBN dan US Treasury memicu investor institusional untuk melakukan rebalancing portofolio. Hal tersebut menyebabkan aliran keluar modal asing yang tercatat sebesar USD 2,2 miliar, lebih tinggi dibandingkan triwulan II. Peningkatan arus keluar neto investasi langsung tersebut terjadi dalam bentuk surat utang negara dan kenaikan pembayaran pinjaman sektor swasta. Hal ini membuktikan bahwa CFA negatif pada Q3–2025 adalah hasil dari ekspektasi rasional investor yang memprioritaskan keamanan aset pada negara maju dibandingkan mengejar imbal hasil di pasar negara berkembang yang sedang bergejolak.

Secara spesifik, kondisi capital outflow pada Q3–2025 didominasi oleh pelepasan aset di pasar obligasi negara (SBN) oleh investor asing. Penurunan kepemilikan asing ini menciptakan tekanan ganda di satu sisi meningkatkan yield SBN yang membebani biaya utang pemerintah, dan di sisi lain menciptakan lonjakan permintaan Dollar AS. Perilaku market follower di tingkat domestik turut memperparah kondisi ini, kepanikan investor lokal yang mengikuti jejak exit investor asing menyebabkan volume outflow membengkak. Dampaknya, Rupiah mengalami depresiasi yang melampaui nilai fundamentalnya akibat kelangkaan likuiditas valas yang disebabkan oleh struktur CFA yang tidak seimbang.

Secara argumentatif, hubungan CFA yang negatif dan capital outflow pada periode 2025–2026 merupakan faktor utama dibalik gejolak rupiah. Arus capital outflow ini tidak hanya memengaruhi neraca pembayaran, tetapi juga berpotensi menekan stabilitas nilai tukar rupiah karena investor menjual aset berdenominasi rupiah dan menukarnya ke mata uang asing sebelum memindahkan dana ke luar negeri. Dengan demikian, hubungan antara CFA dan capital outflow menjadi penting dalam menjelaskan dinamika pasar keuangan serta gejolak nilai tukar rupiah pada periode tersebut.

BAB 3

CAPITAL OUTFLOW

( 3.1 Total Outflow)

Berdasarkan laporan Bank Indonesia pada dokumen Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Triwulan III 2025 Tetap baik. NPI pada triwulan III 2025 mencatat defisit 6,4 miliar dolar AS dan pada posisi cadangan devisa pada akhir September 2025 tetap tinggi sebesar 148,7 miliar dolar AS, atau setara dengan pembiayaan 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negri pemerintah. Transaksi berjalan mencatat surplus sebesar 4,0 miliar dolar AS (1,1% dari PDB), Meningkat dibandingkan dengan defisit 2,7 miliar dolar AS (0,8% dari PDB) pada triwulan II 2025. Kinerja transaksi modal dan finansial tetap terkendali ditengah ketidak pastian pasar keuangan global yang tetap tinggi. Transaksi modal dan finansial pada triwulan III 2025 mencatat defisit sebesar 8,1 miliar dolar AS.

Grafik 2: Perbandingan Publikasi NPI, source; Bank Indonesia

Grafik 2: Perbandingan Publikasi NPI, source; Bank Indonesia

(3.2 Kondisi Outflow di pasar SBN dan SUN)

Pasar keuangan domestik Indonesia, khususnya pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Utang Negara (SUN), memiliki peran penting dalam pembiayaan APBN serta sebagai instrumen investasi bagi investor domestik dan asing. Pergerakan aliran modal asing di pasar obligasi pemerintah sering tercermin dalam aktivitas net buy maupun net sell. Triwulan III 2025 menjadi periode yang menantang bagi stabilitas sektor eksternal Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang persisten, pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Utang Negara (SUN) mengalami tekanan yang tercermin dari posisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

Menurut laporan resmi Bank Indonesia, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Triwulan III 2025 secara umum masih terjaga meskipun menghadapi tekanan dari sisi arus modal portofolio. Pada periode tersebut, NPI mencatat defisit sebesar USD 6,4 miliar, sementara transaksi berjalan tetap menunjukkan kinerja positif dengan surplus USD 4,0 miliar atau sekitar 1,1% terhadap PDB. Namun demikian, transaksi modal dan finansial mengalami defisit sebesar USD 8,1 miliar, yang terutama dipengaruhi oleh keluarnya aliran investasi portofolio dari pasar keuangan domestik, termasuk dari pasar surat utang pemerintah.

Defisit pada transaksi modal dan finansial tersebut mencerminkan fenomena net sell oleh investor asing, yaitu kondisi ketika nilai penjualan aset keuangan (terutama obligasi pemerintah dan saham) lebih besar dibandingkan pembeliannya. Aksi jual ini merupakan respons rasional investor global terhadap meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Berbagai sentimen eksternal, seperti perubahan arah kebijakan moneter global, dinamika suku bunga di negara maju, serta perkembangan ekonomi di Amerika Serikat, memicu munculnya risk-off sentiment di kalangan investor. Dalam situasi ini, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, untuk dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih aman atau memiliki risiko lebih rendah (safe haven assets).

Meskipun demikian, pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik tetap menunjukkan tingkat resiliensi yang cukup baik. Stabilitas pasar tercermin dari kinerja lelang obligasi pemerintah yang tetap kuat, dengan bid-to-cover ratio rata-rata sekitar 3,86 kali pada Triwulan III 2025. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap SBN masih tinggi dan likuiditas pasar perdana tetap terjaga. Kondisi tersebut didukung oleh likuiditas domestik yang memadai serta fundamental fiskal pemerintah yang relatif sehat, sehingga mampu meredam dampak tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik.

Grafik 3: NPI Indonesia Triwulan 3, source; Bank Indonesia

Grafik 3: NPI Indonesia Triwulan 3, source; Bank Indonesia

Defisit pada transaksi modal dan finansial pada Triwulan III 2025 tidak serta-merta mencerminkan kelemahan fundamental ekonomi domestik, melainkan lebih merupakan respons terhadap dinamika dan ketidakpastian di pasar keuangan global. Hal ini terlihat dari fenomena net sell oleh investor asing di pasar SBN dan SUN, yang tercermin dalam defisit investasi portofolio pada Neraca Pembayaran Indonesia. Aksi tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian portofolio investor internasional serta perubahan alokasi investasi global yang mendorong sebagian modal keluar dari pasar negara berkembang.

Meskipun demikian, kondisi ini tidak mengganggu stabilitas eksternal Indonesia secara keseluruhan. Kinerja ekonomi tetap terjaga berkat surplus transaksi berjalan, aliran investasi langsung (FDI) yang tetap positif, serta cadangan devisa yang memadai, yang mencerminkan masih kuatnya kepercayaan investor jangka panjang terhadap prospek ekonomi Indonesia. Dengan dukungan fundamental ekonomi yang relatif solid, Indonesia dinilai tetap memiliki ketahanan yang baik dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan global.

(3.3 Hubungan Outflow dengan Kondisi Rupiah)

Sepanjang triwulan III 2025, telah terjadi depresiasi kurs rupiah terhadap dolar AS, seiringan dengan munculnya arus modal keluar (capital outflow) secara besar-besaran pada pasar keuangan domestik. Dalam periode tersebut, Bank Indonesia menjelaskan depresiasi rupiah sejalan dengan keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan domestik. Fenomena tersebut terjadi pada saat kondisi fundamental, terutama pada neraca pembayaran internasional, masih dalam rentang normal. Artinya, depresiasi rupiah bukan semata-mata karena faktor fundamental, tetapi juga karena secara struktural dari sisi modal dan sentimen di pasar keuangan.

Ketika arus modal keluar terjadi pada pasar valuta asing, investor asing menjual aset yang dimilikinya di pasar domestik, investor tersebut akan menerima dana dalam bentuk rupiah. Setelah itu, rupiah tersebut akan dikonversikan ke dalam mata uang dolar Amerika Serikat dan ditransfer ke luar negeri. Proses konversi tersebut akan menambah permintaan terhadap mata uang dolar AS dan menambah supply rupiah yang beredar di pasar valuta asing. Hal ini akan menambah depresiasi terhadap nilai tukar rupiah, yang berarti semakin banyak arus modal keluar (capital outflow), maka semakin besar tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terjadi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi pasar terhadap Indonesia berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Apabila pasar memprediksi risiko di perdagangan publik meningkat, mereka cenderung mengalihkan investasi ke lokasi dengan imbal hasil yang lebih menguntungkan. Hal ini pada akhirnya memberikan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah akibat meningkatnya arus modal keluar (capital outflow) dari keuangan domestik. Ini menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi perekonomian, namun juga pada kepercayaan pasar terhadap perekonomian serta dari kebijakan yang dilakukan bank sentral.

BAB 4

PERSEPSI MARKET FOLLOWER DALAM PASAR SBN & SUN

(4.1 Memahami credit rating (S&P dan MOODY’S))

Credit Rating adalah penilaian yang diberikan oleh lembaga pemeringkat terhadap kemampuan suatu negara dalam memenuhi kewajiban membayar utangnya secara tepat waktu. Indikator ekonomi dan fiskal seperti stabilitas makroekonomi, tingkat utang pemerintah, pertumbuhan ekonomi dan kondisi kelembagaan politik suatu negara menajadi dasar atas penilaiannya. oleh karena itu, credit rating sering digunakan sebagai alat untuk menilai risiko bayar dari utang pemerintah. Credit rating juga merupakan alat penting bagi investor untuk menilai bagaimana tingkat keamanan investasi mereka.

Penilaian ini umumnya dilakukan oleh lembaga pemeringkat internasional, seperti Standar & Poor’s dan Moody’s. kedua lembaga ini memberikan evaluasi komprehensif terhadap indikator ekonomi dan fiksal suatu negara lalu masing masing pemeringkatannya menggunakan skala tertentu. Standar & Poor’s (S&P) ini memberikan penilaian lewat probability terjaidnya peristiwa gagal bayar dan selanjutnya memberikan peringkat yang mencerminkan tingkat credit rating suatu negara. S&P ini menggunakan skala huruf dari AAA hingga D, di mana peringkat ‘AAA-’ sebagai peringkat tertinggi layak investasi hingga ‘D’ yang menunjukkan kondisi gagal bayar. peringkat ini lalu dikelompokkan ke kategori investment grade dan non investment grade, di mana negara dengan kategori investment grade dianggap lebih mampu memenuhi kewajiban utangnya dan menunjukkan risiko relatif rendah sehingga lebih menarik bagi investor internasional.

Sementara itu Moody’s menggunakan skala Aaa hingga C, dengan prinsip yang sama. Moody’s ini menggunakan pendekatan Expected Loss, yang tidak hanya melihatn seberapa besar kemungkinan suatu negara akan gagal membayar tapi juga dengan memperhitungkan seberapa parah kerugian yang akan diterima investor jika gagal bayar tersebut terjadi. Peringkar Moody’s ini sering dianggap lebih sensitfi terhadap struktur hukum instrumen utang dan oerlindungan yang diberikan kepada kreditur.

(4.2 Memahami Premium)

Risk premium merupakan tambahan imbal hasil yang diminta investor sebagai kompensasi atas risiko ketika menanamkan modal pada suatu aset atau negara. Dalam konteks makroekonomi dan pasar keuangan, risk premium mencerminkan persepsi risiko investor terhadap stabilitas ekonomi, fiskal, maupun politik suatu negara. Semakin tinggi ketidakpastian atau risiko yang dipersepsikan oleh pasar, maka semakin besar pula risk premium yang diminta investor. Hal ini membuat investor menuntut tingkat pengembalian yang lebih tinggi ketika membeli aset seperti obligasi pemerintah atau menanamkan investasi di suatu negara.

Salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengukur risk premium suatu negara adalah Credit Default Swap (CDS). CDS dapat dipahami sebagai premi asuransi terhadap risiko gagal bayar utang suatu negara. Investor yang memegang obligasi dapat membeli CDS sebagai perlindungan apabila negara tersebut gagal memenuhi kewajiban utangnya. Oleh karena itu, semakin tinggi nilai CDS suatu negara, semakin tinggi pula persepsi risiko yang dimiliki oleh pasar terhadap negara tersebut.

Dalam kasus Indonesia, premi risiko dapat dilihat dari pergerakan CDS tenor 5 tahun. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025 CDS Indonesia sempat meningkat hingga sekitar 113,35 basis poin (bps) pada April 2025, naik dari sekitar 75,06 bps pada Januari 2025. Peningkatan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko ekonomi dan fiskal Indonesia pada periode tersebut.

Memasuki tahun 2026, nilai premi risiko Indonesia masih menunjukkan fluktuasi. Pada Maret 2026, CDS Indonesia tercatat berada di sekitar 92,18 basis poin, meningkat dari sekitar 67,32 bps pada awal Januari 2026. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal dan potensi perubahan kebijakan ekonomi yang dapat memengaruhi stabilitas keuangan dan nilai tukar rupiah. Dengan demikian, perubahan risk premium sering kali menjadi indikator penting yang mencerminkan bagaimana persepsi pasar dapat memengaruhi pergerakan aset keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.

(4.3 Hubungan antara persepsi dan capital outflow)

Credit Default Swap (CDS) adalah derivatif keuangan yang berfungsi sebagai asuransi terhadap gagal bayar entitas referensi, seperti pemerintah atau perusahaan. Penjual proteksi memberikan kompensasi kepada pembeli atas kerugian jika entitas tersebut gagal bayar. Spread CDS mewakili biaya asuransi ini dan banyak digunakan sebagai ukuran risiko kredit. Spread yang lebih tinggi menunjukkan risiko gagal bayar yang lebih tinggi. (Cont, 2010).

  1. Perbandingan Emerging vs. Developed Markets

Emerging Markets: Spread CDS di emerging markets lebih dipengaruhi oleh faktor risiko global dan regional daripada risiko spesifik negara. Selama periode tekanan pasar, efek limpahan internasional mendominasi, membuat spread ini sangat sensitif terhadap kondisi keuangan global. Emerging markets seringkali menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi dan efisiensi yang lebih rendah di pasar CDS dibandingkan dengan developed markets. (Fender et al., 2012)

Developed Markets: Spread CDS di developed markets cenderung lebih mudah diprediksi dan stabil, mencerminkan fundamental ekonomi yang lebih kuat dan risiko kedaulatan yang lebih rendah. Misalnya, negara-negara G7 menunjukkan ketergantungan jangka panjang yang konsisten dalam pergerakan spread CDS.(Ghosh et al., 2022)

Data terkini menunjukkan CDS 5 tahun Indonesia naik dari kisaran 60–70 bps menjadi sekitar 80 bps dalam rentang Januari hingga awal Februari 2026 tertinggi di kawasan Asia. Kenaikan ini menjadi yang paling tajam sejak akhir September 2025, dipicu oleh pemangkasan prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s. (Pratama & Hannany, 2026). Spread CDS yang tinggi menandakan peningkatan risiko gagal bayar, yang dapat berdampak negatif pada kepercayaan investor. Investor mungkin menganggap Indonesia sebagai tujuan investasi yang lebih berisiko, yang menyebabkan penurunan arus masuk modal dan biaya pinjaman yang lebih tinggi. (Aljarba et al., 2024). Di pasar negara berkembang, spread CDS yang tinggi seringkali berkorelasi dengan ketidakstabilan ekonomi dan keengganan terhadap risiko global, yang selanjutnya memperkuat sentimen negatif investor.

(4.4 Hubungan antara persepsi dan capital outflow)

Persepsi investor asing terhadap stabilitas ekonomi domestik sangat bergantung pada tiga indikator utama yaitu yield (imbal hasil), credit rating, dan premi risiko yang tercermin dalam Credit Default Swap (CDS). Investor melihat yield SBN sebagai refleksi daya saing aset terhadap instrumen global, bukan hanya sekedar keuntungan. Jika selisih antara yield domestik dan suku bunga global menyempit, investor akan mempersepsikan aset Rupiah sebagai instrumen berisiko tinggi dengan kompensasi rendah. Instrumen yang sering menjadi perhatian investor dalam konteks ini adalah obligasi pemerintah seperti Surat Utang Negara, karena instrumen tersebut mencerminkan kondisi pasar keuangan dan stabilitas fiskal suatu negara. Di sisi lain, credit rating dan prospek (outlook) berfungsi sebagai investasi institusional, di mana penurunan persepsi terhadap kredibilitas fiskal akan memicu aksi jual otomatis. Ketiga indikator ini menjadi petunjuk bagi investor untuk menentukan apakah sebuah negara masih layak menjadi tujuan investasi atau justru menjadi sumber risiko sistemik.

Ketika persepsi investor terhadap indikator-indikator tersebut memburuk, kecenderungan yang muncul adalah terjadinya capital outflow, yaitu penarikan dana oleh investor asing dari pasar keuangan domestik. Investor akan menjual aset berdenominasi mata uang domestik dan memindahkan investasinya ke negara lain yang dianggap lebih stabil atau memiliki risiko lebih rendah. Kondisi ini dapat memberikan tekanan terhadap pasar keuangan domestik serta berpotensi melemahkan nilai tukar karena meningkatnya permintaan terhadap mata uang asing. Oleh karena itu, perubahan persepsi investor terhadap indikator ekonomi seperti yield, credit rating, dan risk premium memiliki hubungan yang erat dengan dinamika capital inflow maupun capital outflow dalam suatu perekonomian.

BAB 5

SOLUSI

(5.1 Kredibilitas Fiskal)

Kredibilitas fiskal adalah tingkat kepercayaan investor dan pasar terhadap kebijakan keuangan negara, seperti bagaimana pemerintah APBN. Jika kredibilitas fiskal dianggap melemah, investor akan melihat adanya risiko yang lebih besar dalam perekonomian. Hal ini bisa terlihat dari kenaikan Credit Default Swap (CDS), yang merupakan Kontrak keuangan yang memungkinkan investor untuk menukar risiko kreditnya dengan investor lain dan menjadi indikator risiko gagal bayar utang. (Faradhita Aulia Rizky Maharani,2025). Ketika CDS naik hingga 111 basis point, artinya pasar menilai risiko ekonomi negara tersebut meningkat. Kondisi ini sering membuat investor memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih aman, sehingga terjadi capital outflow atau arus modal keluar.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah perlu memperkuat kembali kepercayaan pasar. Salah satunya dengan kebijakan fiskal, pemerintah harus menunjukan bahwa pengelolaan APBN tetap disiplin. Pemerintah dapat meningkatkan belanja publik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga defisit tetap terkendali serta mengelola utang secara hati hati. Selain itu, komunikasi dengan pasar juga sangat penting. Pemerintah perlu memberikan penjelasan yang jelas kepada investor mengenai kondisi ekonomi dan arah kebijakan yang akan diambil. Komunikasi kebijakan tentang target fiskal masa depan mempengaruhi ekspektasi dan keyakinan pasar tentang pelaksanaan kebijakan fiskal di masa mendatang. (Nicolas End & Gee Hee Hng,2022)

Transparansi data juga menjadi hal yang krusial. Pemerintah sebaiknya terbuka dalam menyampaikan data ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi, kondisi APBN, rasio utang, dan proyeksi ekonomi ke depan. Ketika pemerintah mampu menunjukan pengelolaan fiskal yang disiplin, transparan, dan konsisten, kepercayaan investor akan meningkat kembali. Hal ini dapat menurunkan persepsi risiko di pasar, sehingga tekanan arus modal keluar dari Indonesia dapat berkurang.

(5.2 Konsolidasi APBN)

Konsolidasi fiskal merupakan upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi keuangan negara dengan cara mengendalikan defisit anggaran, meningkatkan pendapatan negara, serta menata kembali belanja pemerintah agar lebih efisien dan tepat sasaran. Kebijakan ini biasanya dilakukan ketika defisit anggaran meningkat dan berpotensi mengganggu stabilitas fiskal. Dalam konteks APBN 2026, konsolidasi fiskal menjadi penting karena meningkatnya defisit anggaran menimbulkan kekhawatiran bagi investor dan lembaga pemeringkat kredit global (International Monetary Fund, 2023).

Lembaga pemeringkat seperti Fitch Ratings, Moody’s, dan S&P Global Ratings memberikan perhatian besar terhadap kondisi fiskal suatu negara. Ketika defisit APBN terlalu tinggi dan pengelolaannya dianggap kurang disiplin, outlook kredit dapat diturunkan menjadi negatif. Penurunan outlook ini dapat berdampak pada menurunnya kepercayaan investor, meningkatnya biaya pinjaman pemerintah, serta berkurangnya arus investasi ke dalam negeri. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan konsolidasi fiskal melalui penguatan penerimaan pajak, pengendalian belanja negara, serta menjaga defisit agar tetap dalam batas yang aman.

Dengan dilakukannya konsolidasi fiskal, pemerintah dapat menunjukkan komitmen dalam menjaga stabilitas keuangan negara dan keberlanjutan fiskal jangka panjang. Kebijakan ini juga dapat memperbaiki persepsi pasar dan meningkatkan kembali kepercayaan lembaga pemeringkat terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Jika konsolidasi fiskal berjalan efektif, maka outlook kredit Indonesia berpotensi kembali stabil karena risiko fiskal dinilai lebih terkendali (International Monetary Fund, 2023).

KONKLUSI

Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, pelemahan rupiah dan terjadinya capital outflow pada periode Q3 2025 dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam negeri maupun dari kondisi global. Dari sisi domestik, munculnya potensi penurunan credit rating oleh lembaga pemeringkat seperti Moody’s Investors Service, Standard & Poor’s, dan Fitch Ratings menimbulkan kekhawatiran bagi investor terhadap kondisi fiskal dan pengelolaan APBN Indonesia. Hal ini membuat sebagian investor menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di Indonesia. Di sisi lain, kondisi global seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan konflik perdagangan antar negara besar juga turut meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia sehingga investor cenderung mencari aset yang lebih aman.

Kondisi tersebut kemudian tercermin dalam Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), terutama pada bagian akun finansial yang menunjukkan adanya arus keluar modal. Capital outflow ini juga terlihat pada pasar obligasi pemerintah seperti SBN dan SUN, di mana investor asing melakukan penjualan bersih (net sell). Ketika dana asing keluar dari pasar keuangan domestik, permintaan terhadap valuta asing meningkat dan hal ini memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Selain itu, meningkatnya indikator risiko seperti CDS (Credit Default Swap) menunjukkan bahwa persepsi investor terhadap risiko investasi di Indonesia juga mengalami peningkatan.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah perlu menjaga kepercayaan pasar dengan memperkuat kredibilitas fiskal serta meningkatkan transparansi dalam kebijakan ekonomi. Pemerintah juga perlu melakukan konsolidasi fiskal untuk menjaga stabilitas APBN dan mengendalikan defisit anggaran. Dengan kebijakan fiskal yang lebih disiplin dan komunikasi yang baik kepada pasar, diharapkan kepercayaan investor dapat kembali meningkat sehingga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah dapat lebih terjaga di masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, F., Sohag, K., & Mariev, O. (2025). Response of financial stress in Russia, China, and USA: the role of global geopolitical and economic uncertainty. R-Economy. https://ideas.repec.org/a/aiy/journl/v11y2025i1p110-137.html

AInvest. (2026). Indonesian bonds: Assessing the risk premium amid currency and fiscal pressures. https://www.ainvest.com/news/indonesian-bonds-assessing-risk-premium-currency-fiscal-pressures-2601/

Aljarba, S., Naifar, N., & Almeshal, K. (2024). Volatility Spillovers among Sovereign Credit Default Swaps of Emerging Economies and Their Determinants. Risks, 12(4).

Bank Indonesia. (2023). Statistik neraca pembayaran Indonesia. Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/id/statistik/eksternal/neraca-pembayaran-indonesia

Bank Indonesia. (2024). Laporan perekonomian Indonesia. Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/LPI_2025.aspx

Bank Indonesia. (2025a). Laporan kebijakan moneter triwulan III 2025. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Laporan-Kebijakan-Moneter-Triwulan-III-2025.aspx

Bank Indonesia. (2025b). Laporan neraca pembayaran Indonesia kuartal III-2025: Dinamika aliran modal dan resiliensi eksternal. https://www.bi.go.id

Bank Indonesia.(2025c). Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Realisasi Triwulan III 2025.https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Documents/NPI-Tw-III-2025.pdf

Bank Indonesia. (2025d). Neraca pembayaran Indonesia triwulan III 2025. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2727525.aspx

Bank Indonesia. (2025e). Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan IV 2025. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/NPI_Tw-IV_2025.aspx

Bank Indonesia. (2026a). Laporan persepsi pasar terhadap stabilitas makroekonomi: Tinjauan sentimen investor asing. https://www.bi.go.id

Bank Indonesia . (2026b). Moody’s Mempertahankan Peringkat Republik Indonesia Baa2 dan Outlook Negatif https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_282726.aspx

Bank Indonesia. (2026c). Perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_285026.aspx

Bank Indonesia. (2026d). Tinjauan kebijakan moneter periode Januari 2026: Strategi stabilitas nilai tukar di tengah volatilitas pasar global. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_282326.aspx

CEIC Data. (2025). Indonesia foreign portfolio investment: Equity and debt securities. https://www.ceicdata.com/en/indicator/indonesia/foreign-portfolio-investment-equity-securities

Cont, R. (2010). Credit Default Swaps. In Encyclopedia of Quantitative Finance. https://ideas.repec.org/a/bfr/fisrev/2010145.html

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko. (2025). Statistik kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh non-residen: Laporan kuartal III. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. https://www.djppr.kemenkeu.go.id

Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal. (2012). Tim kajian neraca pembayaran. https://share.google/cYe2zZxTh4WLHnume

Dominick Salvatore. (2019). International economics (13th ed.). Wiley. https://www.wiley.com/en-ca/International+Economics%2C+13th+Edition-p-9781119554929

FAC Sekuritas — Tekanan fiskal berpotensi menurunkan rating kredit Indonesia (2026). https://www.facsekuritas.co.id/news/ekonomi/sp-sebut-tekanan-fiskal-berpotensi-turunkan-rating-kredit-indonesia

Fajgelbaum, P. D., & Khandelwal, A. K. (2022). The Economic Impacts of the US-China Trade War. Annual Review of Economics. https://egc.yale.edu/research/economic-impacts-us-china-trade-war

Faradhita Aulia Rizky Maharani. (2025). Faktor Makroekonomi terhadap Volatilitas CDS Indonesia. https://journal3.um.ac.id/index.php/fe/article/view/6727/4385

Fender, I., Hayo, B., & Neuenkirch, M. (2012). Daily pricing of emerging market sovereign CDS before and during the global financial crisis. Journal of Banking and Finance. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0378426612001690

Fitch Ratings. (2024). Indonesia sovereign rating report. https://www.fitchratings.com

Ghosh, B., Papathanasiou, S., & Kenourgios, D. (2022). Cross-Country Linkages and Asymmetries of Sovereign Risk Pluralistic Investigation of CDS Spreads. Multidisciplinary Digital Publishing Institute . https://www.mdpi.com/2071-1050/14/21/14056

https://doi.org/10.3390/risks12040071

IDN Financials. (2025). Indonesia’s 5-year CDS premium surges 51.1%: What does it mean? https://www.idnfinancials.com/news/53791/indonesias-5-year-cds-premium-surges-51-1-what-does-it-mean

IDN Financials. (2026). Indonesia’s CDS premium jumps 36.9%, raising fiscal risk concerns. https://www.idnfinancials.com/news/62095/indonesias-cds-premium-jumps-36-9-raising-fiscal-risk-concerns

IndoPremier Sekuritas. (2025). NPI triwulan III 2025 tetap kuat meski tekanan global meningkat. https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=NPI_Triwulan_III_2025_Tetap_Kuat_Meski_Tekanan_Global_Meningkat__Bank_Indonesia&news_id=208696&group_news=IPOTNEWS&news_date=&taging_subtype=ECONOMICS&name=&search=y_general&q=NPI,neraca%20pembayaran%20Indonesia&halaman=1

International Monetary Fund. (2009). Balance of payments and international investment position manual (6th ed.). International Monetary Fund. https://www.imf.org/en/Publications/Manuals-Guides/Issues/2016/12/31/Balance-of-Payments-Manual-Sixth-Edition-22588

International Monetary Fund. (2020). Global financial stability report. International Monetary Fund. https://www.imf.org/en/publications/gfsr/issues/2020/04/14/global-financial-stability-report-april-2020-49020

International Monetary Fund. (2023). Fiscal monitor: Strengthening fiscal credibility. https://www.imf.org

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2025). Ekonomi Indonesia terkini: Oktober 2025. https://ekon.go.id/files/ekonomi_terkini/1763625436_publish_RED%20Oktober%202025%20-%20EMF.pdf

Kontan. (2025). Risiko investasi (CDS) Indonesia naik akibat sentimen global. https://investasi.kontan.co.id/news/risiko-investasi-cds-indonesia-naik-akibat-sentimen-global

Moody’s. (2021). Rating symbols and definitions. Moody’s Investors Service. https://www.moodys.com/research/doc--PBC_79004?docid=PBC_79004

Moody’s. (2024). Credit outlook for emerging markets. https://www.moodys.com

Narasi TV. (2026, Januari). Nilai tukar rupiah melemah mencapai Rp16.840 per dolar AS. https://narasi.tv

Nicolas End & Gee Hee Hng. (2022). Trust What You Hear: Policy Communication, Expectations, And Fiscal Credibility. https://www.elibrary.imf.org/view/journals/001/2022/036/article-A001-en.xml

Okezone. (2026, January 21). BI blakblakan soal penyebab rupiah anjlok ke Rp16.945 per USD. https://economy.okezone.com

Paul R. Krugman, & Maurice Obstfeld. (2018). International economics: Theory and policy (11th ed.). Pearson.

Pratama, R., & Hannany, Z. (2026a). CDS Indonesia merayap naik tertinggi di Asia, pasar beri pesan apa? IDN Financials. https://www.idnfinancials.com/id/news/61173/cds-indonesia-merayap-naik-tertinggi-di-asia-pasar-beri-pesan-apa

Pratama, R., Hannany, Z. (2026b). S&P: Kenaikan rasio bunga utang bisa picu penurunan rating Indonesia. IDN Financials. https://www.idnfinancials.com/id/news/61711/sp-kenaikan-rasio-bunga-utang-bisa-picu-penurunan-rating-indonesia

Reuters. (2026). Fitch cuts Indonesia credit rating outlook to negative https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesia-media-report-fitch-cuts-countrys-rating-outlook-negative-2026-03-04/#:~:text=JAKARTA%2C%20March%204%20(Reuters),about%20Southeast%20Asia's%20largest%20economy.

Reuters. (2026). Moody’s cuts Indonesia outlook to negative on governance concerns https://www.reuters.com/world/asia-pacific/moodys-cuts-indonesia-outlook-negative-governance-concerns-2026-02-05/

Rismawati, Sumarni, Baso, & Thakur, H. (2025). Economic Disruptions and Business Risks: The Role of Regional Conflicts in Global Trade. In Geoeconomic Shifts and Strategic Business Responses. https://www.researchgate.net/publication/397841087_Economic_Disruptions_and_Business_Risks_The_Role_of_Regional_Conflicts_in_Global_Trade

S&P Global Ratings. (2024). Sovereign credit rating methodology. https://www.spglobal.com

Sakinah, Z., Muzaffar, M., & Raihan, M. (2025). Indonesia’s Strategic Legal and Economic Response to the US–China Trade War: Implications for Global Value Chains, Foreign Investment and MSMEs. Trunojoyo Law Review. https://journal.trunojoyo.ac.id/trunojoyo-law-review/article/view/30350

Standard & Poor’s. (2026). Sovereign rating methodology. S&P Global Ratings. https://www.spglobal.com/ratings/pt/regulatory/article/-/view/sourceId/10221157

Trading Economics. (2025). Indonesia capital flows. https://tradingeconomics.com/indonesia/capital-flows

Trading Economics. (2026). Indonesian rupiah exchange rate data and chart. Diakses pada 21 Maret, 2026, dari https://tradingeconomics.com/indonesia/currency


메타데이터
post_id
fa17c5abaf26
slug
apakah-persepsi-pasar-turut-andil-dalam-menggerakkan-rupiah-studi-kasus-gejolak-rupiah-2025-2026-fa17c5abaf26
url
https://medium.com/@ecofinscfebundip/apakah-persepsi-pasar-turut-andil-dalam-menggerakkan-rupiah-studi-kasus-gejolak-rupiah-2025-2026-fa17c5abaf26
canonical_url
https://medium.com/@ecofinscfebundip/apakah-persepsi-pasar-turut-andil-dalam-menggerakkan-rupiah-studi-kasus-gejolak-rupiah-2025-2026-fa17c5abaf26
author_url
https://medium.com/@ecofinscfebundip
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36