Jika tuhan mendengar
-kan teriakan dalam diam
Jika tuhan mendengar
-kan teriakan dalam diam

cr : pinterest
Tuhan bilang Ia maha pengampun.
Namun mengapa si ‘paling dekat dengan tuhan’ memenggal firman-Nya untuk menjatuhkan ancaman dan juga kecam?
Mereka seolah rasul yang diutus untuk bersabda, seolah olah dari apa yang mereka katakan tak terselip manipulasi untuk memperbenar diri layaknya paling suci diantara khalayak anak hawa.
Aku percaya Tuhan — ah, maksudku Allah — adalah maha pengampun.
Aku hanya tak percaya pada ucapan manusia yang berucap seolah mereka wakil Allah.
Tuhan juga bilang Ia maha mendengar.
Tentu tak seperti mereka yang mendengar tapi memutar badan seolah apa yang ku ucap tak lebih dari sekedar omong kosong.
Aku tentu pernah berdosa, namun aku juga pernah berdoa.
Aku pernah shalat dengan begitu candu, mengejar rindu hingga ku tak sabar bersujud di sela sepertiga malam hanya untuk bertemu.
Aku pernah bersujud dengan khusyuk, hingga tak kusadari air mata sudah membasahi sajadah.
Aku pernah menghafal al-qur’an dengan serius, berlomba-lomba menjadi penghafal juz terbanyak bersama-sama.
Aku pernah menguntai berbagai doa, yang panjang dan ragamnya melebihi durasi shalat ku sendiri.
Aku masih menutup auratku dengan sempurna, sesuai apa yang katanya diajarkan dalam al-qur’an menurut guru-guruku.
Aku masih percaya kepada Allah, tuhan yang satu dan tiada yang layak disembah selain-Nya.
Tetapi akhir-akhir ini…
Pelita yang dulu menerangi hidupku begitu terang kini masih terang benderang, tapi fokusku teralihkan dari cahayanya menuju bayangan yang ada bersamanya.
Kadang ku berpikir darimana asalnya? Sejak kapan bayangan ini mulai melilit diriku?
Apa yang dulu kunikmati kini hanya menjadi kata ‘dulu’.
Banyak hal berubah, begitu juga pemikiranku yang mendewasa.
Aku tak lagi percaya sesuatu tanpa bertanya kenapa, tak lagi dengan butanya mengikuti sesuatu tanpa tanda tanya besar di hati dan pikiranku.
Pikiranku tak sejalan dengan apa yang sudah ditempuh kedua orangtuaku.
Kupikir tentu mereka akan kecewa, anak perempuan pertama mereka mewujud menjadi sesuatu yang tak mereka inginkan.
Kadang islam yang mereka ajarkan tak sesuai dengan perasaan dan pemikiranku.
Kadang islam yang terbentuk dalam cara pikir dan pandang orangtuaku hanya membuatku merasa islam adalah rintangan terbesarku.
Kadang islam yang mereka ajarkan terasa membelit dan mengekang, seolah aku adalah budak yang harus mengikuti semua perintah majikannya tanpa tanya dan tapi.
Rasanya aku ingin tinggal jauh dari kedua orangtuaku dan hidup sesukaku.
Rasanya lebih baik aku tinggal jauh dari mereka agar hubungan ini tetap berjalan.
Rasanya seolah lebih tenang jika hidup tanpa pengawasan mereka berdua, seolah angin yang kuhirup adalah angin segar kebebasan.
Rasanya aku ingin kembali belajar dari awal bagaimana seharusnya seorang muslim itu.
Rasanya aku ingin kabur dari versi islam yang dipenuhi patriarki dalam versi yang dibuat para lelaki.
Rasanya aku ingin pergi nun jauh ke eropa sana, merasakan bagaimana rasa islam di belahan dunia lain.
Mungkin inilah ujianku.
Mungkin pergulatan batin yang terjadi padaku kini pada akhirnya akan membawa langkahku pada jalan yang lebih baik.
Aku rindu pandanganku pada islam saat masih kecil.
Sekarang…
Yah, terkadang aku merasa muak jika seseorang membawa bawa agama di depan mukaku.
Seringkali aku kesal dengan cara orangtuaku menegurku untuk segera shalat.
Terkadang aku lupa bacaan ini itu yang seharusnya kubaca, begitu pula dengan doa panjang yang dulunya sering ku baca.
Kadang aku merasa jelek, karena tubuhku dan juga pakaian yang membungkusku.
Dan ya tentu…
Sampai sekarang pun aku masih tak bisa menyelesaikan pergulatan pikiran dan perasaanku.
Sepertinya tidak akan selesai dengan mudah.
Ya, sepertinya sebelum aku pergi tinggal jauh dari orangtuaku ini tak akan selesai.
Terkadang aku hanya ingin tidur panjang dan lama tanpa memikirkan apapun, seperti mati tapi tidak benar-benar mati.
Kadang aku penasaran rasanya kematian, tapi sesungguhnya aku juga takut akan kematian yang membayang di setiap ulangtahunku.
Aku berharap setidaknya aku sempat merasakan kebebasan yang kuinginkan lalu kembali berjalan di jalan-Nya dengan benar sebelum aku meninggalkan dunia ini.
Ah, sebenarnya belum semua kucurahkan apa yang membebani diriku akhir-akhir ini tapi mungkin itu terlalu aneh? terlalu jujur? untuk ditulis disini.
Jika Tuhan mendengarkan,
Surat dari diriku -R
메타데이터
- post_id
- fa32af7dc7d7
- slug
- jika-tuhan-mendengar-fa32af7dc7d7
- url
- https://medium.com/@whimsicwts/jika-tuhan-mendengar-fa32af7dc7d7
- canonical_url
- https://medium.com/@whimsicwts/jika-tuhan-mendengar-fa32af7dc7d7
- author_url
- https://medium.com/@whimsicwts
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-28 11:48:07